MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 20 Juni 2018 06:44
Tertarik, tapi Terbentur Persyaratan

IPO Masih Sulit Diwujudkan

BISA TERWUJUD: Perusahaan di Kaltim tertarik go public untuk mencari modal mengembangkan usaha, namun kerap terkendala persyaratan.(dok/kp)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-day reverse repo rate sebesar 50 basis point (bps) pada Mei lalu, membuat para pengusaha berinovasi dalam mencari modal usaha. Pasar saham menjadi alternatif untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap perbankan. Seiring kredit yang akan semakin mahal.

Sayangnya, hingga saat ini, perusahaan di Bumi Etam sangat minim yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Bukan karena tidak mau, tapi mereka kerap terbentur dengan mekanisme yang sudah ditetapkan. Walhasil, upaya mendapatkan dana segar dari lantai bursa efek masih minim.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Balikpapan Dinda Amalya mengatakan, sampai saat ini hanya dua perusahaan di Kaltim yang melakukan IPO. Jumlah ini bertahan dari beberapa tahun lalu dan tidak kunjung bertambah. “Memang niat ada. Tapi, banyak perusahaan ketika harus melengkapi persyaratan tidak mampu melengkapi,” tuturnya.

Disebutkannya, sejatinya, Kaltim dikelilingi aktivitas perusahaan-perusahaan dengan nilai kapitalisasi besar. Namun, hanya sebagian kecil yang berminat menjadi perusahaan terbuka, atau melantai di pasar saham. Situasi itu, kata Dinda, sebagian besar disebabkan minimnya pemahaman atas pasar modal, termasuk prosedur mendaftar sebagai perusahaan publik.

“Terutama, soal pendanaan bisnis yang sebenarnya bisa dilakukan melalui pasar modal. Kendala itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” ucap Dinda.

Sosialisasi IPO pun, lanjutnya, tahun ini sebenarnya menjadi fokus utama. Namun, tak mudah dijalankan. Termasuk memberikan iming-iming keuntungan ketika menjadi perusahaan terbuka. Sayang, lebih sulit ketimbang mendorong masyarakat terlibat dalam investasi saham. “Kami akan dorong terus, agar mau go public. Ke depan, mungkin komunikasi kami dengan perusahaan potensial di Kaltim akan lebih intens, sampai mereka berkenan,” katanya.

Ia menjelaskan, banyak mekanisme yang tidak bisa dipenuhi perusahaan di Kaltim. Contohnya, ketika mengurus IPO, si perusahaan tidak ikut tax amnesty. Jadi, tidak ikut pasti tidak bisa, pasalnya program pengampunan pajak ini juga salah satu syarat. Lalu, terkadang laporan keuangan belum profesional.

“Ada banyak keuntungan bagi perusahaan yang berstatus terbuka. Selain mudah mendapatkan sumber modal untuk pengembangan bisnis, tingkat kepercayaan stakeholder pun lebih tinggi jika perusahaan terdaftar di BEI,” terangnya.

Sebab, dalam pelaksanaannya, kinerja perusahaan di pasar modal akan dilaporkan secara transparan. Hal ini juga bakal memacu manajemen untuk bekerja secara profesional dan mencatatkan hasil terbaik.

Jika perusahaan lokal telah melantai di pasar modal, lanjut dia, dampaknya pun bisa didapat di daerah. “Investor di daerah bisa ikut bertambah kalau di daerah tersebut ada perusahaan yang go public. Tentu yang dekat lebih diminati,” tuturnya.

Dinda menegaskan, persyaratan perusahaan untuk go public sejatinya tak sulit. Bisa dimulai dari menunjukkan underwriter dan persiapan dokumen, penyampaian permohonan pencatatan saham ke BEI, dan penyampaian pernyataan pendaftaran ke OJK. “Selanjutnya, sudah bisa dilakukan penawaran umum saham kepada publik, dan pencatatan dan perdagangan saham perusahaan di BEI,” pungkasnya.

Sebagai informasi, di Kaltim kini sudah ada 8.813 single investor identification (SID). Pertumbuhan investor di pasar saham yang justru tumbuh agresif ketimbang perusahaan yang IPO. (aji/ndu/k15)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 06:50

Promosikan Wisata Halal Lombok

BADUNG – Pariwisata menjadi tema lanjutan pertama yang dibahas setelah pertemuan tahunan bertajuk…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Pengusaha Butuh Kepastian Pasar

SAMARINDA - Program mandatori biodiesel 20 persen (B20)  atau pencampuran minyak kelapa sawit ke…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Furnitur Impor Mulai Terdampak Kenaikan Dolar

BALIKPAPAN - Keperkasaan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah tak serta-merta memengaruhi penjualan…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:43

Jalan Dua Bulan, WP Meningkat hingga 18.424 Orang

BALIKPAPAN – Sejak Juli lalu, tarif pajak penghasilan (PPh) Final untuk usaha mikro, kecil, dan…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:44

Triton Masih Jadi Unggulan

BALIKPAPAN - Membaiknya kinerja pertambangan batu bara di Bumi Etam turut mengerek penjualan Mitsubishi.…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:42

Minyak Mentah Turun Bisa Jadi Penolong Rupiah

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih sulit meninggalkan level 15.000.…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:32

Pacu Pembangunan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan

JAKARTA - Indonesia memerhatikan laporan terbaru panel antar pemerintah tentang perubahan iklim …

Senin, 15 Oktober 2018 06:36

BI Sebut Kebutuhan Dolar Masih Besar

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memproyeksi kebutuhan valuta asing dalam bentuk dolar Amerika Serikat…

Senin, 15 Oktober 2018 06:29

Kerek Okupansi Hotel

BALI – Gelaran pertemuan tahunan bertajuk Annual Meetings International Monetary Fund World Bang…

Senin, 15 Oktober 2018 06:28

Jaga Daya Beli, Jokowi Pastikan Premium Tidak Naik

JAKARTA - Pekan lalu publik sempat dihebohkan dengan pengumuman kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jenis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .