MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 17 Juni 2018 01:26
Ambulans saat Lebaran

PROKAL.CO, SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara. Banyak keluarga dari istri berkumpul di sana. Ya, seperti kebiasan tahunan.

Tahun lalu, sehari sebelumnya sudah berangkat. Salat Idulfitri di daerah yang dulu dikenal sebagai penghasil minyak dan gas bumi (migas). Sampai sekarang. Masih juga ada produksi migas yang dikelola Pertamina EP.

Dalam catatan sejarah, pengeboran minyak di daerah Kutai Pesisir ini menandai awal produksi migas di Kalimantan Timur. Waktunya hampir berbarengan dengan penemuan Sumur Mathilda di Balikpapan oleh JH Menten. Bahkan lebih dulu penemuan sumur migas di Sangasanga. Dulu, daerah ini terisolir. Tak ada jalan tembus dari Samarinda atau Balikpapan. Alat transportasi favorit hanya melalui sungai. Kini jalan darat sudah tembus.

Tahun 1995, Gubernur Kaltim Muhammad Ardan meresmikan Jembatan 27 Januari yang menghubungkan Samarinda–Sangasanga. Kemudian pada Agustus 2004, mulai dibuka Jembatan Dondang. Menghubungkan antara Muara Jawa dan Sangasanga. Panjangnya sekitar 840 meter lebih. Lebih panjang rasanya dari Jembatan Mahakam.

Jadi, dari ada beberapa alternatif jalan menuju Sangasanga yang biasa kami lalui. Bisa via jalur utama Balikpapan-Samarinda kemudian memutar lewat Palaran. Atau melalui jalu pantai. Dari Bandara SAMS Sepinggan, Manggar dan lurus terus sepanjang jalan Kutai Pesisir melewati Jembatan Dondang. Atau bisa juga di mix antara keduanya; lewat jalan Soekarno-Hatta hingga Km 38 kemudian masuk ke Samboja melalui pesisir.

Jumat lalu, saya memilih jalan poros utama. Mutar lewat Palaran. Melintasi Stadion Utama Palaran yang sudah tak terawat itu. Pertimbangannya arus lalu lintas tampak tak seramai biasanya. Dengan lebar dan kondisi jalan yang lebih bagus, diperhitungkan bisa lebih cepat. Kendati jarak tempuhnya semakin jauh. Tapi, laju kendaraan bisa lebih stabil.

Ketimbang lewat pesisir, badan jalannya lebih kecil. Di beberapa ruas jalan banyak yang rusak. Kemudian, sepanjang jalan pesisir melalui permukiman penduduk. Pas hari raya ini dimungkinkan banyak kendaraan berseliweran. Terutama roda dua. Mereka yang menjalankan tradisi silaturahmi Lebaran. Laju kendaraan otomatis naik turun. Memang kondisi jalan Kutai Pesisir ini rasa-rasanya tak pernah mulus dari A sampai Z. Pasti ada rusaknya. Dibaiki di ujung. Rusak ditengah. Dibaiki di tengah. Eh, yang ujung sebelahnya rusak.

Sekarang kondisinya udah agak lumayan. Sebelumnya sudah ada proyek peninggian dan pengecoran jalan, kendati belum semua terbentang. Dari Samboja hingga Sangasanga. Bahkan saya sempat heran. Proyek pengecoran jalan menyisakan jeda. Anehnya, jedanya hanya sekitar 2 hingga 3 meteran. Ini bisa jadi “jebakan batman” bagi yang tidak tahu jalan. Sedang enak-enaknya mengemudi, tiba-tiba harus rem mendadak. Sedikit saja. Habis itu naik lagi ke jalan cor-coran... weleh-weleh.

Tapi, secara keseluruhan sih lebih baik dari sebelumnya. Paling, yang mulai rusak barubaru ini, jalan dari Km 38 masuk ke Samboja. Karena sepertinya ada aktivitas tambang batu bara yang baru dibuka. Bahkan, setiap kali lewat, kondisinya semakin parah. Apalagi kalau cuaca hujan lebat. Rintangannya tambah satu lagi; banjir.

Ada lagi di daerah Muara Jawa. Jalan yang awal posisinya di atas, sekarang pindah ke bawah. Melalui daerah bekas tambang. Kendati sudah dilakukan pengerasan jalan, tapi masih belum mulus. Nah, jalan yang sebelumnya biasa dilewati, saat ini ditutup karena dalam proses penambangan. Jadi, mantap. Kami melalui jalur utama ke arah Samarinda.

Saat sedang asyik berkendara. Tiba-tiba terdengar raungan serine. Sebuah mobil ambulans dari arah belakang mendesak mepet. Tampak kelap-kelip lampu birwarna biru. Saya menepi dan mengurangi laju kendaraan. Mempersilakan ambulans lewat. Tampak di bagian belakang ambulans itu, terpampang sosok calon kepala daerah di salah satu kabupaten di Kalimantan Timur. Rupanya, dunia politik sudah merambah hingga fasilitas publik. Cerdas. Mungkin bisa jadi strategi jitu menarik simpati warga. Masyarakat biasanya terpesona dengan pemimpin yang peduli dan mau berbagi.

Istri saya di sebelah pun ikut komentar. Katanya dulu ada calon anggota legislatif yang melakukan strategi begitu. Dia membelikan 10 unit ambulans untuk dihibahkan ke kecamatan dan desa. Akhirnya sukses. Terpilih jadi anggota DPRD Samarinda.

Tak berselang lama. Ambulans itu mengurangi kecepatan. Saya persis di belakangnya. Tak nyaman rasanya mau nyalip. Dan seharusnya, Ambulans tersebut bisa jauh lebih cepat. Karena sudah tidak tampak kendaraan di depannya. Jalan lengang, lurus dan lebar. Harusnya pas untuk memacu kendaraan, sehingga penumpang yang dalam kondisi gawat darurat bisa cepat tertangani. Atau sampai tujuan dengan segera.

Tampak kaca sebelah kiri sopir terbuka. Siku kiri penumpangnya menjulur ke luar. Samar-samar terlihat kepulan asap tipis tertiup angin, keluar dari dalam ambulans. Saya beranikan diri untuk menyalip. Kaca samping sopir pun terbuka. Pengendaranya mengenakan peci berwarna hitam dan polet emas. Dua asyik ngobrol dengan rekan sebelahnya yang berasap tadi. Wah, rupanya Ini bukan antar pasien atau jenazah. Atau tidak termasuk kategori urgent. Jangan- jangan mau silaturahmi Lebaran.

Menurut saya sih boleh saja mengendarai ambulans untuk keperluan lain, di luar gawat darurat. Tapi, jangan juga menyalakan sirine dan lampunya itu.

Namun, terlepas dari itu. Strategi pemberian unit ambulans oleh para caleg atau calon kepala daerah itu bagus. Setidaknya bisa bermanfaat digunakan masyarakat. Apalagi jika dalam pengelolaannya diberikan secara cuma-cuma kepada warga yang membutuhkan. Bisa mengurangi beban biaya sewa. Belum jadi kepala daerah sudah bisa memberikan manfaat bagi warga.

Sekarang, pemanfaatan fasilitas umum bisa efektif dalam meningkatkan elektabilitas. Jadi sasaran kampanye. Mungkin hanya satu fasilitas umum yang belum terlihat di-branding para calon kepala daerah atau legislatif. Yaitu keranda mayat. Padahal, yang satu ini juga bermanfaat bagi warga..lho..hehehe. Bagaimana dengan Anda? Apakah mau mencoba kampanye melalui keranda mayat? (*)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 22 September 2018 01:42

AYO, BUNGKAM VIETNAM

KUALA LUMPUR  –  Timnas Indonesia U-16 memang baru menjalani satu laga di fase Grup…

Sabtu, 22 September 2018 01:41

Sembilan Caleg Dicoret

SAMARINDA  –   Sebanyak 709 calon anggota legislatif (caleg) berebut 55 kursi DPRD Kaltim…

Sabtu, 22 September 2018 01:40

Mau Nikah, Hadiri Grand Wedding Expo

EMPAT tahun sudah Kaltim Post menggelar Grand Wedding Expo secara berturut-turut. Banyak kejutan yang…

Sabtu, 22 September 2018 01:35

Tanpa Ribet, Cukup Berurusan dengan Mesin di Imigrasi

Serangkaian aksiterorisme mengguncang Amerika pada 11 September 2001. Setelah 17 tahun berlalu, bagaimana…

Sabtu, 22 September 2018 01:32

Panas-Dingin DPRD dan Pemprov

SAMARINDA  -  Tensi tinggi pembahasan APBD Perubahan (APBD-P) Kaltim 2018 antara Badan Anggaran…

Jumat, 21 September 2018 09:12

41 Eks Koruptor Resmi Bertarung

JAKARTA – Sebanyak 41 mantan koruptor dipastikan bakal ikut bertarung memperebutkan kursi wakil…

Jumat, 21 September 2018 09:09

Tetap Dihukum Berat meski Berstatus Anak

BALIKPAPAN - Meski telah terungkap, namun pembunuhan pasangan suami istri (pasutri), Wanto (45) dan…

Jumat, 21 September 2018 09:06

2019 Mulai Kelola Jatah Blok Mahakam

SAMARINDA  -  Keterlibatan Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) di Blok Mahakam…

Jumat, 21 September 2018 09:05

Tugas Pertama Menyambut Jamaah Haji

PENAJAM - Penajam Paser Utara (PPU) resmi memiliki bupati dan wakil bupati baru. Abdul Gafur Mas’ud…

Jumat, 21 September 2018 09:01

Omzet Perajin Berkurang, Berharap Rupiah Segera Perkasa

Tempe belakangan jadi viral. Seiring menguatnya nilai tukar dolar. Apalagi setelah ada kalimat kiasan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .