MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 14 Juni 2018 07:39
Istri Mencoba Ikhlas Sedikit demi Sedikit
DIMAKAMKAN: Handarri (27) dimakamkan di TPU Sepinggan, Jalan Prona III, Rabu (13/6). Istri korban, Maria Ulfa (baju merah), menaburkan bunga di atas makam suaminya. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Karangan bunga tanda belasungkawa memenuhi halaman depan rumah Handarri. Korban pembunuhan oleh Darmadi Anca di Jalan Prona itu dimakamkan di TPU Sepinggan, Rabu (13/6) sekitar pukul 10.00 Wita. Pelayat masih terus berdatangan ke rumahnya di Jalan Widya Praja II, RT 4, Nomor 58, Balikpapan Selatan.

Hampir seluruh masa hidup Handarri dilewati di rumah itu. Orangtua membesarkannya di sana sejak usia sembilan tahun. Hingga menikah. Handarri masih tinggal di rumah itu. Bersama kedua orangtuanya. Dan adik kandungnya.

Setelah pemakaman, ayahnya, Rosidi, tampak begitu tegar. Dia menyambut tamu-tamu yang datang. Kerabat, rekan kerja, dan teman Handarri semasa sekolah.

Begitu pula istri Handarri, Maria Ulfa. Dia mulai menunjukkan ketabahan. Walau matanya masih sembab. Masih menyimpan duka. Namun, kondisinya sudah lebih baik. Kemarin dia mengenakan baju merah hati. Sudah bisa berbicara kepada awak media. Tak seperti hari sebelumnya.

Ulfa bercerita, Handarri baru menjalani profesi sopir angkutan online. Dua pekan terakhir. Selama Ramadan ini. Niatnya mencari pemasukan tambahan. Sekadar sampingan.

Pekerjaan utama Handarri adalah pegawai tetap di Pegadaian Syariah Kantor Cabang Kebun Sayur. Sejak 2016. Sebelumnya, pria kelahiran 1991 itu bekerja di Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan.

Selama Ramadan hingga memasuki momen Idulfitri, Handarri mendapat jadwal libur. Dan, tentunya, cuti panjang. Sehingga muncul pikiran mencari penghasilan tambahan. Daripada hanya menghabiskan waktu di rumah. Atas inisiatif dan keinginannya sendiri.

Menurut Ulfa, aktivitas suaminya selama menjadi sopir online terhitung wajar. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini tidak pula begitu menggebu-gebu mencari penumpang. Tidak seperti kebanyakan sopir lain yang memilih lokasi ngetem, Handarri lebih banyak standby di rumah. Menunggu order.

Selama puasa, Handarri biasanya mulai standby sehabis salat Subuh. Dan, paling lama, hingga pukul 17.00 Wita. Dia selalu pulang untuk menikmati waktu buka puasa bersama. Setelah itu kembali beraktivitas sebagai sopir angkutan online. Sampai pukul 22.00 Wita.

“Biasanya habis antar penumpang langsung pulang. Nanti jalan lagi kalau sudah dapat order lagi,” ungkapnya. Tak jarang, Ulfa bertanya ke mana tujuan penumpang. Terutama jika order yang masuk saat Handarri sedang bersama dirinya.

Perempuan 26 tahun itu mengaku terakhir bertemu suaminya Selasa (12/6) pagi. Saat dia berpamitan untuk berangkat kerja ke kantornya di Jalan Soekarno-Hatta, Kilometer 5, Balikpapan Utara. Saat itu, Handarri masih bersantai di rumah. Belum ada orderan.

“Tidak ada komunikasi juga selama hari itu karena saya jarang juga pegang handphone selama bekerja. Paling baru bisa komunikasi saat istirahat,” imbuhnya.

Ulfa mengatakan mendapat informasi tentang kondisi suami dari adik iparnya, Melly. Adik kandung Handarri ini menghubunginya sekitar pukul 11.00 Wita.

Saat itu, Melly tidak berhasil menghubungi kakaknya setelah pergi dari rumah sekitar tiga jam. Gadis yang baru saja menamatkan pendidikannya di SMK 4 itu memutuskan menghubungi Ulfa. Akhirnya, Ulfa pulang pukul 12.00 Wita. Dia mendapati kabar penemuan mayat yang ternyata adalah suaminya.

“Bersyukur juga mayat langsung ketemu, bisa langsung dikuburkan, jadi dimudahkan jalannya,” sebut dia. Rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk. Suaminya pergi meninggalkan dunia justru sebagai korban pembunuhan.

Handarri dan Ulfa baru merasakan mahligai rumah tangga tujuh bulan terakhir. Pernikahan indah mereka jalani 30 November 2017. Ulfa memutuskan menerima pinangan Handarri setelah keduanya berpacaran sekitar 2 tahun.

Di mata Ulfa, suaminya seorang pendiam. Tidak neko-neko. Tidak pecicilan. Juga sederhana. Bergaul dengan baik dan seperlunya. Tidak suka nongkrong di luar. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. “Kalau pulang kerja capek, saya siapkan makan. Dia pendiam dan tidak banyak merepotkan,” kenangnya.

Ulfa tak menyangka suaminya pergi begitu cepat. Apalagi tak ada tanda-tanda sebelum peristiwa pahit itu terjadi. Semua berjalan seperti biasa. Suaminya berada dalam kondisi baik dan sehat.

Baru menjalin hidup bersama setengah tahun, tentu masih banyak rencana yang ingin mereka capai. “Kita banyak planning jangka panjang karena baru membina rumah tangga. Tapi, saya tidak mau menyesali juga, apalagi semua orang pasti kembali (meninggal). Saya coba ikhlas sedikit demi sedikit,” ujarnya. Perempuan asli Kota Minyak ini berharap, tersangka mendapat hukuman seberat-beratnya. Dan setimpal.

Ulfa berharap tersangka juga diganjar hukuman mati. Karena sudah mengambil nyawa suami tercinta. Menurut dia, kasus ini seperti pembunuhan berencana. Karena tersangka sudah siap dengan senjata tajam. “Curiga ada niat begal. Kalau hanya cekcok biasa saja tidak mungkin, paling hanya adu mulut atau lebam,” tuturnya.

Sementara itu, ayah Handarri, Rosidi, menjadi anggota keluarga terakhir yang berkomunikasi dengan Handarri. Saat itu, putra sulungnya itu pamit mengantar penumpang sekitar pukul 08.00 Wita. “Dia bilang ada panggilan. Saya pikir mau ke bandara, dia hanya bilang ya,” ucapnya.

Bagi Rosidi, Handarri adalah anak penurut. Sikap dan perilaku kepada orangtua dan keluarga baik. Begitu juga di lingkungan rumah, Handarri tidak pernah macam-macam. “Jiwa dia masih semangat dan masa senang-senangnya bekerja. Jadi saya enggak ada pikiran aneh,” sebutnya.

Handarri memang pernah berbicara kepadanya ingin mendaftar sebagai sopir online. Alasannya karena lumayan mencari kesibukan daripada libur. “Sisanya saya serahkan kepada dia. Apalagi dia sudah berkeluarga, tinggal ikut keputusan dia dan istri saja kalau memang ingin menjalani pekerjaan itu,” pungkasnya. (gel/*/rdh/dwi/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 13:00
Putar Otak Tutup Kekurangan Anggaran Proyek MYC

Belanja OPD Terpaksa Dipangkas

SAMARINDA  –  Pemprov Kaltim dan DPRD Kaltim terus memutar otak menutup kekurangan anggaran…

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:15

Jadi Panggung Terbesar di Dunia

JAKARTA  –  Semua perhatian bakal tertuju di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK)…

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:13

Wajib Menang di Laga Pamungkas

BEKASI  -  Asa Timnas Indonesia U-23 lolos ke fase 16 besar Asian Games 2018 terbuka lebar.…

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:08

Kasus RPU, Pemkot Kooperatif

BALIKPAPAN  -  Kasus dugaan korupsi pengadaan lahan rumah potong unggas (RPU) di Kilometer…

Jumat, 17 Agustus 2018 12:19
Laos U-23 vs Indonesia U-23

Semangat untuk Menang

JAKARTA – Harapan timnas U-23 Indonesia lolos ke babak 16 besar Asian Games 2018 bisa berada di…

Jumat, 17 Agustus 2018 10:00

Tersangka RPU Tambah Satu

BALIKPAPAN - Penyidik dari Polda Kaltim melanjutkan operasi penggeledahan di Balikpapan Kamis (16/8).…

Jumat, 17 Agustus 2018 08:11

Tumben..!! Belanja Anggaran 2019 Populis

JAKARTA – Pemerintah an Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) telah berhasil mencapai sejumlah keberhasilan.…

Jumat, 17 Agustus 2018 08:08

Kelola Listrik Tenaga Surya, Hasilkan Beragam Usaha

Jauh dari hiruk pikuk kota, bukan berarti Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara…

Jumat, 17 Agustus 2018 08:00

Bebas dari Rasa Benci

OLEH: BAMBANG ISWANTO (*) HARI ini, 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan.…

Kamis, 16 Agustus 2018 13:00
Terlama di DPRD Balikpapan, Empat Boks Dokumen Disita

NAH..!! Lima Jam Penyidik Polda Geledah-Geledah

BALIKPAPAN - Sebanyak 13 penyidik dari Subdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .