MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 14 Juni 2018 07:39
Istri Mencoba Ikhlas Sedikit demi Sedikit
DIMAKAMKAN: Handarri (27) dimakamkan di TPU Sepinggan, Jalan Prona III, Rabu (13/6). Istri korban, Maria Ulfa (baju merah), menaburkan bunga di atas makam suaminya. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Karangan bunga tanda belasungkawa memenuhi halaman depan rumah Handarri. Korban pembunuhan oleh Darmadi Anca di Jalan Prona itu dimakamkan di TPU Sepinggan, Rabu (13/6) sekitar pukul 10.00 Wita. Pelayat masih terus berdatangan ke rumahnya di Jalan Widya Praja II, RT 4, Nomor 58, Balikpapan Selatan.

Hampir seluruh masa hidup Handarri dilewati di rumah itu. Orangtua membesarkannya di sana sejak usia sembilan tahun. Hingga menikah. Handarri masih tinggal di rumah itu. Bersama kedua orangtuanya. Dan adik kandungnya.

Setelah pemakaman, ayahnya, Rosidi, tampak begitu tegar. Dia menyambut tamu-tamu yang datang. Kerabat, rekan kerja, dan teman Handarri semasa sekolah.

Begitu pula istri Handarri, Maria Ulfa. Dia mulai menunjukkan ketabahan. Walau matanya masih sembab. Masih menyimpan duka. Namun, kondisinya sudah lebih baik. Kemarin dia mengenakan baju merah hati. Sudah bisa berbicara kepada awak media. Tak seperti hari sebelumnya.

Ulfa bercerita, Handarri baru menjalani profesi sopir angkutan online. Dua pekan terakhir. Selama Ramadan ini. Niatnya mencari pemasukan tambahan. Sekadar sampingan.

Pekerjaan utama Handarri adalah pegawai tetap di Pegadaian Syariah Kantor Cabang Kebun Sayur. Sejak 2016. Sebelumnya, pria kelahiran 1991 itu bekerja di Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan.

Selama Ramadan hingga memasuki momen Idulfitri, Handarri mendapat jadwal libur. Dan, tentunya, cuti panjang. Sehingga muncul pikiran mencari penghasilan tambahan. Daripada hanya menghabiskan waktu di rumah. Atas inisiatif dan keinginannya sendiri.

Menurut Ulfa, aktivitas suaminya selama menjadi sopir online terhitung wajar. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini tidak pula begitu menggebu-gebu mencari penumpang. Tidak seperti kebanyakan sopir lain yang memilih lokasi ngetem, Handarri lebih banyak standby di rumah. Menunggu order.

Selama puasa, Handarri biasanya mulai standby sehabis salat Subuh. Dan, paling lama, hingga pukul 17.00 Wita. Dia selalu pulang untuk menikmati waktu buka puasa bersama. Setelah itu kembali beraktivitas sebagai sopir angkutan online. Sampai pukul 22.00 Wita.

“Biasanya habis antar penumpang langsung pulang. Nanti jalan lagi kalau sudah dapat order lagi,” ungkapnya. Tak jarang, Ulfa bertanya ke mana tujuan penumpang. Terutama jika order yang masuk saat Handarri sedang bersama dirinya.

Perempuan 26 tahun itu mengaku terakhir bertemu suaminya Selasa (12/6) pagi. Saat dia berpamitan untuk berangkat kerja ke kantornya di Jalan Soekarno-Hatta, Kilometer 5, Balikpapan Utara. Saat itu, Handarri masih bersantai di rumah. Belum ada orderan.

“Tidak ada komunikasi juga selama hari itu karena saya jarang juga pegang handphone selama bekerja. Paling baru bisa komunikasi saat istirahat,” imbuhnya.

Ulfa mengatakan mendapat informasi tentang kondisi suami dari adik iparnya, Melly. Adik kandung Handarri ini menghubunginya sekitar pukul 11.00 Wita.

Saat itu, Melly tidak berhasil menghubungi kakaknya setelah pergi dari rumah sekitar tiga jam. Gadis yang baru saja menamatkan pendidikannya di SMK 4 itu memutuskan menghubungi Ulfa. Akhirnya, Ulfa pulang pukul 12.00 Wita. Dia mendapati kabar penemuan mayat yang ternyata adalah suaminya.

“Bersyukur juga mayat langsung ketemu, bisa langsung dikuburkan, jadi dimudahkan jalannya,” sebut dia. Rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk. Suaminya pergi meninggalkan dunia justru sebagai korban pembunuhan.

Handarri dan Ulfa baru merasakan mahligai rumah tangga tujuh bulan terakhir. Pernikahan indah mereka jalani 30 November 2017. Ulfa memutuskan menerima pinangan Handarri setelah keduanya berpacaran sekitar 2 tahun.

Di mata Ulfa, suaminya seorang pendiam. Tidak neko-neko. Tidak pecicilan. Juga sederhana. Bergaul dengan baik dan seperlunya. Tidak suka nongkrong di luar. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. “Kalau pulang kerja capek, saya siapkan makan. Dia pendiam dan tidak banyak merepotkan,” kenangnya.

Ulfa tak menyangka suaminya pergi begitu cepat. Apalagi tak ada tanda-tanda sebelum peristiwa pahit itu terjadi. Semua berjalan seperti biasa. Suaminya berada dalam kondisi baik dan sehat.

Baru menjalin hidup bersama setengah tahun, tentu masih banyak rencana yang ingin mereka capai. “Kita banyak planning jangka panjang karena baru membina rumah tangga. Tapi, saya tidak mau menyesali juga, apalagi semua orang pasti kembali (meninggal). Saya coba ikhlas sedikit demi sedikit,” ujarnya. Perempuan asli Kota Minyak ini berharap, tersangka mendapat hukuman seberat-beratnya. Dan setimpal.

Ulfa berharap tersangka juga diganjar hukuman mati. Karena sudah mengambil nyawa suami tercinta. Menurut dia, kasus ini seperti pembunuhan berencana. Karena tersangka sudah siap dengan senjata tajam. “Curiga ada niat begal. Kalau hanya cekcok biasa saja tidak mungkin, paling hanya adu mulut atau lebam,” tuturnya.

Sementara itu, ayah Handarri, Rosidi, menjadi anggota keluarga terakhir yang berkomunikasi dengan Handarri. Saat itu, putra sulungnya itu pamit mengantar penumpang sekitar pukul 08.00 Wita. “Dia bilang ada panggilan. Saya pikir mau ke bandara, dia hanya bilang ya,” ucapnya.

Bagi Rosidi, Handarri adalah anak penurut. Sikap dan perilaku kepada orangtua dan keluarga baik. Begitu juga di lingkungan rumah, Handarri tidak pernah macam-macam. “Jiwa dia masih semangat dan masa senang-senangnya bekerja. Jadi saya enggak ada pikiran aneh,” sebutnya.

Handarri memang pernah berbicara kepadanya ingin mendaftar sebagai sopir online. Alasannya karena lumayan mencari kesibukan daripada libur. “Sisanya saya serahkan kepada dia. Apalagi dia sudah berkeluarga, tinggal ikut keputusan dia dan istri saja kalau memang ingin menjalani pekerjaan itu,” pungkasnya. (gel/*/rdh/dwi/k8)


BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2019 13:50

HAIISSSS...!! Tol Balsam Batal Dibuka Lebaran

BALIKPAPAN-Keinginan warga Benua Etam merasakan mudik Idulfitri tahun ini via…

Jumat, 24 Mei 2019 13:29
Polri Bilang, Massa Ditunggangi Dua Kelompok Berbeda

8 Orang Jadi Korban Jiwa Kerusuhan 21-22 Mei

JAKARTA- Korban meninggal bertambah dua orang akibat bentrokan yang terjadi…

Jumat, 24 Mei 2019 13:21
Kerusuhan Berakhir, Tanah Abang Hari Ini Buka Lagi

ALHAMDULILLAH..!! Kondisi Jakarta Mulai Pulih

JAKARTA – Aksi pengerahan massa diprediksi masih terjadi di Jakarta…

Jumat, 24 Mei 2019 11:16

Antisipasi Lonjakan Penumpang Kapal, Pemkot Siapkan Tempat Penampungan

BALIKPAPAN- Pemkot Balikpapan berencana menyiapkan penampungan penumpang kapal jelang arus…

Jumat, 24 Mei 2019 11:14

Realisasi APBD 2019 Diprediksi Rp 2,57 T

SAMARINDA- Tahun ini, realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)…

Kamis, 23 Mei 2019 14:42

Kaltim Belum Minat Obligasi

SAMARINDA- Pemprov Kaltim tampaknya belum tertarik menerbitkan obligasi sebagai alternatif…

Kamis, 23 Mei 2019 14:36

GIMANA NIH..!! Sudah Diresmikan, Maloy Tak Kunjung Beroperasi

SAMARINDA- Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK-MBTK) di…

Kamis, 23 Mei 2019 14:25

Error Berjamaah agar Hoax Tak Mudah Menyebar

MEDIA sosial, khususnya Facebook, WhatsApp (WA), dan Instagram (IG), layanannya…

Kamis, 23 Mei 2019 13:05

AP 1 Batal Kelola APT Pranoto, Ini Sikap Dishub Kaltim

SAMARINDA – PT Angkasa Pura I tak bergairah mengelola Bandara…

Kamis, 23 Mei 2019 12:55

Tiga Ketum Parpol Raih Suara Signifikan

JAKARTA – Momentum Pemilu 2019 masih dimanfaatkan sejumlah ketua umum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*