MANAGED BY:
JUMAT
17 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 14 Juni 2018 07:29
Ambil Cuti Khusus hingga Bawa Kasur ke Masjid

Memilih Iktikaf demi Mengejar Malam Terbaik dari Seribu Bulan

RUANG DADAKAN: Sebagian ruang di Masjid Istiqlal, Jalan Panorama, Balikpapan, yang disekat sebagai tempat tidur jamaah yang iktikaf selama 10 hari terakhir Ramadan.

PROKAL.CO, Besok sudah Lebaran. Sepuluh hari jelang Idulfitri itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh sebagian umat muslim untuk mengejar akhirat. Mereka berdiam diri di masjid. Meninggalkan sejenak dunia luar.

CHANDRA terburu-buru. Tak biasa malam itu dia kembali ke kantornya di kawasan Batu Ampar, Km 3, Balikpapan Utara. Dia bergegas ke meja kerjanya mengambil sesuatu yang tertinggal. Lima belas menit lagi azan Isya. Sabtu (9/6) malam itu, dari kantornya dia harus bergegas menuju Karang Jati. Tepatnya di Masjid Istiqlal, Jalan Panorama, Balikpapan. Dia ingin iktikaf di masjid itu. Program yang digelar banyak masjid sepuluh hari terakhir Ramadan.

Sepuluh hari terakhir bulan puasa, Chandra memang memilih mengejar akhirat di masjid. Ketimbang memadati mal, jalan, atau pusat keramaian lainnya untuk mempersiapkan Lebaran. Pekerjaannya yang biasa baru selesai usai berbuka puasa dikebutnya biar tuntas lebih dini. Jadi, bisa berbuka puasa bersama keluarga, kemudian dilanjutkan iktikaf di Masjid Istiqlal. Sesudah subuh baru kembali pulang. Lalu kembali bekerja seperti biasa.

Di masjid itu tak hanya Chandra. Ada puluhan orang lainnya yang memang secara khusus berdiam diri untuk mengejar malam lailatul qadar. Mereka berdiam di masjid. Ada yang full 10 hari tanpa keluar kecuali keperluan yang ditoleransi. Ada juga yang seperti Chandra. Berdiam di masjid saat malam hingga usai subuh. Kembali beraktivitas sepanjang siang. Kembali lagi ke masjid usai berbuka puasa.

Ketua Seksi Dakwah, Masjid Istiqlal, Adam, menjelaskan, setiap tahun, jumlah peserta iktikaf selalu bertambah. Peserta iktikaf harus mendaftar ke panitia. Khususnya untuk izin bisa tidur dan tinggal di area masjid. Selain itu, agar panitia bisa mempersiapkan seberapa besar ruang yang bisa digunakan untuk jamaah tidur.

Tahun ini jumlah yang terdaftar ada 43 orang. Sebanyak 24 orang full berdiam di masjid. Sisanya keluar masuk. Mayoritas peserta adalah pekerja. “Selama iktikaf, pekerja biasanya banyak mengambil cuti. Jadi, mereka full tinggal di masjid. Keluar pun dilakukan jika ada hadas besar,” ucapnya saat ditemui Sabtu (9/6) dini hari.

Bahkan, mereka harus tahan selama 10 hari itu tidak menemui keluarga. Mereka ingin mengimplementasikan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Diriwayatkan Aisyah RA. Dia berkata, “Rasulullah pernah memasukkan kepalanya ke kamarku dan aku menyisir rambutnya. Dan jika sedang iktikaf, beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada keperluan”. Dalam penjelasannya, maksudnya menggunakan sisir di rambut kepala, yakni istri Rasul itu menyisirnya dan meminyakinya. Di dalamnya terdapat dalil bahwa mengeluarkan sebagian tubuh orang yang beriktikaf di masjid itu tidak membatalkan iktikaf, dan hadis ini juga terdapat dalil tentang bolehnya laki-laki menjadikan istri sebagai pelayannya selama iktikaf. Kecuali jika ada keperluan, seperti kencing, buang air besar, muntah, buang ingus dan lainnya, yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

“Yang saya tahu dari cerita jamaah yang iktikaf, keluarga mereka semua mengerti. Kadang juga anak-anak mereka dibawa dan pulang dijemput kembali anggota keluarga yang lain,” tuturnya.

Masih kata Adam, dari penuturan beberapa jamaah, ada yang khusus mengambil cuti. Untuk berdiam di masjid.

Pengurus masjid pun berusaha memberikan yang terbaik bagi jamaah. Seperti menyiapkan bilik khusus di dalam masjid. Bilik dadakan ini hanya berupa ruangan yang disekat dengan kain merah yang menggantung. Bilik memakai ruangan 5x3 meter per segi di area salat perempuan. Jadi, untuk area perempuan sementara digabung dengan laki-laki, dibatasi dengan sekat kain.

Panitia tidak menyiapkan alas tidur. Mereka membawa peralatan tidur sendiri. Banyak peserta yang membawa kasur kecil yang mudah dibawa-bawa. Kemudian, yang tidak full, biasanya mereka tidur di dalam masjid alias bukan di ruang khusus yang disekat tadi. Dari pantauan Kaltim Post, beralaskan ambal hijau, kekhusyukan beribadah, seperti membaca ayat suci Alquran terdengar riuh rendah mulai pukul 21.00 Wita. Hingga tengah malam, lantunan ayat suci masih mendayu. Pukul 00.00 Wita dan 01.00 Wita, satu per satu peserta iktikaf beristirahat. Menunggu waktu salat malam.

Sejatinya, tidak hanya peserta yang terdaftar yang melakukan salam malam. Umat muslim lainnya yang tinggal di sekitar masjid juga ikut salat malam dan mengaji. Niat mereka tentu mencari malam lailatul qadar. Khususnya pada malam ganjil, masjid wakaf dari Pertamina ini dipenuhi jamaah. Bisa lebih 100 orang yang ikut salat malam. Namun, jika malam, genap jumlahnya tidak sampai 100 orang.

Pukul 03.00 Wita, satu per satu peserta iktikaf yang masih tidur akan dibangunkan panitia. Mulai salat malam. Biasa salat malam selama 60 menit. Delapan rakaat yang dikerjakan. Sang imam melantunkan surat-surat panjang. Rakaat demi rakaat tangisan jamaah tumpah. Lewat salat malam, tiap jamaah berharap kemuliaan malam lailatul qadar.

Rasa pegal di kaki hilang seketika karena air mata yang keluar. Ampunan mereka mohon kepada sang pencipta.

Pukul 04.00 Wita, peserta melanjutkan makan sahur bersama.
Rasa kekeluargaan pun kental. Peserta yang tidak saling mengenal awalnya, saat kegiatan ini menjadi mudah akrab. Selesai makan, mereka mengobrol sembari menunggu azan Subuh.

Agar peserta tidak jenuh, menurut Adam, ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti. Ada kajian bakda subuh. Juga pada pukul 10.00 Wita biasa ada pelajaran bahasa Arab dan program memperbaiki bacaan Alquran. Sore harinya, ada kajian bakda asar. Kemudian, buka puasa bersama, makan malam, salat Isya dilanjutkan dengan salat Tarawih.

Peserta iktikaf lainnya, Bagus, mengaku, ikut tidak full. Dia mulai masuk setelah buka puasa hingga pagi hari. Dia juga harus bekerja. Namun, ketika libur, biasanya dia ambil full.

“Saya bawa sleeping bag untuk tidur karena tidak mendapat bilik tidur kalau malam saya tidur di dalam masjid. Ruangan ber-AC, jadi kami peserta harus membawa selimut tebal,” ujarnya.

Ini baru pertama kalinya dia ikut iktikaf. Memilih Masjid Istiqlal Panorama karena tidak jauh dari rumahnya di Karang Rejo. Dia berharap, bisa mendapat malam lailatul qadar. “Ya, sebenarnya saya ingin mengikuti cara Rasulullah. Dari sabda Allah, jaminan surga ada pada rasul dan para pengikutnya. Ya, apa yang beliau ajarkan dan tidak perbolehkan, ya kita ikuti. Sayang, saya tidak bisa cuti. Mau tidak mau, saya masuk masjid usai buka puasa,” kata Bagus.

Kegiatan ini tak hanya berlangsung di Masjid Istiqlal Panorama. Pantauan media ini, beberapa masjid di Kota Minyak juga menggelar program ini. Seperti di Masjid Annasai di Jalan Syarifudin Yoes.

Salah seorang peserta yang dijumpai, Hanan Prambudio, mengatakan, hampir sama seperti di Masjid Istiqlal Panorama, kegiatan ini rutin diadakan. Bahkan, pesertanya hingga ratusan.

Persiapan peserta tidak terlalu menyulitkan diri. Soal perbekalan, yang penting adalah mental dan waktu. Juga disiapkan bekal cukup untuk keluarga yang ditinggal untuk keperluan sehari-hari. “Untuk mental, ya disiapkan supaya bisa semangat jauh dari keluarga dan dunia luar selama hampir dua pekan. Juga terus mengondisikan waktu banyak digunakan ibadah, berdoa, merenungkan dosa-dosa,” katanya.

“Kebetulan saya pedagang, jadi bisa fokus. Ini baru pertama kalinya saya bisa full. Tahun-tahun sebelumnya saya masih keluar masuk saja,” lanjutnya.

Penghobi bersepeda ini mengaku, meninggalkan istri dan anaknya yang masih balita di rumah. Sampai saat ini, dia berkomunikasi hanya lewat video call. “Ya, rasanya seperti berada sangat jauh dari keluarga,” ungkapnya.

Dia pribadi, memaknai iktikaf di antaranya berusaha menumbuhkan sunah Rasul yang banyak ditinggalkan. Juga bisa mengusahakan waktu emas yang hanya ada sekali dalam Ramadan yang datang sekali setahun. Menjadikan waktu emas ini jadi sarana perenungan diri dengan memaksimalkan ibadah sunah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. “Namun, intinya, selama 10 malam terakhir ini bisa bermanfaat untuk hidup ke depannya, terlebih menjadi sebab rahmat Allah turun pada kami untuk bisa mendapat surganya kelak,” serunya. (aji/far/k11)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 13:00
Terlama di DPRD Balikpapan, Empat Boks Dokumen Disita

NAH..!! Lima Jam Penyidik Polda Geledah-Geledah

BALIKPAPAN - Sebanyak 13 penyidik dari Subdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse…

Kamis, 16 Agustus 2018 12:00
Sistem Rujukan Online BPJS Kacau

RSUD AWS Tolak Layani, Puluhan Pasien Protes

SAMARINDA - Puluhan orang yang mendapat rujukan pelayanan kesehatan protes di RSUD Abdul Wahab Sjahranie…

Rabu, 15 Agustus 2018 13:00

Gubernur Tolak Tim Transisi Bentukan Bakal Gubernur, Ini Alasannya

SAMARINDA–Awang Faroek Ishak dan Isran Noor seperti berbalas pantun. Kali ini, gubernur Kaltim…

Rabu, 15 Agustus 2018 12:00

Protes Deras, Proyek Masjid Jalan Terus

SAMARINDA – Kisruh pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.…

Rabu, 15 Agustus 2018 11:12

Tidak Berpolitik, tapi Berbobot Politik

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menaruh harapan besar terhadap pasangan Joko Widodo-Ma’ruf…

Rabu, 15 Agustus 2018 09:17

Hanya Menjadi Lawan 90 Menit

JAKARTA – Timnas Palestina memang mendapat dukungan spesial dari suporter Indonesia. Yakni pada…

Rabu, 15 Agustus 2018 08:58

Banting Setir dari Bola Voli, Kelabakan Ikut Ritme Pelatih Asing

Lama menggeluti bola voli, Harun Nurrasyid malah “terjerumus” ke cabang olahraga bola tangan.…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:27

Anggaran Fokus Membangun Desa

SAMARINDA - Empat bulan menjelang pelantikan, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim terpilih,…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:24

Prabowo Akui Takut Jarum Suntik

JAKARTA – Sore atau malam nanti, tim dokter pemeriksa akan menyerahkan hasil tes kesehatan kedua…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:22

Arab Saudi Selasa, Indonesia Rabu

JAKARTA - Pemerintah Indonesia telah menetapkan Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu (22/8). Penetapan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .