MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 13 Juni 2018 07:51
Kriminalitas “Merajai” Jelang Idulfitri, Penyamun Terus Mengintai

PROKAL.CO, Adagium itu masih terbukti. Kejahatan tak pernah kenal waktu. Ramadan dan jelang Idulfitri, kriminalitas konvensional justru cenderung meningkat. Pelaku tak segan melukai atau menembak korban. Ketimpangan ekonomi telah melahirkan kebusukan hati.

SUARA azan jelang salat Isya terdengar bersahut-sahutan di seantero Tenggarong, Kukar. Jamaah satu per satu menyambangi masjid maupun langgar untuk menunaikan salat wajib empat rakaat tersebut, dilanjutkan salat Tarawih. Kala mayoritas muslim menyambangi rumah ibadah, sepasang suami-istri justru mengendap-endap memasuki halaman rumah. Rudianto dan Macca namanya.

Di kantong celana Rudianto, terselip linggis kecil dan obeng bermata pipih. Dua alat tadi menjadi peralatan utama ketika beraksi. Pria dengan rajahan tato di beberapa bagian tubuhnya itu adalah sumber keresahan masyarakat Kota Raja selama Ramadan tahun ini. Bermodal linggis dan obeng tadi, Rudianto adalah spesialis pencuri rumah kosong kala ditinggal si empunya rumah beribadah. Tak memakan waktu lama bagi Rudianto membobol rumah korbannya.

Tangan terampilnya seperti sudah tahu celah untuk mencongkel pintu atau jendela rumah korban. Namun, ada satu penghalang Rudianto dalam menjalankan aksinya. Yakni, rumah yang jendelanya dipasang terali besi. Perlu usaha lebih yang memakan waktu. Makanya nyaris semua rumah yang dibobol Rudi, sapaannya, adalah rumah yang tak berterali.

Adapun sang istri, Macca, bertugas mengawasi suasana sekitar selama suaminya beraksi menggasak barang berharga korban. Barang yang dicuri biasanya barang elektronik dan emas. Makin lengkap kejahatan mereka. Sebab, uang hasil menjual barang curian justru dipakai untuk membeli narkoba jenis sabu-sabu. Kini, Rudianto sudah mendekam di Mapolres Kutai Kartanegara (Kukar). Sementara Macca dititipkan di Dinas Sosial Pemkab Kukar.

Pasutri tersebut ditangkap di rumah mereka di Jalan Sultan Alimuddin, Kelurahan Melayu. Penangkapan dilakukan Tim Alligator Satreskrim Polres Kukar yang dipimpin Ipda Aksarudin Adam. Rudi dan Macca baru datang ke Kaltim sekitar tiga bulan lalu. Alasan mereka merantau untuk mencari penghidupan baru. Pekerjaan tak kunjung didapat, uang pun semakin menipis. Keduanya lantas memilih kembali menjadi spesialis penggasak rumah kosong. Rudi dan Macca diduga tak memiliki jaringan lain.

Pasalnya, setelah keduanya ditangkap, pencurian terhadap rumah tak terjadi lagi di Tenggarong. Aksi Rudi dan istrinya berjalan selama dua bulan terakhir. Lebih gencar lagi saat Ramadan, ketika warga banyak yang lengah. Dari penyidikan sementara, Aksarudin menuturkan, sebelum menjalankan aksinya, Rudi dan istrinya menentukan target terlebih dahulu. Setelah beberapa hari dipantau, baru diketahui jam pemilik rumah meninggalkan tempat tinggal.

“Jadi, benar-benar menunggu pemilik rumah keluar untuk Tarawih, mereka masuk,” ujarnya.

Rudi ditangkap dalam pengaruh narkoba. Jadi, baru bisa diinterogasi sehari setelah ditangkap.

Diwawancarai di ruang kerjanya, Aksarudin menuturkan, Ramadan dan Idulfitri hingga libur Lebaran menjadi waktu rawan tindak kejahatan. Terutama pencurian dengan pemberatan dan pencurian dengan kekerasan. Alasannya lantaran dua hal.

“Saat Ramadan dan Idulfitri, perputaran uang sedang kencang-kencangnya. Sementara untuk golongan masyarakat tertentu, tuntutan ekonomi semakin tinggi,” jelasnya. Dengan alasan impitan ekonomi, tindak kejahatan pun dilakukan. Aksarudin mengatakan, dengan berakhirnya Ramadan, tak membuat polisi mengendorkan antisipasi. Justru saat libur Lebaran, sering dijadikan waktu tepat untuk pencuri menjalankan aksinya.

JAMBRET GENTAYANGAN DI SAMARINDA

Setali tiga uang, kriminalitas jelang Lebaran juga terjadi di Samarinda. M Fadli (26) alias Eto, hanya bisa meratapi nasibnya. Penjara bukan hal baru bagi pria yang bermukim di Jalan Ahmad Dahlan, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota itu. Di indekosnya itu, polisi meringkus ayah satu anak tersebut. Pagi hari, Selasa (31/5) lalu, indekos Eto jadi target petugas. Seseorang memberikan informasi Eto baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Polisi memang sudah menargetkan pria bertubuh kecil dan diketahui lincah itu. Pasalnya, banyak informasi aparat kepolisian menyebutkan nama Eto adalah dalang di balik kejadian kejahatan jalanan. Meski bukan hanya Eto seorang pelakunya.

"Tapi, nama yang sering kita dapat infonya ya dia (Eto)," ujar Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono.

Ditemui di sel, Eto menuturkan, aksi kriminalitas yang sudah 54 kali dilakukan itu, tak hanya menunggu momentum Ramadan atau menjelang Lebaran. Meskipun dia tahu, mendekati Idulfitri, masyarakat banyak bertransaksi dan membawa uang dalam jumlah banyak. "Sebenarnya ingin berhenti, tapi mau kerja apa. Sudah coba ke mana-mana, tidak ada yang menerima," ujar Eto. Baginya, tak kenal waktu dan lokasi. Cara kerjanya tanpa ada perencanaan.

"Kalau ketemu di jalan, bisa saja langsung tarik (jambret)," sambungnya. Menjadi catatan penting mereka adalah, jalur khusus untuk kabur. Bagi Eto, residivis kasus jambret, juga harus memperhatikan kondisi jalan. "Ya, kalau habis beraksi, kaburnya selalu ke arah yang ramai," ungkapnya. Namun, daerah ramai itu tentunya kawasan yang sudah dia hafal jalur-jalur "jalan tikus" alias gang kecil. Hanya, dia bergantung dengan kelincahan dan kepiawaiannya mengendarai motor. Eto tak kerja seorang diri, dia bersama Jupri dan Jarwo. Mereka punya peran masing-masing. Kadang, Eto yang kakinya penuh tato itu sebagai eksekutor, tapi bisa juga dia bertugas yang menghalang-halangi proses pengejaran pelaku saat ketahuan, atau pengemudi motor.

"Kalau ngerasa berani sebagai eksekutor. Tapi, kalau enggak, cukup yang halangi orang-orang," ujarnya. Targetnya adalah perempuan yang berboncengan atau seorang diri mengenakan tas selempang. Tas yang dibawa seperti itu atau yang menggantung di pundak, bagi Eto cs bak bongkahan emas. Ketika beraksi, Eto tak pernah luput menggunakan senjata tajam. Kebanyakan, aksinya dilakukan di jalan dengan jalan yang cukup lebar. Hal itu tentu memengaruhi caranya kabur dan menghindar dari kejaran warga. Setelah beraksi, ketiganya tak lantas bertemu. Namun, beberapa jam setelah itu, barulah mereka menghitung keuntungan setelah beraksi. Barang yang kebanyakan diambil adalah tas. Namun, tak jarang mendapat emas, dompet yang ditaruh di dashboard, serta handphone.

FENOMENA TAHUNAN

Aksi perampokan jelang Idulfitri hingga libur Lebaran patut diwaspadai. Meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri merupakan penyebab tingginya angka kriminalitas. Orang cenderung melakukan apapun untuk mendapatkan uang. Seperti berutang, menggadaikan barang, hingga merampok demi mendapatkan uang. Tahun lalu, komplotan perampok menggasak tunjangan hari raya (THR) dengan melengkapi diri senjata api (senpi) kala beraksi. Mereka menggasak duit miliaran rupiah milik PT Multi Pacific Indonesia (MPI) Kutim. Sejatinya, uang tersebut akan dibayarkan ke karyawan sebagai tunjangan hari raya (THR) dan gaji. Besarnya Rp 1,1 miliar.

Perampokan terjadi di kantor besar PT MPI di Muara Bulan, Desa Baay, Kecamatan Karangan, Kutim, Jumat (16/6), pukul 11.30 Wita. Dua pelaku datang ke Kantor PT MPI lalu menerobos ke ruang penyimpanan uang. Salah satu dari pelaku sempat terjatuh saat mencoba kabur. Meski ada beberapa karyawan perusahaan yang mengejar, tidak ada satu pun yang berani mendekat karena mereka membawa senjata api. Diketahui, perampokan pada momen menjelang Lebaran sebelumnya sudah pernah terjadi.

Uang perusahaan yang ditujukan untuk THR karyawan menjadi barang seksi bagi para perampok. Pada 2016, terjadi perampokan terhadap gaji karyawan PT Anugrah Energi (AE) di Bengalon, Kutim, sebesar Rp 300 juta. Pelaku perampokan diduga lebih 10 orang dan mengetahui rencana pengiriman THR tersebut. Namun, kepolisian enggan berspekulasi apakah perampokan di PT MPI memiliki jaringan yang sama dengan PT AE. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 11 Juni 2018 09:21

THR Kutunggu, THR Kuhabiskan

Hari-hari terakhir Ramadan penuh berkah. Khususnya bagi pekerja, abdi negara atau pegawai swasta. Semua…

Senin, 11 Juni 2018 09:17

Cuti Bersama yang Dikeluhkan Pengusaha

ALFIN mengucap syukur. Kopi hitam diseruputnya dalam-dalam. Setelah puas, kedua sudut bibirnya ditarik…

Senin, 11 Juni 2018 09:15

Akselerasi Sektor Dagang dan Transportasi

TUNJANGAN Hari Raya menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, kebutuhan juga…

Senin, 11 Juni 2018 09:07

Membagi Waktu dan Berkah THR

OLEH: MUHAMMAD RIDHUAN(Wartawan Kaltim Post) LAPORAN utama kali ini sengaja kami kemas ringan. Biar…

Jumat, 08 Juni 2018 09:09

Menggantung Asa di Program Pusat

GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan,…

Jumat, 08 Juni 2018 09:05

Teliti Developer sebelum Membeli Rumah

NEGARA mengatur rakyatnya memiliki hak terhadap papan yang memadai, sebagaimana tertulis dalam UUD 1945.…

Jumat, 08 Juni 2018 09:03

TAK MUDAH..!! Rumah yang Bisa Dikredit dengan Harga Bersahabat

SEPTIANI (23), kini berumah tangga dengan Ivandi (23). Tidak hanya berdua, mereka kini memiliki putri…

Jumat, 08 Juni 2018 09:01

Warga Susah dapat Rumah, Reduksi dengan DP Nol Persen

MENDIRIKAN jutaan unit hunian tak serta-merta mengurangi kesenjangan kepemilikan rumah. Warga tetap…

Senin, 04 Juni 2018 22:00

Siraman Rohani untuk Generasi Menunduk

CATATAN: M RIDHUAN SAYA termasuk generasi menunduk. Pada zaman digital saat ini, khususnya pekerja media,…

Senin, 04 Juni 2018 21:10

DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .