MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Selasa, 12 Juni 2018 08:56
Masjid di Depok-nya Dallas

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA sengaja tidak bermalam di Dallas. Sudah sering. Cari tempat parkirnya sulit. Juga mahal. Di kota sebesar St Louis saja ampun-ampun: satu malam Rp 600 ribu. Apalagi kota sebesar Dallas.

Saya pernah parkir di Washington DC: Rp 1 juta satu malam. Jangan tanya San Francisco. Apalagi New York.

Hari itu saya pilih bermalam di kota DeSoto. Kira-kira Depok-nya Dallas gitu. Atau Sidoarjo-nya Surabaya. Parkirnya mudah. Tidak bayar pula. Kalau ada perlu ke Dallas tinggal naik mobil. Hanya 20 menit. Tidak ada macetnya.

Pilihan bermalam di DeSoto ini juga karena ini: ada masjid di dekatnya. Ini kan sudah pukul 6 sore. Dua jam setengah lagi buka puasa.

Saya belum tahu masjid seperti apa lagi di DeSoto ini. Yang penting dekat: hanya 15 menit. Menurut Google.

Masalahnya: masjid itu di arah barat. Pada jam segitu matahari seperti melotot dari depan mata. Silaunya ampun-ampun. Sudah pakai kacamata hitam pun masih tidak ketulungan.

Garis biru di Google itu tidak terbaca jelas: saya kesasar. Salah masuk highway. Lalu terbawa arus derasnya highway. Sampai jauh. Lalu salah lagi. Masuk highway yang lain lagi. Total menjadi setengah jam.

Alhamdulillah ketemu. Semula saya tidak percaya kalau masjidnya di alamat ini. Ini kan kompleks supermarket. Dan pusat jajan.

Saya pun mendongak. Memutar pandangan. Ke sekeliling kompleks.

Oh... itu dia. Ada menara kecil. Di atas bangunan yang itu. Dengan cincin bulan di atasnya. Langsung saya percaya: yang itu masjidnya. Memang masih sepi. Yang tampak ramai adalah kios di seberang masjid: kios burger. Juga di pom bensin di dekatnya. Atau di Supermercado Monterry. Ini pasti supermarketnya orang Mexico. Mungkin pemiliknya berasal dari kota Monterry. Tidak jauh dari Laredo.

Inilah masjid dengan lapangan parkir terluas. Jadi satu dengan lapangan parkir supermarket. Masjid DeSoto ini dulunya memang perkantoran. Dibeli pada 1997. Dijadikan masjid.

Sambil menunggu Magrib, saya membuat video. Itu dia satu jamaah datang. Terlihat dari topi hajinya. Dan berewoknya. Sekalian dia saya masukkan video: berasal dari Palestina.

Saya dipersilakan masuk. Lebih baik menunggu di dalam, katanya.

Betul. Masjid ini luas sekali. Untuk ukuran Amerika. Bisa untuk 400 orang.

Di depan tempat imam terlihat Alquran jumbo. Dalam posisi terbuka. Di atas podium. Tulisannya besar-besar. Bisa dibaca imam meski sambil berdiri di tempatnya.

Saya menduga: tarawihnya nanti pasti panjang. Satu malam harus membaca Alquran satu juz. Tapi, ini kan sudah hari ke-19 (saat itu). Kok baru dapat setengah ya?

''Memang begitu. Sembilan malam terakhir nanti dibuat lebih panjang,'' ujar Qutaiba Abbasi, imam di masjid DeSoto.

Qutaiba ini masih muda: 31 tahun. Lahir di Amerika. Asal orangtuanya Afghanistan. Sukunya Pastun. Suku mayoritas di sana.

Saya bisa membayangkan karakter dan kepriyayian Qutaiba ini. Saya pernah membaca novel yang berlatar belakang Pastun. Suku yang berwatak keras, baik hati, priayi, dan fanatik agama.

Setidaknya saya sudah membaca tiga novel dengan latar belakang Pastun: “Kit Runner”, “Thousand Splendid Suns” dan “And the Mountain Echoes”. Semua itu karangan Khaled Hussaini. Seorang dokter Amerika. Yang lahir di Afghanistan. Yang tumbuh sebagai anak di tengah meledaknya perang di sana. Lalu ikut orangtuanya mengungsi ke Amerika.

''Saya sudah tidak bisa bicara Pastun,'' ujar Qutaiba. ''Kalau mendengarkan masih paham,'' tambahnya. ''Kalau dulu ayah bertanya dalam bahasa Pastun saya jawab dengan bahasa Inggris,'' kenangnya.

Ayahnya sudah lama meninggal. Juga ibunya. Dimakamkan di negara bagian Iowa.

Di Iowa itu juga Qutaiba kuliah: di Iowa State University. Ambil jurusan pendidikan. ''Saya ini guru,'' gumamnya.

Kok bisa jadi imam?

Ayahnyalah yang mengajarinya membaca Alquran. Ketika ia berumur delapan tahun. Ayahnya pula yang menginspirasi mendalami agama. Ayahnya pula yang membuat dia belajar bahasa Arab.

Bagaimana cara Qutaiba mendalami agama?

“Saya masuk universitas terbuka,'' kata Qutaiba. Ambil jurusan agama Islam. Sampai lulus.

Di UT itulah Qutaiba merasa ilmu agamanya memadai. Dan bisa berbahasa Arab. Di Amerika, katanya, hanya di Universitas Terbuka yang ada jurusan agama Islam.

Obrolan kami itu tersela terus oleh kian banyaknya orang yang masuk masjid. Yang semua menyalami Qutaiba.

Azan pun dikumandangkan. Oleh yang Palestina tadi. Kurma dibagi. Air putih ambil sendiri.

Hari itu ada 40-an orang. Yang berbuka dan salat Magrib. Antre makannya pun jadi agak panjang.

Tapi saya tahu di panci yang mana ada makanan apa: saya tadi ikut bantu menyusunnya. Apalagi makanannya hanya tiga jenis: nasi briyani, salad sayur, dan ayam. Itu pun terlihat jelas: pesanan dari katering. (dis/dwi/k8)


BACA JUGA

Minggu, 03 Juni 2018 07:37

Akal Sehat Kereta Cepat

OLEH: DAHLAN ISKAN AKHIRNYA akal sehat yang menang: Mahathir Muhamad membatalkan proyek kereta cepat…

Jumat, 01 Juni 2018 08:16

Putri Zainah, Mantan Istri yang Selamat

Bagaimana kasus 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang mengguncang Malaysia itu berawal? Yang membuat…

Kamis, 31 Mei 2018 09:13

Rosmah setelah Tinggalkan Penyiar TV (1)

OLEH: DAHLAN ISKAN INI adegan pertama. Bintang utamanya dua; Xavier dan Clare. Dua nama yang minggu…

Senin, 28 Mei 2018 09:19

Insyaallah Aku Lilo, Madrid

CATATAN: DAHLAN ISKAN SAYA lemes saat nulis ini. Bahkan sudah lemes sejak menit ke-30-an final Liga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .