MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 11 Juni 2018 09:33
Mudik Asyik Lewat Tol Balsam

PROKAL.CO, CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*)

JALAN Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) jadi favorit pemudik. Baik yang ingin ke Balikpapan maupun sebaliknya. Tol penghubung dua kota utama di Kaltim ini memang membuat akses transportasi jadi lebih nyaman. Lebih cepat. Lebih praktis. Dibanding akses reguler selama ini via Jalan Soekarno-Hatta yang kian padat. Ke Samarinda atau ke Balikpapan lewat jalur lama memang semakin makan waktu. Bisa sampai tiga jam. Imbas kepadatan kendaraan.

Juga banyaknya titik-titik kemacetan baru. Belum lagi, setidaknya ada tiga lokasi jalan longsor. Yang membuat sendatan bagi pengguna kendaraan di jalan sepanjang 107 kilometer itu—dihitung dari Jalan Cipto Mangunkusumo, Samarinda Seberang, hingga Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan. Ditambah lagi kalau ada pohon tumbang di sepanjang Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Bakal buat perjalanan tambah lama. Terbukti beberapa kali, satu saja pohon tumbang, yang memang banyak berjejer di sepanjang pinggir jalan di Tahura, bakal membuat arus transportasi mengular.

Kondisi ini membuat jalan tol jadi pilihan utama pemudik Lebaran tahun ini. Waktu tempuh lebih singkat. Sekira satu jam. Kondisi jalan juga mulus karena baru dibuka. Dan tentunya minim sendatan. Intinya, mulus, lus, lus... Walaupun tarif jalan tol sepanjang 99,35 kilometer itu jadi yang termahal di Tanah Air. Rp 1.000 per kilometer. Bagi kendaraan golongan 1 (sedan, jip, pikap atau truk kecil, dan bus). Sebelumnya, rekor jalan bebas hambatan termahal di Indonesia dipegang Tol Cikopo-Palimanan dengan Rp 823 ribu per kilometer. Tapi, tenang. Pengelola tol akan menggratiskan jalur ini selama mudik-balik tahun ini. Tepatnya selama H-3 hingga H+3.

Diprediksi, pada enam hari itu, kendaraan yang melintas di jalan tol pertama di Kalimantan ini akan melonjak drastis. Bakal didominasi kendaraan pribadi. Khususnya mobil penumpang dan sepeda motor. Diperkirakan, 156.000 kendaraan berbagai jenis melintas hingga akhir arus balik.

Pemudik juga dimanjakan dengan beragam fasilitas di sepanjang tol. Setidaknya, ada tiga rest area. Di Km 24, Km 41, dan Km 85. Semuanya menyediakan tempat istirahat yang nyaman. Pelataran parkir yang jembar. Musala. Juga dilengkapi jaringan internet yang difasilitasi sejumlah provider nasional ternama. Bagi pemudik yang melintas saat petang, tenang. Banyak donatur yang menyiapkan menu berbuka puasa dan sahur. Di semua rest area. Gratis. Saya pernah berbuka puasa dengan kurma dan makan berat berupa sup kaki kambing. Yang saat itu disponsori pengusaha tambang terkenal di Samarinda.

Enam posko mudik juga sudah berdiri. Petugas gabungan standby di posko-posko ini. siap membantu pemudik yang menghadapi kendala. Di tiap posko, disiapkan mobil derek. Juga fasilitas pengisian angin portabel untuk ban kendaraan. Bisa mengisi air radiator juga. Bahkan, ada posko yang bekerja sama dengan diler mobil. Menyiapkan cek kendaraan dan ganti oli gratis. Secara khusus, selama mudik, perusahaan minyak negara juga mewajibkan dua SPBU di jalan tol ini buka 24 jam. Demi menjamin ketersediaan bahan bakar di sepanjang jalan bebas hambatan.  

Pemudik dari Balikpapan yang ingin meneruskan perjalanan hingga ke utara, Kutai Timur (Kutim), hingga Berau juga jadi lebih lega. Sebelum Ramadan lalu, sudah dibuka untuk umum jalan Tol Teman (Tepian-Taman). Diambil dari sebutan khas Samarinda, Kota Tepian dan Bontang, Kota Taman. Sepanjang 95 kilometer. Akses darat pun semakin mudah. Setelah keluar Tol Balsam di Samarinda, pengguna kendaraan bisa melintas di Jembatan Mahkota II yang ikonik, dan masuk ke gerbang Tol Teman. Tahun depan bahkan sudah mulai diagendakan groundbreaking jalan tol lanjutan Bontang-Maloy, Kutim.

Sementara pemudik yang menuju arah selatan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Paser, bahkan hingga Kalimantan Selatan (Kalsel), tak perlu lagi lelah mengantre untuk naik feri. Menyeberang Teluk Balikpapan. Mereka sudah bisa melalui jembatan tol Melawai-Nipahnipah yang direncanakan dibuka H+3 Idulfitri. Pembukaan jembatan tol ini dipadu dengan halalbihalal Pemprov Kaltim, Pemkab PPU, dan Pemkot Balikpapan, di muka jembatan tepat di Lapangan Merdeka. Direncanakan, saat itu, gubernur, wali kota, dan bupati, beserta jajaran akan menjajal jembatan tol perdana yang berdiri di atas teluk sepanjang 6 kilometer. Selama arus balik, jembatan tol ini juga digratiskan. Baru dikenakan tarif awal Juli nanti.

"Bang, mendoannya masih aduk adonan. Setengah jam lagi jadi kata mbaknya," ujar Amat, karyawan bagian umum, membuyarkan lamunan saya di ruang redaksi, lantai empat, Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan, tadi malam. Padahal, saya lagi membayangkan enaknya mudik lewat jalan tol dari Balikpapan hingga Bontang. Yang tak lagi menghadapi kendala kemacetan. Ruas jalan longsor. Atau pohon tumbang. Juga berandai-andai bagaimana sejuknya kala angin laut menyentuh wajah ketika melintas di jembatan tol Teluk Balikpapan.

Juga biar bisa keren seperti warga di Pulau Jawa. Yang tiap tahun ruas jalan tolnya selalu ditambah. Membuat jalur mudik menjadi lebih banyak pilihan. Lebih memangkas waktu juga. Jadi, tak ada cerita mudik jalur darat sampai harus berlebaran di jalan.

Tulisan di atas memang imajinasi saya. Yang mengapungkan harapan terlalu tinggi agar jalan tol segera beroperasi. Lebaran ini. Maklumlah, saya termasuk salah satu jurnalis di Kaltim Post yang mengikuti betul sejak awal rencana proyek ini. Mulai mengapung pada 2008. Sejak saya masih di lapangan. Semakin intens, sejak saya nge-pos di Kantor Gubernur Kaltim, 2010-2011 silam. Masih ingat saya beberapa investor luar negeri yang bertemu kepala daerah di ruang rapat lantai dua Kantor Gubernur, membahas minat terhadap tol. Bahkan, tiga skema pembayaran tol saat itu hafal di luar kepala.

Ternyata seiring waktu, nyaris 10 tahun, dengan berbagai problematika dan dinamika, dan masalah serta persoalan, tahun ini kita belum bisa mudik lewat jalan tol. Mudah-mudahan khayalan saya dalam tulisan ini jadi realita tahun depan. Yang memang aromanya semakin dekat karena tahun politik. 

Tulisan Kaltim Post, ter-update tentang operasional jalan Tol Balsam direncanakan Oktober 2018. Harapan kita tentu tepat waktu. Sesuai rencana. Tapi, juga kita harus objektif. Membumi. Oktober yang tinggal empat bulanan lagi itu, harus menuntaskan sejumlah pekerjaan rumah. Ini datanya. Dari 75 persen progres proyek tol secara keseluruhan, realisasi Paket 4 jadi hambatan nyata.

Paket 4 proyek jalan bebas hambatan tersebut melintasi 17,7 kilometer di Kecamatan Palaran, Samarinda. Catatan media ini, hingga akhir Maret lalu, perkembangan segmen tersebut baru 39,7 persen. Pelaksanaan kegiatan diadang 386 bidang tanah yang belum terbebaskan. Saat itu, Pemprov Kaltim mencatat 98 bidang tanah telah melewati penilaian tim appraisal dan siap dibayar. Sedangkan 179 bidang siap tahap klarifikasi.

Total penyelesaian 277 peta bidang, tak sedikit masuk tahap konsinyasi karena tak kunjung mendapat kata sepakat dengan pemilik lahan. Konsinyasi tahap pertama melibatkan 38 peta bidang yang baru 15 di antaranya berstatus lengkap. Sedangkan tahap kedua konsinyasi terdiri dari 68 peta bidang. Adapun 277 peta bidang tersebut merupakan tambahan yang didapati setelah tahap inventarisasi ulang.

Banyaknya peta bidang yang wajib dibebaskan di Paket 4 juga imbas dari kebijakan perubahan rencana tol gate dari STA 14.200 ke STA 9+500. Langkah tersebut diambil untuk menambah aksesibilitas tol di Simpang Pasir, Samarinda. Celakanya, di lokasi baru tersebut didapati banyak persoalan tumpang tindih lahan.

Inventarisasi masalah proyek tersebut juga mendapati tumpang tindih lahan di depan Jembatan Mahkota II. Selain itu, di STA 900.05 yang semula telah dilakukan pembayaran atas klaim seorang warga, muncul klaim baru oleh warga lain yang praktis menghalangi pelaksanaan proyek.

Banyaknya bidang tanah yang harus dibebaskan, cukupkah waktu sekira tujuh bulan jika menghitung sejak akhir Maret untuk memuluskan jalan tol beroperasi Oktober nanti? Saya, kita, dan publik harus optimistis. Walau bayang-bayang pesimistis memang selalu menggelayut di pikiran. Karena memang sudah banyak contoh, banyak bukti, dalam soal-soal yang begini, kita malah jadi pesimistis karena beberapa lepas target. Tapi, sekali lagi, optimistis tentu yang paling bagus. Berprasangka baik saat bulan baik. Kepada warga yang ingin pulang kampung, selamat mudik. Masih lewat Jalan Soekarno-Hatta dulu. Persiapkan diri untuk macet di depan Rumah Makan Tahu Sumedang.

(*) Pemred Kaltim Post


BACA JUGA

Selasa, 29 Mei 2018 09:08

50 Detik Menuju 350 Meter Pohon Langit

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI * WAKTU puasa di Tokyo lebih panjang dibanding Indonesia. Enam belas jam lebih.…

Senin, 28 Mei 2018 09:48

Ngabuburit di Shibuya, Buka Puasanya Shabu-Shabu

 LAPORAN: FAROQ ZAMZAMI * PENYEBERANGAN jalan yang mendunia itu, Kamis (24/5), saya sambangi. Di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .