MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 11 Juni 2018 09:21
THR Kutunggu, THR Kuhabiskan

PROKAL.CO, Hari-hari terakhir Ramadan penuh berkah. Khususnya bagi pekerja, abdi negara atau pegawai swasta. Semua semringah. Rezeki nomplok yang ditunggu tiba. Tunjangan hari raya (THR) namanya.

PUSINGNYA kepala daerah dan pengusaha membayar THR tak dirasakan Ayu Pratiwi. Daripada pusing, dia memilih datang ke showroom sepeda motor. Seorang diri, perempuan berambut sebahu itu melangkah mantap. Disambut senyum sales promotion girl (SPG), dia langsung menunjuk sepeda motor jenis matik dengan bodi besar. Motor yang lagi kekinian dengan warna kuning menyala.

Setelah sedikit bertanya soal bahan bakar dan warna lainnya, pekerja asuransi itu mengeluarkan segepok uang dari tas jinjingnya. Tiga bundel Rp 100 ribu. Masih mulus dengan aroma khas. Kemudian dirogohnya lagi dompet. Rp 100 ribu pun berpindah tangan ke seorang pegawai showroom. Setelah menghitung, si pegawai tersenyum dan menjabat tangan Ayu.

“Alhamdulillah. Terbeli juga ini motor,” kata Ayu tampak bersyukur.

Motor dibayar tunai. Hasil menabung selama tiga tahun bekerja dan sebagai reseller kosmetik secara online. Hampir 30 persennya dari THR yang tak disentuhnya setiap ditransfer ke rekening bank. Selama itu pula perempuan yang belum genap 25 tahun itu harus rela tidak pulang ke kampung halaman di Kediri, Jawa Timur. Meski rindu orangtua kadang membuncah di kepala.

“Tak apa-apa. Ditahan dulu (mudiknya). Yang penting bisa sukses dulu di sini. Biar enggak malu kalau pulang kampung,” tutur perempuan yang belum memikirkan soal pernikahan itu.

Mengapa membeli motor, Ayu menyebutnya sebagai kebutuhan. Pernah enam bulan diantar jemput pacar. Namun, karena hubungan mereka putus, tukang ojek lah yang selama ini menemani pekerjaannya menawarkan jasa asuransi. Jadi, memiliki sepeda motor, menurutnya, lebih rasional daripada menghabiskan uang di kampung halaman.

“Siapa tahu bisa mudik pakai motor. He-he-he,” tawanya.

Beda manusia, beda pula pemikirannya. Jika Ayu lebih memilih membeli sepeda motor, Karunia Amanda memilih untuk membeli tiket pesawat. Dia sudah kangen sang ibu di kampung halamannya di Surabaya, Jawa Timur. Terakhir bertemu Idulfitri tahun lalu.

“Sudah jadi agenda rutin tiap Lebaran,” sebut perempuan yang bekerja sebagai marketing di salah satu bank swasta di Balikpapan itu.

Meski begitu, sempat ada keraguan untuk mudik. Tiket pesawat keberangkatan dari Bandara Internasional (SAMS) Sepinggan ke Bandara Internasional Juanda seharga Rp 2,6 juta. Lebih mahal Rp 2 juta dari hari biasa. Itu hanya selisih Rp 100 ribu dari uang THR-nya. Namun, keinginan untuk menginjakkan kaki dan mencium tangan ibunya lebih berharga.

“Yang penting bisa pulang. Ya, tapi itu, tak bisa bawa oleh-oleh banyak,” kata Amanda.

Sementara itu, ada Hendra yang belum tahu mau diapakan THR-nya. Baru bekerja tiga bulan sebagai pegawai restoran, Kamis (7/6) lalu, dia mendadak melompat dari tempat duduknya. Pesan singkat dari pegawai keuangan perusahaan memberi kabar. Dia dapat THR, namun tidak penuh. Disesuaikan dengan masa dia bekerja. Kalau dihitung tak sampai Rp 1 juta.

“Tetap senang. Kaget juga sih. Perasaan tak dapat karena belum setahun kerja,” sebutnya.

Dia tak punya agenda mudik. Sebab, semua keluarganya ada di Kota Minyak. Begitu pula soal keinginan beli ponsel pintar kelas premium. Disingkirkannya karena tak akan cukup dengan gaji ditambah THR-nya tahun ini. Satu-satunya pemikirannya adalah memberikan sebagian THR kepada orangtua dan anak saudara-saudaranya.

“Lumayan buat angpau ke orangtua sama keponakan. Senang lihat mereka senang,” sebut pria 18 tahun itu. 

Tak hanya mereka yang bekerja yang merasakan THR. Rini misalnya. Meski berstatus ibu rumah tangga, dia ikut senang karena dapat THR dari gaji suaminya. Sejak awal puasa, perempuan 40 tahun itu sudah menagih ke sang suami. Jika THR cair, langsung disetor buat belanja persiapan Lebaran. Beruntung, seminggu sebelum Idulfitri, suaminya yang bekerja sebagai pegawai kantor berbasis pelayanan logistik sudah menyetorkan uang tersebut.

“Buat beli daging, ayam kampung, emping, dan belanja buat kue-kue kering,” kata Rini yang berencana memasak opor itu.

Tak hanya belanja pangan, segala perabotan juga diborong. Sama seperti kebanyakan masyarakat, momen Lebaran jadi waktu yang tepat mengganti barang-barang yang dirasa usang. Menurutnya, semua itu sudah biasa. Dia pun mengakui jika peran THR-lah yang selama ini membantu keluarganya tetap bisa makan bersama dengan menu daging setiap hari raya.

“Jarang-jarang sih menu daging. Tetapi, kalau Idulfitri, selalu saya usahakan ada. Enggak enak kalau keluarga datang ke rumah menunya sederhana,” sebutnya.

THR memang bi­sa di­ana­lo­gi­kan dengan pe­nya­lur­­an bantu­an tunai untuk ma­sya­­rakat ku­rang mampu, ma­kanya penyaluran se­tiap Rp 1 akan mem­­p­ercepat pe­n­­urunan kemis­­kinan sebesar 2,5 kali di­ban­ding­kan pem­be­ri­an bantu­an da­lam bentuk beras mi­­s­kin. De­ngan analog ini, se­ha­­­rus­nya THR ber­potensi besar se­­bagai salah satu faktor yang si­g­­nifikan da­lam menurunkan kemiskinan (Ndia­me Diop, eko­nom Bank Du­nia un­­tuk wilayah Asia Pa­si­fik, 2016).

Ada­nya peningkatan ke­mam­pu­an masyarakat dengan THR, terjadi pening­kat­an pula daya beli masyarakat. Seca­ra makro, ini me­ning­kat­kan agregat konsumsi rumah tang­ga. Dari sisi pertumbuhan eko­nomi, peningkatan konsum­si rumah tangga tentu saja men­jadi sinyal positif bagi Laju Per­tumbuhan Ekonomi (LPE) kuar­tal II.

Gubernur Bank In­do­ne­sia (BI) Per­ry Warjiyo memprediksi­kan, selama tri­wu­lan II/2018, per­ekonomian akan tumbuh men­dekati level 5,15%. Pe­ning­kat­an pendapat­an masyarakat ka­rena THR men­jadi stimulus positif bagi per­tumbuhan eko­nomi kuar­tal II yang lebih cepat di­­ban­ding­kan kuartal I. Walaupun peningkatan konsum­si rumah tangga men­jadi sti­­mu­lus bagi pertumbuh­an eko­no­mi, perlu suatu pro­ses per­ubahan pola kon­sum­si m­a­sya­rakat berkaitan de­ngan THR yang diterima.

Sayangnya, tak semua orang dapat bersukacita menikmati uang THR. Di satu sisi, ada pula pekerja yang harus sabar diri dan menahan pahit. Seperti yang dialami oleh Mega yang sudah bekerja hingga enam bulan di sebuah perusahaan penyedia jasa sistem informasi dan manajemen. Statusnya sebagai pegawai magang membuatnya tak dapat mencicipi rasa uang THR.

Walhasil, dia hanya bisa pasrah. Tak lagi berharap perusahaannya untuk menyediakan uang THR bagi mereka yang berstatus magang. Menutupi kebutuhan Lebaran, terpaksa dia harus menguras tabungan dari gajinya yang tak seberapa.

Keinginan mendapat THR memang sungguh besar. Sebagai pekerja meski magang, dia ingin pula mendapatkan tambahan dana segar. Penantiannya sejak sekolah untuk bisa membantu keuangan keluarga belum terpenuhi tahun ini. Malah sebaliknya. “Akhirnya, sama orangtua ditambahi uang buat beli baju baru,” sebutnya. (tim KP)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 08:54

Mewaspadai Sisi Gelap Uang Digital

Oleh: Suharyono Soemarwoto, MM MENGGEMPARKAN! Itulah kata tepat menggambarkan kemajuan mata uang berbasis                                            …

Jumat, 10 Agustus 2018 08:57

Rita Pergi, Siapa Ganti Edi?

Tensi politik Kota Raja memanas. Edi Damansyah makin mulus mengisi kursi bupati yang ditinggalkan Rita…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:54

Kasak-kusuk Golkar, Gerindra, dan PKS

TAK adanya larangan yang terang bagi kader partai politik untuk mengisi kekosongan jabatan wakil bupati…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:33

Kesultanan Berharap Putra Daerah Jabat Bupati

KUTAI Kartanegara (Kukar) mencari pemimpin baru. Setelah putusan hukum Rita Widyasari inkrah, Edi Damansyah…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:32

Parlemen Meminta Pendamping

JALUR perseorangan ternyata tak bebas dari aturan. Jika menang pilkada kemudian salah satunya (kepala…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:27

Kutim Dua Kali Tak Pilih Wakil

KEKOSONGAN jabatan kepala daerah yang terjadi di Kutai Kartanegara (Kukar), sebenarnya sudah terjadi…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:24

“Saya Belum Memikirkan”

DALAM hitungan hari setelah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari ditahan KPK dengan…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:00

Target Sejuta Anak Divaksin

DINAS Kesehatan (Diskes) Kaltim mengaku tidak ingin berbicara soal halal atau tidaknya vaksin measles…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:14

Label Halal Bikin Galau

Vaksin measles dan rubella (MR) mental. Belum mampu menembus urat nadi jutaan siswa sekolah dasar. Musababnya…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:10

Boleh Imunisasi MR, asal…

SELEPAS salat Jumat (3/8), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Kesehatan akhirnya bertatap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .