MANAGED BY:
SENIN
20 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 11 Juni 2018 09:15
Akselerasi Sektor Dagang dan Transportasi
Mirnayanti Jayasari

PROKAL.CO, TUNJANGAN Hari Raya menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, kebutuhan juga meningkat selama Ramadan dan Lebaran. Peningkatan daya beli memberikan dampak positif. Namun, bisa timbul dampak negatif berupa inflasi tinggi jika tak dikendalikan.

Manajer Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveilans KPw Bank Indonesia Balikpapan Nyi Mas Mirnayanti Jayasari menjelaskan, peningkatan daya beli pada momen Ramadan dan Lebaran diperkirakan mendorong konsumsi rumah tangga. Sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan besar dan eceran, serta sektor transportasi diperkirakan terakselerasi ditopang peningkatan permintaan dan arus mudik maupun arus balik,” ujarnya kepada Kaltim Post.

Pada Juni 2018, inflasi Kota Balikpapan diperkirakan lebih tinggi ketimbang Mei. Terutama didorong kenaikan tarif angkutan udara. Namun, BI optimistis inflasi Juni terjaga pada level 3,5 +/- 1% (yoy) sesuai targetnya.

Hal ini terutama didukung peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan. Baik dalam hal memastikan kecukupan pasokan, maupun pengendalian ekspektasi masyarakat melalui bijak berbelanja.

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan permintaan uang tunai pada Ramadan hingga Lebaran, KPw BI Balikpapan menyiapkan Rp 1,54 triliun. Meningkat 24 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp 1,24 triliun.

Peningkatan kebutuhan uang didorong adanya cuti atau libur bersama dan faktor adanya pembayaran tunjangan hari raya maupun gaji pegawai. Hal ini berdampak terhadap meningkatnya daya beli masyarakat yang mendorong peningkatan estimasi kebutuhan uang tunai yang harus dipenuhi perbankan.

Tren permintaan uang kartal saat momentum Ramadan di Balikpapan tiap tahunnya naik. “Itu sudah termasuk untuk penukaran di kas keliling, tunjangan hari raya, penukaran untuk bank, dan untuk stok di ATM,” bebernya.

Identik dengan hasil cetak sempurna (HCS) alias uang baru, maka kebutuhannya pun disesuaikan. Untuk uang pecahan kecil mulai Rp 2.000 hingga Rp 20.000 mayoritas HCS. Sedangkan pecahan besar sebagian HCS, dan sebagian lagi menggunakan ULE (uang layak edar).

"Masyarakat bisa melakukan penukaran maksimal Rp 3,7 juta per orang. Dengan perincian, pecahan Rp 20 ribu sebanyak Rp 2 juta, pecahan Rp 10 ribu sebanyak Rp 1 juta, pecahan Rp 5 ribu sebanyak Rp 500 ribu dan pecahan Rp 2 ribu sebanyak Rp 200 ribu,” terangnya.

Penukaran dapat dilakukan melalui kas keliling maupun di bank dengan layanan resmi. Kehadiran layanan tersebut sekaligus menggantikan program penukaran yang selama ini dipusatkan KPw BI. Di samping itu, BI mengimbau masyarakat untuk melakukan penukaran uang tunai di tempat-tempat resmi, baik yang diselenggarakan oleh BI, perbankan, dan pihak lain yang ditunjuk BI.

Pihaknya terus mendorong masyarakat menghindari penukaran uang tidak resmi yang biasanya marak ditemukan di pinggir jalan dan tempat keramaian. “Selain uangnya jadi berkurang karena ada biayanya, kita juga tidak tahu uangnya asli atau tidak,” katanya. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 11 April 2019 11:27

Kebanyakan Main Gim, Waspada Anak Jadi Anti-Sosial

PERKEMBANGAN teknologi membuat permainan tradisional tenggelam. Semakin banyak anak-anak yang…

Kamis, 11 April 2019 11:26

Dua Sisi Adiksi Gim

Bak pedang bermata dua, candu gim itu membawa faedah. Namun,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*