MANAGED BY:
MINGGU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 10 Juni 2018 07:43
Hasil Tangkapan Ikan Berkurang, Ratusan Nelayan Protes Bongkar Muat Batu Bara di Laut
KENA DAMPAK: Sejumlah nelayan yang memprotes aktivitas ship to ship batu bara di perairan Manggar, Balikpapan Timur, kemarin. Kegiatan ini diduga mengganggu habitat ikan. (PAKSI SANDANG PRABOWO/KP)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Sambil menunjukkan tumpukan batu bara yang basah di atas kapal, ratusan nelayan dengan menumpang sekitar 80 kapal, kemarin (9/6) melakukan unjuk rasa. Mereka mengaku gerah dengan aktivitas bongkar muat batu bara (ship to ship transfer) di perairan Manggar, Balikpapan Timur. Tempat nelayan selama ini mencari ikan untuk kehidupan.

Berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar di Jalan Rekreasi Lama, RT 13, nelayan berkonvoi sekitar pukul 08.30 Wita. Masing-masing kapal membawa dua hingga empat nelayan. Mereka lantas berlayar sejauh 8 mil ke lepas laut. Mendatangi yang dari kejauhan tampak kapal ponton dengan muatan batu bara. Di sampingnya juga terlihat kapal kargo.

Berlayar di tengah ombak 1–2 meter, kapal nelayan terus melaju dengan pengawalan kapal dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Balikpapan. Sampai pada pukul 10.30 Wita. Kedatangan nelayan tak disambut kru kapal.

Tak ada aktivitas bongkar muat. Membuat  nelayan leluasa naik ke kapal ponton dengan nama Fortuna 35 Tanjung Priok. Hal serupa juga terjadi ketika nelayan memasang spanduk di kapal ponton Asia Star 202 Samarinda. Kemudian mereka membentangkan spanduk. Di spanduk tampak protes nelayan selama ini. “Usir tongkang batu bara dari wilayah tangkapan nelayan. Kapal batu bara membunuh nelayan,” teriak belasan nelayan yang naik ke kapal ponton.

Nelayan Manggar, Sakkirang, menyebut aktivitas bongkar muat batu bara di perairan Manggar awalnya dianggap biasa. Dalam lima tahun terakhir, nelayan mampu beradaptasi. Namun, dalam setahun terakhir, mereka merasakan dampak. Jala mereka tak lagi hanya menangkap ikan, udang, dan kepiting. Namun ratusan bongkahan batu bara.

“Sebelumnya hanya sedikit kapal batu bara yang beraktivitas di sini. Namun sekarang semakin banyak. Kami rugi. Laut tempat kami mencari ikan tercemar,” kata Sakkirang yang sudah 30 tahun menjadi nelayan.

Dia khawatir, jika persoalan ini berlarut-larut dan tak ada solusi dari pemerintah, nelayan akan semakin sulit memenuhi kehidupan sehari-hari. Sehingga bisa melakukan tindakan nekat, bahkan bisa bersinggungan dengan hukum.

Hal ini dikatakannya, karena nelayan jadi satu-satunya mata pencaharian mereka. “Kondisi sekarang semakin sulit. Kami pun harus melaut jauh dan menangkap di perairan lain agar bisa mendapatkan hasil,” ungkapnya.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang yang ikut mengawal aksi unjuk rasa nelayan menjelaskan, ada lima tuntutan nelayan yang geram dengan aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar.

Pertama, menolak adanya kapal batu bara di perairan nelayan. Kedua, mengganti rugi atas pencemaran karena aktivitas kapal batu bara. Ketiga, memulihkan perairan Balikpapan dari limbah batu bara. Keempat, meminta pihak yang berwenang seperti kepolisian untuk memproses hukum tindak pencemaran.

“Terakhir, segera tetapkan aturan soal zonasi wilayah. Mana perairan untuk nelayan, mana yang digunakan sebagai jalur aktivitas kapal batu bara. Aturan ini belum ada. Dan selama belum ada konflik terus berlanjut,” ujarnya.

Aksi tersebut sebagai peringatan keras, baik kepada perusahaan maupun pemerintah. Kepada perusahaan batu bara yang beraktivitas di perairan Manggar, aksi ini akan terus berlanjut dan mereka dilarang melakukan aktivitas.

Jika ngotot, nelayan akan melakukan aksi yang bisa dibenarkan menurut pandangan nelayan. Sementara bagi pemerintah, Rupang menyebut, agar segera ditindaklanjuti dengan keputusan yang tegas terkait kondisi blokade nelayan ini. “Respons pemerintah sangat minim. Buktinya dari dinas terkait tak hadir dalam aksi ini. Ke mana mereka. Pemerintah abai,” ujarnya.

Terkait dugaan pencemaran, Rupang menegaskan, adanya batu bara yang diangkut nelayan saat menjaring ikan adalah bukti nyata. Selama ini proses pemindahan batu bara dari ponton ke kapal kargo membuat ceceran. Yang kemudian terjatuh ke laut. “Nelayan punya bukti. Mereka menangkap ikan pakai jaring jala. Namun, yang terkena tangkapan justru batu bara. Barang bukti bongkahan batu bara ada di TPI Manggar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan Suryanto mengaku baru tahu soal adanya dugaan pencemaran akibat aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar. Sebab, selama ini dia belum ada menerima informasi, baik laporan dari bawahannya ataupun keluhan langsung dari nelayan. Hal itu mengejutkannya ketika dihubungi Kaltim Post tadi malam (9/6).

“Kewenangannya memang di DLH Kaltim. Sesuai aturan 0–12 mil laut itu ranahnya provinsi. Namun, kami juga akan bantu menelusuri ini. Perusahaannya siapa, akan kami kumpulkan informasinya,” kata Suryanto.

Sejauh ini, memang ada potensi pencemaran jika menyangkut aktivitas bongkar muat batu bara. Namun, untuk kasus ini, dia belum bisa berkomentar lebih jauh. Perlu didukung data dan informasi langsung di lapangan. Karena itu, dia berjanji akan berkoordinasi dengan DLH Kaltim untuk menindaklanjutinya.

“Saya tak bisa berkata banyak dulu. Kami akan koordinasi dengan provinsi. Seperti kasus pencemaran Teluk Balikpapan, kami juga bisa turun dalam pelaksanaannya,” sebutnya. Balikpapan bisa dibilang ketiban dampaknya dari aktivitas pertambangan batu bara. Mengingat kota ini tak memiliki tambang. Sementara patut diduga batu bara tersebut berasal dari beberapa daerah penghasil emas hitam di Kaltim. Yang terdekat Kutai Kartanegara, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Paser. (*/rdh/rom/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Februari 2019 11:00

Diguyur Bankeu Rp 23 Miliar, Tenggarong Seberang-Muara Badak Bakal Tersambung

TENGGARONG–Interkoneksi jalan antarkecamatan di Kukar tahun ini kembali berlanjut. Setelah…

Sabtu, 23 Februari 2019 09:23

LELET ...!! Bandara Sangkima Diminta Tunda

SANGATTA – Proyek tahun jamak alias multiyears contract (MYC) di…

Sabtu, 23 Februari 2019 09:21

Kepala BNN : Kaltim Jalur Masuk Pasokan Narkoba dari Luar

SAMARINDA - Kepala Badan Narkotika Nasional RI, Komjen Pol Heru…

Jumat, 22 Februari 2019 11:49

SYUKURLAH..!! Pemprov dan Yayasan Melati Akhiri Sengketa

SAMARINDA – Sengketa berkepanjangan kepemilikan lahan dan aset SMA 10…

Jumat, 22 Februari 2019 09:16

Terseret Mafia Sepak Bola, Ini Kata Yunus Nusi...

SAMARINDA – Kasus Mafia Pengaturan Skor kembali menyeruak di sepak…

Kamis, 21 Februari 2019 14:43

PARAHNYA..!! Banyak Tambang Cacat Administrasi, 876 IUP Proses Pencabutan, 81 Dihentikan Sementara

SAMARINDA – Proses pembenahan aktivitas pertambangan di Kaltim terus dilakukan.…

Kamis, 21 Februari 2019 10:15

Tiket Pesawat Mahal, Masyarakat Naik Kapal

SAMARINDA- Indonesia National Air Carrier Association (INACA) mengakui mulai akhir…

Kamis, 21 Februari 2019 08:40

Kenapa Lubang Tambang di Samarinda Tak Direklamasi? Ini Jawaban Distamben Kaltim

SAMARINDA - Lubang bekas tambang di kota Samarinda masih banyak…

Kamis, 21 Februari 2019 08:36

Mantan Rektor : Selisih Kas BLU Rp 35 Miliar Tanggung Jawab PR II Unmul

SAMARINDA - Mantan Rektor Unmul Zamruddin Hasid mengaku temuan selisih…

Rabu, 20 Februari 2019 12:50

Lahan Perumahan Masuk Zona Hijau, Kapan Revisi RTRW Samarinda?

SAMARINDA – Para pengembang hunian di Kaltim saat ini masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*