MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 10 Juni 2018 07:43
Hasil Tangkapan Ikan Berkurang, Ratusan Nelayan Protes Bongkar Muat Batu Bara di Laut
KENA DAMPAK: Sejumlah nelayan yang memprotes aktivitas ship to ship batu bara di perairan Manggar, Balikpapan Timur, kemarin. Kegiatan ini diduga mengganggu habitat ikan. (PAKSI SANDANG PRABOWO/KP)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Sambil menunjukkan tumpukan batu bara yang basah di atas kapal, ratusan nelayan dengan menumpang sekitar 80 kapal, kemarin (9/6) melakukan unjuk rasa. Mereka mengaku gerah dengan aktivitas bongkar muat batu bara (ship to ship transfer) di perairan Manggar, Balikpapan Timur. Tempat nelayan selama ini mencari ikan untuk kehidupan.

Berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar di Jalan Rekreasi Lama, RT 13, nelayan berkonvoi sekitar pukul 08.30 Wita. Masing-masing kapal membawa dua hingga empat nelayan. Mereka lantas berlayar sejauh 8 mil ke lepas laut. Mendatangi yang dari kejauhan tampak kapal ponton dengan muatan batu bara. Di sampingnya juga terlihat kapal kargo.

Berlayar di tengah ombak 1–2 meter, kapal nelayan terus melaju dengan pengawalan kapal dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Balikpapan. Sampai pada pukul 10.30 Wita. Kedatangan nelayan tak disambut kru kapal.

Tak ada aktivitas bongkar muat. Membuat  nelayan leluasa naik ke kapal ponton dengan nama Fortuna 35 Tanjung Priok. Hal serupa juga terjadi ketika nelayan memasang spanduk di kapal ponton Asia Star 202 Samarinda. Kemudian mereka membentangkan spanduk. Di spanduk tampak protes nelayan selama ini. “Usir tongkang batu bara dari wilayah tangkapan nelayan. Kapal batu bara membunuh nelayan,” teriak belasan nelayan yang naik ke kapal ponton.

Nelayan Manggar, Sakkirang, menyebut aktivitas bongkar muat batu bara di perairan Manggar awalnya dianggap biasa. Dalam lima tahun terakhir, nelayan mampu beradaptasi. Namun, dalam setahun terakhir, mereka merasakan dampak. Jala mereka tak lagi hanya menangkap ikan, udang, dan kepiting. Namun ratusan bongkahan batu bara.

“Sebelumnya hanya sedikit kapal batu bara yang beraktivitas di sini. Namun sekarang semakin banyak. Kami rugi. Laut tempat kami mencari ikan tercemar,” kata Sakkirang yang sudah 30 tahun menjadi nelayan.

Dia khawatir, jika persoalan ini berlarut-larut dan tak ada solusi dari pemerintah, nelayan akan semakin sulit memenuhi kehidupan sehari-hari. Sehingga bisa melakukan tindakan nekat, bahkan bisa bersinggungan dengan hukum.

Hal ini dikatakannya, karena nelayan jadi satu-satunya mata pencaharian mereka. “Kondisi sekarang semakin sulit. Kami pun harus melaut jauh dan menangkap di perairan lain agar bisa mendapatkan hasil,” ungkapnya.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang yang ikut mengawal aksi unjuk rasa nelayan menjelaskan, ada lima tuntutan nelayan yang geram dengan aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar.

Pertama, menolak adanya kapal batu bara di perairan nelayan. Kedua, mengganti rugi atas pencemaran karena aktivitas kapal batu bara. Ketiga, memulihkan perairan Balikpapan dari limbah batu bara. Keempat, meminta pihak yang berwenang seperti kepolisian untuk memproses hukum tindak pencemaran.

“Terakhir, segera tetapkan aturan soal zonasi wilayah. Mana perairan untuk nelayan, mana yang digunakan sebagai jalur aktivitas kapal batu bara. Aturan ini belum ada. Dan selama belum ada konflik terus berlanjut,” ujarnya.

Aksi tersebut sebagai peringatan keras, baik kepada perusahaan maupun pemerintah. Kepada perusahaan batu bara yang beraktivitas di perairan Manggar, aksi ini akan terus berlanjut dan mereka dilarang melakukan aktivitas.

Jika ngotot, nelayan akan melakukan aksi yang bisa dibenarkan menurut pandangan nelayan. Sementara bagi pemerintah, Rupang menyebut, agar segera ditindaklanjuti dengan keputusan yang tegas terkait kondisi blokade nelayan ini. “Respons pemerintah sangat minim. Buktinya dari dinas terkait tak hadir dalam aksi ini. Ke mana mereka. Pemerintah abai,” ujarnya.

Terkait dugaan pencemaran, Rupang menegaskan, adanya batu bara yang diangkut nelayan saat menjaring ikan adalah bukti nyata. Selama ini proses pemindahan batu bara dari ponton ke kapal kargo membuat ceceran. Yang kemudian terjatuh ke laut. “Nelayan punya bukti. Mereka menangkap ikan pakai jaring jala. Namun, yang terkena tangkapan justru batu bara. Barang bukti bongkahan batu bara ada di TPI Manggar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan Suryanto mengaku baru tahu soal adanya dugaan pencemaran akibat aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar. Sebab, selama ini dia belum ada menerima informasi, baik laporan dari bawahannya ataupun keluhan langsung dari nelayan. Hal itu mengejutkannya ketika dihubungi Kaltim Post tadi malam (9/6).

“Kewenangannya memang di DLH Kaltim. Sesuai aturan 0–12 mil laut itu ranahnya provinsi. Namun, kami juga akan bantu menelusuri ini. Perusahaannya siapa, akan kami kumpulkan informasinya,” kata Suryanto.

Sejauh ini, memang ada potensi pencemaran jika menyangkut aktivitas bongkar muat batu bara. Namun, untuk kasus ini, dia belum bisa berkomentar lebih jauh. Perlu didukung data dan informasi langsung di lapangan. Karena itu, dia berjanji akan berkoordinasi dengan DLH Kaltim untuk menindaklanjutinya.

“Saya tak bisa berkata banyak dulu. Kami akan koordinasi dengan provinsi. Seperti kasus pencemaran Teluk Balikpapan, kami juga bisa turun dalam pelaksanaannya,” sebutnya. Balikpapan bisa dibilang ketiban dampaknya dari aktivitas pertambangan batu bara. Mengingat kota ini tak memiliki tambang. Sementara patut diduga batu bara tersebut berasal dari beberapa daerah penghasil emas hitam di Kaltim. Yang terdekat Kutai Kartanegara, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Paser. (*/rdh/rom/k16)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 12:00

Ngga Jelas, Ternyata Kilang Bontang Masih Tunggu Investor

BONTANG – Pembangunan kilang minyak di Bontang belum ada kejelasan. Pemerintah belum memutuskan…

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Mantan Jubir Kemendagri, Tiga Bulan Jadi Pj Gubernur

SAMARINDA - Teka-teki penjabat (Pj) gubernur Kaltim yang ditunjuk Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .