MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 10 Juni 2018 07:43
Hasil Tangkapan Ikan Berkurang, Ratusan Nelayan Protes Bongkar Muat Batu Bara di Laut
KENA DAMPAK: Sejumlah nelayan yang memprotes aktivitas ship to ship batu bara di perairan Manggar, Balikpapan Timur, kemarin. Kegiatan ini diduga mengganggu habitat ikan. (PAKSI SANDANG PRABOWO/KP)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Sambil menunjukkan tumpukan batu bara yang basah di atas kapal, ratusan nelayan dengan menumpang sekitar 80 kapal, kemarin (9/6) melakukan unjuk rasa. Mereka mengaku gerah dengan aktivitas bongkar muat batu bara (ship to ship transfer) di perairan Manggar, Balikpapan Timur. Tempat nelayan selama ini mencari ikan untuk kehidupan.

Berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar di Jalan Rekreasi Lama, RT 13, nelayan berkonvoi sekitar pukul 08.30 Wita. Masing-masing kapal membawa dua hingga empat nelayan. Mereka lantas berlayar sejauh 8 mil ke lepas laut. Mendatangi yang dari kejauhan tampak kapal ponton dengan muatan batu bara. Di sampingnya juga terlihat kapal kargo.

Berlayar di tengah ombak 1–2 meter, kapal nelayan terus melaju dengan pengawalan kapal dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Balikpapan. Sampai pada pukul 10.30 Wita. Kedatangan nelayan tak disambut kru kapal.

Tak ada aktivitas bongkar muat. Membuat  nelayan leluasa naik ke kapal ponton dengan nama Fortuna 35 Tanjung Priok. Hal serupa juga terjadi ketika nelayan memasang spanduk di kapal ponton Asia Star 202 Samarinda. Kemudian mereka membentangkan spanduk. Di spanduk tampak protes nelayan selama ini. “Usir tongkang batu bara dari wilayah tangkapan nelayan. Kapal batu bara membunuh nelayan,” teriak belasan nelayan yang naik ke kapal ponton.

Nelayan Manggar, Sakkirang, menyebut aktivitas bongkar muat batu bara di perairan Manggar awalnya dianggap biasa. Dalam lima tahun terakhir, nelayan mampu beradaptasi. Namun, dalam setahun terakhir, mereka merasakan dampak. Jala mereka tak lagi hanya menangkap ikan, udang, dan kepiting. Namun ratusan bongkahan batu bara.

“Sebelumnya hanya sedikit kapal batu bara yang beraktivitas di sini. Namun sekarang semakin banyak. Kami rugi. Laut tempat kami mencari ikan tercemar,” kata Sakkirang yang sudah 30 tahun menjadi nelayan.

Dia khawatir, jika persoalan ini berlarut-larut dan tak ada solusi dari pemerintah, nelayan akan semakin sulit memenuhi kehidupan sehari-hari. Sehingga bisa melakukan tindakan nekat, bahkan bisa bersinggungan dengan hukum.

Hal ini dikatakannya, karena nelayan jadi satu-satunya mata pencaharian mereka. “Kondisi sekarang semakin sulit. Kami pun harus melaut jauh dan menangkap di perairan lain agar bisa mendapatkan hasil,” ungkapnya.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang yang ikut mengawal aksi unjuk rasa nelayan menjelaskan, ada lima tuntutan nelayan yang geram dengan aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar.

Pertama, menolak adanya kapal batu bara di perairan nelayan. Kedua, mengganti rugi atas pencemaran karena aktivitas kapal batu bara. Ketiga, memulihkan perairan Balikpapan dari limbah batu bara. Keempat, meminta pihak yang berwenang seperti kepolisian untuk memproses hukum tindak pencemaran.

“Terakhir, segera tetapkan aturan soal zonasi wilayah. Mana perairan untuk nelayan, mana yang digunakan sebagai jalur aktivitas kapal batu bara. Aturan ini belum ada. Dan selama belum ada konflik terus berlanjut,” ujarnya.

Aksi tersebut sebagai peringatan keras, baik kepada perusahaan maupun pemerintah. Kepada perusahaan batu bara yang beraktivitas di perairan Manggar, aksi ini akan terus berlanjut dan mereka dilarang melakukan aktivitas.

Jika ngotot, nelayan akan melakukan aksi yang bisa dibenarkan menurut pandangan nelayan. Sementara bagi pemerintah, Rupang menyebut, agar segera ditindaklanjuti dengan keputusan yang tegas terkait kondisi blokade nelayan ini. “Respons pemerintah sangat minim. Buktinya dari dinas terkait tak hadir dalam aksi ini. Ke mana mereka. Pemerintah abai,” ujarnya.

Terkait dugaan pencemaran, Rupang menegaskan, adanya batu bara yang diangkut nelayan saat menjaring ikan adalah bukti nyata. Selama ini proses pemindahan batu bara dari ponton ke kapal kargo membuat ceceran. Yang kemudian terjatuh ke laut. “Nelayan punya bukti. Mereka menangkap ikan pakai jaring jala. Namun, yang terkena tangkapan justru batu bara. Barang bukti bongkahan batu bara ada di TPI Manggar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan Suryanto mengaku baru tahu soal adanya dugaan pencemaran akibat aktivitas kapal batu bara di perairan Manggar. Sebab, selama ini dia belum ada menerima informasi, baik laporan dari bawahannya ataupun keluhan langsung dari nelayan. Hal itu mengejutkannya ketika dihubungi Kaltim Post tadi malam (9/6).

“Kewenangannya memang di DLH Kaltim. Sesuai aturan 0–12 mil laut itu ranahnya provinsi. Namun, kami juga akan bantu menelusuri ini. Perusahaannya siapa, akan kami kumpulkan informasinya,” kata Suryanto.

Sejauh ini, memang ada potensi pencemaran jika menyangkut aktivitas bongkar muat batu bara. Namun, untuk kasus ini, dia belum bisa berkomentar lebih jauh. Perlu didukung data dan informasi langsung di lapangan. Karena itu, dia berjanji akan berkoordinasi dengan DLH Kaltim untuk menindaklanjutinya.

“Saya tak bisa berkata banyak dulu. Kami akan koordinasi dengan provinsi. Seperti kasus pencemaran Teluk Balikpapan, kami juga bisa turun dalam pelaksanaannya,” sebutnya. Balikpapan bisa dibilang ketiban dampaknya dari aktivitas pertambangan batu bara. Mengingat kota ini tak memiliki tambang. Sementara patut diduga batu bara tersebut berasal dari beberapa daerah penghasil emas hitam di Kaltim. Yang terdekat Kutai Kartanegara, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Paser. (*/rdh/rom/k16)


BACA JUGA

Kamis, 21 Juni 2018 23:00

Pemilih Tak Puas Picu Golput Tinggi

SAMARINDA – Sepekan jelang pencoblosan, potensi golongan putih (golput) di Pilgub Kaltim justru…

Kamis, 21 Juni 2018 14:00
Argentina vs Kroasia

Gempur Habis-habisan

NIZHNY NOVGOROD – Aib terbesar Argentina di ajang Piala Dunia setelah pergantian abad datang pada…

Kamis, 21 Juni 2018 11:00

ADA APA INI..?? Bupati Yusran Sindir Cabup

PENAJAM – Bahasan mengenai pembangunan Jembatan Tol Teluk Balikpapan pada Debat Kandidat Pasangan…

Kamis, 21 Juni 2018 08:43

INGAT..!! Perpanjang Libur Kena Sanksi

JAKARTA – Setelah libur panjang Lebaran sejak Sabtu (9/6), para aparatur sipil negara (ASN) diharuskan…

Kamis, 21 Juni 2018 08:42
Cerita Mahasiswa Kaltim di Balik Gelaran Piala Dunia di Rusia (1)

Jual Merchandise, Pecahan 100 Rubel Paling Laris

Piala Dunia 2018 membawa berkah tersendiri bagi mahasiswa Kaltim yang mengenyam pendidikan di Rusia.…

Rabu, 20 Juni 2018 13:00

Nasib Jembatan Tol Teluk Balikpapan Terancam

PENAJAM – Komitmen pasangan calon bupati dan wakil bupati Penajam Paser Utara (PPU) menuntaskan…

Rabu, 20 Juni 2018 12:36
Iran vs Spanyol

Percaya De Gea

KAZAN – Kiper Spanyol David de Gea membuat kesalahan besar pada debutnya di Piala Dunia 2018.…

Rabu, 20 Juni 2018 08:25
35.903 Orang Keluar lewat Semayang, Yang Balik Sebelum Pilkada Hanya 5.400-an

Cepat Pulang, demi Masa Depan Kaltim

SAMARINDA – Kekhawatiran angka golongan putih (golput) meninggi pada pemilihan kepala daerah (pilkada)…

Rabu, 20 Juni 2018 08:20
Pemkab Kukar Klaim Sudah Ajukan Izin Pemanfaatan Kawasan Tahura

Pusat Dituding Setengah Hati

TENGGARONG – Sejumlah objek yang beroperasi di atas Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto bakal…

Rabu, 20 Juni 2018 08:17

Alquran Salah Cetak Belum Ditemukan di Kaltim

SAMARINDA­ – Lembaran Alquran salah cetak beredar. Ayat-ayatnya tidak sesuai sehingga maknanya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .