MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Sabtu, 09 Juni 2018 01:52
Menjadi Aneh di Hussainiah

Oleh: Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

PROKAL.CO, KAMI masih nyamil saat sang imam maju ke tempatnya. Ada 20-an orang di dalam masjid Syiah di San Antonio, Texas ini.

Imam duduk bersimpuh di atas sajadah. Memandang benda bulat pipih di depannya. Lalu menggeser turbah itu agar persis di posisi dahinya saat sujud nanti. Seorang anak muda berdiri.

Mengumandangkan azan. Oh... azannya khas. Setelah dua kalimah syahadat itu: ada kumandangan apresiasi untuk Sayidina Ali. Lalu dilanjutkan dengan seruan untuk salat. Dan seterusnya.

Lalu mulailah salat Magrib. Tangan tidak ada yang sedekap. Tidak aneh. Saya temukan juga yang seperti itu di masjid-masjid Tiongkok. Di Aljazair. Sebagian di Makkah. Tapi tetap saja saya telanjur. Seperti otomatis: sedekap. Sendirian.

Saat rukuk, bacaannya hanya sekali. Bukan tiga kali. Ditambah salawat nabi. Demikian juga saat sujud. Posisi duduknya selalu sama: bersimpuh. Dua telapak kaki ditindih pantat.

Pada rakaat pertama, saya sudah kecolongan: teriak “Amiiin” sendirian. Saat imam selesai membaca Al-Fatihah. Terulang pengalaman pertama dulu: saat salat berjamaah di Beijing. Rakaat-rakaat berikutnya saya tidak lagi teriak “Amiiin”.

Eh, kecolongan lagi. Masih di rakaat pertama: setelah bacaan surah saya langsung menundukkan badan, rukuk. Ternyata mereka tidak langsung rukuk. Baca doa dulu. Mirip kunut itu. Terpaksa saya membatalkan rukuk. Ikut angkat tangan. Dan ikut menyahut “amiin” beberapa kali.

Kok tulisan ini jadi teknis sekali ya. Maafkan pembaca Disway yang Kristen. Atau Buddha. Atau Hindu. Atau Konghucu.

Sekaligus menunjukkan bahwa tata cara peribadatan itu memang rumit. Di semua agama. Kecuali di Buddha aliran Tzu Chi. Yang berpusat di Hualian, Taiwan. Yang melarang umatnya sembahyang. Yang memiliki stasiun TV “Daai” (baca: Ta Ai). Yang juga melarang umatnya memiliki rumah ibadah.

Sembahyangnya adalah berbuat baik, membantu orang, dan rendah hati. Saya pernah ikut ke pusatnya di Hualian. Bermalam di sana. Ikut angkat-angkat bahan makanan. Yang akan dikirim untuk orang miskin.

Di Hualian saya juga sempat makan bersama pimpinan tertingginya: Shang Ren. Seorang perempuan. Selalu berpakaian biksu. Kepala digundul.

Membangun rumah ibadah, kata Shang Ren, hanya akan membuat hati tidak damai. Karena memikirkan persaingan. Jor-joran. Besar-besaran. Megah-megahan. Indah-indahan.

Melupakan realitas miskin di sekitarnya. Ya sudah. Kembali ke yang teknis tadi: tapi terlalu detail.

Langsung saja ke gerakan terakhir salat: salam. Ucapan salam diucapkan, tapi tidak pakai toleh kanan dan toleh kiri.

Setelah wirid dan salat sunah, sang imam berdiri: azan. Seperti tadi: ada sisipan kalimat apresiasi untuk Sayidina Ali. Saya berbisik ke orang yang di sebelah saya: azan apa ini? Baru selesai salat Magrib kok ada azan lagi? "Kita akan salat Isya,'' bisiknya.

Oh... Syiah beneran. Salat Isyanya digabung dengan Magrib. Seperti Zuhurnya digabung dengan Ashar.

Selesai semua itu: makan. Di ruang sebelah. Ada sembilan jenis makanan. Enak-enak semua: kelihatannya. Saya hanya ambil nasi kuning, irisan daging, dan spageti. Duduk di lantai. Gaya Arab.

Saya pilih posisi di dekat sang imam. Yang duduk di atas kursi. ''Sini. Duduk sebelah saya sini,'' ujar sang imam pada saya. Sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. ''La. Anna fi hunna. Hakadza,'' kata saya sambil bersila di bawah posisinya.

Saya manfaatkan kedekatan posisi itu untuk bertanya. ''Jam berapa nanti salat Tarawihnya?'' tanya saya.

Maksud saya: kan salat Isyanya sudah. ''Di masjid ini tidak ada Tarawih,'' jawabnya.

''Berarti akan Tarawih di rumah masing-masing?'' ''Tidak juga. Kami tidak melakukan Tarawih.''

Oh... ya sudah. Rapopo. Kami pun makin akrab. Makan hampir selesai. Saya pindah duduk di kursi sebelah imam. Agar bisa berbisik.

Akan ajukan beberapa pertanyaan sensitif. Agar tidak didengar yang lain. Terutama anak-anak muda yang pakai celana selutut itu. ''Apakah boleh salat pakai celana selutut seperti mereka itu?'' bisik saya. Lirih sekali. Takut-takut. Tidak berani sambil menatap mereka.

Sayangnya bisikan itu terlalu pelan. Sang imam minta saya mengulanginya lebih jelas. Maksudnya: lebih keras.

Saya ulangi pertanyaan itu. Orang tua di dekat sang imam mendengar. Wajahnya berubah serius. ''Kamu benar menanyakan itu,'' katanya.

Nadanya menyalahkan para celana selutut itu. Saya merasa mendapat angin. ''Saya sudah tiga kali memberi tahu mereka. Menegur. Memperingatkan,'' jawab sang imam.

"Tapi apakah yang seperti itu boleh?'' tanya saya lagi. ''Saya tidak suka orang salat seperti itu,'' jawabnya.

Saya sulit ambil kesimpulan dari jawaban itu.

Ternyata beliau baru tiga hari ini di San Antonio. Lagi bertugas keliling masjid Syiah di Amerika. Lebih 50 masjid yang beliau datangi. Dari San Antonio itu akan ke Boston.

Akhirnya saya minta sang imam menuliskan namanya di kertas catatan saya. Terbaca: Imam Mohamad Sawad. Umur: 53 tahun. Imam Sawad warga negara Amerika. Kelahiran Baghdad, Irak.

Setelah menyelesaikan tugas di Amerika ini akan kembali ke Irak. Akan tinggal di Karbala.

Tidak ada Tarawih bukan berarti HMP: habis makan pulang. Akan ada ceramah dari Imam Sawad. Beliau naik mimbar. Ceramah dalam bahasa Arab: tentang jihad besar dan jihad kecil. Tentang macam-macam jenis nafsu.

Nafsu amarah yang bikin orang jadi kejam. Nafsu luwwamah yang hanya bikin rakus.

Orang harus mengutamakan nafsu mutmainnah. Nafsu untuk tenang dan damai. Seperti yang dimiliki Ali bin Abi Thalib.

Di sela-sela ceramah hadirin sering mengumandangkan salawat nabi tiga kali.

Ceramah selesai pukul 23.30. Saya pikir bubar. Ternyata Imam Sawad pindah dari mimbar. Ke kursi lipat. Saatnya tanya jawab.

Banyak yang bertanya: definisi kafir, siapa yang disebut sahabat nabi, soal wudu, dan entah apalagi yang saya kurang mengerti.

Saya bertanya tentang foto yang dipasang di dekat mimbar: foto Sayidina Ali atau Sayidina Hussein.

Dijawab: itu Saiyidina Ali. Tapi itu bukan foto. Itu lukisan. Digambarkan dari deskripsi yang diceritakan orang. ''Belum tentu aslinya seperti itu,'' katanya. Selesai. Pukul 00.00. (dis/dwi/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:07

Superman Itu Tetangganya Sendiri

Merdeka! Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam. Merdeka! Dan Turki berhasil…

Rabu, 15 Agustus 2018 08:52

Ujian Lira untuk Menantu-Mertua

  Oleh: Dahlan Iskan MASIH belum ada langkah nyata di Turki. Baru sebatas tekad: akan mengatasinya.…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:14

Sabun Batu untuk Segala Tipe

OLEH: DAHLAN ISKAN WAKTU mandi saya kini lebih lama. Sedikit. Terutama setelah baca buku ini: Real World…

Minggu, 12 Agustus 2018 08:02

Angkatan Darat-Laut-Udara Pun Tidak Cukup

OLEH: DAHLAN ISKAN KOK seperti tidak aman lagi. Kok seperti tidak tenang lagi. Kok seperti tidak damai…

Sabtu, 11 Agustus 2018 02:03

Tafsir Wapres untuk Nasib Sendiri

MULTITAFSIR. Mengapa Joko Widodo (Jokowi) pilih Ma’ruf Amin. Dan mengapa Prabowo Subianto pilih…

Rabu, 08 Agustus 2018 08:59

Imperialis Macan dan Jebakan Naga

OLEH: DAHLAN ISKAN IA tidak mau tinggal di rumah dinas perdana menteri. Ia tidak mau pengawalan yang…

Selasa, 07 Agustus 2018 08:16

UUD Baru yang Sangat Yahudi

OLEH: DAHLAN ISKAN ISRAEL punya undang-undang dasar (UUD) baru. Sejak 19 Juli lalu. Intinya: Israel…

Senin, 06 Agustus 2018 08:58

Anwar Tunggal Ibrahim

OLEH: DAHLAN ISKAN PENDAFTARAN calon presiden ditutup kemarin sore: Presiden Partai Keadilan Rakyat…

Minggu, 05 Agustus 2018 07:40

Menguji Kemauan Tidak Berkarat

OLEH: DAHLAN ISKAN TAPI kambing-kambingnya ada. Tidak mengapa juragannya tidak ada: Ricky Elson lagi…

Kamis, 02 Agustus 2018 08:51

Muncul Capres Harapan si Wali Kota

Oleh: Dahlan Iskan BEGITU banyak yang tidak suka Donald Trump. Tapi sampai hari ini belum ada calon…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .