MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37
Soekarno dan Pancasila

Oleh: N Yahya Yabo, pegiat sastra dan teater Bontang serta Alumni Unismuh Makassar

N Yahya Yabo,

PROKAL.CO, Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan terbentuk suatu ideologi yang digunakan bagi Negara dalam falsafah negara. Ideologi Negara haruslah mencangkup seluruh kesatuan dalam elemen Negara. Dalam membuat ideologi/landasan Negara, tidak serta merta lansung ada. Ada proses yang dijalani. Negara Indonesia tidak lahir begitu saja.

Lahirnya Pancasila tidak terlepas dari peran presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Dari bentuk pemikirannya yang memiliki dasar negara untuk pedoman bangsa. Menyatukan nilai-nilai agama, sosial, kesatuan, dan keadilan. Dari jejak perenungannya di kota Ende saat diasingkan oleh penjajah belanda.

Di tempat pengasingannya ada pohon. Uniknya, pohon yang ada saat ini bercabang lima, menggambarkan lima sila dari Pancasila. Pohon dipagari dinding batu setinggi satu meter. Pada salah satu sisinya terdapat prasasti bertuliskan, "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah Pohon Sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai Pancasila.” (JPNN, 4/6/18).

Pancasila sebagai dasar Negara yang dirumuskan bisa menyatukan bangsa. Dari sejarah lahirnya pancasila yang dirumuskan tiga orang yaitu Ir. Soekarno, Muh Yamin dan Soepomo. Dari tokoh-tokoh nasional itulah beberapa rumusan terlahir di antaranya yang dimiliki Soekarno.

Soekarno menjadi penyumbang rumusan dari pancasila.pada sidang tanggal 1 Juni 1945, Soekarno berpidato dan mengemukakan gagasannya mengenai rumusan 5 sila dasar negara Republik Indonesia, yang dinamakan “Pancasila“, yaitu: 1) Kebangsaan Indonesia, 2) Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan, 3) Mufakat atau Demokrasi, 4) Kesejahteraan Sosial, dan 5) Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sejarah telah mencatatkan nama Soekarno sebagai Bapak Bangsa (fouding fathers). Soekarno yang lahir pada 6 Juni 1901 di Lawang Seketeng, Surabaya, Jawa Timur dari orang tua ayah bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibu Ida Ayu Nyoman Rai dari kerabat bangsawan Singaraja,Bali yang semula bernama Kusno Sosrodihardjo sebelum namanya diganti Soekarno. (Taufik Adi Susilo: 2017)

Dari segi waktu, lahirnya seorang Soekarno dan lahirnya Pancasila ada kesamaan bulan yang dijadikan sebagai dasar falsafah Negara. Bulan Juni juga merupakan bulan istimewa dan hari yang tercatat dalam sejarah bahwa Soekarno juga wafat pada bulan ini pada tanggal 21 Juni 1970 setelah menderita sakit dan dimakamkan di Blitar.

Pada sidang yang dilaksanakan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soekarno memberikan pandangannya. Pada lima sila yang dipaparkan pada sidang, Soekarno menempatkan ‘Kebangsaan Indonesia’ yang berintikan tentang persatuan pada urutan pertama dari pancasila, (Adi Susilo: 2017). Ia beranggapan bahwa pada saat itu persatuanlah yang dianggap sebagai hal paling utama untuk menyatukan masyarakat Indonesia. Perbedaan pendapat yang ada dalam sidang BPUPKI dirangkum menjadi satu kesatuan yang disebut Pancasila.

Soerkarno mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar sekaligus arah tujuan negara Indonesia. Soekarno menggali Pancasila dari unsur kebudayaan peradaban Nusantara sejak par-Hindu, mas Hindu, masa kedatangan Islam dan masa kontak dengan Imprealisme Eropa Barat. (Adi Susilo;2017). Dengan artian bahwa Soekarno mencari pemikiran dari karakter-karakter bangsa dari berbagai zaman yang ada di Indonesia. Menyatukan pemikiran yang ada dari sosialisme, ide-ide kenegarawan, ajaran agama-agama serta perlawan dalam imprealisme dan kolonialisme.

Setelah Soekarno menyatukan perbedaan itu dengan dasar Pancasila yang menjadi satu kesatuan dari sila-sila Pancasila yang tidak terpisahkan. Kesatuan dari Pancasila terangkum dalam ‘Bhineka Tunggal Ika’ (bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Ideologi, dasar dan falasah Indonesia telah terpatri (tertanam) di setiap insan masyarakat Indonesia. Tidak ada yang boleh mengubah dasar Negara Indonesia.

Dari ide pemikiran Soekarno dan tokoh-tokoh nasionalisme yang menjadi penggerak dalam menyatukan Indonesia. Maka lahirlah Pancasila untuk memperkuat jati diri bangsa yang saat itu memang masih membangun kesatuan antar masyarakat. Sekarang telah terbukti dengan ideologi Pancasila yang bisa menyatukan masyarakat dengan sila-silanya. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Mencakup bagaimana masyarakat Indonesia berlandaskan pada agama, tetapi bukan agama tertentu. Sila kedua, Kemanusian yang adil dan beradab. Disini terdapat konsep sosial dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Sila yang mengambarkan tidak adanya perbedaan dalam persatuan dan kesatuan masyarakat. Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan / perwakilan.

Dalam sila keempat ini, menyatakan dalam memimpin rakyat harus bijaksana dan mempertimbangkan cara musyawarah (dialog). Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengartikan bahwa tidak ada perbedaan keadilan bagi masyarakat yang ada di Indonesia dari segala hal, seperti kehidupan sosial, hukum dan ekonomi.

Soekarno dan Pancasila adalah hasil dari bentuk kekuatan ideologi. Ideologi yang menyatukan bangsa Indonesia. Bangsa yang lahir dari perbedaan. Bangsa yang harus selalu berterima kasih pada Soekarno. Tahun ini genap 117 tahun setelah Soekarno lahir dan genap 93 lahirnya Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terima kasih, Bung. (*/one)

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 19 Juni 2018 07:29

Mudik Asyik dan Selebrasi Kemenangan

OLEH: ARIS SETIAWAN(Sekretaris PD. IKADI Kab. Kutai Kartanegara)“Manusia modern adalah manusia-manusia…

Senin, 18 Juni 2018 07:26

Siapa Pemberi 20 Ribu Ekor Sapi?

OLEH: THOMAS F KALIGIS(Guru Sejarah Indonesia SMK di Balikpapan) SAPI digolongkan sebagai hewan mamalia…

Kamis, 07 Juni 2018 06:47

Tradisi Mudik dan Darurat Energi

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 05 Juni 2018 07:58

Menyiapkan Ahli, Menekan Celaka

OLEH: DR SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Pasca Sarjana Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)Kecelakaan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Kamis, 31 Mei 2018 06:50

Perlukah Impor Beras

CATATAN: BAMBANG HARYO S(Anggota Komisi VI DPR RI) KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) telah dua kali…

Selasa, 29 Mei 2018 07:20

Merekonstruksi Kebebasan

OLEH: FD, SIRILUS HENDRI SANTOSO(Rohaniwan Katolik) SAYA sempat “galau” ketika kartu telepon…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .