MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 08 Juni 2018 09:22
Zakat Mal dan Belanja ke Mal

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto (*)

JALAN-jalan di sekitar mal dan pusat perbelanjaan sekarang mulai terasa beda. Lebih ramai dari biasanya. Dalam hati, saya menduga-duga, mungkin karena pengaruh cairnya tunjangan hari raya (THR). Khususnya, kepada para pegawai negeri dan pekerja swasta.

Siklus tahunan ke pusat-pusat perbelanjaan menjelang Lebaran, biasanya beriringan dengan kewajiban membayar zakat mal bagi muslim yang mampu. Dua jenis belanja ini berbeda. Yang satu belanja untuk keperluan duniawi. Yang lainnya belanja untuk akhirat.

Saya menggunakan frasa “belanja ke mal” untuk mewakili belanja keperluan duniawi. Meskipun belanja tidak mesti di mal. Tetapi, kata mal sudah telanjur menjadi simbol belanja konsumtif. Selain itu, ada keserupaan bunyi dari salah satu kata yang terkait dengan kewajiban bagi muslim yang mampu, yaitu menunaikan zakat mal.

Sama-sama menggunakan kata mal, tetapi berbeda makna. Mal yang menempel pada kata belanja adalah pusat perbelanjaan. Sedangkan kata mal yang menyertai kata zakat memiliki arti harta. Zakat mal adalah zakat harta. Caranya adalah mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki oleh muslim yang mampu kepada yang berhak menerimanya. Sebuah upaya untuk menyucikan harta yang dimiliki dengan persyaratan telah mencapai ambang batas (nishab) dan telah mencapai siklus setahun dimiliki (haul). Kecuali zakat pertanian yang tidak menunggu setahun untuk dizakati. Setiap panen wajib zakat.

Dari sini, akhirnya ulama fikih kontemporer memformulasi jenis zakat baru, dengan nama zakat profesi dan penghasilan. Diqiyaskan dengan zakat pertanian. Tidak perlu setahun berzakat, tetapi setiap mendapat penghasilan dari profesinya wajib dizakatinya. Zakat memiliki dua dimensi tujuan. Pertama, sebagai bentuk ibadah yang ditujukan untuk mengharapkan rida Allah. Yang kedua, adalah tujuan sosial. Banyak hikmah dari ibadah ini. Di antaranya, merekatkan hubungan antara orang yang kaya dengan miskin. Media, penghilang sifat kikir, mencegah kejahatan, serta menambah keberkahan harta dan meredakan amarah Allah.

IRONI ZAKAT

Bagi seorang muslim, tidak ada larangan untuk membelanjakan harta di mana saja, termasuk mal. Yang terpenting, ia sudah berzakat mal. Belanja adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan sehari-hari. Belanja untuk keperluan primer, sekunder, dan tersier. Yang tidak diperkenankan adalah membelanjakan harta yang tidak sesuai aturan agama. Salah satunya adalah boros (tabdzir) dalam membelanjakan harta untuk keperluan duniawi.

Sedangkan belanja untuk urusan akhirat justru dianjurkan untuk berlaku “boros”. Siti Khadijah, istri Rasulullah Muhammad, dan banyak sahabat beliau adalah contoh-contoh “pemboros” dalam mewakafkan harta di jalan Allah. Agama juga melarang membelanjakan harta atas dasar dorongan nafsu, bukan berdasarkan kebutuhan. Betapa banyak barang yang dibeli kemudian hanya menjadi rongsokan tanpa pernah digunakan secara maksimal. Ada orang yang memiliki rumah lebih dari dua, hanya satu yang ditinggali, yang lainnya hanya jarang dihuni. Di sisi lain, banyak tunawisma yang bertebaran di emperan toko dan di bawah jembatan.

Zakat mal adalah hal wajib bagi muslim. Tapi, bisa dipastikan banyak yang belum menunaikannya. Indikatornya, lihat dari potensi harta zakat seluruh muslim Indonesia. Berdasarkan penelitian dari Baznas pada 2016, akan terkumpul dana sekitar Rp 286 triliun dalam setahun jika semuanya berzakat. Namun faktanya, dari sekian besar potensi tersebut, pengumpulannya hanya terealisasi Rp 5,1 triliun. Artinya, banyak yang tidak berzakat. Faktornya bisa karena tidak tahu, bisa juga karena tidak mau. Khusus faktor kedua, ada ancaman keras dan siksa berat bagi yang mengerti, tetapi tidak menunaikannya.

BUAT PERBANDINGAN

Pernahkah kita membandingkan perasaan, saat belanja di mal dengan belanja harta untuk zakat mal atau ajaran agama lainnya. Seperti zakat, sedekah, dan Infak. Kalau mau jujur, banyak di antara kita yang tidak merasa keberatan mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk belanja keperluan yang bersifat sekunder bahkan tersier. Membeli sepatu dengan merek terkenal, dengan harga jutaan. Atau membeli perlengkapan hobi kita yang harganya jutaan bahkan miliaran lebih. Seperti raket, alat pancing, sepeda, mobil, dan lainnya. Kita semua merasa “ikhlas” mengeluarkan uang dalam jumlah yang dianggap sebanding dengan harganya, untuk keperluan pribadi. Sementara belanja untuk kemanfaatan yang bisa dirasakan orang banyak dengan jumlah dana yang sama, terasa berat.

Banyak juga dari kita tidak sadar dan tertipu dengan strategi dagang diskon semu oleh pedagang nakal, yang menaikkan harga duluan kemudian didiskon besar, seolah dapat durian runtuh ketika membeli barang. Padahal, itu adalah harga jual yang sudah dihitung dengan keuntungan besar. Sementara kita mengabaikan janji-janji Allah yang pasti dan tidak menipu, melipatgandakan harta kita karena keikhlasan kita berderma.

Atau pernahkah ada yang memperhatikan sumbangan untuk kotak amal ketika dibuka. Saya pernah membantu menghitung uang derma di kotak amal masjid, langka sekali rasanya menemukan pecahan uang warna merah gambar Soekarno-Hatta yang nominalnya Rp 100 ribu. Dalam kotak investasi akhirat itu justru yang mendominasi adalah uang dua ribuan dan itu pun, maaf, dalam kondisi yang lecek. Saya membayangkan, saat kotak amal diedarkan, banyak dari jamaah membuka dompet, dengan terlebih dahulu menyaring uangnya. Maka terpilihlah uang dua ribuan yang lusuh di antara uang dua ribuan yang baru lain atau di antara uang pecahan dengan nominal yang lebih tinggi lainnya.

Mungkin saja, sesekali di antara kita memang pernah menyisihkan Rp 100 ribu di kotak amal. Pertanyaannya, apakah kita sudah seikhlas ketika kita membelanjakan uang di mal yang angkanya jauh di atas seratus ribu. Atau mungkin masih ada perasaan “bangga” telah menyumbang Rp 100 ribu, atau bahkan ada yang merasa jumlah Rp 100 ribu untuk sumbangan masjid dan sumbangan sosial lainnya sudah terlalu besar. Padahal, penghasilan atau harta yang dimiliki ratusan juta atau bahkan miliaran.

Ironi di atas tidak berlaku bagi orang yang penghasilannya pas-pasan atau bahkan kurang. Uang seratus ribu bagi mereka bisa jadi adalah uang terakhir mereka untuk keperluan hidup primer selama beberapa hari. Dan saya yakin, mereka tidak pernah membelanjakan uang secara jor-joran kecuali untuk belanja keperluan yang memang mendesak. Bagi yang berpenghasilan di atas puluhan juta atau lebih, uang Rp 100 ribu hanya sedikit persentasi dari total perolehan gaji mereka. Gampang saja membelanjakan uang jutaan, hanya membeli kebutuhan yang mahal.

Sering ada ungkapan, “Tidak penting jumlahnya, yang penting adalah ikhlasnya”. Pernyataan ini hanya pas bagi orang yang punya penghasilan “pas-pasan” di atas tadi. Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini tidak berlaku. Tidak sepantasnya orang yang diberikan kelapangan rezeki merasa berat dalam berzakat. Menyumbang dengan nilai sedikit, tetapi sudah merasa banyak. Sebaliknya, merasa ringan ketika belanja harta keperluan dunia.

Mencoba berpikir positif, mungkin saja mereka belum tahu. Membelanjakan harta dengan zakat, sama dengan membeli tiket surga yang sudah dijanjikan Allah. Dan jauh lebih mulia dibandingkan membelanjakan harta secara boros di mal dengan iming-iming diskon yang belum tentu benar.

Mungkin saja orang kaya yang gede rasa belum tahu tentang pertanyaan-pertanyaan di alam kubur oleh malaikat seputar harta mereka. Padahal sudah ada “bocoran” ujian pertanyaan alam kubur. Jika pertanyaan lain alam kubur hanya pertanyaan tunggal, siapa Tuhanmu? Apa kitabmu? Dan seterusnya. Maka pertanyaan tentang harta ada dua, dari mana harta kamu dapatkan dan ke mana engkau belanjakan? Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur nanti, “Ke mana hartamu kamu belanjakan, dengan jawaban, hampir semuanya saya belanjakan ke mal”.

Harta yang melekat pada kita hakikatnya adalah titipan dari Yang Maha Pemilik. Kita hanya dititipkan dengan kewajiban berbagi kepada orang-orang yang berhak. Ada hak mereka pada harta kita yang harus dikeluarkan. Tetaplah pergi ke mal untuk membeli kebutuhan selayaknya, tapi jangan lupa tunaikan zakat mal! (far/k11)

(*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

loading...

BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 07:55

Bukan Panggung Rookie

PIALA Dunia 2018 bukan untuk rookie. Peringatan ini wajib didengar Inggris. Apalagi setelah melihat…

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…

Sabtu, 16 Juni 2018 13:00

Libur Lebaran, Wisata Tirta Bakal Ramai

KALTIM menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik dan indah dengan tempat-tempat di luar…

Sabtu, 16 Juni 2018 12:00

Mobil Terbakar setelah Mogok, Truk BBM Terguling Tak Terkendali

SAMARINDA – Sementara banyak umat Islam merayakan Hari Kemenangan dan penuh sukacita, sebagian…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:34

Tinggal Puing setelah Salat

MUSIBAH  tak dapat terelakkan meski momen Idulfitri sekalipun. Jika sebagian besar warga melewati…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:12

2022 Mulai Tidak Kompak

PEMERINTAH boleh bersyukur penetapan awal puasa dan lebaran tahun ini bersamaan. Tetapi, jika penyatuan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .