MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 08 Juni 2018 09:09
Menggantung Asa di Program Pusat
-

PROKAL.CO, GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan, gubuk untuk bernaung pun demikian. Celah ketersediaan rumah pribadi masih cukup besar di berbagai daerah. Samarinda sebagai ibu kota Kaltim saja memiliki celah mencapai 24.498 rumah bagi penduduknya.

Memupuskan backlog atau ketersediaan rumah jelas tak mungkin. Namun, menekan kesenjangan pastinya bisa ditempuh. Penyediaan rumah bagi warga berpenghasilan rendah di Kota Tepian belum memberi dampak yang signifikan jika menilik jumlah kepemilikan rumah pribadi sebanyak 41.527 unit.

Upaya seolah tak pernah maksimal lantaran cekaknya anggaran menjadi biang keladi ataupun dalih. Menggantung asa lewat program pusat seperti Rumah Murah Jokowi atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa) menjadi opsi. Meski yang terakhir tak bisa dikatakan solusi.

“Tapi, kendalanya tak hanya soal anggaran. Ketertarikan masyarakat pun jadi aral,” ucap Deni Alfian, kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Samarinda kala ditemui awak media ini di ruang kerjanya, Selasa (5/6).

Meski banyak pengembang yang melirik karena pangsa pasar yang tinggi, program Rumah Murah Jokowi tak semudah yang terlihat.

Banyak syarat dan aturan yang perlu dipatuhi. Dari syarat harus dibangun di lahan seluas 5 hektare, bertipe 36 yang berisi dua kamar tidur, sebuah ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, dapur, dan sebuah kamar mandi, hingga harga yang diatur pemerintah pusat lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Soal harga bisa berubah setiap tahunnya, bergantung pertimbangan pusat. Di Samarinda saja, harga per unitnya mengalami kenaikan sebesar Rp 7 juta. Dari awalnya Rp 135 juta pada 2017 menjadi Rp 142 pada tahun ini.

Lokasi rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang sering terpinggirkan menjadi satu dari sekian banyak hal yang meluluhlantakkan tujuan si miskin papa memiliki hunian sendiri. “Lokasi, infrastruktur, hingga sarana dan prasarananya pasti jadi pertimbangan,” katanya.

Tentu, kata dia, masyarakat tak ingin memiliki hunian yang berada jauh dari fasilitas umum (fasum) atau fasilitas sosial (fasos).

Memang, pemerintah dapat menyubsidi program ini dengan membangunkan jalan, gorong-gorong, atau ruang terbuka hijau (RTH). Tapi, bukan kabupaten/kota atau provinsi, melainkan langsung kewenangan pusat. 

Pemerintah tingkat I ataupun II hanya bisa mengusulkan pengembang agar mendapat subsidi tersebut lantaran anggaran subsidi itu langsung berasal dari Kementerian PUPR.

Itu baru dari sudut pandang si pembeli. Bagi pengusaha properti, program Presiden RI Joko Widodo ini bukannya tanpa keluhan. Menurutnya, harga lahan pasti jadi pertimbangan dasar para pengembang. Mengacu nilai jual objek pajak (NJOP) yang tak melulu berlaku karena urusan lahan menjadi tanggung jawab pengembang dan pemilik tanah. Pemerintah tak bisa cawe-cawe dalam urusan ini. “Ini (harga lahan) yang jadi masalah utama, bukan lahannya di mana,” sebut Deni.

Sejatinya, ada langkah yang lebih solutif. Selain menyediakan rumah, menghemat penggunaan lahan. Caranya dengan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami). Tapi, kultur masyarakat yang lebih nyaman hidup di rumah tunggal jadi kendala.

“Bentuk serupa apartemen, namun lebih minimalis dan mampu menampung banyak. Tapi, belum bisa diterapkan,” tuturnya.

Pembangunan permukiman tentu tak bisa di sembarang tempat, harus menilik Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Samarinda dan tingkat kepadatan penduduk. Dari tinggi, sedang, hingga rendah yang terbagi di 10 kecamatan se-Samarinda.

Menukil Peraturan Daerah (perda) RTRW 2/2014 tentang RTRW Samarinda 2014-2034 pada bagian ketiga tentang Kawasan Budi Daya, khususnya Pasal 38 Ayat 1 Huruf 1 hingga 4 perda itu, kawasan perumahan berkepadatan tinggi di empat kecamatan, yakni Sambutan, Palaran, Samarinda Seberang, dan Palaran.

Kawasan berkepadatan sedang di Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, dan Kecamatan Sungai Pinang. Sementara perumahan berkepadatan rendah berada di Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan Samarinda Ilir, dan Kecamatan Samarinda Utara. Penempatan ini dilihat dari besaran ruang kosong untuk pembangunan perumahan dan peruntukan kawasannya itu sendiri. “Kan banyak tuh, ada kawasan perkantoran, ruang terbuka hijau, hingga pariwisata,” tutupnya. (tim kp)

loading...

BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .