MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 06 Juni 2018 13:01
Rumah Makan Ini Dikunjungi SBY, Artis, hingga Mantan Rektor
Rumah makan Tahu Sumedang.

PROKAL.CO, MATA seorang penumpang taksi tertuju tajam kepada plang di depan sebuah rumah makan di Kilometer 50, jalan poros Samarinda-Balikpapan. Plang menginformasikan rumah makan itu dijual oleh si pemilik. Si penumpang yang penasaran, segera bertanya kepada sopir taksi. Dari si sopir, pria berasal dari Sumedang, Jawa Barat itu jadi tahu rumah makan bernama Warung Bambu itu kerap jadi persinggahan bagi orang yang melakukan perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan atau sebaliknya.

Momen antara si penumpang dan sopir itu terjadi pada awal 2006. Beberapa bulan sebelum rumah makan tersebut menjadi Rumah Makan Tahu Sumedang. Si penumpang penasaran tadi tak lain adalah Nanang. Pria ramah yang kini dipercaya mengelola restoran di lahan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto itu. Kaltim Post menemui Nanang pada Kamis (31/5) lalu untuk menceritakan awal berdirinya Rumah Makan Tahu Sumedang. Nanang menuturkan, posisinya di rumah makan tersebut bukan sebagai pengelola.

"Saya diberi kepercayaan untuk mengelola oleh bos saya," ucapnya. Rumah Makan Tahu Sumedang yang ada di poros Samarinda-Balikpapan adalah cabang kedua. Yang pertama justru yang berada di poros Samarinda-Bontang. Nanang mengatakan, pemilik kedua rumah makan masih ada hubungan saudara. Pria dengan logat Sunda yang kental itu sebelum dipercaya mengelola cabang poros Samarinda-Balikpapan itu adalah karyawan di Rumah Makan Tahu Sumedang di poros Samarinda–Bontang. "Saya pertama kali ke Kaltim pada 2004, dan langsung bekerja di sana (cabang poros Samarinda-Bontang)," ujarnya.

Nanang mengatakan, plang tersebut beberapa kali dia lihat. Setelah yakin lokasi tersebut cukup strategis untuk dijadikan cabang Rumah Makan Tahu Sumedang, Nanang segera menghubungi atasannya. "Setelah cocok dengan lokasi, bos saya setuju untuk membeli lahan tersebut," ujarnya.

Soal harga beli Warung Bambu, Nanang tak tahu. Dia menyebut, itu urusan bosnya. Beberapa bulan kemudian, dibuka warung kecil yang menjual menu tahu Sumedang dan berbagai penganan yang digoreng. "Belum kayak sekarang yang juga jualan makanan berat," kenangnya.

Beberapa bulan bisnis berjalan, pengunjung mulai ramai dan memberi masukan agar menghidangkan menu selain tahu Sumedang dan gorengan. Bisnis berjalan lancar, pada akhir 2006, rumah makan Nusa Dua yang ada di seberang jalan tutup karena bangkrut. Tanpa pikir panjang, Nanang kembali melapor kepada bos di Sumedang. Rumah makan Nusa Dua pun dibeli untuk perluasan Rumah Makan Tahu Sumedang. Sekitar pertengahan 2007, Rumah Makan Tahu Sumedang mulai beroperasi seperti sekarang. Membuka dua rumah makan yang lokasinya berseberangan. 

Dalam pertemuan itu, Nanang ingin meluruskan informasi yang beredar dua pekan terakhir. Hal tersebut soal pemilik Rumah Makan Tahu Sumedang. Restoran yang nyaris tak pernah sepi itu kerap diisukan milik mantan rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Arifin Bratawinata. Nanang mengatakan, Arifin tak ada hubungan apa-apa, apalagi menjadi pemilik restoran.

"Saya kenal beliau karena faktor saya dan dia sama-sama Sunda," terangnya. Nanang meneruskan, Arifin pernah membuka restoran di poros Samarinda-Bontang. "Tapi bukan Rumah Makan Tahu Sumedang," ungkapnya. Restoran milik Arifin pun sudah tutup karena bangkrut. 

MESTI TUTUP 

Pada akhir Mei lalu, Nanang mendapat kabar mengejutkan. Restoran yang dikelolanya mesti ditutup per 1 Juli mendatang. Alasannya, Rumah Makan Tahu Sumedang berada di lahan Tahura Bukit Soeharto. Sebenarnya, Rumah Makan Tahu Sumedang sudah pernah ditutup pada 2012 lalu. Nanang menyebut, saat itu alasannya pun sama, yakni restoran tersebut berada di lahan Tahura Bukit Soeharto. “Sempat enam hari tutup,” ujarnya. Namun, setelah enam hari tutup, dia mendapat telepon dari kepala UPTD Tahura Dinas Kehutanan Kaltim yang bertugas saat itu. Dalam sambungan telepon tersebut, rumah makan tersebut diperbolehkan kembali beroperasi. Kebijakan tersebut disebut keluar dari Gubernur.

“Sambil menunggu informasi selanjutnya,” ujarnya.

 Enam tahun berlalu, “informasi selanjutnya” datang. Rumah makan dengan 170 karyawan diultimatum hingga 30 Juni. Bila Nanang tak bisa memenuhi perizinan, rumah makan tersebut harus tutup per 1 Juli. Dia menyayangkan selama enam tahun berlalu tak ada informasi sama sekali mengenai perizinan yang bisa mereka urus. “Kalau mesti mengurus izin, saya tentu mengurusnya,” ucapnya.

Adapun izin yang mesti diurus Nanang agar bisa tetap berbisnis di lahan Tahura Bukit Soeharto adalah Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA). Itu adalah izin usaha yang diberikan untuk mengusahakan kegiatan pariwisata alam di areal suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam. Selama enam tahun, setelah sempat ditutup pada 2012 lalu, Nanang mengungkapkan, tidak ada pihak yang memberi tahu izin tersebut bisa diurus. “Baru tahu bisa urus izin waktu diberi tenggat waktu untuk tutup,” terangnya.

Pada 2013, Rumah Makan Tahu Sumedang mulai dikenakan pajak restoran. “Waktu itu staf dari Bapenda (Badan Pendapatan Daerah) Kukar mendatangi kami,” ujarnya. Setelah memberi selebaran soal aturan retribusi tersebut, mulailah rumah makan itu dikenakan pajak restoran. Nanang menjelaskan, pajak bulanan yang disetorkan bukan Rp 140 juta per bulan. “Per bulan angkanya fluktuatif. Memang paling tinggi Rp 140 juta, tapi enggak setiap bulan setorannya segitu,” ungkapnya. Dengan potensi pajak yang cukup besar, rumah makan tersebut dijadikan proyek percontohan aplikasi layanan informasi dan pelaporan pajak restoran (Lai PORE) oleh Bapenda Kukar.

NYARIS DISINGGAHI PRESIDEN

Berada di tengah jalan poros dua kota besar membuat Rumah Makan Tahu Sumedang jadi lokasi strategis peristirahatan para pelancong. Tak hanya warga biasa, nyaris setiap artis yang melewati Kilometer 50 poros Samarinda-Balikpapan singgah di sana. Tak terhitung lagi artis-artis yang singgah. “Pokoknya banyak,” ujarnya.

 Yang lucu, meski disinggahi pesohor, tak satu pun momen terekam dalam bentuk foto. “Sebenarnya sih saya pengin minta foto bareng, tapi takut mengganggu. Apalagi mereka sedang melakukan perjalanan panjang,” ujarnya. Menurut Nanang, biarlah momen itu jadi kenangan saja. Tak perlu ada bukti dalam bentuk foto.

Tak hanya artis, Rumah Makan Tahu Sumedang nyaris disinggahi presiden. Saat itu, kepala negara dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tepatnya pada 2008, saat SBY membuka Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008 Kaltim di Samarinda. Saat itu pasukan pengamanan presiden (paspampres) menyambangi Nanang. Menanyakan kesanggupannya untuk menjamu presiden. Tentu ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi rumah makan tersebut. Dari segi makanan tak ada masalah, hanya Nanang diminta mengubah bentuk toilet yang semula jongkok menjadi toilet duduk.

“Saya enggak mengerti apakah pengerjaan toilet memakan waktu lama atau enggak, akhirnya permintaan tersebut saya tolak,” kenangnya. Meski presiden tidak jadi singgah, beberapa orang menteri beserta pengawalnya menyambangi rumah makan tersebut. Momen lain yang diingat Nanang, saat Jembatan Mahakam II, Tenggarong, Kukar pada 26 November 2011, tim dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggelar rapat di sana. “Masih banyak lagi momen-momen lain,” terangnya. Di akhir wawancara, Nanang berharap rumah makan yang sudah dikelolanya lebih dari sepuluh tahun tak ditutup. Pasalnya, selain dia dan karyawan, ada beberapa pihak lagi yang bergantung dengan Rumah Makan Tahu Sumedang. “Ada pemasok dari Samarinda dan Balikpapan, tukang parkir, hingga warga sekitar,” ujarnya. Untuk warga sekitar, biasanya menjadi pemasok air bersih dan es batu ke sana.

Nanang menuturkan, sebenarnya dia bisa saja menggali sumur bor dan membuat es batu sendiri. Namun, dia berpegang, sebuah usaha tak akan berhasil bila tak memberi manfaat kepada warga sekitar. Dia juga berharap, pengurusan izin tak berbelit. (tim kp)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 13:00

Ini Dia Motif Motif Pembunuhan Pasangan Suami Istri di Balikpapan Itu...

BALIKPAPAN - Perkara utang diduga menjadi penyebab tersangka menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri)…

Rabu, 19 September 2018 12:00

Ngga Jelas, Ternyata Kilang Bontang Masih Tunggu Investor

BONTANG – Pembangunan kilang minyak di Bontang belum ada kejelasan. Pemerintah belum memutuskan…

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .