MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 05 Juni 2018 08:31
Produksi Botol yang kalau Disusun Setinggi Lima Kali Gunung Fuji

Belajar Hidup Sehat di Jepang; “Tamasya” di Yakult Fuji Susono Plant (2)

ENAKNYA BERKANTOR DI SINI: Delegasi jurnalis dan akademisi dari Indonesia di kompleks pabrik Yakult di kaki Gunung Fuji, Kota Shizuoka, Jepang. (dokumen pribadi)

PROKAL.CO, Aktivitas industri dan alam berjalan selaras. Semilir angin sejuk yang berembus, kicau burung, dan kukuhnya kompleks pabrik, tersaji harmoni di kaki Gunung Fuji.

FAROQ ZAMZAMI, Shizuoka

CUACA cerah. Inilah harapan saya, dan puluhan kepala lainnya, peserta 2018 Japan Tour for Jurnalis from Overseas. Sehari sebelum menuju Shizuoka. Ke kaki Gunung Fuji. Malamnya, sebelum berangkat esok pagi, Jumat (25/5), harapan itu kembali membuncah. Jadi bahan pembicaraan para peserta. Semoga cerah. Semoga terang. Dan semoga, semoga lainnya. Intinya jangan mendung. Biar bisa lihat Gunung Fuji. Yang ikonik itu. Yang legendaris juga. Tapi yang pasti, besok cerah atau mendung, harus tetap puasa Ramadan.

Pagi pun menjelang. Laporan cuaca, Tokyo dan Shizuoka, bakal terang. Sampai siang. Semua senang. Bisa melihat cantiknya Fuji. Peserta tur pun semangat menaiki bus yang akan membawa ke Shizuoka. Wajah mereka berseri. Kesempatan langka di depan mata; menyaksikan Fuji dari dekat.

Bus start dari samping Hotel Villa Fontaine di Shiodome, Tokyo. Sekira pukul 08.00. Harus tepat waktu. Tak ada toleransi terlambat. Walau hanya satu menit. Kultur disiplin waktu orang Jepang ini harus diikuti peserta tur. Yang datang dari delapan negara. Di antaranya, Indonesia, Filipina, Singapura, sampai Meksiko. Menuju Shizuoka dari Tokyo makan waktu satu jam setengah. Diestimasi paling lambat dua jam. Oh ya, waktu di Jepang satu jam lebih cepat dibanding Kaltim.

Menikmati Gunung Fuji sebenarnya bukan tujuan utama ke Shizuoka. Itu adalah “hadiah” dari kunjungan ke Yakult Fuji Susono Plant. Pabrik pengolahan aneka produk Yakult. Dari susu fermentasi hingga yogurt. Lokasinya di kaki gunung. Dari kompleks perusahaan, gunung tertinggi di Negeri Sakura itu sangat kentara. Terlihat gagah saat cerah. Lengkap dengan salju putih susu di bagian atasnya. Amboi…

Kompleks pabrik merupakan kawasan yang lebih banyak ruang terbuka. Ada empat bangunan utama. Dipadu taman-taman dengan aneka bunga berwarna cerah. Dominan merah. Tak terasa kalau ini adalah pabrik pembuatan minuman fermentasi, yogurt, dan aneka produk lainnya. Tak ada deru mesin apapun dari bangunan tempat pengolahan minuman. Semua senyap. Tenang. Bahkan kicau burung lebih nyaring terdengar. Atau suara mobil perusahaan yang melintas. Atau riuh rendah suara dari para peserta tur.

Empat bagian utama di Yakult Fuji Sasono Plant, di antaranya untuk pengolahan bahan, pengemasan, pengolahan sampah plastik, dan fasilitas perawatan air pabrik.

Sebelum tiba di kompleks perusahaan seluas 208 ribu meter persegi itu, beberapa peserta tur sudah heboh dengan “sosok” Fuji yang terlihat dari kejauhan. Indah niah. Menyaksikan dari balik jendela bus. “Sebelah sini lebih kelihatan,” kata Taufik Wijaya, redaktur pelaksana (redpel) Radar Lampung (Group Kaltim Post), yang duduk di sisi kiri. Beberapa orang lantas celingukan melihat ke luar. Setibanya di kawasan pabrik, gunung gagah berdiri. Tapi tak bisa langsung dinikmati. Tahan dulu. Berharap cuaca cerah munggu.    

Peserta harus masuk dulu ke ruang pertemuan. Di bangunan paling depan. Biasa digunakan menerima tamu. Yang di depannya ada plang bertuliskan Yakult. Warna merah. Dengan sosok kartun botol Yakult warna merah dan biru di dua sisi. Tur di pabrik ditemani Mr Izaka. Hadir juga Mr Okamoto, plant manager Yakult Fuji Susono. Mr Okamoto banyak menjelaskan tentang profil perusahaan. Sejarahnya dan ada apa di pabrik ini.

“Pabrik pengolahan Yakult tak hanya di Shizuoka. Ada juga pabrik lain yang tersebar di beberapa lokasi di Jepang. Di Ibaraki, Fukuoka, dan Okayama. Pabrik di Fuji ini salah satu yang terbesar,” kata Okamoto. 

Sementara itu, Izaka, pria muda, bertugas sebagai guide. Menemani berkeliling kompleks pabrik. Dia menggunakan bahasa Jepang. Di-translate ke bahasa Inggris oleh karyawan Yakult Honsha alias kantor pusat. Mr Andrew W.

Bersama mereka mengunjungi bagian dalam pabrik. Menengok dari selasar bagian atas yang beberapa titik dindingnya berlapis kaca. Lokasi untuk melihat ke ruang produksi, aktivitas pengolahan. Menurut sang guide, pabrik ini mulai berproduksi pada 1986. Sudah 32 tahunan. Pabrik yang besar ini ternyata mempekerjakan 260 orang saja. Jomplang jika dibandingkan dengan luas kawasan pabrik dan bangunan-bangunan yang berdiri di dalamnya. Ini karena pengolahan sudah banyak menggunakan teknologi mesin. Tenaga manusia lebih banyak untuk pengawasan kualitas.

Di pabrik pengolahan, kata Izaka, tiap hari mampu memproduksi 1,2 juta botol. Digunakan untuk beragam produk. Di antaranya, untuk merek Jouie diproduksi 900 ribu botol per hari, Sofuhl 60 ribu botol per hari, semua jenis yogurt 130 ribu botol per hari, dan produk lainnya 110 ribu botol per hari. Kata dia, jika 1,2 juta botol hasil produksi per hari itu disusun ke atas, tingginya bisa lima kali Gunung Fuji. Gunung tertinggi di Jepang ini tercatat memiliki ketinggian 3.776 meter.

Pabrik ini, kata dia, terintegrasi semua proses pengolahan. Dari pembuatan botol. Pengisian produk. Pemberian rasa. Hingga menempelkan sedotan. Jadi yang keluar adalah produk siap jual. Objek utama dari pabrik ini adalah tangki-tangki raksasa. Tingginya 8 meter. Dengan garis tengah 3 meter. Warna chrome. Satu tangki bisa memproduksi sampai 260 ribu botol. Di lokasi ini saja ada setidaknya 160 tangki. Dengan 16 pekerja tiap sif. Ada dua sif per hari.

Saat kunjungan jelang siang itu, pabrik sedang berproduksi. Prosesnya sangat steril. Setiap pekerja wajib menggunakan pakaian khusus, termasuk sarung tangan, topi, dan masker. Mereka mengawasi tiap mesin yang menghasilkan berbagai item. Misalnya, ada empat orang di bagian pembuatan botol, beberapa berkeliling melihat botol-botol yang berjalan di atas konveyor, sampai yang mengawasi di tahap finalisasi.

Tangki-tangki besar itu reguler dibersihkan; secara manual. Kami juga ditunjukkan bagaimana proses pembersihan tangki. Dari tayangan di video. Petugas dengan pakaian khusus, warna putih, semua tertutup, plus helm, masuk ke tabung. Diturunkan dengan tali. Seperti orang panjat tebing. Setelah turun lantas mengusap, menyikat, hingga membilas bagian dalam tangki.

Setelah “tamasya” di pabrik, Izaka membawa peserta ke bangunan lain. Tempat pengolahan limbah. Memang ini pengolahan sampah, tapi percayalah, tempatnya sangat bersih. Kesan pertama seperti bangunan gudang biasa. Tak ada aroma apapun. Bekas botol pun tersimpan rapi dalam kemasan-kemasan besar. Di lokasi ini sampah dipilah. Yakni, botol atau kemasan bekas dikumpulkan. Kemudian botol bekas dibersihkan untuk masuk produksi ulang.

Di lokasi lain tak kalah bikin kagum. Yakni tempat pengolahan air. Mr Izaka mendeskripsikan bagaimana air yang digunakan selama proses produksi, dialirkan kembali ke alam. Dalam keadaan jernih. Kok bisa? Ya, air disaring menggunakan botol Yakult bekas. Botol-botol bekas Yakult memang punya kemampuan menyerap kotoran.

Pabrik di kaki gunung ini mengimplementasikan bagaimana air dari alam, harus dikembalikan ke alam sama jernihnya. Penggunaan botol Yakult sebagai media penyaring air ini juga sudah digunakan di pabrik Yakult di Indonesia. Seperti yang berdiri di Desa Pasawahan, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Pabrik seluas 5 hektare itu juga sudah menerapkan penyaringan dengan botol bekas. Director Marketing Communication & Commercial PT Yakult Indonesia Persada, Antonius Nababan, mengatakan metode penyaringan dengan botol bekas Yakult juga sudah diimplementasikan di beberapa rumah sakit di wilayah Jawa.

“Ada beberapa rumah sakit yang sudah minta ke kami (Yakult Indonesia) botol-botol bekas. Dan kami siapkan dalam jumlah banyak. Karena cara ini (penyaringan dengan bekas botol) terbukti membuat air jernih dan dapat dikembangkan untuk pengelolaan limbah,” katanya.


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 11:40

BPK Akui Sulit Awasi Desa

BALIKPAPAN - Alokasi dana desa yang saat ini pagunya bisa sampai 2-3 miliar per desa, menjadi tantangan…

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .