MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 04 Juni 2018 21:10
DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

PROKAL.CO, Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai. Bermodal keyakinan, mereka mengajarkan ilmu agama. Meski tak berbekal materi, mampu mewariskan pusat-pusat pendidikan Islam di seluruh penjuru Indonesia.   

GAMIS putih dipadu celana kain warna sama. Pria berperawakan sedang masuk ke ruang sekretariat Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan Timur, Jumat (1/6). Media ini baru saja datang dan menunggu lima menit sebelumnya, setelah sehari sebelumnya mengatur janji bertemu.

Seperti kali terakhir bertemu, Ustaz Amin Mahmud tampil sederhana. Nyaris tak ada yang berbeda dengan pertemuan saat Ramadan tiga tahun silam. Selain setelan bajunya, jenggot putihnya juga menjadi ciri khas. Panjang dan sedikit jarang. Senyum mengembang dari bibir santri pertama Hidayatullah ini. Akrab, tak dibuat-buat.

Dialah yang menjadi pelaku sejarah ketika Ustaz Abdullah Said membangun induk Hidayatullah di pinggir kota berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut. Dia juga yang menjadi perintis beberapa cabang Hidayatullah di Indonesia, khususnya bagian barat. Kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatra, hampir semua sudah pernah dia kunjungi.

Ketika masih bujang, Mahmud—sapaannya—adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS). Dia lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan mengajar di kawasan Gunung Samarinda, Balikpapan, sekitar tahun 1971. Sambil mengajar, dia kuliah di Universitas Mulawarman Cabang Balikpapan, jurusan Sosial Politik (Sospol).

Dari tempat tinggalnya di Karang Rejo menuju kampus di kawasan Pasar Baru, dia melewati Ponpes Hidayatullah di Gunung Sari. Pada waktu itu menjadi pusat pendidikan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Saya tertarik ikut belajar bahasa Inggris. Pagi saya mengajar, sore saya kuliah, malam belajar bahasa Inggris. Nah, rupanya sambil belajar itu, mulai masuk pendidikan agama. Pelan-pelan akhirnya saya mulai paham. Orientasi saya berubah total. Yang dulunya duniawi, lalu mulai paham soal agama,” katanya, mengenang.

Memasuki akhir semester kedua, Mahmud memutuskan keluar dari bangku kuliah, dan memilih fokus belajar ilmu agama. Pada 1976, dia dinikahkan dengan salah satu santri terbaik Hidayatullah. Usianya 24 tahun kala itu. Beberapa bulan kemudian, dia memutuskan keluar dari PNS dan mengabdi untuk pondok pesantren. Keputusannya tentu bak petir di siang bolong bagi keluarga. Apalagi dia adalah anak sulung yang baru menikah.

“Mau dikasih makan apa nanti anak-istri? Ya, saya jawab enteng saja, dikasih makan nasi lah,” ujarnya, mengenang masa itu. Pada waktu itu, gajinya sebagai PNS Rp 60 ribu per bulan. Ustaz Abdullah Said sempat bertanya dua kali soal niatan Mahmud. Tapi dijawab dengan bulat keinginan dakwah dan mengabdi itu.

Dia diupah Rp 13 ribu per bulan oleh pondok pesantren. “Saya bawa pulang uang itu. Saya berikan kepada istri. Alhamdulillah, istri menerima. Semasa hidup, memang sama sekali istri tidak pernah meminta materi kepada saya,” ujarnya.

Perjalanan dakwahnya dimulai. Diawali dengan mengajar di induk Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Kemudian rutin mendampingi para pendiri ke beberapa daerah di Kaltim. Mulai Tanah Grogot, Samarinda, Berau, Bulungan, Balikpapan, hingga Kabupaten Kutai.

Tugas yang sesungguhnya datang pada 1987. Pria kelahiran Balikpapan, 12 Agustus 1952 ini dikirim ke Kota Dumai, Sumatra. Saat itu, anak-anaknya masih kecil. Ada enam anak masing-masing berusia 10, 8, 6, 4, 2, dan terakhir masih dalam gendongan. Semua berangkat ke Dumai dengan bekal uang secukupnya. Menumpang Kapal Kambuna kelas ekonomi.

Tugas itu sekaligus dimanfaatkan untuk bersilaturahmi ke rumah keluarga istri. Sejak menikah, memang belum pernah lagi bertemu dengan keluarga istri. Dari Balikpapan, singgah di Surabaya tiga hari, bertemu dengan kakak dari sang istri. “Saya ditanya, ini anak kamu semua? Bagaimana kalau ditinggal satu?” Dari situ, ditinggallah anak ketiga putri, bernama Muti’ah.

Perjalanan berlanjut ke tempat saudara lainnya di Purwokerto. Di sana, Mahmud bercerita soal tugasnya. Permintaan yang sama datang. “Ya, kalau anaknya mau silakan. Akhirnya ditinggal lagi di situ, Mar’atus Sa’adah yang masih berusia dua tahun”. Perjalanan lewat darat dilanjutkan ke saudara di Jakarta. Permintaan yang sama datang lagi. Akhirnya, putri ketiga, Muslimah ditinggal.

Mahmud bersama istri dan ketiga anaknya yang tersisa, Mahmudah, Muqimul Haq, dan Mukarromah yang masih dalam gendongan, berangkat menuju Dumai. Mahmud menganggap itu semua merupakan pertolongan dari Allah. Salah satu tujuan tugas itu adalah membuktikan kebenaran ayat-ayat Allah.  

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad: 7). Menolong agama Allah dalam arti menyebarkannya, dan memberikan pemahaman kepada orang-orang yang belum mengerti.

Di Dumai, meski sempat tak punya tujuan, Mahmud cukup beruntung karena kepala Adpel yang pada waktu itu bertugas di Balikpapan memintanya mengajar anak yatim di Yayasan Haji miliknya. Di situ dia mengajar sekaligus menumpang hidup sementara. Sambil tak melupakan tujuan utamanya untuk dakwah.

“Tugas saya adalah membangun pesantren. Nanti pesantren itu gratis. Muridnya enggak usah dipungut biaya. Gurunya jangan digaji. Waktu diberi tugas, kami enggak bilang susah atau gimana. Pokoknya berangkat. Uang saku relatif kecil sekali. Dua hari sudah habis,” kenangnya.

Modalnya adalah dakwah. Sambil disampaikan kepada masyarakat dan lobi-lobi jika ada tanah yang mau diwakafkan. Di situ, Ustaz Mahmud bekerja sama dengan dua ustaz Hidayatullah lainnya yang sudah lebih dulu dikirim. “Alhamdulillah dapat juga,” ujarnya. Setelah dapat tanah, silaturahmi berlanjut sambil berdakwah. Termasuk ke perusahaan Pertamina yang ada di Dumai. Entah bagaimana caranya, Mahmud mencari pinjaman mesin tik, kemudian mengajukan proposal ke perusahaan.   

Pelan-pelan pesantren itu terbangun. Dari masjid, rumah kiai, lalu rumah santri. Kemudian, lanjut dengan mencari santri, khususnya mereka dari kalangan keluarga yang kurang mampu. Dilanjutkan dengan mencari guru yang mau mengajar dengan sukarela. Sambil beberapa santri dikirim dari induk Hidayatullah di Balikpapan untuk membantu di Dumai. Membantu merintis maupun mengajar.

Dua tahun di Dumai, lahirlah anak ketujuh yang diberi nama Muchlis Al Anshori. Pesantren itu terus berkembang dan berjalan dilanjutkan oleh para kader-kader muda.

Pada 1991, Mahmud melapor ke induk Hidayatullah di Balikpapan. Dia ingin pindah tugas untuk penyegaran. “Saya penginnya ke Jakarta, refreshing. Tapi, dikatakan, dalam dakwah itu tidak ada refreshing. Yang ada tugas. Oh siap, saya semangat kalau tugas. Akhirnya, dikasih pilihan, Irian Jaya atau Palembang,” kenangnya.

Pertimbangan yang diberikan pada waktu itu, kondisi di Irian Jaya (sekarang Papua), nyamuk malaria sebesar anak ayam. Sementara di Palembang, hampir setiap hari ada pembunuhan dengan masalah sepele. Orang dulu menyebutnya dengan “murah nyawa”. Mahmud lantas meminta pendapat dari sang istri.

Palembang dipilih dengan pertimbangan lebih dekat dari Dumai. Toh, kedatangan mereka dengan niat baik. Membangun pesantren untuk masyarakat sana, dengan biaya juga dari masyarakat. Berangkatlah Mahmud bersama istri dan keempat anaknya. Di Palembang, mereka menumpang tinggal sebulan di rumah saudara.  

“Memang ada saudara di Palembang, tapi mereka kurang mengerti tentang pesantren. Jadi, kami bilang menumpang sebulan, itu sebulan kurang sehari kami benar-benar harus dapat rumah sewaan. Sambil silaturahmi jalan terus. Cari-cari informasi lahan yang mau dihibahkan untuk pesantren,” kata Ustaz Mahmud.

Akhirnya dapat. Lahan seluas 3,5 hektare di desa. Jaraknya 40 kilometer dari kota. Jalannya tanah, listrik belum masuk. Angkutan kota (angkot) hanya sekali melewati lokasi itu. Mahmud bersemangat. Dia teringat pesan Ustaz Abdullah Said, jangan melihat kondisi saat ini, tapi masa mendatang. Meski lokasi tanah itu di pelosok, tapi ke depan setelah ada pesantren, justru akan menjadi pusat kota.

“Saya enggak tahu cariknya, pokoknya cari pinjaman motor. Silaturahmi jalan terus. Akhirnya dapat pinjaman motor. Setiap hari saya pulang pergi naik motor pinjaman itu. Lokasinya masih seperti hutan. Pohonnya besar-besar. Akhirnya, saya minta tenaga dari Balikpapan yang masih bujang untuk membantu merintis,” ujarnya.

Pelan-pelan, mulai dibangun gubuk-gubuk dari kayu. Memang berat, karena harus memulai dari nol. Dari gubuk itu, mulai dicari satu-dua santri. Mereka diajari hal-hal yang paling simpel. Seperti mengucap salam saat masuk rumah, berdoa sebelum makan, dan sesudah makan. Memang lokasi itu begitu terpencil. Jadi, hal-hal yang simpel seperti rukun iman, rukun Islam, masih banyak yang belum paham.

“Jadi kami ajari yang dipakai untuk keperluan sehari-hari. Para orangtua senang sekali melihat anak-anak mereka membaca salam ketika masuk rumah. Berbakti kepada orangtua. Itu semua sangat membantu kami. Semakin banyak santri yang datang. Bantuan untuk pembangunan pesantren juga berdatangan.”

Meski demikian, dalam perjalanannya memang selalu ada rintangan. Banyak desas-desus soal penyebaran aliran sesat dan banyak lagi. Namun, Mahmud teringat pesan Ustaz Abdullah, jawablah pertanyaan dengan kenyataan. Artinya, tidak ada yang perlu dijawab dari desas-desus tersebut. Mereka bisa datang dan melihat langsung.

Camat setempat yang mendengar keluhan tersebut tak tinggal diam. Kemudian mengecek ke lokasi. “Bagus, artinya camat itu tabayun. Ternyata, yang dipelajari Alquran dan hadis. Tidak ada yang menyimpang. Kami salat lima kali sehari, lima kali berjamaah. Kami juga berjamaah saat kerja bakti. Jadi, tidak ada yang menyimpang, hanya masyarakat yang kurang pemahaman,” katanya.

Pada waktu itu, di sana azan hanya terdengar dari masjid ketika Magrib dan Isya. Sementara pesantren yang dibangun Ustaz Mahmud selalu lantang setiap waktu salat tiba. Itulah yang dianggap aneh oleh warga sekitar. Hanya karena mereka yang memang kurang pemahaman.

Sambil mengajar di pesantren, Ustaz Mahmud juga terus berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Dari dakwah tersebut, beberapa di antaranya memberikan bantuan berupa uang. Dana itu dipakai untuk operasional pesantren maupun untuk kehidupan sehari-hari. Dakwah dan silaturahmi itu juga yang menjadi pintu bagi para donatur untuk membantu pembangunan pesantren.

“Sampai suatu hari, ada anak muda datang. Dia tanya-tanya ke saya, ya saya jelaskan tujuan pesantren ini untuk pendidikan agama bagi anak-anak, khususnya bagi mereka yang tak mampu. Lalu ditanya, untuk pembangunan kurang berapa banyak semen, saya jawab sekitar 100 karung. Eh, langsung saya disuruh ambil 50 karung dari toko bangunan.”

Ternyata, anak muda itu adalah adik dari Gubernur Palembang pada waktu itu. “Saya enggak tahu sama sekali. Saya jawabnya juga apa adanya. Enggak ada persiapan,” kenangnya. Memang setiap kader dari Hidayatullah harus menjadi Al-Amin di lingkungan sekitarnya. Yakni, orang yang dapat dipercaya. Yang artinya harus jujur dan apa adanya. Itu juga yang dilakukan Ustaz Mahmud, dia selalu transparan dalam pembangunan pesantren.

Selama 10 tahun Ustaz Mahmud di Palembang, lahan 3,5 hektare tadi semakin berkembang. Sekarang bahkan sudah menjadi 20 hektare. Selain pesantren agama, sudah ada sekolah untuk pendidikan formal. Sama seperti induk Hidayatullah di Balikpapan. Selama berjuang di Palembang itu pula, putra-putrinya sebagian dipulangkan untuk dididik di Ponpes Hidayatullah Balikpapan.

Bahkan Mar’atus Sa’adah yang ditinggal ketika masih berusia kurang dari dua tahun, sempat tak mengenali ayahnya. “Pas saya datang ke Purwokerto, kebetulan saya langsung ketemu. Dia panggil kakak yang lagi di belakang. Ibu, ini ada Om yang nyari,” ujarnya, lantas tertawa.

Setelah 10 tahun di Palembang, Mahmud ditugaskan ke Kudus. Di sini, dia diberi amanat memimpin pesantren yang sudah ada. Sambil terus berdakwah ke kota-kota di Jawa. Dari Kudus, lantas pindah lagi ke Cepu. Di sini dia menetap sekitar 11 tahun.

“Itu lokasi menetapnya. Tapi, di sana kita jalan terus ke seluruh kota di Jawa. Bahkan, sampai Bali dan Nusa Tenggara Timur,” terangnya.

Selain berdakwah, dia juga memberikan motivasi kepada para santri-santri muda untuk berani berdakwah dan bertugas ke luar daerah. “Tujuan kita tugas adalah membuktikan ayat-ayat Allah yang sudah kita pelajari. Ternyata memang benar. Saya sudah membuktikan. Itulah yang juga memotivasi santri-santri muda untuk berani tugas,” tambahnya.

Setelah 11 tahun di Cepu, Mahmud memutuskan kembali ke Balikpapan. Apalagi, sang istri sudah mulai sakit. Di Balikpapan, Mahmud tinggal di lingkungan Ponpes Hidayatullah sambil mengajar sampai sang istri meninggal. “Tapi, niat saya bersama almarhumah istri saya sudah kesampaian. Di sini jenazah disalati hampir 1.000 orang,” terangnya.

Meski hampir seluruh hidupnya dicurahkan untuk dakwah, tujuh anak dari Ustaz Mahmud juga diberi kesuksesan oleh Allah. Putri pertama setelah lulus sarjana di Hidayatullah melanjutkan S-2 di Sudan bersama suami mengambil jurusan bahasa. Anak kedua lulus sarjana syariah di Bojonegoro.

Anak ketiga lulus sarjana psikologi bidang konseling di Solo. Anak keempat hafal Alquran dan kini mengasuh di pesantren di Lamongan. Anak kelima lulusan SMA Muhammadiyah Kudus dan kini menjadi guru TK di Palembang. Anak keenam lulusan MAN Kudus dan kini menjadi guru TK di Kutai Kartanegara. Anak terakhir lulusan MAN Kudus dan kini mengajar di Hidayatullah Balikpapan.

Sepanjang perjalanan dakwah, Mahmud menyebut perjuangan di Palembang adalah yang paling menantang. Namun, semua menjadi semakin mudah karena Hidayatullah bukanlah sebuah partai. Bukan juga sebuah organisasi. Tidak fanatik mengikuti salah satu dari keempat mazhab.

“Yang penting kami mengajarkan bagaimana caranya salat, bagaimana membaca Alquran. Kami tidak pernah meributkan ushalli (niat salat), kunut (saat salat Subuh), dan segala macam. Kami merangkul semuanya dan sampai sekarang begitu. Yang penting tidak menyangkut persoalan prinsip, seperti syirik. Terlepas dari itu, silakan saja. Yang penting sama-sama salatnya lima waktu. Jumlah rakaatnya juga sama,” tambahnya.

Hal itulah yang menurutnya membuat Hidayatullah mudah diterima di semua tempat. Bahkan oleh nonmuslim sekalipun. “Nonmuslim justru sama sekali tidak pernah ada masalah. Mereka menghormati. Sekarang saja yang agak memanas karena isu-isu segala macam. Dulu tidak ada, semua rukun,” jelasnya. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 08:54

Mewaspadai Sisi Gelap Uang Digital

Oleh: Suharyono Soemarwoto, MM MENGGEMPARKAN! Itulah kata tepat menggambarkan kemajuan mata uang berbasis                                            …

Jumat, 10 Agustus 2018 08:57

Rita Pergi, Siapa Ganti Edi?

Tensi politik Kota Raja memanas. Edi Damansyah makin mulus mengisi kursi bupati yang ditinggalkan Rita…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:54

Kasak-kusuk Golkar, Gerindra, dan PKS

TAK adanya larangan yang terang bagi kader partai politik untuk mengisi kekosongan jabatan wakil bupati…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:33

Kesultanan Berharap Putra Daerah Jabat Bupati

KUTAI Kartanegara (Kukar) mencari pemimpin baru. Setelah putusan hukum Rita Widyasari inkrah, Edi Damansyah…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:32

Parlemen Meminta Pendamping

JALUR perseorangan ternyata tak bebas dari aturan. Jika menang pilkada kemudian salah satunya (kepala…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:27

Kutim Dua Kali Tak Pilih Wakil

KEKOSONGAN jabatan kepala daerah yang terjadi di Kutai Kartanegara (Kukar), sebenarnya sudah terjadi…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:24

“Saya Belum Memikirkan”

DALAM hitungan hari setelah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari ditahan KPK dengan…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:00

Target Sejuta Anak Divaksin

DINAS Kesehatan (Diskes) Kaltim mengaku tidak ingin berbicara soal halal atau tidaknya vaksin measles…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:14

Label Halal Bikin Galau

Vaksin measles dan rubella (MR) mental. Belum mampu menembus urat nadi jutaan siswa sekolah dasar. Musababnya…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:10

Boleh Imunisasi MR, asal…

SELEPAS salat Jumat (3/8), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Kesehatan akhirnya bertatap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .