MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 04 Juni 2018 21:02
Jatuh Bangun Empat Dekade
MEMBAHAS DAKWAH: Muhammad Hasyim (kiri) dan Hamzah Akbar saat bincang dengan Kaltim Post di Ponpes Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan Timur.

PROKAL.CO, SIANG itu, meski matahari sedang terik-teriknya, Hasyim masih saja sibuk dengan cangkul, kapak, serta linggis. Berbekal peralatan seadanya, pemuda 20 tahunan ini berniat membersihkan semak belukar. Luasnya? Tahan napas, tak kurang 5 hektare. Letaknya di Gunung Tembak, Balikpapan Timur.

Sesekali dia turun beristirahat di sebuah gubuk sementara. Tempat tinggal ini dibangun dengan hasil kerja keras sendiri. Mau tidak mau, dia bertahan dalam kondisi serba terbatas.

“Atap gubuk terbuat dari daun, dinding dari kulit kayu. Kondisi saat itu masih sepi. Warga memang sudah ada, tapi hanya di pinggir jalan raya besar,” kenangnya.

Begitulah gambaran yang terjadi empat dekade atau tepatnya 42 tahun silam. Saat pembangunan kawasan yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Hidayatullah bermula. Hasyim ingat betul, kejadian ini berlangsung sekitar tahun 1976. Bagaimana tidak, dia merupakan satu dari sekian pemuda yang turut andil.

Hasyim tidak sendiri. Dia bersama beberapa santri yang diboyong ke Gunung Tembak untuk membangun markas baru Hidayatullah. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok dengan tugas membangun gubuk atau rumah. Berbekal alat ala kadarnya, mereka harus berjuang dan mencari bahan bangunan sendiri. Belum ada dana dan alat berat. Semua kerja manual.

Susah senang dilalui kelompok ini bersama. Betul-betul dengan kondisi yang terbatas. Pernah suatu saat, mereka tinggal di sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pembakaran batu bata. Di sana, semua kegiatan dilakukan, mulai salat, makan, sampai belajar. Mereka terpaksa hidup menumpang karena bangunan belum jadi.

Ada sekitar belasan orang yang bertahan dengan kondisi tersebut. Hidup jauh dari kota juga memiliki tantangan lain, terutama memenuhi kebutuhan listrik dan air. Pria asal Magelang ini menuturkan, mereka sempat menggunakan genset. Tapi, alat ini hanya beroperasi dari Magrib hingga pukul 21.00 Wita.

Sementara untuk mendapatkan air lebih mudah, asal mau menggali tanah bisa dapat air. Apalagi daerah tersebut cukup dekat dengan sungai. Sedangkan soal urusan makan, Hasyim dan rekan-rekannya mendapat jatah dari dapur yayasan. Jatah ini berbentuk beras sekian kilogram dan uang untuk kebutuhan satu bulan.

Dia mengungkapkan, jatah dari dapur pasti tidak cukup memenuhi kebutuhan. Apalagi keadaannya, mereka terdiri dari banyak orang. Kalau jatah itu kurang, harus bergerak cari sendiri. Misalnya memetik sayuran di hutan dan memancing ikan di sungai.

“Kami yakin bisa bertahan karena tentara saja sanggup berjuang dengan keadaan seperti itu. Apalagi semua bisa saja terjadi kalau Allah menghendaki,” ujarnya. Mereka pun berprinsip, makan tidak harus kenyang. Namun, bagaimana makanan bisa menjadi berkah walau hanya seadanya.

Sedikit demi sedikit, pembebasan lahan terus berjalan. Namun, tetap saja bukan waktu yang sebentar. Akhirnya, butuh waktu tahunan untuk merampungkan pembangunan kampus. Mulai area gerbang depan hingga gedung-gedung utama. Misalnya masjid dan kantor sekretariat.

Pria yang kini berusia 70 tahun ini menuturkan, ada beragam kendala selama pembangunan. Kalau kendala finansial baginya mungkin hal yang wajar. Namun, kendala yang lebih serius adalah menghadapi kondisi umat Islam. Saat itu, sebagian orang masih ada yang salah paham dalam memandang Hidayatullah.

Hasyim menyadari, Hidayatullah merupakan pendatang baru di daerah tersebut. Sebelum mereka datang, sudah ada komunitas lama yang telah mengakar dengan paham, kegiatan, dan massa sendiri.

“Kadang menyatukan pemikiran lama dan baru tidak mudah. Di satu sisi, timbul rasa iri karena kita bisa mendatangkan orang-orang penting dan berkegiatan di sini,” tuturnya.

Saat para pendiri Hidayatullah memutar otak mengatasi permasalahan ini, secara bersamaan, mereka kedatangan jamaah mubalig tablig, yakni sekumpulan orang yang datang dan bermukim di masjid beberapa hari. Kemudian berpindah lagi melanjutkan perjalanan ke daerah lain.

“Konsep mubalig tablig ini yang kami coba terapkan. Cara ini bisa mendekatkan kami dengan masyarakat,” sebut sulung dari sembilan bersaudara ini. Tak disangka, kegiatan ini ternyata turut menarik perhatian masyarakat yang ingin berpartisipasi. Secara serempak, mereka datang ke berbagai penjuru Kota Minyak.

Saking semangatnya, hampir seluruh masjid dan musala di Balikpapan sudah pernah mereka datangi untuk berdakwah. Program ini diikuti oleh guru sampai santri Hidayatullah, setiap kali bermukim, menghabiskan waktu sekitar tiga malam. Sebagai ajang memperkenalkan diri, mereka datang ke masjid untuk mengajar, dakwah, hingga bersih-bersih masjid.

Selain mengenalkan diri kepada masyarakat, Hidayatullah juga melakukan pendekatan dengan mendatangi tokoh-tokoh besar. Ibaratnya seperti sowan serta membangun silaturahmi. Hidayatullah sadar betul, saat itu, mereka adalah lembaga baru yang masih membutuhkan nasihat dari para sesepuh.

“Kala itu bertepatan dengan momen Lebaran, kami minta nasihat serta kritik kepada tokoh besar di Balikpapan. Minta petunjuk dan arahan seperti meminta nasihat dari orangtua kepada anak,” ungkapnya.

DARI GUNUNG SARI

Sebelum menginjakkan kaki di kawasan Gunung Tembak, Hidayatullah sempat beberapa kali berpindah-pindah tempat. Setidaknya, ada empat daerah yang pernah menjadi saksi perkembangan Hidayatullah. Bahkan sebelum resmi menjadi lembaga atau organisasi.

Kegiatan bermula kali pertama di Gunung Sari, 1973. Para pendiri Hidayatullah hanya menumpang di tempat tinggal warga. Mereka mengumpulkan para pemuda daerah yang memiliki minat sebagai mubalig. Hidayatullah bersedia memberikan pembinaan bagi mereka yang ikut berpartisipasi.

Namun, keberadaan mereka di Balikpapan Tengah itu tidak berlangsung lama. Sebab, sempat terjadi perbedaan pendapat antara Hidayatullah dan pemilik tempat mereka menumpang. Akhirnya, sekelompok orang ini memilih pindah ke Karang Rejo.

Dengan anggota kelompok tidak sampai 10 orang, mereka tinggal di gubuk-gubuk kecil di sebuah kebun yang berada di dataran tinggi. Di sana, kehidupan dan ibadah berlangsung apa adanya. Tak lama, mereka pindah lagi ketiga kalinya ke daerah Karang Bugis.

Saat itu, ada seseorang yang mewakafkan tanah untuk dibangun sebagai masjid. Mereka mendapat kesempatan untuk bermukim di sana. Pelan tapi pasti, kegiatan Hidayatullah mulai ramai. Tidak hanya diikuti para santri, warga sampai pegawai Projakal (proyek jalan Kalimantan) juga hadir dalam pengajian setiap malam Jumat.

Di samping kegiatan internal, ada pula kegiatan di luar, yakni pengajian ke kampung-kampung. “Cukup lama di Karang Bugis karena sudah ada tanah wakaf dan bangunan, kami buat pendidikan formal dengan membuat sekolah,” imbuhnya.

Antusias terhadap kegiatan Hidayatullah mulai terlihat. Terbukti dengan bertambahnya para santri yang ingin mencari ilmu di lembaga pendidikan Hidayatullah. Kondisi ini membuat bangunan yang mereka tempati mulai tak cukup. Hingga akhirnya, saat itu Wali Kota Balikpapan Asnawi Arbain turut andil dan memberikan perhatian.

Asnawi berperan membantu mencari lokasi baru. Terpilihlah daerah Gunung Tembak, kebetulan ada seorang dermawan yang mewakafkan tanah seluas 5 hektare. Pria yang bernama Darman ini mewakafkan tanah tanpa syarat macam-macam.

“Beliau bilang pernah bermimpi, tanah ini suatu saat akan didatangi utusan Rasulullah. Begitu tahu kami memerlukan tanah itu, dia tidak pikir panjang untuk wakaf,” ucapnya sembari mengingat.

Setelah proses wakaf rampung, pembangunan kampus Gunung Tembak mulai berjalan. Selain bertugas membangun pesantren, santri Hidayatullah juga mendapat tugas untuk berkontribusi pada lingkungan sekitarnya. Mereka ditanamkan agar bagaimana dapat berandil menyebarkan perkembangan Islam di daerah tersebut. Saat itu, kegiatan tradisional di masyarakat memang sudah ada, tapi tidak intens.

Kini, Hasyim sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Sejak dia bujang sampai memiliki anak dan cucu. Dia menikah dengan Rusmala Dewi. Mereka menetap di kediaman yang terletak di seberang jalan Pondok Pesantren Hidayatullah. 

Ketika ditanya alasan dia bertahan di Hidayatullah, Hasyim mengaku tidak tahu. Menurutnya, pertanyaan ini selalu menjadi yang tersulit ketika ada orang yang bertanya. Hingga sekarang, dia tidak pernah berhasil menjawabnya.

“Saya sulit menjawab, rasanya hati saya senang berada di sini. Mungkin ini karunia dari Allah pada orang-orang yang memiliki niat baik. Tuhan hilangkan pikiran jelek dalam diri saya,” jelasnya.

Padahal dulu kerja sangat berat, kondisi serba kekurangan, makan belum enak, bahkan masa depan tidak jelas. Walau sempat ada tawaran pekerjaan, entah mengapa dia dan kawan-kawan tetap yakin dan fokus berkontribusi pada Hidayatullah. 

“Sekarang saya turut bersyukur Hidayatullah dapat terus eksis, lembaga ini berkembang bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan. Semoga visi misi dari pendiri Hidayatullah tetap terus terjaga,” tuturnya, tersenyum. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .