MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 04 Juni 2018 08:43
Silaturahmi Lintas Negara di Masjid Laredo

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA datang terlalu awal. Pukul delapan malam. Matahari masih bersinar perkasa. Pintu halaman masjid itu masih tertutup. Tidak dikunci. Pintu dua sisi. Terali besi. Saya turun dari mobil. Saya dorong ke dalam. Tidak bisa. Jalan masuk itu menanjak. Saya tarik ke sini. Enggak bisa. Nyangkut. Saya goyang-goyang. Suaranya keras. Takut rusak.

Saya tinggal dulu masjid itu. Cari makanan ringan. Persiapan berbuka. Siapa tahu masjid itu tutup. Ternyata buka. Begitu saya balik lagi, pintu sudah membuka. Beberapa mobil tampak parkir di halaman. Saya ikut parkir di situ. John tidak ikut. Sudah ‘’cerai’’. Pulang ke Kansas. Kepada istrinya.

Beberapa orang duduk di halaman masjid itu. Saya hitung ada enam orang. Saya beri salam. Jabat tangan. Satu per satu. Ada dokter dari Pakistan. Profesor muda dari Jordan. Di depannya duduk orang tua gagah, bapaknya. Seorang jenderal pensiunan. Ada profesor teknik dari India, asal Hyderabad. Ada orang asal Sudan. Satu lagi asal Mauritania.

Beberapa kali saya ditegurnya, menyebutnya Mauritius. ''Itu dua negara yang sama sekali berbeda,'' tegurnya. Satu di daratan. Satunya di lautan. ''Tapi terlalu banyak yang salah sebut seperti itu,'' katanya. Tiba-tiba si Mauritius, eh si Mauritania berdiri, azan. Di dekat dinding masjid. Itulah tandanya berbuka. Beberapa butir kurma disajikan di meja. Saya pilih berdiri. Ambil melon kuning. Dua iris.  

Makanan dijajar di atas meja dekat dinding. Saya tidak bisa melihatnya. Masih ditutupi alumunium foil. Harus salat Magrib dulu. Insyaallah aku lilo. Meski lapar sekali. Total enam orang yang makmum. Imamnya profesor yang asal Hyderabad itu. Khusyuk. Tidak heboh.

Makmum tambah dua lagi, satu berjubah putih. Lengkap dengan topi hajinya. Satunya lagi hanya berkaus singlet. Kusam. Ternyata sopir truk. Asal Somalia. ''Saya benci udara panas seperti ini,'' kata si kaus singlet itu. Tinggalnya di Main. Utara Boston. Perbatasan dengan Kanada. Daerah beku. Pada musim salju.

Si kaus singlet sudah warga negara Amerika. Dia baru mengendarai truknya selama tiga hari. Dari Minnesota. Habis salat Zuhur biasanya tidur. Ada ruang tidur di belakang ruang sopir. Dengan ranjang cukup lebar. Ada kulkas, AC, dan TV. Saya minta izin si kaus singlet, untuk melihat dalam truk raksasa itu. Yang sering saya selip dengan ngeri-ngeri-sedap itu.

Di Amerika kendaraan yang kita salip tidak akan mengurangi kecepatan. Yang menyelip pun tidak menambah kecepatan. Yang nyalip itu memang karena kecepatannya lebih tinggi. Semua konstan, pakai tuas, eh cruise control, di bawah kemudi itu.

Ia menjadi tour guide saya di dalam truk itu. Sambil ambil botol minumannya untuk diisi ulang. Itu mah bukan botol. Termos es. Besar sekali. Disebut botol hanya karena ada pipetnya. Ia menjelaskan, kalau botol biasa tidak cukup besar. Dan tidak bisa dimasuki es. Harus besar segitu. Untuk jarak nyetir enam jam berhenti sekali.

Kami pun mendengarkan suka-duka menjadi sopir truk raksasa. Sambil makan. Yang laki-laki makan di deretan meja sini. Yang perempuan di deretan meja sana. Bersama anak-anak. Ada dua perempuan di meja itu. Mereka itulah yang menyiapkan makanan sore itu.

Banyak sekali anekanya, kue berat tiga macam, daging, sop India, kari biji kacang putih, nasi briani dengan ayam dan irisan kentang, samosa, nasi briani dengan ramuan lain lagi, dan beberapa lagi tapi hilang dari catatan lirik lagu “Sayang’’.

Minumannya juga beberapa macam, botol-botol air putih, jus kaleng, jus jeriken, susu, teh, kopi. Buahnya lima, kurma, semangka, melon, jeruk, apel.

Tentu tidak bisa habis. Saya hanya ambil nasi briani satu jenis, ayam sepotong kecil, kari kacang putih tanpa kuah, satu samosa. Tapi profesor dari India itu minta saya membungkus untuk sahur. Alhamdulillah. Itulah buka puasa di Masjid Laredo. Di negara bagian Texas. Kota ini cukup besar. Penduduknya setengah juta. Yang Islam tidak sampai dua ribu orang.

Hanya ada satu masjid di Laredo. (Tunggu Disway edisi Laredo dengan sungai Rio Grande yang legendaris dan jembatan perbatasannya dengan Meksiko).

Masjid-masjid di luar Laredo ini jaraknya 200 km. Di utara ada masjid di San Antonio. Di selatan ada masjid Monterry di Meksiko.

Profesor asal Hyderabad itu salah satu pemrakarsanya. Lima tahun lalu. Masih baru. Membeli tanah kosong di situ, membangunnya. Setahun jadi. Dengan arsitektur khas wilayah selatan Texas. Ditambah kubah.

Sebelum punya masjid, Jumatannya sewa tempat. Di sebuah pusat perbelanjaan. Kini yang Jumatan meningkat, rata-rata 20 orang.

Sesekali bertambah mendadak, rombongan pelancong dari atau ke Meksiko. Yang kebetulan lewat. Beda sekali adat di masjid kecil yang tidak didominasi pendatang asal Arab. (far/k11)


BACA JUGA

Minggu, 03 Juni 2018 07:37

Akal Sehat Kereta Cepat

OLEH: DAHLAN ISKAN AKHIRNYA akal sehat yang menang: Mahathir Muhamad membatalkan proyek kereta cepat…

Jumat, 01 Juni 2018 08:16

Putri Zainah, Mantan Istri yang Selamat

Bagaimana kasus 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang mengguncang Malaysia itu berawal? Yang membuat…

Kamis, 31 Mei 2018 09:13

Rosmah setelah Tinggalkan Penyiar TV (1)

OLEH: DAHLAN ISKAN INI adegan pertama. Bintang utamanya dua; Xavier dan Clare. Dua nama yang minggu…

Senin, 28 Mei 2018 09:19

Insyaallah Aku Lilo, Madrid

CATATAN: DAHLAN ISKAN SAYA lemes saat nulis ini. Bahkan sudah lemes sejak menit ke-30-an final Liga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .