MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Minggu, 03 Juni 2018 07:18
Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

PROKAL.CO, OLEH: ARIS SETIAWAN
(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul)

SAYA yakin, jika semuanya sepakat bahwa fondasi] yang kuat bagi sebuah bangunan yang kukuhadalah hal yang mutlak. Apa sebab? Fondasi] mempunyai fungsi menahan segala sesuatu yang berada di atasnya. Ia selalu bekerja tanpa lelah untuk menahan beban agar bangunan di atasnya tetap dapat berdiri kukuhdan tidak bergeser. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah sang fondasi letaknya seringkali tersembunyi sehingga tidak perlu memamerkan fungsi dan kinerjanya yang luar biasa.

Pancasila adalah fondasi negara kita, Indonesia. Dan itu disepakati oleh semua tokoh bangsa yang mewakili lintas agama, lintas suku atau etnis, serta lintas generasi. Jika kita ingin membangun sebuah bangunan yang kukuh saja perlu fondasi] yang kuat dengan kualitas terbaik, maka untuk sebuah fondasi atau dasar negara tentu lebih lagi.

“NKRI Harga Mati,” begitu bunyi slogan atau semboyan TNI yang sering kita dengar. Sebagai warga negara Indonesia yang mengaku cinta pada Tanah Air, seyogyanya setiap kita meresapi dan melekatkan makna slogan tersebut ke dalam diri kita. Indonesia adalah negara kesatuan. Negara kesatuan merupakan bentuk negara yang kekuasaan tertingginya berada di pemerintahan pusat. Secara hierarkinya, negara kesatuan merupakan negara yang bersusunan tunggal yang berarti tidak ada negara di dalam negara.

Hidup di era digital seperti saat ini, adalah bagian dari sejarah peradaban yang musti kita lalui, tidak bisa dihindarkan. Era di mana lalu lintas informasi begitu deras, padat, dan cepat. Banyak ragam media yang menjadi kanal-kanal penyalurannya. Hal ini mengakibatkan sering terjadinya “kecelakaan” dalam lalu lintas informasi tersebut.  Bentuk “kecelakaan” dalam penyebaran informasi salah satunya adalah hoax. Saat ini, nyaris tidak ada hari tanpa adanya hoax (berita bohong) dari ragam sumber informasi kita. Baik itu media sosial maupun media massa.

Pancasila adalah Wujud Cinta Kita

"Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni," bunyi Peraturan Presiden (Perpres) No 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

Mengutip dari beberapa literatur, pada Perpres tersebut dijelaskan bahwa penetapan hari lahir Pancasila mengacu pada sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei-1 Juni 1945. Dalam hari-hari itu, ada tiga orang tokoh yang memaparkan tentang dasar negara yakni Muhammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno.

Jika kita membaca sejarah, maka akan kita temukan bahwa istilah Pancasila baru diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Tetapi masih ada proses selanjutnya yakni menjadi Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada 22 Juni 1945 dan juga penetapan Undang-Undang Dasar yang juga finalisasi Pancasila pada 18 Agustus 1945.

"Bahwa rumusan Pancasila sejak tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Ir Sukarno, rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara," tulis perpres itu.

Rumusan yang disampaikan Sukarno pada waktu itu pun berbeda dengan susunan Pancasila yang kita kenal sekarang. Dasar negara yang disampaikan Bung Karno waktu itu secara berurutan yakni: kebangsaan, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang maha esa.

"Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa--namanya ialah Pancasila," tutur Sukarno dalam sidang BPUPKI seperti dikutip dalam buku Tjamkan Pancasila: Pancasila Dasar Falsafah Negara. Oleh para anggota BPUPKI kemudian disepakati bahwa pidato Sukarno-lah yang menjawab pertanyaan sidang tentang apa dasarnya Indonesia merdeka. Setelah itu dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Menurut saya, Pancasila merupakan wujud cinta para pendiri bangsa ini, yang mengakomodasi segala bentuk aspirasi dari rakyat Indonesia. Oleh karenanya perlu kita pertahankan dan perjuangkan terus eksistensinya. Kita tentunya bersepakat untuk tidak menoleransi segala bentuk usaha yang merongrong Pancasila sebagai fondasi rumah kita, Indonesia.

Indonesia adalah Kita

Menurut Prof Mr Soenarko, negara merupakan sekumpulan atau sekelompok orang yang tinggal dalam wilayah tertentu dan diorganisasikan dengan pemerintahan negara yang telah disepakati dan memiliki kedaulatan. Bisa juga disebut sebuah wilayah yang memiliki sebuah aturan dan sistem yang berlaku bagi seluruh orang yang menempati wilayah tersebut. Negara merupakan sebuah organisasi tertinggi yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat umum. Negara juga memiliki peran untuk melindungi setiap penduduknya dan mencerdaskan dengan menyejahterakan kehidupan warganya.

Realitas seringkali bertentangan dengan idealisme dalam skup yang utuh dan menyeluruh. Bahkan sepertinya memang tidak akan pernah ada sebuah idealisme sejati yang betul betul jadi realitas secara utuh tanpa cela sedikitpun. Itulah sebuah kesempurnaan yang hanya milik Tuhan yang Maha Sempurna. Pun demikian dalam kehidupan dan sejarah bangsa dan negara kita, Indonesia. Banyak hal-hal yang menjadi nilai-nilai idealisme para pejuang dan pendiri negara kita larut dan hanyut seiring dengan cara mengisi kemerdekaan yang keliru dan menyimpang dari jalur utama.

Ada sebuah quote dari motivator terkenal Mario Teguh yang pernah saya baca, bunyinya seperti ini. "Jika mereka mengatakan Indonesia buruk, itu karena mereka tidak pernah tahu kehebatan Indonesia."  Yang ingin saya simpulkankurang lebihnyaadalah jika ada realita-realita buruk, yang kita temui dalam kehidupan kita, maka yang buruk bukanlah Indonesia-nya, tetapi oknum-oknum yang ada di dalam pemerintahannya.

Budaya Hoax, Mari Kita Libas!

Fenomena yang paling sering kita lihat akhir-akhir ini di Indonesia adalah hoax, terkait politik, ekonomi, hukum, sosial, dan sebagainya. Bahkan hampir semua lini kehidupan kita nyaris dikepung oleh hoax. Kurangnya minat masyarakat untuk membaca dan menulis jelas akan membuat mereka mudah percaya sehingga gampang terprovokasi oleh informasi atau berita hoax. Ini disebabkan karena daya analisis dalam mengkaji sebuah informasi mereka kekurangan data untuk dijadikan referensi sehingga salah menyimpulkan.

Membangun budaya literasi untuk mencerdaskan masyarakat jelas paling efektif untuk melawan liarnya berita-berita hoax, lewat literasi masyarakat akan dengan sendirinya mampu mengurai dan mengkaji kebenaran informasi yang mereka dapatkan. Jika kita menjadi orang yang literat (melek literasi), niscaya kita juga menjadi bagian dari warga negara yang mencintai dan menjaga Pancasila sebagai fondasi bernegara kita.

Era teknologi informasi tidak bisa dimungkiri telah berkembang sangat pesat dan menyentuh semua lini kehidupan manusia, hari ini nyaris tidak ada lagi bagian sudut bumi yang tidak bisa dijangkau oleh IT dan tidak ada aktivitas manusia yang tidak lagi didukung oleh sistem IT. Teknologi informasi bukan lagi sekadar alat untuk mengolah data, menyampaikan pesan dan menyebar berita dan fakta, IT sudah menjadi alat untuk propaganda, merusak ideologi suatu bangsa, melanggengkan kekuasaan bahkan sebaliknya menjadi alat untuk menggulingkan penguasa.

Penyebaran informasi di era IT yang semakin canggih ini tidak bisa dilawan lewat cara-cara represif sampai memboikot atau memblokir konten yang dianggap menyesatkan bahkan sudah sampai menyebarkan fitnah dan kebencian. Harus ada perisai yang kuat untuk melindungi masyarakatnya sendiri.

Benteng apapun yang dibangun pemerintah untuk melawan serangan informasi di era serba digital ini lambat laun pasti akan jebol, yang mesti pemerintah lakukan adalah memberikan perisai kepada setiap rakyatnya untuk berperang melawan informasi-informasi yang menyesatkan itu.

Jika kita punya kekhawatiran yang sama, kalau hoax menjadi sistem dan bahkan budaya dalam kehidupan kita, maka mari kita benahi mulai dari diri kita sendiri dulu. Mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini juga. Sekali lagi, sebelum hoax mengakar dan membudaya dalam kehidupan kita, mari kita lawan, mari kita libas! (/rsh/k18)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:21

Memaknai 17 Agustus bagi Indonesia

Tanggal  17 Agustus 2018 masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-73 tahun dan sudah…

Jumat, 17 Agustus 2018 07:21

Tantangan Pendidikan Kaltim 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP(Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dapil Kaltim dan Kaltara) PEMERATAAN…

Jumat, 17 Agustus 2018 07:18

Memaknai Kemerdekaan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S-3–Doktor…

Rabu, 15 Agustus 2018 07:17

Karena Ayahku Seorang Veteran RI

OLEH: MUTHI' MASFU'AH(Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Devisi Pengembangan Wilayah Literasi DPP Jakarta)…

Selasa, 14 Agustus 2018 07:14

Nilai Religius Membantu Kemajuan Peradaban

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM  tulisan saya yang dimuat…

Senin, 13 Agustus 2018 08:39

Membangun Safety Leadership di Dunia Pendidikan

OLEH: HENDRAJATI, S.Pd  (Pendiri dan Ketua Umum HSE Indonesi) KENAPA perlu? Pernahkah terpikir…

Senin, 13 Agustus 2018 08:36

Tips Memilih Ternak Kurban yang Baik dan Sehat

Oleh: drh Dwi Suryadi (Dokter Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan) IDULADHA merupakan…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:23

Mewujudkan Hemeroteca Nacional de Mexicodi Kaltim, Kenapa Tidak?

CONRADO SOL masuk ke sebuah gedung bangunan bergaya modern dengan nuansa warna cokelat kayu yang dominan.…

Kamis, 09 Agustus 2018 07:19

Jalan Spiritual Menuju Semangat Proklamasi

OLEH: RP YOHANES ANTONIUS LELAONA, SVD (Rohaniwan Warga Tenggarong)MENGAWALI tulisan ini, izinkan saya…

Selasa, 07 Agustus 2018 07:56

Kartesianisme

Oleh: Dr. Ir. Sunarto Sastrowardojo, M. Arch(Dosen Pascasarjana Perencanaan Wilayah, Unmul) KARTESIUS…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .