MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Minggu, 03 Juni 2018 07:15
Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

PROKAL.CO, OLEH: SUKARDI
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul)

BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas, menciptakan keanekaragaman ekologi dan geomorfologi yang dapat berpotensi sebagai pengembangan wilayah ekowisata. Ekowisata bertujuan menyeimbangkan antara konservasi lingkungan dan menyejahterakan penduduk setempat dengan memperkenalkan perjalanan wisata berbasis lingkungan. Faktanya di lapangan, ekowisata kurang berkembang karena tersandung ego sektoral.

Dalam pariwisata, Indonesia kini bersaing dengan negara tetangga, yaitu Thailand dan Malaysia dalam hal natural dan culture resources. Menurut data Pembangunan Pariwisata Prioritas, pada 2019 Indonesia  menargetkan Rp 280 triliun pemasukan devisa negara dari pariwisata. Beriringan dengan tujuan pemerintah, Kaltim salah satu misinya adalah meningkatkan industri pariwisata sebagai penopang perekonomian daerah.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa pemasukan dari sektor industri perminyakan dan pertambangan lebih tinggi dibandingkan dengan sektor pariwisata. Namun, hal ini dapat disiasati dengan menciptakan strategi dan kebijakan dengan kerja sama antara masyarakat dan stakeholder dalam membangun pariwisata Kaltim. Pengembangan pariwisata perlu menjadi perhatian pemerintah karena Kaltim sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan alamnya yang berlimpah. Tapi, tidak akan bisa terus-menerus bertahan dengan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Paradigma green economy digunakan sebagai salah satu cara mengurangi efek perubahan iklim. Yaitu dengan mengurangi penggunaan energi bahan bakar fosil. Dengan menerapkan green economy, diharapkan pariwisata menunjukkan pola pertumbuhan yang kuat. Mencapai 1,8 miliar kedatangan internasional pada 2030 serta empat kali lebih banyak perjalanan domestik (World Tourism Organization, 2011).

Pilar Strategi dan Kebijakan Penerapan Green Economy Model

Menurut Clarke (1997), membentuk pariwisata berkelanjutan diperlukan integrasi antara lingkungan, sosial, ekonomi dan climate. Namun, perlu adanya usaha yang besar untuk mengubah stereotip masyarakat yang beranggapan elemen tidak dapat bersifat holistik. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat diharapkan dapat mengombinasikan antara lingkungan, sustainable tourism, dan sosial.

Kebijakan pemerintah digunakan sebagai wadah yang mendasari dan mampu melingkup tiap elemen, kebijakan mampu mengelola antara pariwisata, sosial dan lingkungan. Konsep pariwisata yang berwawasan lingkungan harus memenuhi  empat hal (Law et al., 2015). Keempatnya, yakni  mengelola energi dan emisi rumah kaca, konsumsi air dengan bijak, manajemen pengelolaan sampah, dan manajemen budaya dan kearifan lokal. Pariwisata bukan hanya salah satu cara mempresentasikan suatu daerah, namun juga mampu melakukan konservasi lingkungan sekitar dan mengentaskan kemiskinan.

Dengan adanya konsep pariwisata berwawasan lingkungan, maka tujuan menuju green economy dapat tercapai. Tujuannya, pariwisata Kalimantan Timur tidak hanya berupa ekowisata, namun objek wisata non-ekowisata dapat dimaksimalkan dengan baik dengan memperbaiki infrastruktur dan pelayanan kepada para wisatawan. Kriteria green economy diadopsi dari UN-DESA (2012), yaitu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, proteksi lingkungan, low-carbon development, efisiensi sumber daya, sustainbilitas ekologi, human well-being; dan, inclusiveness.

Dari ketujuh isu tersebut, dirumuskan dalam konsep green economy model jangka panjang atau disebut juga green growth vision 2050. Konsep tersebut dirumuskan oleh stakeholder, seperti pengelola wisata, masyarakat setempat, agen wisata, NGO, kelompok pencinta lingkungan bersama pemerintah.

Stakeholder berperan dalam melaksanakan kegiatan dan mengelola pariwisata agar wisata tersebut tetap terjaga dan memanfaatkannya sebagai suatu tourist attraction. Sedangkan peran pemerintah adalah mengembangkan potensi suatu wilayah yang dapat meningkatkan pendapatan di daerah tersebut. Pemerintah dapat menyediakan infrastruktur, perbaikan dan perluasan fasilitas, melakukan promosi dan membuat peraturan dan kebijakan.

Pariwisata tidak hanya menjual destinasi wisata atau lokasi tujuan saja. Tujuan para wisatawan asing maupun domestik ingin mendapatkan experience yang luar biasa ketika mengunjungi tempat dari awal perjalanan hingga kembali ke daerah masing-masing. Tidak heran, banyak wisatawan menghabiskan uang mereka untuk menikmati perjalanan yang berkesan.

Pertama-tama pastinya mereka akan mencari info tempat mereka tuju, dengan kendaraan apa yang akan digunakan (kendaraan darat, udara, air; bandara; travel agent; internet). Kemudian, di mana mereka akan menginap dan akomodasi yang dibutuhkan selama perjalanan. Dan pastinya, tujuan perjalanan para pelancong adalah tempat wisata dan buah tangan dari tempat tersebut. Dari kegiatan tersebut pastinya akan membutuhkan energi dan menghasilkan limbah, seperti sampah dan limbah cair. Tanpa disadari, tiap elemen antara ekonomi, lingkungan, dan sosial saling bersinggungan sehingga konsep green economy tersebut harus dilaksanakan secara terintegrasi dan holistik.

Untuk menerjemahkan konsep green economy tersebut, perlu adanya pertanyaan kritis dalam menyelesaikan masalah apa, mengapa, bagaimana dan kapan perlu dicapainya konsep. Ada enam pilar yang merupakan hasil yang akan dicapai dalam jangka panjang. Keenamnya adalah mengembangkan destinasi wisata, melakukan pengelolaan dan penghematan energi, kemudahan mobilitas, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan perekonomian masyarakat, meningkatkan tingkat indeks kebahagiaan.

Dari enam pilar yang akan dilaksanakan oleh para stakeholder harus didorong peranan pemerintah dalam penegakan hukum, kebijakan dan peraturan dari pemerintah dalam menargetkan green growth vision 2050. Penerapan green growth vision yang direncanakan pada 2050 tersebut didasari karena temperatur bumi akan berubah stabil dengan perubahan 2 derajat dalam kurun waktu 30 tahun (UNEP, 2011). Serta, melakukan transformasi ekonomi dengan tujuan yang sangat kompleks membutuhkan waktu kurang lebih 40 tahun agar terjadi stabilitas antara konservasi lingkungan, menurunkan tingkat pengangguran dan membangun pariwisata yang berkelanjutan (Lipman et al., 2011).

Integrasi Pelaksanaan Rencana Kerja Green Economy Model

Pemerintah merumuskan Indonesia Green Growth (IGG) dalam rangka mendukung natural capital dan membangun ekonomi lokal dari ketimpangan sosial dan ekonomi. Kebijakan ini dilaksanakan untuk mengurangi penggunaan energi agar terjadi renewable energy. Terdapat empat tahap, tahap pertama menjadi fondasi di mana kearifan manusia dalam memanfaatkan SDA dan menjaga lingkungan. Tahap kedua dan ketiga, yaitu mengombinasikan lingkungan sebagai kunci utama peningkatan ekonomi yang perlu dilaksanakan dengan adanya kebijakan dan perencanaan. Pada tahap terakhir, dari setiap tahap dikombinasikan untuk menggiring tujuan utama dalam membentuk Green Growth Roadmap Development.

Integrasi dari tiap program pelaksanaan kerja di lingkup dalam green economy model, di mana terdapat lima rangkaian pencapaian green growth. Perencanaan ini digunakan sebagai acuan dan  petunjuk agar dalam pelaksanaannya tidak melenceng. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan perlu memikirkan secara scientific dalam membuat kebijakan seperti pembuatan baku mutu gas rumah kaca yang harus dibuang. Dan peran stakeholder melaksanakan dan berinovasi dalam melaksanakan program.

Proses ini dibagi menjadi lima tahapan. Pertama, pemerintah dapat menggunakan data sekunder untuk estimasi jumlah emisi rumah kaca, penggunaan air, timbunan sampah, dan limbah sebagai acuan dalam pembuatan kebijakan. Kedua, stakeholder bertugas dalam menganalisis masalah dan melakukan pengelolaan wisata, serta tiap kegiatan mengacu pada tujuan pemerintah. Ketiga, pariwisata Kaltim harus merencanakan sesuai pada roadmap IGG 2050. Tahap terakhir, melakukan evaluasi dan implementasi dari hasil pemikiran di tahapan sebelumnya untuk menjalankan dan menentukan kelebihan dan kekurangan dari tiap tahapan. (/rsh/k15)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 19 Juni 2018 07:29

Mudik Asyik dan Selebrasi Kemenangan

OLEH: ARIS SETIAWAN(Sekretaris PD. IKADI Kab. Kutai Kartanegara)“Manusia modern adalah manusia-manusia…

Senin, 18 Juni 2018 07:26

Siapa Pemberi 20 Ribu Ekor Sapi?

OLEH: THOMAS F KALIGIS(Guru Sejarah Indonesia SMK di Balikpapan) SAPI digolongkan sebagai hewan mamalia…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Kamis, 07 Juni 2018 06:47

Tradisi Mudik dan Darurat Energi

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 05 Juni 2018 07:58

Menyiapkan Ahli, Menekan Celaka

OLEH: DR SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Pasca Sarjana Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)Kecelakaan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Kamis, 31 Mei 2018 06:50

Perlukah Impor Beras

CATATAN: BAMBANG HARYO S(Anggota Komisi VI DPR RI) KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) telah dua kali…

Selasa, 29 Mei 2018 07:20

Merekonstruksi Kebebasan

OLEH: FD, SIRILUS HENDRI SANTOSO(Rohaniwan Katolik) SAYA sempat “galau” ketika kartu telepon…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .