MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 02 Juni 2018 01:56
Warga Amankan Diri karena Letusan Diikuti Getaran

Ragam Dampak saat Merapi Kembali “Batuk”

PROKAL.CO,                                                       

Bupati Klaten harus turun ke balai desa di kawasan rawan bencana untuk menenangkan warga. Wartawan Jawa Pos (Kaltim Post Group) turut berada dalam pesawat yang mesti balik ke Jakarta akibat abu vulkanik saat sudah bersiap mendarat di Semarang.

 

SETELAH  40 menit terbang, pengumuman itu pun terdengar. “Dalam beberapa menit ke depan, pesawat akan mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang,” ujar seorang pramugari lewat pengeras suara.

Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pukul 13.55 kemarin (1/6), selama 40 menit, pesawat Garuda itu terbang dengan mulus. Jawa Pos yang ikut naik pesawat dengan nomor penerbangan GA 420 tersebut sama sekali tak merasakan gangguan apapun.

Penumpang pun bersiap. Yang tidur segera bangun. Menegakkan sandaran kursi. Membuka penutup jendela.

Tapi, 20 menit setelah pengumuman persiapan pendaratan tadi, tiba-tiba terdengar pengumuman berikutnya dari pilot. ”Mohon maaf, Bandara Ahmad Yani, Semarang ditutup karena abu vulkanik (Merapi). Saya memutuskan untuk kembali ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Kita akan sampai Jakarta sekitar pukul 16.40,” tuturnya.

Hampir semua penumpang diam begitu mendengar pengumuman tersebut. Semua sepertinya pasrah.

Beberapa jam sebelum take off, persisnya pada pukul 08.20 kemarin, Merapi di bagian selatan Jawa, di perbatasan Jogjakarta-Jawa Tengah, memang “batuk” kembali. Rupanya abu vulkaniknya sampai ke Semarang, ibu kota Jawa Tengah, nun di utara.

Sejak 11 Mei lalu, telah 10 kali Merapi batuk. Termasuk yang terakhir tadi malam pada pukul 21.00.

Pada letusan pagi pukul 08.20 itu, kolom erupsi yang dihasilkan melebihi 6.000 meter di atas permukaan laut. Sehingga dikeluarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) merah. Bandara Adi Soemarmo Solo dan Bandara Ahmad Yani Semarang ditutup.

Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NO-TAM) nomor B3949/18 dan B3951/18 mengenai penutupan kedua bandara itu. Penutupan dilakukan mulai pukul 15.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB.

Penutupan bandara hanyalah satu dari sekian dampak Merapi batuk kembali kemarin. Di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, warga sempat panik.

Seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Solo, warga desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III itu pun mengamankan diri ke balai desa setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten pun membagikan masker meskipun hujan abu tidak terjadi di wilayah kabupaten yang terletak di Jawa Tengah tersebut.

Kemarin, BPBD Klaten secara keseluruhan kembali mengirimkan 5.500 masker kepada warga di tiga desa di KRB III. Total sejak letusan pertama Merapi sudah lebih dari 60 ribu masker dikirim ke daerah rawan erupsi.

“Pascaletusan Merapi yang terakhir, kita sudah memberikan masker di tiap-tiap desa sebanyak 2.000–3.000 masker. Tapi kita akan tambahkan masker lagi ke setiap desa untuk bisa digunakan warga jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu,” jelas Camat Kemalang Kusdiyono kepada Jawa Pos Radar Solo.

Lebih lanjut, Kusdiyono mengatakan, saat terjadi letusan kemarin pagi, tidak ada warga yang mengungsi. Hanya ada puluhan warga yang mengamankan diri. Sampai kemarin sore, masih terdapat 19 lansia dan balita yang bertahan di balai desa dan kantor Kecamatan Kemalang.

“Ketika terjadi letusan tadi, langsung kita kirimkan petugas ke setiap desa untuk langsung melakukan koordinasi,” kata Kusdiyono.

Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Pemerintah Desa Balerante Jainu mengatakan, letusan Merapi kali ini yang paling terbesar jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Sebab, juga diikuti seperti getaran gempa hingga membuat kaca jendela bergetar pula.

Itu yang membuat warga empat dusun di Balerante turun menuju ke balai desa. “Tapi, setelah dianggap aman, berangsur-angsur kembali ke rumah. Kecuali yang lansia sampai sore sambil menunggu perkembangan Merapi selanjutnya,” jelasnya.

Bupati Klaten Sri Mulyani berkunjung langsung ke Balai Desa Balerante untuk menenangkan warga. Dia meminta warga tidak panik meski harus tetap waspada. “Terkait perkembangan Merapi, kita menunggu rekomendasi BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) dan BPBD seperti apa,” jelasnya.

Sementara itu, kondisi psikologis anak-anak yang ikut mengungsi bersama orang tua masing-masing menjadi perhatian Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jogjakarta. Untuk itu, buat menghibur mereka, dihelatlah Humanity Foodtruck, Lomba TPA (taman pendidikan Alquran), sekaligus distribusi paket pangan.

Lokasinya dipilih di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Desa tersebut memang disiapkan ACT sebagai Integrated Community Shelter (ICS).

“Peserta yang hadir adalah mereka yang beberapa tahun terakhir, pernah merasakan pahit dan getirnya erupsi Merapi," jelas Koordinator Lapangan ACT Jogjakarta Dani kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Dani menambahkan, ICS merupakan hunian tidak tetap untuk menampung sementara para pengungsi Merapi. Sambil menunggu hingga keadaan kondusif dan rumah mereka siap ditempati kembali.

"Setelah letusan freatik Merapi, banyak dari mereka harus mengungsi ketika malam hari dan kembali ke rumah masing-masing ketika pagi sampai sore hari," tuturnya.

Kepanikan juga terlihat di Desa Sidorejo yang juga terletak di Kecamatan Kemalang. Begitu terdengar letusan, mereka berlarian, banyak pula yang berboncengan motor menuju halaman kantor kecamatan setempat.

Priyo Pamungkas, salah seorang warga yang mengungsi, mengaku sedang memasang batu bata di rumah saat mendengar letusan. “Kami khawatir jika terjadi apa-apa. Makanya, bersama istri dan anak langsung naik motor meninggalkan rumah menuju ke bawah,” jelas Priyo saat ditemui di Kantor Kecamatan Kemalang kemarin.

Lebih lanjut, Priyo menceritakan, letusan Merapi kali ini terasa berbeda jika dibandingkan sebelumnya. Kali ini diikuti getaran selama sekitar lima detik. Hingga akhirnya, asap tebal membumbung tinggi. Warga desa yang hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi itu juga merasakan bau seperti belerang yang diduga berasal dari letusan tersebut.

“Saat tadi (kemarin) turun ke bawah tadi baunya masih begitu menyengat. Karena khawatir kalau terkena wedhus gembel langsung turun ke bawah saja (ke kantor kecamatan),” katanya.

Wedhus gembel adalah sebutan warga sekitar Merapi terhadap awan panas yang biasanya menyertai letusan salah satu gunung paling aktif di dunia itu. “Soalnya tadi asapnya sudah seakan-akan di atas rumah kami,” jelas pria 32 tahun itu.

Kekhawatiran juga dialami Dalimen Darto Wiyono, warga Desa Sidorejo lainnya. Sebab, saat kejadian, dirinya sedang menambang pasir yang letaknya tidak jauh dari kediamannya.

Suara gemuruh yang begitu keras dengan diikuti asap tebal yang membumbung tinggi membuat dia bersama istrinya mengamankan diri di Kantor Kecamatan Kemalang.

“Saat itu saya tidak tahu posisi para penambang lainnya setelah ada letusan itu bagaimana. Soalnya saya hanya berusaha untuk menyelamatkan diri bersama anggota keluarga saya dengan naik motor,” jelasnya. (*/c10/ttg/jpnn/far/k11)


BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .