MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Rabu, 30 Mei 2018 07:53
Beda Kultur Indonesia dan Spanyol

PROKAL.CO, CATATAN: DONI ADITYA HARYONO
(Wartawan Kaltim Post)

SEBELAS pekan sudah Liga 1 2018 bergulir. Persipura Jayapura, Madura United dan Sriwijaya FC sementara waktu masih menguasai papan atas. Bagaimana dengan Mitra Kukar? Tim kebanggaan masyarakat Kukar ini masih berkutat di papan bawah. Mengoleksi 13 poin, Naga Mekes berada di posisi 15 klasemen sementara.

13 poin tersebut direngkuh Bayu Pradana dkk dari empat kemenangan kandang plus satu kali seri saat tandang. Apakah hasil tersebut memuaskan? Tentu tidak! Hasil tersebut di luar ekspektasi semua pihak; manajemen, suporter bahkan pemain itu sendiri. Lantas, faktor apa yang membuat tim asal Kota Raja terpuruk, terutama di laga tandang?

Tulisan ini sebenarnya saya tulis secara dadakan. Idenya pun seketika muncul saat Mitra Kukar dibantai PSIS Semarang 0-4 di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/5). Kekalahan dua hari lalu itu jadi yang terbesar bagi Naga Mekes musim ini. Parahnya, yang membantai adalah tim papan bawah yang tidak menang tiga laga terakhir. Sakitnya tuh sini (sambil nunjuk ke dada).

Bagi penonton yang tidak bijak, mereka pasti akan menyalahkan wasit. Terutama proses gol pertama yang berbau offside. Tapi, saya akan coba mengupas sisi lain, mengapa Mitra Kukar sulit menang di laga away. Tak bermaksud menggurui atau bahkan ingin menggeser kursi pelatih. He he he...

Dari kacamata saya, sejak Mitra Kukar ditangani pelatih asal Spanyol Rafael Berges Marin, memiliki ciri khas sebagai tim ofensif. Tak peduli main di kandang atau tandang, Naga Mekes selalu main terbuka. Wajar, karena sepak bola Spanyol memang menonjolkan ball possession dan ofensif. Mungkin itu yang diinginkan Rafael. Tapi, apakah sepak bola Indonesia bisa seperti klub-klub Spanyol? 

Menurut saya pribadi, pola yang dilakukan Rafael tidak cukup efektif. Sebab, Spanyol dan Indonesia itu berbeda. Di Liga Spanyol, Barcelona dan Real Madrid memang cukup superior di laga home dan away. Tapi, Mitra Kukar ya Mitra Kukar. Bukan Barca atau Madrid. Yang saya tangkap dari enam laga away tim Kota Raja, Rafael terlalu memaksakan egonya memainkan permainan terbuka. Ini Indonesia, Bung!

Di Tanah Air, tim dengan status tuan rumah sudah pasti kuat. Mereka punya alasan untuk tampil beringas. Sumber kekuatan mereka jelas dari suporter. Bermain di depan pendukung sendiri, tuan rumah punya spirit berlipat. PSIS contohnya. Mereka beruntung memiliki Panser Biru yang berisik selama 90 menit. Teriakan dari tribune membuat tim tamu kehilangan konsentrasi. Faktor lainnya, jangan lupakan peran wasit. Bukan rahasia umum, jika wasit di negeri ini selalu pro kepada tuan rumah.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar tidak kalah di laga tandang? Rafael Berges harus menyingkirkan egonya main terbuka. Enam laga away seharusnya bisa jadi guru terbaik bagi ayah dua anak itu. Strateginya bermain terbuka hanya menghasilkan satu poin. Sementara 17 poin melayang sia-sia. Pelatih 47 tahun itu harus mulai berpikir main tertutup. 

Saya rasa main tertutup bukan aib. Bahkan tim sekelas Madura United, Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura tidak bermain frontal menyerang saat away. Hasilnya, mereka berada di papan atas meskipun tak selamanya menang tandang. Contoh lainnya, Rafael harus belajar saat timnya kesulitan menang dari PSMS Medan di Aji Imbut, Tenggarong Seberang (22/5). Saat itu, tim berjuluk Ayam Kinantan bermain tertutup sambil sesekali mengandalkan serangan balik. Bahkan dengan hanya mengandalkan counter attack, PSMS berhasil mencatat beberapa peluang emas.

Bisa membawa pulang satu poin dari kandang lawan saya pikir sudah sangat bagus. Bisa dibayangkan jika enam laga away Mitra Kukar berbuah enam poin. Tentunya posisi Naga Mekes saat ini ada di tiga besar. Bukan 15. 

Kembali lagi ke soal kultur, Indonesia bukan Spanyol. Rafael Berges harus realistis, dirinya tidak bisa menerapkan sepak bola terbuka di Mitra Kukar. Mungkin strategi itu cukup ampuh di kandang, tapi tidak saat tandang. Lebih baik main tertutup tapi pulang bawa poin. Daripada main cantik dari kaki ke kaki, tapi kalah. Terlalu dini memang berbicara degradasi. Tapi, jika gaya melatih Rafael monoton, Liga 2 bisa jadi habitat baru Naga Mekes.

Sekali lagi saya tidak menggurui siapa-siapa, termasuk Rafael Berges. Saya tidak punya lisensi kepelatihan. Tapi saya punya mata, dan kedua mata ini sudah mulai lelah melihat Mitra Kukar kalah di kandang lawan. Cukup Kaltim kehilangan satu wakil musim lalu, Mitra Kukar jangan ikut tercebur. Syukur-syukur jika Persiba Balikpapan bisa kembali ke kasta tertinggi. Bangkitlah Naga Mekes(***tom/k15)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .