MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 29 Mei 2018 09:08
50 Detik Menuju 350 Meter Pohon Langit

PROKAL.CO, CATATAN: FAROQ ZAMZAMI *

WAKTU puasa di Tokyo lebih panjang dibanding Indonesia. Enam belas jam lebih. Subuh sudah menjelang saat jam menunjuk angka 02.51. Matahari juga mengintip lebih cepat. Pukul 04.33. Magribnya, pukul 18.48. Meski waktu lebih lama, yang “membantu” puasa tak terasa lelah dan haus adalah suhu. Ada di angka 21 hingga 25 derajat. Sejuk.

Jalan siang-siang tak bikin dehidrasi. Walau matahari juga bersinar terang. Tak berkeringat. Saya menghitung langkah kaki tiap hari, selama seminggu awal Ramadan, di Tokyo. Via aplikasi kesehatan di handphone. Selama sepekan itu, langkah kaki terpendek sejauh 3,7 kilometer. Paling jauh 12,6 kilometer. Jalan sejauh itu demi menuju stasiun-stasiun kereta dan mengunjungi destinasi wisata.

Di Balikpapan, boro-boro mau melangkah harian sejauh itu. Naik tangga empat lantai dari parkiran Gedung Biru, Kantor Kaltim Post, saja, saat bukan bulan suci, sudah ngos-ngosan. Dijamin cepat berkeringat. Jadi, beraktivitas berat, contohnya jalan jauh yang saya lakukan, asal temperatur sejuk, besar pengaruhnya terhadap tidak merasa lelah dan haus saat ibadah.

Satu-satunya godaan berpuasa selama di Tokyo, yang saya rasakan secara nyata, adalah menjaga pandangan mata. Banyak kaum hawa yang berpakaian sangat minim. Baju serendah-rendahnya, celana setinggi-tingginya, dari lutut. (Seperti tulisan saya kemarin, edisi 27 Mei, dengan judul Ngabuburit di Shibuya, Buka Puasanya Shabu-Shabu).

Kalau soal makanan, aman. Banyak sudah restoran halal di Tokyo. Dari yang dimiliki orang Indonesia, macam Restoran Surabaya Wayang Bali. Rumah makan ini menjual menu khas Jepang dan Indonesia. Ada juga restoran dengan menu halal yang dimiliki orang Jepang. Salah satunya Hanasakaji-san Sakuragaoka yang sudah dapat sertifikat halal. 

Setelah merasakan sensasi ngabuburit di Shibuya dengan destinasi persimpangan terpadat dan patung anjing Hachiko, Kamis (24/5), dua hari kemudian, Sabtu (26/5), menanti matahari terbenam dari bangunan paling tinggi di Jepang. Tokyo Skytree. Sensasi yang sangat berbeda menanti waktu berbuka dari ketinggian.

Melihat pemandangan bawah, jejeran bangunan-bangunan di pusat kota. Kami menuju Tokyo Skytree sore itu dari Kuil Sensoji di Asakusa. Karena sore semakin menjelang, pilihan ke tower itu menggunakan taksi. Biar lebih cepat. Dari kuil ini, bangunan Tokyo Skytree memang sudah kentara.

Tokyo Skytree sebelumnya bernama New Tokyo Tower. Ini adalah menara siaran, observasi, dan rumah makan. Lokasinya di Sumida, Tokyo. Menara ini telah menjadi yang tertinggi di Jepang sejak 2010. Mencapai ketinggian akhir yakni 634 meter pada Maret 2011. Sejak itu tercatat sebagai menara tertinggi di dunia, melampaui Menara Canton di Guangzhou, Tiongkok. Dan merupakan bangunan tertinggi kedua di atas bumi setelah Burj Khalifa (829,84 meter).

Tiba di kawasan tower, langsung menuju lantai empat Gedung Tokyo Solamachi. Di sinilah titik start menuju puncak. Ada dua kategori yang ditawarkan untuk melihat ketinggian. Alias ruang observasi tower. Yakni, ketinggian 350 meter dan 450 meter. 

Kami memilih yang pertama. Harga karcisnya 2 ribu yen. Rp 258 ribu dengan kurs 1 yen Rp 129. Ruang observasi didesain bundar. Jadi kita bisa berkeliling. Melihat pemandangan 360 derajat kota Tokyo.

Tak hanya melihat langsung dari balik jendela. Di sisi kiri setelah lift naik, ada juga jejeran meja dengan video layar sentuh setinggi perut, untuk melihat pemandangan. Mirip-mirip melihat peta di Google Map. Bisa diatur. Pilih siang atau malam. Pakai bahasa Inggris atau Jepang. Juga bisa di-zoom titik yang kita inginkan.

Setelah membeli karcis, pengunjung tak serta-merta pencet tombol lift dan meluncur ke atas. Karena saking tingginya, harus ada yang mendampingi. Ada pemandunya. Perempuan-perempuan ramah dengan seragam dominan hijau. Dengan pita melilit leher. Di depan lift, sebelum naik, dia memberi “kaifiat” menikmati ketinggian dari Tokyo Skytree. Pakai bahasa Jepang dan Inggris.

Setelah pengarah, pintu lift dibuka. Pengunjung dikirim ke atas berkelompok-kelompok. Satu kelompok 20-an orang. Di lift yang akan dinaiki hanya ada delapan tombol tujuan. Lantai satu tempat dimulai, dua tombol di atasnya kosong tanpa keterangan, kemudian lantai 4 dan lantai 5.

Tombol selanjutnya lantai 340 meter, 345 meter, dan 350 meter. Lift dengan kapasitas besar itu didesain sangat cepat. Pada layar pengukur kecepatan di bagian atas pintu lift, terlihat ukuran laju meluncur ke atas. Yakni 600 meter per menit.

Tak terasa. Seperti naik lift biasa. Pembedanya hanya pada gendang telinga. Seperti naik pesawat saat baru lepas landas. Mendekati lantai yang dituju, kecepatan yang tercatat di layar menurun hingga angka 0 meter per menit. Saat turun dari lantai 345 meter, saya menghitung waktu yang dibutuhkan untuk ke bawah di ketinggian ratusan meter itu. Pakai stopwatch di smartphone.

Tercatat hanya butuh waktu 50 detik alias tak sampai satu menit untuk tiba ke bawah. Di lantai lima. Saat meninggalkan ketinggian 350 meter, jingga senja sudah menyembul dari balik awan. Kami buru-buru turun untuk mencari tempat makan. (rom/k8)

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:05

Abstrak

TIGA tahun lalu, saya mengikuti pelatihan jurnalistik bagi pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group…

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03

Inkubator untuk Korban Gempa

SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .