MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 29 Mei 2018 07:20
Merekonstruksi Kebebasan

PROKAL.CO, OLEH: FD, SIRILUS HENDRI SANTOSO
(Rohaniwan Katolik)

SAYA sempat “galau” ketika kartu telepon seluler saya diblokir (masa tenggang) oleh Kominfo. Setelah saya melakukan registrasi ulang, akhirnya aktif kembali. Dalam benak saya bertanya, “Apakah saya adalah pribadi yang bebas sepenuhnya ketika ruang privat saya dikontrol?”

Pendidikan, Agama, dan Negara

Sebagai makhluk sosial, kebebasan manusia memang tidak boleh mutlak. Sebab, kebebasannya bisa melanggar kebebasan orang lain dan membuat dirinya sendiri kurang bebas. Setiap manusia harus mendapatkan pendidikan (formal atau nonformal) guna mengontrol kebebasan yang ada dalam dirinya. Dalam pendidikan ditanamkan pada diri manusia kesadaran untuk memilih tindakan yang baik dan benar serta menghindari yang buruk atau jahat. Selain itu, dalam agama diajarkan tentang pengendalian atau pengontrolan diri. Ada banyak cara yang dianjurkan oleh berbagai agama sebagai latihan untuk pengontrolan diri seperti puasa, mati raga, olah tapa yang disertai dengan perbuatan amal kasih. Dengan demikian, ketika setiap warga mampu mengontrol dirinya, mereka tidak perlu takut ketika negara (penguasa) juga mengontrolnya. 

Yesus Kristus (Nabi Isa Almasih) pernah berkata bahwa barang siapa berbuat jahat, dia membenci terang. Tetapi barang siapa melakukan yang benar, dia datang kepada terang (bdk Yoh 3:14-21). Maksudnya jelas bahwa barang siapa hidup dalam kebenaran, dia tidak takut dan merasa bebas ketika berada di tempat terang, yakni tempat yang bisa dilihat dan dikontrol oleh orang lain. Kebebasan penuh adalah ketika dia dalam keadaan telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan batin, seperti dalam syair lagu Ebiet G Ade. Kehadiran negara baginya adalah untuk mengontrol dan melindunginya supaya tetap hidup dalam cahaya kebenaran. Sebaliknya, barang siapa hidup dalam kejahatan (teroris, koruptor, pengembang pornografi, gembong narkoba, germo prostitusi ilegal, pelaku trafficking, pengujar kebencian, peretas data rahasia negara atau organisasi, buronan nasional atau internasional, emigran gelap) lebih suka di tempat yang gelap, tersembunyi, anonim, serta tidak ingin dikontrol. Kehadiran negara sangat diperlukan untuk mengontrol dan menariknya supaya masuk cahaya terang, sehingga perbuatan jahatnya terlihat jelas dan diadili selayaknya.

Ateis dan Teis

Para Sartrean (penganut ajaran Jean-Paul Sartre 1905–1980) berpendapat bahwa manusia harus menjadi subjek yang bebas sepenuhnya agar dia bisa bertindak dengan penuh kesadaran dan bukan karena tekanan dari luar dirinya. Kebebasan penuh kesadaran menuntun manusia menghasilkan kebaikan murni yang keluar dari dalam dirinya. Kebaikan yang dihasilkan oleh kontrol yang ketat oleh dunia sosial adalah palsu. Kebaikan murni adalah ketika perbuatan itu atas kehendak pribadi dan tidak perlu dilihat oleh orang lain serta tanpa pamrih. Konsekuensi pandangan ini membuat mereka menolak adanya Tuhan. Sebab Tuhan membuat manusia kehilangan atau kekurangan kebebasannya. Agama mengajarkan bahwa Tuhan Maha Tahu dan melihat segala perbuatan manusia serta memberi ganjaran atas segala kebaikan yang dibuatnya. Oleh sebab itu, perbuatan manusia yang ber-Tuhan adalah palsu dan penuh pamrih. Agama menjadikan manusia adalah objek dari Tuhan, bukan menjadikannya subjek.

Hal yang dialami manusia pertama ciptaan Tuhan yakni Adam dan Hawa menurut Kitab Suci Kristiani dapat menyangkal pandangan para Sartrean tentang kebaikan dan kebebasan. Mereka berdua ketika diciptakan secitra (segambar/serupa) dengan Tuhan (bdk Kej 1:27). Karena Tuhan itu Maha Baik, manusia juga secara alami suka berbuat baik. Berbuat baik adalah panggilan hidup bukan karena dikontrol oleh Tuhan.  Selain itu, mereka berdua pada awalnya hanya memiliki pengetahuan tentang hal yang baik dan benar saja sehingga mereka hidup dalam “kebebasan yang penuh”. Namun, setelah memakan buah pengetahuan yang dilarang oleh Tuhan, mereka memiliki juga pengetahuan tentang yang buruk dan jahat. Mereka sadar bahwa mereka sedang telanjang sehingga menjadi malu dan menutupi diri dengan dedaunan. Mereka tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang membuat mereka takut bertemu Tuhan dan bersembunyi di balik pepohonan ketika mendengar suara Tuhan datang (bdk. Kej. 2:8-25;3:1-11). Rasa malu dan takut membuat mereka merasa kurang bebas. Mereka “kekurangan kebebasan” justru karena telah menyalahgunakan kebebasan yang telah diberikan Tuhan. Dengan demikian, kebebasan manusia yang sepenuhnya tidak harus diperoleh ketika Tuhan “ditiadakan”, karena Tuhanlah yang telah menciptakan manusia dan memberikan kebebasan penuh kepada manusia supaya manusia juga bertindak dengan kesadaran penuh (tahu dan mau) bukan seperti robot. Suatu absurditas ketika manusia berusaha meniadakan Penciptanya.

Dunia Maya dan Cinta

Dalam era digital sekarang ini, kebebasan manusia menjelajah di dunia maya menjadi tak terbatas. Internet adalah “buah pengetahuan” ciptaan manusia karena hanya dengan mengetik di gadged, segala pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat muncul. Orang tua yang merasa selalu mengajari anak-anaknya tentang semua hal yang baik saja menjadi heran ketika anaknya bisa tahu tentang hal-hal buruk dan terlibat dalam aneka kenakalan remaja. Demikian juga “Mbah Google” adalah “Tuhan” ciptaan manusia yang dianggap maha tahu, yang dapat mereka kontrol dan manfaatkan sesuai keperluan, bukannya Tuhan yang bisa mengontrol. Tidak heran, ada pemuda-pemudi yang awalnya saleh karena diajarkan tentang pengetahuan agama berubah menjadi skeptis akibat pengetahuan yang mereka peroleh di dunia maya.

Sikap manusia adalah aroma hatinya. Artinya sikap manusia yang tampak adalah manifestasi dari situasi hatinya. Hati adalah zona kerjanya cinta. Cinta itu intensional, artinya selalu terarah pada sesuatu objek. Cinta pada satu hal bisa mendistorsi jutaan bahkan miliaran hal lain di sekitarnya, seperti seorang pemuda yang jatuh cinta pada gadis pujaan hatinya dan setiap detik hanya memikirkannya dan mengabaikan hal lain. Cinta bisa mengalahkan logika karena cinta bersifat rasional sekaligus irasional. Contohnya seorang pemuda yang sedang jatuh cinta tadi bisa melakukan apa saja dan mencari alasan apa saja, bahkan yang tidak masuk akal, hanya untuk mendapatkan gadis yang dicintainya. Dengan demikian, peliharalah hati, pikiran dan tubuh akan ikut terpelihara. Hati yang penuh cinta membebaskan manusia, seperti halnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia karena Ia mencintainya. Tuhan adalah sumber kebaikan, ketika manusia mencintai-Nya, dia hanya akan memikirkan dan melakukan semua hal yang baik dan mengabaikan jutaan bahkan triliunan hal buruk atau jahat di sekitarnya. Apakah hati kita penuh cinta? Apakah kita mencintai diri sendiri, sesama, semua makhluk hidup, alam, dan Tuhan? (*/one/k16)


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 07:40

Jangan Runtuhkan Bangunan Takwa Kita

Oleh: Ismail MPdI(Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser) DI antara cara Alquran dalam menginformasikan…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .