MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 28 Mei 2018 09:48
Ngabuburit di Shibuya, Buka Puasanya Shabu-Shabu

Ramadan di Tokyo (1)

PROKAL.CO,  LAPORAN: FAROQ ZAMZAMI *

PENYEBERANGAN jalan yang mendunia itu, Kamis (24/5), saya sambangi. Di Shibuya, Jepang. Sebelumnya, saya pernah mencicipi penyeberangan terkenal lainnya; Abbey Road. Sebuah jalur di St John's Wood, London, Inggris. Pertengahan Oktober 2016. Inilah jalan yang menjadi “tanah sucinya” penggemar The Beatles–setelah Liverpool tempat band dibentuk.

Dua penyeberangan ini sangat jauh berbeda. Abbey Road hanya satu ruas jalan. Titik utamanya zebra cross. Garis putih penyeberangan yang jadi terkenal karena foto bersejarah personel The Beatles yang diambil 1969, dan menjadi cover album.

Jauh berbeda tapi sama-sama ikonik. Sama-sama selalu disambangi wisatawan. Sama-sama punya magnet. Yang jadi daya tarik di persimpangan Shibuya adalah kesibukannya. Lautan manusia. Melihat ribuan orang menyeberang jalan. Warga Jepang yang melintasi jalur ini untuk pergi atau pulang kantor.

Juga yang beraktivitas lain di sekitar kawasan wisata tersebut. Ditambah para pelancong dari berbagai negara, yang datang ke titik ini, hanya untuk ikut menyeberang. Khususnya sore. Saat jam pulang kantor. Menikmati sensasi keramaian manusia. Saya ke persimpangan itu Kamis (24/5). Sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Jelang waktu berbuka puasa. Hari itu, Magrib tiba pukul 18.48.

Dari Hotel Villa Fontaine, Shiodome, tempat menginap, menuju Shibuya, harus melewati enam stasiun. Kami memilih kereta listrik. Di atas. Biar bisa lihat pemandangan. Empat hari sebelumnya, selama di Tokyo, selalu naik kereta bawah tanah. Yang dilihat dinding-dinding beton.

Tiba di stasiun di Shibuya, dan keluar terminal, lautan manusia langsung terhampar. Padat. Ehm... Tapi ngabuburit di sini sangat tidak direkomendasikan. Besar potensi hilang pahala puasa. Bahkan bisa minus. Digerus pandangan mata. Kalau tak dijaga.

Banyak perempuan, dari anak baru gede (ABG) hingga perempuan dewasa, berpakaian mini. Celana pendek. Tank top. Atau pakaian tanpa lengan dengan belahan dada rendah. Dari berbagai negara. Asia, Eropa, hingga Amerika.

Sekitar pukul 18.00, saya ikut menyeberang. Cekrak, cekrek, foto-foto. Berlatar belakang keramaian orang. Belum puas, menyeberang lagi. Sesuka hati. Sampai hasrat terpenuhi. Sampai foto-foto yang diambil memenuhi memori.

Ami Hasegawa, warga Jepang, yang enam tahun bekerja di Yakult Indonesia, menyebut angka yang pernah tercatat, dalam satu kali lampu hijau, semua sisi jalan, ada 3 ribu orang menyeberang. Perempuan ramah itu bahasa Indonesianya lancar. Logat Jepang pun tak terasa.

Dia jadi guide dadakan. Menemani delapan orang. Lima jurnalis. Satu akademisi. Dua perwakilan Yakult Indonesia. Antonius Nababan, director Marketing Communication and Commercial (MCC) PT Yakult Indonesia Persada, adalah pimpinan rombongan kecil ini.

Ami melanjutkan, yang pernah tercatat dalam 24 jam, jumlah tertinggi manusia menyeberang ada pada angka 500 ribu orang. Jumlah yang setara dengan penduduk satu kabupaten. Bahkan lebih. Penajam Paser Utara (PPU), misalnya. Penduduknya 200 ribu orang.

Destinasi ini satu paket dengan patung anjing Hachiko. Anjing setia yang legendaris dari Negeri Matahari Terbit. “Hachiko si anjing setia” sebutannya milik dosen Ueno Eizaburo yang memberi dampak besar pada perkembangan pertanian, pertanahan, dan kayu di Jepang. Dia adalah warga Shibuya.

Taman tempat berdirinya patung ini bersisian dengan persimpangan jalan super-ramai itu. Mau berfoto di depan patung harus mengantre. Tak ada yang rebutan. Sadar masing-masing.

Setelah menyeberang beberapa kali, di tengah lautan manusia, waktu berbuka puasa pun tinggal 15 menit. Kami bergeser ke kompleks pertokoan. Berjalan sekira 4 menit dari persimpangan. Warung yang dituju adalah Hanasakaji-san Sakuragaoka. Salah satu rumah makan halal di kawasan ini. Ada sertifikatnya. Ditempel di bagian depan. Jadi penanda. Pakai tulisan Arab dan latin. Sertifikat itu diperoleh pemiliknya, setelah mengikuti serangkaian tahapan. Salah satunya, seminar makanan halal.

Menu utama berbahan daging. Tak hanya jenis hewannya, proses penyembelihannya pun halal. Juga peralatan yang dipergunakan. Pemiliknya bukan muslim. Asli Jepang. Di Tokyo, ujar Ami, sudah ada tempat penyembelihan hewan yang sesuai syariah Islam. Pengelolanya orang Jepang dan Indonesia.

Bisnis ini, kata dia, bisa jadi imbas dari tren tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan halal di ibu kota Jepang itu. Berbuka puasa dengan menu shabu-shabu berbahan daging sapi pun jadi tenang. Shabu-shabu baru menu pembuka. Dilanjutkan dengan menu utama bento. Yang merupakan paket sashimi, tempura, seafood salad, hingga miso soup. (*/rom/k8)

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Jumat, 17 Agustus 2018 07:58

Keluar Kotak untuk Merdeka dari Banjir

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*)CUACA di Kaltim sukar diduga. Siang yang terik, tiba-tiba mendung melanda.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .