MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 28 Mei 2018 09:19
Insyaallah Aku Lilo, Madrid

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

SAYA lemes saat nulis ini. Bahkan sudah lemes sejak menit ke-30-an final Liga Champions itu. Lemes. Kesel. Kasihan. Pasrah. Akhirnya.... tawakkal billah.... barang siapa marah di bulan puasa akan terhapus air mata putihnya.

Saya tidak menangis. Biarpun Liverpool kalah. Tidak sampai seperti Via Vallen. Yang menangis sampai air mata putihnya keluar. Kata “air mata putih” ini menjadi terjemahan yang begitu tidak pasnya untuk “nganti metu eluh getih putih”. Tidak pas. Tidak puitis. Tidak menyentuh kalbu. Tidak relevan. Tidak mendalam. Pokoknya tidak Via Vallen sama sekali.

Maaf, kok jadi panjang banget membahas lirik lagunya Via Vallen. Padahal dia (she) bukan penggemar klub Liverpool. Tapi memang lebih asyik membahas Via Vallen daripada mengulas final Liga Champions itu.

Terutama setelah menit ke-30-an itu. Setelah penyerang utama Liverpool dipapah keluar lapangan. Tidak bisa main lagi. Tangannya cedera. Bahunya ngilu. Setelah “dipiting” pemain Real Madrid entah siapa itu.

Saya begitu malas membaca tulisan namanya di bagian belakang kaus putihnya itu. Saya ingat namanya. Tapi akan melupakannya. Ia memang berhak “memiting” Salah. Tapi bahwa kemudian menjatuhkannya itu membuat Ramos akan hilang dari ingatan saya. Dipitingnya masih ok, dijatuhkannya masih biasa. Tapi posisi tangan Salah saat tertindih badan Ramos yang besar itu melengkung. Ngilu di hati. Saat melihat layar televisi.

Pokoknya saya tidak mau menulis nama Ramos lagi. (Kata “dipiting” itu sengaja saya pilih untuk menyibukkan Google translate. Maafkan Google ya, ini kan bulan puasa. Apakah Mas Google juga puasa?). Tapi saya harus tawakkal. Ini bulan puasa. Begitulah memang tugas pemain belakang seperti Ramos: mematikan penyerang. Mohamed Salah tahu prinsip itu. Jadi salahnya Salah sendiri.

Seandainya wasit memberi Ramos kartu kuning pun tidak menyembuhkan tangan dan bahunya. Itulah sebabnya Salah menangis. Menyesal sekali. Tidak bisa bikin sejarah: memenangi Liga Champions untuk Liverpool yang begitu lama dirindukan. Oleh saya.

Salah benar-benar menangis. Mungkin sampai “metu eluh getih putihe”. Begitu mengharukan. Seisi Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina menangis. Menurut perasaan saya. Yang sudah gelap mata.

Tapi yo wis rapopo. Insyaallah aku iso lilo (bisa ikhlas). Saya menangis karena Salah menangis. Tapi tangis itu saya simpan di dalam kalbu. Seandainya saya nangis sungguhan pun tidak ada gunanya. Tidak ada yang melihat. Tidak seru adegan menangis tanpa dilihat orang.

Inilah ayatnya: barang siapa menangis tanpa dilihat orang, tangisnya langsung berhenti sejak sebelum menangis. Untuk apa saya menangis. Saya memang nonton final itu di tempat keramaian. Di sebuah sport bar yang besar. Mewah. Gemerlap. Tapi saya sendirian.

Tidak ada pengunjung bar. Jam tayang final itu nanggung. Untuk Wilayah tengah Amerika: pukul 13.45 waktu setempat. Matahari menyengat. Yang makan siang sudah selesai. Yang mau minum-minum belum datang.

Memang, saat saya masuk masih terlihat ini: beberapa meja penuh orang makan. Tapi sudah di tahap membayar. Ada 16 televisi di sekeliling bar itu. Ada yang layar kecil. Ada yang layar besar. Ada pula yang besar sekali.

Saya tengok satu per satu: tidak satu pun yang menayangkan sepak bola. Yang terlihat hanya tayangan base ball, balap mobil, basket, dan tinju. Saya tengak-tengok bengong. “Anda yang menelepon tadi?” tanya pelayan bar.

Rupanya dia melihat saya lagi mencari-cari layar. Atau karena melihat sosok Asia saya yang tidak biasa datang ke bar itu. Semula saya memang ingin nonton di lobi hotel saja. Ini kan bulan puasa. Tapi sepi sekali. Saya tanya Google alamat-alamat sport bar.

Saya pilih salah satunya. Saya hubungi: apakah akan menyiarkan final Liga Champions? Saya pun diinterogasi: olahraga apa itu, di mana, di channel apa, dan jam berapa. Saya diminta menunggu. Masih dicoba dicari.

Jawabnya: bisa diadakan. Dia tahu: saya adalah orang yang menelepon tadi. “Mau lihat di layar yang mana?” tanyanya. “Terserah,” jawab saya. “Lho jangan terserah. Anda akan merasa nyaman duduk di mana?” katanya.

Bagi saya duduk di mana pun nyaman. Toh saya hanya akan pesan makanan untuk dibungkus. Akhirnya saya memilih layar yang sedang. Toh hanya sendirian. Dia lantas mengarahkan layar basket itu ke Stadion Kiev. Layar lain dia ubah ke basket. Saya sendirian menatap layar: lho kok komentatornya berbahasa Spanyol. Kok running text-nya berbahasa Spanyol.

Oh... iya... ini kan di kota yang 95 persen penduduknya keturunan Spanyol. Yo wis, rapopo. Insyaallah aku lilo. Tapi perasaan saya mulai tidak enak. Ini pertanda-pertanda. Sungguh sebuah pertanda-pertanda. Mengarah ke Real Madrid. Kalaupun banyak orang di situ pasti semuanya juga memihak Madrid.

Saya tiba-tiba bersyukur: nonton sendirian. Saya bisa klaim: seluruh pengunjung bar itu memihak Liverpool. Daripada di tengah lautan Madridista. Kadang di balik musibah itu memang ada udangnya. Tapi saya menangkap pertanda-pertanda itu. Lalu, terjadilah apa yang harus terjadi. Insyaallah aku lilo. (dis/rom/k11)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Sabtu, 13 Oktober 2018 01:36

Prewedding di Sudut-Sudut Sumba

SAYA ke Sumba lagi. Tidur di padang sabana lagi. Lagi-lagi ke Sumba. Minggu lalu adalah “minggu…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .