MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 28 Mei 2018 08:41
Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

PROKAL.CO, Oleh: Rendy Putra Revolusi
(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)

TELAH lama muncul istilah yang sangat populer ketika memasuki Ramadan yaitu, istilah ngabuburit. Kebiasaan atau kegiatan ngabuburit sangat digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai anak muda, pasangan muda, dan “orang tua”. Pertanyaannya, apa itu ngabuburit? Dan, apa manfaatnya?

Ngabuburit adalah satu istilah dalam bahasa Sunda. Artinya, menunggu waktu berbuka puasa sampai terdengar suara azan Magrib. Kebiasaan ngabuburit berkembang dan banyak dilakukan oleh masyarakat Balikpapan. Sebenarnya, ngabuburit tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Balikpapan saja. Tapi masyarakat di daerah lain pun juga melakukannya hanya saja istilah yang digunakan berbeda. Misalnya; di Madura biasa dikenal dengan istilah nyare malem (mencari malam) yang membedakan yaitu kegiatan yang terkandung di dalamnya.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan dari tahun ke tahun, seolah ngabuburit adalah perilaku budaya yang perlu dilestarikan dan “budidayakan”. Padahal, perilaku ngabuburit bukanlah berasal dari ajaran Islam ketika datang atau memasuki Ramadan. Namun pada perkembangannya, masyarakat menganggap perilaku ngabuburit adalah hal biasa atau lebih tepatnya adalah “budaya.”

Pada Ramadan, mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif merupakan kebiasaan anak muda tempo dulu. Anak muda yang bersemangat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti, mengaji, berdiskusi, mengadakan pengajian, dan lain sebagainya, yang biasa dilakukan di tajug, langgar, atau surau.

Selanjutnya, kebiasaan tersebut bergeser menjadi ngabuburit sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Pergeseran makna kebiasaan ini diduga timbul dari berkembangnya acara televisi yang sengaja menyuguhkan tontonan belaka, tanpa mempedulikan manfaat dan pengaruhnya. Akhirnya, ngabuburit, menjadi suatu kegiatan yang sekadar menunggu waktu azan Magrib, tanpa memandang manfaat dan mudaratnya.

Tidak Ngabuburit

Kini, istilah dan perilaku ngabuburit tidak lagi terbatas di daerah tertentu, istilah dan perilaku tersebut seperti sudah sangat melekat pada semua warga Indonesia. Terutama bagi anak-anak muda perkotaan. Demikian cepat istilah ngabuburit menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, tentu hasil ini tidak lepas dari media televisi swasta yang memang sengaja menyuguhkan acara infotainment yang muara utamanya bukan lagi manfaat khalayak ramai, melainkan untuk mereka yang membayar dan dibayar. Adapun, manfaat untuk khalayak ramai sedikit dan tentu lebih banyak mudaratnya.

Hal ini terjadi berulang-ulang dari Ramadan sampai Ramadan berikutnya, sehingga banyak orang mulai akrab dengan istilah ngabuburit. Entah sengaja dilakukan oleh pihak tertentu agar kebiasaan seperti itu diikuti oleh anak-anak muda lainnya hingga membudaya untuk mengikis budaya aslinya, atau ada kemungkinan lainnya.

Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit saat Ramadan benar-benar sudah memasyarakat. Masyarakat kita cenderung cepat meniru kebiasaan-kebiasaan dari hasil tontonan, terutama anak-anak muda. Maka tak heran bila sewaktu-waktu ada tontonan yang mengenalkan ngabuburit saat puasa, masyarakat pun ikut-ikutan meniru kegiatan semacam itu, padahal kegiatan semacam itu dapat merusak adab-adab puasa.

Mereka mungkin tidak mempromosikan istilah ngabuburit, tapi secara tidak sadar perbuatannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Akhirnya masyarakat pun menyia-nyiakan waktu pada Ramadan. Ironisnya, ketika ngabuburit itu diisi dengan kegiatan pacaran, boncengan berduaan dengan pacar, dan sejenisnya. Berikutnya, Ramadan diisi dengan kegiatan-kegiatan aneka maksiat yang berdosa. Inilah akibat negatif dari kebiasaan keliru di Ramadan oleh orang-orang yang berorientasi pada kesenangan dan hiburan semata, bukan lagi ibadah.

Puasa Sia-sia dan Berdosa

Bulan suci Ramadan tidak lagi suci bila diisi dengan kegiatan-kegiatan yang keluar dari ajaran Islam sendiri. Khawatir di masa mendatang, kebiasaan-kebiasaan tersebut dianggap manfaat dari bulan suci Ramadan untuk melakukan perbuatan-perbuatan berdosa. Kemudian lahir pemahaman bahwa berdua-duaan dan jalan-jalan dengan pacar sambil menunggu buka puasa, tidaklah berdosa, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia pun tak mengapa. Sesungguhnya ajaran Islam tidak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan kegiatan senang-senang, jalan-jalan berduaan dengan pacar, dan apalagi menyia-nyikan waktu untuk berbuat dosa.

Apa lagi yang akan kita cari? Apa jangan-jangan kita menganggap sepele persoalan ini? Fenomena ngabuburit pada bulan puasa menarik perhatian masyarakat yang pada awalnya hanya berdiam diri di rumah. Sekarang fenomena ngabuburit sangat diminati oleh masyarakat karena telah digembar-gemborkan. Anak-anak muda yang pemahamannya terhadap adab-adab puasa sangat minim, mereka asyik berboncengan dengan pacar, asyik tertawa-tawa dengan teman, kongkow-kongkow, dan ada juga yang asyik berbelanja.

Akhirnya, penulis berpesan pada dirinya, bahwa setiap umat Islam (muslim) wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya, dan kawan wajib mengingatkan kawan-kawannya, begitu pun seterusnya.  Mari kita mengingat-ingat apa sebenarnya tujuan ngabuburit, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt atau mencari hiburan dan kesenangan semata. Semoga Allah swt senantiasa membimbing dan memberikan kekuatan kepada kita untuk istikamah berjalan di jalan-Nya. Amin..Bilahi Fastabil Haq, Fastabiqul Khoirot.(*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 07:59

Jangan Jadi Penyampah

Oleh: Hendrajati, S.Pd (Praktisi K3, Pendiri HSE Indonesia, Mahasiswa S-2…

Selasa, 15 Januari 2019 07:54

Ayo, Konsisten Cinta Persiba

Oleh: Andi Amirul Tarninda BP (Ketua Panpel Piala Soeratin U-17…

Senin, 14 Januari 2019 07:23

Kado Awal Tahun: Jaga Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhmahad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) MASYARAKAT Indonesia merupakan masyarakat…

Senin, 14 Januari 2019 06:53

Mengembangkan Ekonomi Syariah lewat Dunia Digital

Oleh: Rifki Maulana (Analis ekonomi–BI Kaltim) INDONESIA dikenal sebagai salah…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:24

Prostitusi

Di tengah hiruk pikuk berita dan tingginya tensi politik, kabar…

Kamis, 10 Januari 2019 07:40

Mari Budayakan Membaca

Oleh: Septyana Endang H.S. (Guru Bahasa Indonesia di SMP 34…

Kamis, 10 Januari 2019 07:38

Banggalah Berbahasa Indonesia

Oleh: Nurhana (Guru MAN 2 Samarinda) SATU dari empat fungsi…

Rabu, 09 Januari 2019 07:17

Membangun Kaltim dari Desa

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari (ASN Badan Pusat Statistik Kutai Timur)…

Rabu, 09 Januari 2019 06:42

Nawa Cita di KWPI

Oleh: Bambang Saputra (Dosen STIE Madani Balikpapan) KEBERADAAN Kampung Wisata…

Senin, 07 Januari 2019 07:44

Simalakama Medsos dan Dampak Sosial Ekonomi

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM (Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Kandidat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*