MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 28 Mei 2018 08:41
Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

PROKAL.CO, Oleh: Rendy Putra Revolusi
(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)

TELAH lama muncul istilah yang sangat populer ketika memasuki Ramadan yaitu, istilah ngabuburit. Kebiasaan atau kegiatan ngabuburit sangat digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai anak muda, pasangan muda, dan “orang tua”. Pertanyaannya, apa itu ngabuburit? Dan, apa manfaatnya?

Ngabuburit adalah satu istilah dalam bahasa Sunda. Artinya, menunggu waktu berbuka puasa sampai terdengar suara azan Magrib. Kebiasaan ngabuburit berkembang dan banyak dilakukan oleh masyarakat Balikpapan. Sebenarnya, ngabuburit tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Balikpapan saja. Tapi masyarakat di daerah lain pun juga melakukannya hanya saja istilah yang digunakan berbeda. Misalnya; di Madura biasa dikenal dengan istilah nyare malem (mencari malam) yang membedakan yaitu kegiatan yang terkandung di dalamnya.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan dari tahun ke tahun, seolah ngabuburit adalah perilaku budaya yang perlu dilestarikan dan “budidayakan”. Padahal, perilaku ngabuburit bukanlah berasal dari ajaran Islam ketika datang atau memasuki Ramadan. Namun pada perkembangannya, masyarakat menganggap perilaku ngabuburit adalah hal biasa atau lebih tepatnya adalah “budaya.”

Pada Ramadan, mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif merupakan kebiasaan anak muda tempo dulu. Anak muda yang bersemangat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti, mengaji, berdiskusi, mengadakan pengajian, dan lain sebagainya, yang biasa dilakukan di tajug, langgar, atau surau.

Selanjutnya, kebiasaan tersebut bergeser menjadi ngabuburit sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Pergeseran makna kebiasaan ini diduga timbul dari berkembangnya acara televisi yang sengaja menyuguhkan tontonan belaka, tanpa mempedulikan manfaat dan pengaruhnya. Akhirnya, ngabuburit, menjadi suatu kegiatan yang sekadar menunggu waktu azan Magrib, tanpa memandang manfaat dan mudaratnya.

Tidak Ngabuburit

Kini, istilah dan perilaku ngabuburit tidak lagi terbatas di daerah tertentu, istilah dan perilaku tersebut seperti sudah sangat melekat pada semua warga Indonesia. Terutama bagi anak-anak muda perkotaan. Demikian cepat istilah ngabuburit menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, tentu hasil ini tidak lepas dari media televisi swasta yang memang sengaja menyuguhkan acara infotainment yang muara utamanya bukan lagi manfaat khalayak ramai, melainkan untuk mereka yang membayar dan dibayar. Adapun, manfaat untuk khalayak ramai sedikit dan tentu lebih banyak mudaratnya.

Hal ini terjadi berulang-ulang dari Ramadan sampai Ramadan berikutnya, sehingga banyak orang mulai akrab dengan istilah ngabuburit. Entah sengaja dilakukan oleh pihak tertentu agar kebiasaan seperti itu diikuti oleh anak-anak muda lainnya hingga membudaya untuk mengikis budaya aslinya, atau ada kemungkinan lainnya.

Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit saat Ramadan benar-benar sudah memasyarakat. Masyarakat kita cenderung cepat meniru kebiasaan-kebiasaan dari hasil tontonan, terutama anak-anak muda. Maka tak heran bila sewaktu-waktu ada tontonan yang mengenalkan ngabuburit saat puasa, masyarakat pun ikut-ikutan meniru kegiatan semacam itu, padahal kegiatan semacam itu dapat merusak adab-adab puasa.

Mereka mungkin tidak mempromosikan istilah ngabuburit, tapi secara tidak sadar perbuatannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Akhirnya masyarakat pun menyia-nyiakan waktu pada Ramadan. Ironisnya, ketika ngabuburit itu diisi dengan kegiatan pacaran, boncengan berduaan dengan pacar, dan sejenisnya. Berikutnya, Ramadan diisi dengan kegiatan-kegiatan aneka maksiat yang berdosa. Inilah akibat negatif dari kebiasaan keliru di Ramadan oleh orang-orang yang berorientasi pada kesenangan dan hiburan semata, bukan lagi ibadah.

Puasa Sia-sia dan Berdosa

Bulan suci Ramadan tidak lagi suci bila diisi dengan kegiatan-kegiatan yang keluar dari ajaran Islam sendiri. Khawatir di masa mendatang, kebiasaan-kebiasaan tersebut dianggap manfaat dari bulan suci Ramadan untuk melakukan perbuatan-perbuatan berdosa. Kemudian lahir pemahaman bahwa berdua-duaan dan jalan-jalan dengan pacar sambil menunggu buka puasa, tidaklah berdosa, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia pun tak mengapa. Sesungguhnya ajaran Islam tidak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan kegiatan senang-senang, jalan-jalan berduaan dengan pacar, dan apalagi menyia-nyikan waktu untuk berbuat dosa.

Apa lagi yang akan kita cari? Apa jangan-jangan kita menganggap sepele persoalan ini? Fenomena ngabuburit pada bulan puasa menarik perhatian masyarakat yang pada awalnya hanya berdiam diri di rumah. Sekarang fenomena ngabuburit sangat diminati oleh masyarakat karena telah digembar-gemborkan. Anak-anak muda yang pemahamannya terhadap adab-adab puasa sangat minim, mereka asyik berboncengan dengan pacar, asyik tertawa-tawa dengan teman, kongkow-kongkow, dan ada juga yang asyik berbelanja.

Akhirnya, penulis berpesan pada dirinya, bahwa setiap umat Islam (muslim) wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya, dan kawan wajib mengingatkan kawan-kawannya, begitu pun seterusnya.  Mari kita mengingat-ingat apa sebenarnya tujuan ngabuburit, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt atau mencari hiburan dan kesenangan semata. Semoga Allah swt senantiasa membimbing dan memberikan kekuatan kepada kita untuk istikamah berjalan di jalan-Nya. Amin..Bilahi Fastabil Haq, Fastabiqul Khoirot.(*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 07:40

Jangan Runtuhkan Bangunan Takwa Kita

Oleh: Ismail MPdI(Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser) DI antara cara Alquran dalam menginformasikan…

Selasa, 19 Juni 2018 07:29

Mudik Asyik dan Selebrasi Kemenangan

OLEH: ARIS SETIAWAN(Sekretaris PD. IKADI Kab. Kutai Kartanegara)“Manusia modern adalah manusia-manusia…

Senin, 18 Juni 2018 07:26

Siapa Pemberi 20 Ribu Ekor Sapi?

OLEH: THOMAS F KALIGIS(Guru Sejarah Indonesia SMK di Balikpapan) SAPI digolongkan sebagai hewan mamalia…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Kamis, 07 Juni 2018 06:47

Tradisi Mudik dan Darurat Energi

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 05 Juni 2018 07:58

Menyiapkan Ahli, Menekan Celaka

OLEH: DR SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Pasca Sarjana Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)Kecelakaan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Kamis, 31 Mei 2018 06:50

Perlukah Impor Beras

CATATAN: BAMBANG HARYO S(Anggota Komisi VI DPR RI) KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) telah dua kali…

Selasa, 29 Mei 2018 07:20

Merekonstruksi Kebebasan

OLEH: FD, SIRILUS HENDRI SANTOSO(Rohaniwan Katolik) SAYA sempat “galau” ketika kartu telepon…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .