MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 28 Mei 2018 08:41
Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

PROKAL.CO, Oleh: Rendy Putra Revolusi
(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)

TELAH lama muncul istilah yang sangat populer ketika memasuki Ramadan yaitu, istilah ngabuburit. Kebiasaan atau kegiatan ngabuburit sangat digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai anak muda, pasangan muda, dan “orang tua”. Pertanyaannya, apa itu ngabuburit? Dan, apa manfaatnya?

Ngabuburit adalah satu istilah dalam bahasa Sunda. Artinya, menunggu waktu berbuka puasa sampai terdengar suara azan Magrib. Kebiasaan ngabuburit berkembang dan banyak dilakukan oleh masyarakat Balikpapan. Sebenarnya, ngabuburit tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Balikpapan saja. Tapi masyarakat di daerah lain pun juga melakukannya hanya saja istilah yang digunakan berbeda. Misalnya; di Madura biasa dikenal dengan istilah nyare malem (mencari malam) yang membedakan yaitu kegiatan yang terkandung di dalamnya.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan dari tahun ke tahun, seolah ngabuburit adalah perilaku budaya yang perlu dilestarikan dan “budidayakan”. Padahal, perilaku ngabuburit bukanlah berasal dari ajaran Islam ketika datang atau memasuki Ramadan. Namun pada perkembangannya, masyarakat menganggap perilaku ngabuburit adalah hal biasa atau lebih tepatnya adalah “budaya.”

Pada Ramadan, mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif merupakan kebiasaan anak muda tempo dulu. Anak muda yang bersemangat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti, mengaji, berdiskusi, mengadakan pengajian, dan lain sebagainya, yang biasa dilakukan di tajug, langgar, atau surau.

Selanjutnya, kebiasaan tersebut bergeser menjadi ngabuburit sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Pergeseran makna kebiasaan ini diduga timbul dari berkembangnya acara televisi yang sengaja menyuguhkan tontonan belaka, tanpa mempedulikan manfaat dan pengaruhnya. Akhirnya, ngabuburit, menjadi suatu kegiatan yang sekadar menunggu waktu azan Magrib, tanpa memandang manfaat dan mudaratnya.

Tidak Ngabuburit

Kini, istilah dan perilaku ngabuburit tidak lagi terbatas di daerah tertentu, istilah dan perilaku tersebut seperti sudah sangat melekat pada semua warga Indonesia. Terutama bagi anak-anak muda perkotaan. Demikian cepat istilah ngabuburit menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, tentu hasil ini tidak lepas dari media televisi swasta yang memang sengaja menyuguhkan acara infotainment yang muara utamanya bukan lagi manfaat khalayak ramai, melainkan untuk mereka yang membayar dan dibayar. Adapun, manfaat untuk khalayak ramai sedikit dan tentu lebih banyak mudaratnya.

Hal ini terjadi berulang-ulang dari Ramadan sampai Ramadan berikutnya, sehingga banyak orang mulai akrab dengan istilah ngabuburit. Entah sengaja dilakukan oleh pihak tertentu agar kebiasaan seperti itu diikuti oleh anak-anak muda lainnya hingga membudaya untuk mengikis budaya aslinya, atau ada kemungkinan lainnya.

Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit saat Ramadan benar-benar sudah memasyarakat. Masyarakat kita cenderung cepat meniru kebiasaan-kebiasaan dari hasil tontonan, terutama anak-anak muda. Maka tak heran bila sewaktu-waktu ada tontonan yang mengenalkan ngabuburit saat puasa, masyarakat pun ikut-ikutan meniru kegiatan semacam itu, padahal kegiatan semacam itu dapat merusak adab-adab puasa.

Mereka mungkin tidak mempromosikan istilah ngabuburit, tapi secara tidak sadar perbuatannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Akhirnya masyarakat pun menyia-nyiakan waktu pada Ramadan. Ironisnya, ketika ngabuburit itu diisi dengan kegiatan pacaran, boncengan berduaan dengan pacar, dan sejenisnya. Berikutnya, Ramadan diisi dengan kegiatan-kegiatan aneka maksiat yang berdosa. Inilah akibat negatif dari kebiasaan keliru di Ramadan oleh orang-orang yang berorientasi pada kesenangan dan hiburan semata, bukan lagi ibadah.

Puasa Sia-sia dan Berdosa

Bulan suci Ramadan tidak lagi suci bila diisi dengan kegiatan-kegiatan yang keluar dari ajaran Islam sendiri. Khawatir di masa mendatang, kebiasaan-kebiasaan tersebut dianggap manfaat dari bulan suci Ramadan untuk melakukan perbuatan-perbuatan berdosa. Kemudian lahir pemahaman bahwa berdua-duaan dan jalan-jalan dengan pacar sambil menunggu buka puasa, tidaklah berdosa, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia pun tak mengapa. Sesungguhnya ajaran Islam tidak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan kegiatan senang-senang, jalan-jalan berduaan dengan pacar, dan apalagi menyia-nyikan waktu untuk berbuat dosa.

Apa lagi yang akan kita cari? Apa jangan-jangan kita menganggap sepele persoalan ini? Fenomena ngabuburit pada bulan puasa menarik perhatian masyarakat yang pada awalnya hanya berdiam diri di rumah. Sekarang fenomena ngabuburit sangat diminati oleh masyarakat karena telah digembar-gemborkan. Anak-anak muda yang pemahamannya terhadap adab-adab puasa sangat minim, mereka asyik berboncengan dengan pacar, asyik tertawa-tawa dengan teman, kongkow-kongkow, dan ada juga yang asyik berbelanja.

Akhirnya, penulis berpesan pada dirinya, bahwa setiap umat Islam (muslim) wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya, dan kawan wajib mengingatkan kawan-kawannya, begitu pun seterusnya.  Mari kita mengingat-ingat apa sebenarnya tujuan ngabuburit, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt atau mencari hiburan dan kesenangan semata. Semoga Allah swt senantiasa membimbing dan memberikan kekuatan kepada kita untuk istikamah berjalan di jalan-Nya. Amin..Bilahi Fastabil Haq, Fastabiqul Khoirot.(*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 17 Agustus 2018 07:21

Tantangan Pendidikan Kaltim 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP(Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dapil Kaltim dan Kaltara) PEMERATAAN…

Jumat, 17 Agustus 2018 07:18

Memaknai Kemerdekaan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S-3–Doktor…

Rabu, 15 Agustus 2018 07:17

Karena Ayahku Seorang Veteran RI

OLEH: MUTHI' MASFU'AH(Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Devisi Pengembangan Wilayah Literasi DPP Jakarta)…

Selasa, 14 Agustus 2018 07:14

Nilai Religius Membantu Kemajuan Peradaban

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM  tulisan saya yang dimuat…

Senin, 13 Agustus 2018 08:39

Membangun Safety Leadership di Dunia Pendidikan

OLEH: HENDRAJATI, S.Pd  (Pendiri dan Ketua Umum HSE Indonesi) KENAPA perlu? Pernahkah terpikir…

Senin, 13 Agustus 2018 08:36

Tips Memilih Ternak Kurban yang Baik dan Sehat

Oleh: drh Dwi Suryadi (Dokter Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan) IDULADHA merupakan…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:23

Mewujudkan Hemeroteca Nacional de Mexicodi Kaltim, Kenapa Tidak?

CONRADO SOL masuk ke sebuah gedung bangunan bergaya modern dengan nuansa warna cokelat kayu yang dominan.…

Kamis, 09 Agustus 2018 07:19

Jalan Spiritual Menuju Semangat Proklamasi

OLEH: RP YOHANES ANTONIUS LELAONA, SVD (Rohaniwan Warga Tenggarong)MENGAWALI tulisan ini, izinkan saya…

Selasa, 07 Agustus 2018 07:56

Kartesianisme

Oleh: Dr. Ir. Sunarto Sastrowardojo, M. Arch(Dosen Pascasarjana Perencanaan Wilayah, Unmul) KARTESIUS…

Jumat, 03 Agustus 2018 08:42

Rezeki Itu Bukan Sandal

Oleh: Bambang Iswanto* KEJADIAN tertukar sandal ketika selesai salat di masjid bukan sesuatu yang langka.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .