MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Minggu, 27 Mei 2018 07:39
Keliling Dunia Pakai Ces

PROKAL.CO, CATATAN: SYAFRIL TEHA NOER*

KAMI baru mengobrolkan pilihan jalur ke Bandara APT Pranoto di Samarinda. Eee, gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Irianto Lambrie, sudah mengkonkretkan alternatif akses ke Bandara Juwata di Tarakan. Basisnya kurang lebih sama; mencapai bandara tanpa ngotot transportasi darat.

Info tentang terobosan Pak Irianto itu saya terima pertama kali dari Delly Akbar Lahay. Kawan ngobrol kami malam kesembilan Ramadan ini bilang, di Kaltara akan dibangun dermaga speedboat yang langsung terhubung dengan fasilitas bandara. Calon penumpang tak perlu lagi memutar, turun di Pelabuhan Besar Tarakan dulu. 

Irianto mengiyakan. Malah, bukan “akan” melainkan sedang dikerjakan. “Saya sudah mencobanya,” katanya. Secara bertahap sedang dibuat kanal untuk dermaga speedboat yang terintegrasi dengan terminal penumpang di Bandara Juwata Tarakan.

Dengan fasilitas sandar speedboat Bandara Juwata akan jadi satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia. Percepatan penyelesaiannya sedang diusahakan lewat dukungan APBN Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menurut kepala Dinas Perhubungan Pemprov Kaltara, Taupan, fasilitas yang disebut Irianto itu sedang mengerjakan kanal putar yang diperlukan bagi manuver speedboat.

Alur tradisional dari dan ke Bandara Juwata disadari tak efisien bagi para calon penumpang pesawat dari berbagai kabupaten di Kaltara. Mereka yang dari Nunukan, Malinau, Tana Tidung, Tanjung Selor, bahkan Pulau Juwata yang sangat dekat, harus ke pelabuhan besar Tarakan dulu, lalu nyambung dengan kendaraan darat ke Bandara Juwata.

“Padahal, perjalanan mereka bisa langsung berakhir di sana,” kata Taupan. Waktu dipotong, biaya dipangkas --potensi rupiah dari pariwisata didulang. Penyelesaian pembangunan dermaga itu pun diburu.

Di Kaltara beralas efisiensi. Di Samarinda berlatar momok macet dan banjir di jalur darat. Sementara jalur alternatif Sempaja ujung belum jelas kapan rampung. Di Kaltara sudah jadi langkah nyata pemerintahannya. Di Samarinda baru jadi bahan obrolan sebagian warganya. Itu pun di dunia maya.

Mengapa tak menimbang Sungai Karang Mumus? Bila banjir juga, tidakkah “pelayaran” ke Sungai Siring justru lebih lancar? Begitu obrolan itu bermula. Pemanfaatan sungai menuju bandara lantas dipercaya membawa banyak manfaat, dan menekan banyak mudarat.

Pertama, Karang Mumus lebih serius diurus. Para aktivis partikelir pemeliharaannya, seperti Misman dan kawan-kawan, sudah boleh agak santai. Jerih-payah mereka praktis beralih ke tangan yang lebih patut, pemerintah. Warga tinggal bantu-bantu.

Kedua, Samarinda kembali ke kesejatian alamiahnya yang kaya sungai dan rawa-rawa. Di Karang Mumus kota ini punya sejumlah sungai cucu Mahakam –Lantung, Muang, Selindung, Bayur, Lingai, Bengkuring, Lubang Putang, dan .. Sungai Siring – di dekat Bandara APT Pranoto. Nama-nama yang belum tentu semua orang Samarinda tahu.

Ketiga, Samarinda menegaskan keunikan sebagai tujuan wisata. Tak banyak negeri di dunia yang punya sungai. Apalagi sungai yang beranak pinak. Di tepi-tepinya akan menjamur industri berbasis budaya lokal. Yang diperlukan sungai-sungai itu sekarang hanya satu: normalisasi dan penataan.

Keempat, dengan normalisasi area tampungan air tersedia. Samarinda tak lagi kelewat bergantung pada folder-folder di Voorvo, Air Hitam, atau Bendali HM Ardans. Peran mereka dikembalikan ke sunnatullah sungai-sungai dan rawa-rawa itu. Dus, mengatasi banjir – problem latennya.

Ahmad Karni, aktivis di Komunitas Peduli Sungai Pampang yang juga kepala sebuah sekolah menengah kejuruan di Loa Kulu, menyimpulkan baah (bahasa Banjar – banjir) sebenarnya terjadi lantaran durhaka kota ini pada sungai-sungai dan rawa-rawanya sendiri.

“Basis budaya daerah ini dulu bertumpu pada sungai pasang surut,” katanya. Permukiman, transportasi, pertanian, peternakan di sini, mestinya, menyesuaikan diri dengan watak itu. Bukan kebalikannya.

Nyatanya, Samarinda keburu tergoda akut pada budaya tanah. Rawa diuruk. Badan-badan sungai dipersempit. Diperlakukan tak ubah parit. Sungai bukan lagi beranda depan. Begitu sejak puluhan tahun lalu. Akibatnya, alam membalas. Hasilnya, ya banjir itulah. Kemacetan dan kekusutan itulah.

Karni yang lulusan Universitas Negeri Yogyakarta adalah satu di antara peserta obrolan yang mendukung gagasan Karang Mumus sebagai jalan ke dan dari Bandara APT Pranoto. Dia sudah menghitung jarak dari Muara Karang Mumus ke Sungai Siring, merujuk peta buatan Belanda tahun 1947–34,7 kilometer.

Chai Siswandi, sastrawan asal Kota Bangun, kawan ngobrol kami yang lain, mengingatkan kondisi riil Karang Mumus di hulu. Jangan lupa, katanya, di sana ada Bendungan Benanga, juga jembatan-jembatan kayu yang menyempitkan jalur perahu. “Saya belum mendengar ada yang benar-benar melakukan uji lapangan, menelusuri (alur) dari Benanga sampai hulu sungai-sungai di atasnya,” katanya.

Kolektor parang ini curiga sungai-sungai (anak Karang Mumus), seperti Sungai Siring, tak cukup lebar untuk perahu, mengingat salah satu sungai yang cukup besar justru dari arah Berambai melalui Pampang. Hulunya berupa air terjun bertingkat-tingkat. Mustahil dilalui perahu.

Sepakat tentang perlunya pemulihan sungai dan kawasan resapan air, Chai menyebut transportasi ke dan dari Bandara APT Pranoto adalah perkara tata ruang.

Karni menanggapi. Alur dari Benanga ke Sungai Pampang sangat lancar. Sungai Pampang dari RT 01–04 yang berbatasan dengan RT 05 Kampung Jawa bisa dilewati. Enam tahun lalu dikeruk. Aliran Sungai Siring dan Sungai Lantung bersatu di ujung selatan landasan bandara. Tinggal ditambah kanal.

“Ada 3 intake PDAM di alur ke arah Sungai Siring itu. Masing-masing di Sungai Lantung, di RT 01 Pampang, dan di Benanga. Ini pun sudah kami sampaikan ke BWS (Balai Wilayah Sungai) 3 Kalimantan/PUPR,” katanya.

Waduk Benanga memang tak mungkin dilompati perahu. Tapi saya teringat armada commuter Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodetabek). Anda dan teman Anda bisa naik kereta yang sama dari Bogor, walau tujuan akhir Anda ke Jakarta Kota, dan Teman Anda ke Bekasi. Anda dan si teman nanti berpisah di “stasiun pengurai” Manggarai. Dia pindah kereta di situ, dan Anda terus ke Jakarta Kota.

Ya, kita bikin saja mirip itu. Jakarta punya rel kereta, Samarinda punya “rel” perahu. Jadikan Waduk Benanga “dermaga pengurai”. Bisa diteruskan dengan angkutan darat (mobil), atau angkutan setengah darat setengah langit (kereta gantung). Rasa-rasanya masih jauh lebih murah dibanding biaya jalan tol.

Pemanfaatan sungai dan rawa untuk ini, setidaknya, akan membebaskan realisasinya dari para spekulan tanah. Nir-biaya ganti-rugi lahan yang mahal. Nir-biaya sosial yang ribet. Lain soal, bila nanti bermunculan juga para spekulan sungai dan rawa.

Jika ide mengatrol peran Karang Mumus bagi operasi Bandara APT Pranoto terwujud, kelak Anda melihat warga Palaran, Sangasanga, Anggana, selain Samarinda, lebih dulu naik perahu “ces” sebelum terbang ke mana pun di Nusantara, bahkan dunia. Tapi, apakah sedekah warga ini bakal disambar gubernur baru? Sumpah, saya belum tahu! (***/rom/k9)

*) Ketua Dewan Redaksi Kaltim Post


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 08:09

Belum Khatam soal Kedisiplinan

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*) INI logika formal tentang aparatur sipil negara (ASN). Dulu disebut pegawai…

Selasa, 29 Mei 2018 09:08

50 Detik Menuju 350 Meter Pohon Langit

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI * WAKTU puasa di Tokyo lebih panjang dibanding Indonesia. Enam belas jam lebih.…

Senin, 28 Mei 2018 09:48

Ngabuburit di Shibuya, Buka Puasanya Shabu-Shabu

 LAPORAN: FAROQ ZAMZAMI * PENYEBERANGAN jalan yang mendunia itu, Kamis (24/5), saya sambangi. Di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .