MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Minggu, 27 Mei 2018 07:18
Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

PROKAL.CO, OLEH: ARIS SETIAWAN
(
Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul)

RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan bulan mulia, suci, dan agung. Banyak nilai, hikmah, kebajikan, dan karunia yang terkandung di dalamnya. Ia merupakan penghulu segala bulan. Sungguh merugi orang yang tidak bisa mengambil kebaikan dan manfaat dari kehadirannya. Saat ini, kita tengah berada di dalamnya. Semoga Allah mengaruniakan kemampuan pada tiap kita untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa, dan negara. Berbicara mengenai masalah pendidikan, pasti tidak akan ada habisnya karena pendidikan merupakan bagian yang vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan primer bagi setiap manusia yang nantinya akan membentuk manusia untuk hidup sempurna.

Karakter, kepribadian, watak, merupakan kata yang sering kita dengar bahkan kita ucapkan. Ia melekat pada tiap manusia. Ada banyak definisi karakter menurut para pakar. Baik itu pakar psikologi, pakar pendidikan, maupun pakar bahasa. Ada yang mengatakan jika karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Ada pula yang mengemukakan, bahwasanya karakter merupakan unsur psikososial yang dikaitkan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter jika dipandang dari sudut behavioral yang menekankan unsur kepribadian yang dimiliki individu sejak lahir. Karakter dianggap sama dengan kepribadian, karena kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari lingkungan.

Dari beberapa pendapat di atas, saya menyimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang terwujud dalam sikap dan perilaku yang memiliki hubungan dengan lingkungan berdasarkan norma yang ada dalam masyarakat. Mengutip pendapat Kirschenbaum dan Golemen, maka pendidikan karakter pada hakikatnya adalah pendidikan nilai yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

Setiap kelompok dalam satu organisasi, di mana terjadi interaksi antara satu dengan lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik. Ketika apa yang terjadi dalam hidup dan kehidupan membuat hati kita tidak nyaman, maka di situ ada masalah. Dalam hal ini mestinya hidup adalah damai, hidup adalah sejahtera, hidup adalah gotong royong, hidup adalah silaturahmi, hidup adalah kesahajaan, hidup adalah ibadah, hidup adalah segala sesuatu yang membuat kita jadi "enjoy". Nah, ketika hidup kita jadi tidak romantis maka sebenarnya ada masalah yang terjadi.

Kondisi seperti itu menjadi sebuah "fenomena" yang selalu menyatu dalam hidup selama kehidupan. Dengan demikian, sulit seseorang benar-benar dalam hidup yang terbebas dari masalah. Realitanya ada-ada saja masalah yang muncul, apalagi kalau memang "dipermasalahkan". Antara masalah dan terbebas dari masalah itulah yang kerap mendatangkan konflik.

Ramadan dan Transformasi Kebaikan

Ramadan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi, sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya, yakni dengan menjaga puasa kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga belaka, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut puasa.

Inti dari ibadah Ramadan adalah melatih diri agar kita dapat  menguasai hawa nafsu. Allah berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS An Nazii'at [79] : 40 - 41).

Sebagai sarana penyucian diri dan pembentukan pribadi, Ramadan sudah selayaknya diisi dengan pelbagai aktivitas yang terprogram dan terarah. Agar buah Ramadan yang sangat mahal itu dapat dipetik untuk kehidupan selama dan setelah Ramadan. Rasulullah telah memberikan contoh dan teladan kepada umatnya dengan melakukan beragam amal-amal kebajikan Ramadan.

Ramadan adalah momentum paling tepat untuk transformasi pada kebaikan. Di segala penjuru, di semua lini, pada semua tingkat dan jenjang kita. Sebagai apapun kita, di manapun keberadaannya. Mari kita perbaiki segala kekurangan dan keburukan dari karakter kita sebagai tamu Allah.

Nilai-Nilai Pendidikan

“Jika salah menilai, maka akan salah mendidik. Jika gagal merencanakan, berarti merencanakan untuk gagal” begitu ungkapan dari seorang profesor yang pernah saya dengar saat saya mengikuti kuliah pendidikan sebagai investasi.

Bagi sebagian orang, pendidikan hanyalah sebuah aspek konsumtif yang mana tidak dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Pandangan klasik ini dalam memahami pendidikan hanyalah sebagai bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan kepada mereka. Dalam konteks ini, pelayanan pendidikan dipandang sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari negara kepada masyarakat yang tidak akan membawa manfaat bagi kemajuan perekonomian bangsa.

Hidup adalah pilihan. Dan salah satu pilihan untuk bisa hidup adalah investasi pendidikan. Betapa banyak uang, tenaga, pikiran, dan pengorbanan dalam menjalankan misi kehidupannya melalui pendidikan. Secara ekonomi, mungkin masih bisa dihitung, namun secara nurani sulit dihitung dan diuangkan tatkala jenjang-jenjang pendidikan itupun dilalui tanpa beban. Menjadikan pendidikan sebagai investasi sekarang dan yang akan datang nantinya. Kelak pasti mereka akan belajar dari catatan-catatan seluruh investasi yang telah ditanamkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan klasik tersebut pada saat sekarang ini sudah mulai bergeser seiring dengan kesadaran, pemikiran-pemikiran filsafat dan bukti ilmiah akan peran dan fungsi vital pendidikan dalam memajukan peradaban suatu bangsa. Bahkan bisa dikatakan hampir setiap negara sekarang ini memandang pendidikan sebagai satu sektor penting dalam memajukan suatu peradaban bangsa. Sehingga, sekarang ini muncullah pandangan bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan yang sangat menjanjikan baik untuk individu maupun kolektif.

Ramadan mengajarkan banyak nilai-nilai pendidikan yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan kita. Baik itu nilai yang bersifat privasi maupun umum, nilai yang bersifat pribadi maupun komunal. Jika tiap individu mampu menangkap nilai-nilai pendidikan dari Ramadan tersebut kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan, niscaya akan terbangun pribadi yang saleh yang menjadi pijakan untuk terbangun masyarakat yang saleh pula. Masyarakat yang saleh merupakan masyarakat madani, yang menjadi dambaan setiap orang.

Manajemen Konflik dan Kalibrasi Penguatan Karakter

Dean G Pruitt dan Jeffrey Z Rubin memaknai konflik sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest) atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Konflik dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat kompleksitas. Konflik merupakan sebuah duo yang dinamis.

Konflik dapat terjadi hanya karena salah satu pihak memiliki aspirasi tinggi karena alternatif yang bersifat integratif dinilai sulit didapat. Ketika konflik semacam ini terjadi, maka ia akan semakin mendalam bila aspirasi sendiri atau aspirasi pihak lain bersifat kaku dan menetap. Aspirasi dapat mengakibatkan konflik karena salah satu dari dua alasan, yaitu masing-masing pihak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka mampu mendapatkan sebuah objek bernilai untuk diri mereka sendiri atau mereka percaya bahwa berhak memiliki objek tersebut. Pertimbangan pertama bersifat realistis, sedangkan pertimbangan kedua bersifat idealis.

Munculnya konflik tidak selalu bermakna negatif, artinya jika konflik dapat dikelola dengan baik, maka konflik dapat memberi kontribusi positif terhadap kemajuan sebuah organisasi

Melalui tindakan kompromi, para ketua atau pemimpin organisasi maupun lembaga mencoba menyelesaikan konflik dengan jalan mengimbau pihak yang berkonflik untuk mengorbankan sasaran-sasaran tertentu, guna mencapai sasaran-sasaran lain. Keputusan-keputusan yang dicapai melalui jalan kompromi, agaknya tidak akan menyebabkan pihak-pihak yang berkonflik untuk merasa frustrasi atau mengambil sikap bermusuhan. Tetapi, dipandang dari sudut pandang organisatoris, kompromis merupakan cara penyelesaian konflik yang lemah, karena biasanya tidak menyebabkan timbulnya suatu pemecahan, yang paling baik membantu organisasi yang bersangkutan mencapai tujuan-tujuannya. Justru, pemecahan yang dicapai adalah bahwa kedua belah pihak yang berkonflik dapat “hidup” dengannya.

Theodore Schultz pada tahun 1960 pernah berpidato dengan mengangkat tema “Investment in human capital” di hadapan The American Economic Association merupakan peletak dasar teori human capital modern. Pesan utama dari pidato tersebut sederhana bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi. Schultz (1961) dan Deninson (1962) kemudian memperlihatkan bahwa pembangunan sektor pendidikan dengan manusia sebagai fokus intinya telah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan produksi dari tenaga kerja.

Grand design pendidikan karakter menurut Muchlas Samani merupakan nilai-nilai utama yang akan dikembangkan dalam budaya satuan pendidikan formal dan nonformal, yaitu jujur, tanggung jawab, cerdas, sehat dan bersih, peduli, kreatif, dan gotong royong.

Senada dengan pendapat tersebut, ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang pernah dibuat oleh Kemendiknas. Ke-18 nilai-nilai tersebut di antaranya: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Karakter-karakter positif, baik, dan bagus yang dimiliki oleh pribadi individu merupakan modal utama dalam pembangunan sumber daya manusia sebuah bangsa dan negara. Oleh karena itu, mari kita selaraskan Ramadan kita agar dapat mengantarkan kita menjadi individu yang saleh. Niscaya, dari pribadi-pribadi yang saleh tersebut, akan lahir umat, komunitas yang saleh pula. Dan komunitas umat yang saleh adalah hakikat dari tujuan pembangunan SDM yang berkualitas. Semoga! (rsh/k15)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 07:40

Jangan Runtuhkan Bangunan Takwa Kita

Oleh: Ismail MPdI(Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser) DI antara cara Alquran dalam menginformasikan…

Selasa, 19 Juni 2018 07:29

Mudik Asyik dan Selebrasi Kemenangan

OLEH: ARIS SETIAWAN(Sekretaris PD. IKADI Kab. Kutai Kartanegara)“Manusia modern adalah manusia-manusia…

Senin, 18 Juni 2018 07:26

Siapa Pemberi 20 Ribu Ekor Sapi?

OLEH: THOMAS F KALIGIS(Guru Sejarah Indonesia SMK di Balikpapan) SAPI digolongkan sebagai hewan mamalia…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Kamis, 07 Juni 2018 06:47

Tradisi Mudik dan Darurat Energi

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 05 Juni 2018 07:58

Menyiapkan Ahli, Menekan Celaka

OLEH: DR SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Pasca Sarjana Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)Kecelakaan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Kamis, 31 Mei 2018 06:50

Perlukah Impor Beras

CATATAN: BAMBANG HARYO S(Anggota Komisi VI DPR RI) KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) telah dua kali…

Selasa, 29 Mei 2018 07:20

Merekonstruksi Kebebasan

OLEH: FD, SIRILUS HENDRI SANTOSO(Rohaniwan Katolik) SAYA sempat “galau” ketika kartu telepon…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .