MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 25 Mei 2018 08:53
Menata Lisan Digital

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto*

RAMADAN biasa disebut bulan puasa dan bulan melatih pengendalian diri. Seluruh dari bagian diri seorang mukmin di-treatment untuk menahan hal-hal yang tidak diperkenankan oleh agama.

Ini sesuai dengan makna puasa itu sendiri. Puasa dalam bahasa Arab disebut shaum atau shiyam, yang secara etimologis bermakna menahan (imsak). Dalam terminologi fikih, makna puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri dan sejenisnya dari terbit fajar sampai magrib.

Dalam makna yang lebih luas, puasa menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh agama secara umum dan menjalankan segala yang diperintahkan dan dianjurkan. Khusus dalam Ramadan, perbuatan makan, minum, dan berhubungan suami-istri dilarang pada siang hari meskipun dihalalkan pada bulan-bulan lain.

Karena itulah banyak ulama mengistilahkan Ramadan sebagai bulan riyadlah, bulan latihan dan candradimuka. Ramadan merupakan momentum yang harus dimanfaatkan untuk membenahi diri, di dalamnya Allah berikan fasilitas khusus dengan dibelenggunya setan, dibukanya pintu-pintu kemurahan agar manusia ringan melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Diharapkan, dalam waktu sebulan, seorang mukmin lulus dari candradimuka Ramadan, untuk kemudian bisa bertransformasi menjadi manusia yang bertakwa pada bulan selanjutnya secara konsisten.

MENJAGA LISAN

Banyak hal yang bisa dilatih untuk dikendalikan pada bulan suci ini. Salah satunya mengendalikan lisan ataupun lidah.

Dalam Islam, ujaran atau berkata-kata mendapat perhatian yang sangat serius. Tidak semua orang menyadari betapa pentingnya makna dan dampak ujaran dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat kelak.

Pertikaian, dan bahkan peperangan, bisa terjadi akibat kata-kata yang keluar dari lisan seseorang. Namun, sebaliknya perdamaian, toleransi, rasa persaudaraan juga bisa lahir dari perkataan atau ujaran.

Demikian juga dampak akhirat yang dimunculkan oleh ujaran atau kata-kata.  Nabi pernah mengatakan, “Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengan beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak memedulikannya, perkataan itu akan menjerumuskannya ke neraka” (HR. Bukhari).

Mengingat strategisnya persoalan ujaran dalam kehidupan sehari-hari, sangat wajar Rasulullah memberikan penekanan agar umatnya melatih menata lisannya pada Ramadan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, beliau menyebutkan, “Orang yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya”.

Riwayat ini adalah sindiran keras terhadap orang yang tidak bisa mengontrol lisannya, puasanya sia-sia dan tidak mendapatkan ganjaran apapun dari Allah. Redaksi hadis tertuju bagi orang-orang yang menunaikan puasa. Ini dimaksudkan untuk bisa mengendalikan dan melatih lisannya pada Ramadan untuk bisa dilanjutkan, bukan hanya pada bulan puasa. Banyak hadis lain di luar konteks Ramadan secara tegas memerintahkan untuk menjaga lisan.

LISAN DIGITAL

Kehadiran internet sangat memengaruhi pola pikir dan pola tingkah laku masyarakat secara individu maupun kelompok. Semua aspek kehidupan sudah banyak bergantung kepada teknologi digital. Tubuh digital bermigrasi mengambil peran analog dunia nyata.

Semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua menjadi bagian dari masyarakat digital. Ada yang menjadi jamaah facebookiyah, jamaah whattsapiyyah, jamaah instagramiyyah, twitteriyyah, dan masyarakat digital lainnya.

Salah satu perubahan pola kehidupan dalam masyarakat adalah kebiasaan berujar, berucap, dan mengemukakan pendapat mengalami perubahan dari tubuh biologis ke tubuh digital. Ujaran tidak diucapkan hanya melalui lisan tubuh dengan media lidah saja, akan tetapi bisa dilakukan dengan perantaraan media internet ke masyarakat digital.

Ujaran, ucapan, atau kata-kata bukan lagi menjadi monopoli lidah fisik, tetapi justru beralih didominasi oleh ucapan atau ujaran di dunia media sosial.

Komunikasi dan penyampaian pesan ujaran jauh lebih efektif dengan daya sebaran yang sangat luas nirgeografis dan kecepatan waktu yang super-kilat mengakibatkan media sosial digital menjadi pilihan utama. Dunia maya melahirkan tradisi lisan digital.

Sifat ujaran dan ucapan yang disampaikan melalui dunia maya cenderung bersifat cair dan liar. Tidak diperlukan keberanian tampil di panggung orasi berhadapan dengan orang banyak untuk bisa berkata-kata dan berujar. Hanya dengan melincahkan jari-jari di atas gawai, seseorang bisa menyampaikan pesan dalam waktu singkat ke berjuta-juta orang sekaligus.

KAIDAH FIKIH TULISAN SEPERTI LISAN

Dalam khazanah fikih, terdapat sebuah kaidah hukum yang diformulasikan oleh ulama “Tulisan Itu Seperti Lisan”. Dari kaidah ini, dapat ditarik benang merah antara ucapan yang dilafalkan oleh lisan atau lidah secara fisik sama kualitas dan derajatnya dengan tulisan berupa ujaran yang dibuat di media sosial dunia maya.

Tidak ada beda antara lisan dengan tulisan yang bermaksud ujaran. Bahkan, melihat dampak yang dimunculkan oleh tulisan berupa ujaran di dunia maya jauh lebih besar dibandingkan dengan ujaran dengan lisan, konsekuensi hukumnya pun berbeda.

Jika ada ujaran yang positif di media sosial, bisa jadi pahala bagi pelakunya sebagai konsekuensi hukumnya akan lebih besar diterimanya. Sebaliknya, jika yang diujarkan atau diucapkan adalah hal negatif, bisa jadi dosanya juga lebih besar dibanding ucapan lisan.

Dalam dunia digital, ujaran dengan cepat menyebar. Ujaran disalin dan ditempel untuk diteruskan kepada akun-akun atau komunitas digital lain yang memiliki jaringan luas untuk kemudian diteruskan dan begitu seterusnya.

Mengingat dampak besar yang dimunculkan oleh ujaran, Islam membuat aturan main yang tegas bagaimana seorang muslim berujar dan berucap, baik dengan lisan maupun dengan tulisannya.

Pertama, berkata yang baik atau diam. Sebelum berujar sesuatu, hendaknya berhati-hati dan merenungkan terlebih dahulu apakah perkataannya baik atau tidak. Jika dirasa perkataannya jelek, hendaknya mengurungkan niatnya untuk berujar, jauh lebih baik diam saja. Tidak jarang kita mendengar atau melihat tulisan ujaran yang kotor dan tabu. Ingatlah hadis Nabi, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).

Kedua, Tidak semua yang didengar dan dibaca diucapkan. Ucapan atau tulisan yang beredar di masyarakat bersumber dari mana saja. Ada dari orang yang baik maupun tidak baik. Sebaiknya ada filterisasi informasi yang didapat sebelum kita sampaikan atau ucapkan. Dalam bahasa agama, proses filter informasi ini disebut dengan tabayun, yaitu mengklarifikasi dan melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang didapat. Jangan sampai seseorang menyebarkan informasi yang keliru ataupun dusta dengan maksud mengacaukan stabilitas masyarakat dan memunculkan perselisihan. Seperti berita-berita hoax yang dirancang seperti berita yang benar bahkan banyak yang dikemas menggunakan ayat dan hadis, padahal isinya adalah informasi palsu untuk mencapai kepentingan penyebarnya. Dalam hadis disebutkan, “Berdosa orang yang membicarakan setiap apa yang didengarnya” (HR. Muslim).

Ketiga, tidak mengucapkan kebencian, hinaan, gunjingan, dan caci maki. Dalam sebuah hadis diterangkan, “Seorang mukmin itu bukanlah sorang yang tha’an, pelaknat, juga bukan yang berkata keji dan kotor” (HR. Bukhari).

Masuk dalam kategori tha’an, dalam hadis tersebut adalah merendahkan kehormatan manusia dengan membenci dan mencaci. Maka terkait dengan hate speech (ujaran kebencian), Islam jelas melarang keras hal ini. Apalagi ujaran kebencian dimaksudkan menjatuhkan martabat orang ataupun kelompok lain yang berakibat permusuhan, pertikaian, sampai dengan disintegrasi bangsa.

Penutup

Apa yang keluar dari mulut merupakan cerminan hati seseorang. Lisan merupakan penerjemah hati dan penggantinya secara lahiriah. Dalam momentum Ramadan ini, marilah kita semua melatih lisan, baik lisan biologis maupun lisan digital untuk bertutur dan mengucapkan hal-hal yang positif dan meninggalkan perkataan yang negatif dan memperbaiki kualitas perkataan dan ucapan menjadi ucapan yang memberikan rasa damai bagi siapa pun yang mendengar dan membacanya. (***/dwi/k11)

*)Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 07:40

Jangan Runtuhkan Bangunan Takwa Kita

Oleh: Ismail MPdI(Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser) DI antara cara Alquran dalam menginformasikan…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .