MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Jumat, 25 Mei 2018 06:48
Sarung Tangan dari Chiang Mai

PROKAL.CO, CATATAN: DEVI ALAMSYAH
(Manajer Iklan Kaltim Post Group)

 “PERTUMBUHAN ekonomi Kaltim tahun 2018 ini sulit untuk bisa lebih baik dari 2017”.

Begitulah pernyataan Harry Aginta, analis Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kaltim saat mengisi diskusi Stakeholder Forum yang digagas PLN Wilayah Kaltimtara di Hotel Platinum, pekan lalu. Bagi pelaku usaha, mungkin saja ini bukan informasi yang diinginkan. Kita selalu menunggu kapan ekonomi pulih seperti sebelum jatuh. Harapan membaik itu yang membuat banyak pelaku usaha bisa survive

Kenapa bisa begitu? Tak bisa tumbuh melampaui tahun lalu. Padahal, beberapa indikator menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Misalnya, harga batu bara yang semakin membaik. Seperti diketahui, pertambangan batu bara menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltim sejak 2012. Sebelumnya, dari tahun 2000 hingga 2010 pergerakan ekonomi Kaltim lebih didominasi oleh industri minyak dan gas bumi (migas).

Seiring sumur migas yang semakin menua dan kemudian diikuti harga minyak dunia yang anjlok, praktis industri hulu migas bukan lagi menjadi penopang utama perekonomian di provinsi ini.

Harry membuka data, bahwa pada triwulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 1,77 persen. Dengan harga batu bara USD 95.54, angka ini sama sekali tidak berbanding lurus dengan posisi triwulan pertama tahun 2017 lalu. Pertumbuhan ekonomi Kaltim bisa mencapai 3,90 persen. Padahal saat itu, harga batu bara berada di angka USD 83.82. Harusnya awal tahun ini, Kaltim bisa lebih baik dong.

“Ekonomi Kaltim belum mampu memanfaatkan momentum kenaikan harga batu bara,” kata Harry, menandaskan. Penyebabnya, bisa karena faktor cuaca yang memengaruhi peningkatan produksi batu bara dan sistem kontrak jangka panjang antara perusahaan batu bara dengan buyer, si pembeli.

Dari hasil bincang ringan dengan pelaku perbankan, ternyata membaiknya harga batu bara juga belum sepenuhnya memberikan kepercayaan bulat kepada pelaku perbankan. Mereka masih selektif dalam penyaluran kreditnya untuk sektor tersebut. Tapi, tidak seperti dulu; menutup kesempatan dan tidak menutup kemungkinan, sisi tract record perusahaan juga dilihat.

Mengandalkan sektor pertambangan dalam pergerakan ekonomi daerah tentu riskan. Seperti banyak diprediksi dan didiskusikan berbagai kalangan hingga ke warung-warung kopi. Sektor ini dianggap tidak sustainable dan banyak risiko terhadap kerusakan lingkungan. Dan persoalannya, dari data Bank Indonesia Kaltim, sebesar 46,3 persen struktur perekonomian Kaltim triwulan pertama ini digerakkan oleh sektor tambang. Sektor industri hanya menyumbang 18 persen; perdagangan 5,4 persen; serta konstruksi dan pertanian masing-masing berkontribusi sekitar 8 persen.

Dan dari angka struktur ekonomi tersebut, 40 persennya adalah komoditi ekspor. Bisa kita indikasikan, sebagian besar komoditi ekspor tersebut ya dari batu bara. Artinya, struktur ekonomi Kaltim masih sangat riskan. Karena hanya satu sektor yang memiliki persentase dominan. Sehingga, perlu juga mendorong sektor lainnya seperti industri pengolahan. Atau sektor jasa dan pariwisata yang justru jauh lebih berkelanjutan dan menjanjikan.

Namun, tampaknya saat ini, mendorong pertumbuhan industri seolah menjadi ranah pemerintah. Wacana industri hilir dan industri pengolahan sudah santer digembar-gemborkan berbagai stakeholder, LSM hingga asosiasi pengusaha. Pada praktiknya, sebetulnya peran pemerintah lah yang diharapkan lebih efektif dalam mendorong dunia industri tersebut, misalnya dengan membuat regulasi yang berpihak pada dunia industri. Pengurangan pajak dan lain hal. 

Tapi sebetulnya, untuk mendorong industri dan perekonomian daerah bisa juga dilakukan oleh kesadaran masyarakatnya. Tak melulu mengandalkan peran pemerintah. Karena pelaku ekonomi yang sesungguhnya ya masyarakat. Ya kita. Kapan kita mau belanja? Apa yang mau dibeli? Di mana belinya? Semua bergantung kita sebagai konsumen. Pelaku ekonomi. Sebagaimana Bali yang kini besar karena industri pariwisatanya, ya lantaran masyarakatnya juga sadar akan wisata.

Soal ini, saya teringat saat membeli sarung tangan untuk olahraga golf di salah satu situs belanja online. Saya memilih belanja via online karena harganya jauh lebih murah. Kemudian, pilihannya juga banyak. Coba-coba beli satu saja. Sekalian ingin tahu apakah kualitasnya sama seperti pada gambar? Apakah barangnya akan sampai tujuan? Sedikit ragu. Lantaran sebelumnya juga pernah beli parfum via toko online dan hasilnya tak sesuai ekspektasi.

Seminggu berselang, barang yang dipesan tak kunjung datang. Saya cek di proses pengiriman dan posisi barang saat itu. Ternyata barang yang saya pesan posisinya masih ada di Chiang Mai, Thailand. Wow. luar biasa. Padahal harganya tak sampai Rp 100 ribu plus ongkos kirim pula. Saya mengira barang yang dibeli itu produksi Jawa, Bandung atau Jakarta begitu. Tapi ternyata Thailand. Sekitar dua pekan barulah barang itu sampai. Dan kualitasnya bagus.

Sempat cerita-cerita dengan teman. Bagaimana kalau belinya banyak. Lalu dijual lagi. Kalau dihitung-hitung harganya kompetitif dengan harga lokal dan bahkan masih bisa ambil keuntungan. Sayangnya itu tak terjadi. Eh, belum terjadi. Baru obrolan biasa saja. He-he

Poinnya dari cerita tadi. Terkadang saat belanja di toko online, kita tidak memerhatikan barang yang dibeli itu diproduksi di mana? Yang dipikirkan lebih pada kesesuaian antara gambar dan produk, kualitas dan lamanya sistem pengantaran. Barangnya dari mana, terserah saja. Yang penting bagus dan murah.

Kalau direnungi. Apa dampaknya belanja di toko online shop yang berbasis di luar daerah atau di luar negeri. Maka tidak ada sepeser nilai rupiah yang saya bagi buat perekonomian daerah. Betul tidak? Saya beli barang melalui toko online yang berbasis di Jakarta yang barang tersebut diproduksi di Thailand. Ada dua daerah yang dapat keuntungan. Jakarta sebagai penjual dan Thailand sebagai produsen.

Memang, para penjual produk sarung tangan golf di Balikpapan tidak memproduksi sendiri juga. Rata-rata reseller. Karenanya cenderung lebih mahal. Tapi paling tidak, ketika beli di toko lokal, ada perputaran uang di dalam. Harapannya, akan memengaruhi daya beli masyarakat lokal. Begini; indikasi pertumbuhan ekonomi Kaltim lemah, lantaran daya beli masyarakatnya turun. Atau daya beli turun akibat ekonominya lemah.

Kita tentu tidak ingin nantinya banyak toko tutup. Pusat perbelanjaan sepi. Tenant-tenant mal perlahan mulai hengkang. Ruko-ruko dipasangi spanduk “Dijual”. Sepi juga lama-lama kota ini. Soal daya beli ini juga nantinya yang menjadi rujukan investor untuk berinvestasi.

Karena itu, saya menyarankan, sempatkanlah belanja di toko atau warung-warung di sekitar Anda. Biar sedikit lebih mahal, tapi bisa andil mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. Apalagi kalau harganya beda-beda dikit. Bagaimana dengan Anda? (ndu/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:05

Abstrak

TIGA tahun lalu, saya mengikuti pelatihan jurnalistik bagi pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group…

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03

Inkubator untuk Korban Gempa

SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .