MANAGED BY:
SELASA
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 25 Mei 2018 06:44
Pengusaha Kaltim Pilih Ekspor

Harga yang Dipatok PLT Dinilai Terlalu Rendah

-

PROKAL.CO, SAMARINDA - PT PLN (Persero) berencana melakukan akuisisi beberapa tambang batu bara. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN. Namun sayangnya, langkah ini belum mendapat respons positif pengusaha Bumi Etam. Harga murah yang dipatok PLN membuat pengusaha lebih memilih ekspor.

Untuk diketahui, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 tentang harga batu bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum, disebutkan bahwa harga jual batu bara untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum USD 70 per metrik ton free on board (FOB) Vessel.

Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Samarinda, menilai hal tersebut tidak begitu berpengaruh, karena di Kota Tepian penjualan lebih banyak langsung ke luar negeri daripada domestik. Ketua APBI Samarinda, Eko Priyanto mengatakan, harga yang ditetapkan PLN untuk spesifikasi rendah. Atau didasarkan atas spesifikasi acuan pada kalori 6.322 kkal per kg GAR, total moisture 8 persen, total sulfur 0,8 persen dan ash 15 persen.

Ketika harga sedang anjlok sempat di kisaran USD 40 per metrik ton semua pengusaha mau menjual komoditasnya ke dalam negeri, untuk penyuplai PLN. Sedangkan saat ini, harga cenderung lebih baik, sehingga banyak yang tidak mau menjual ke dalam negeri.

“Dari dulu, kebanyakan perusahaan di Kaltim itu ekspor langsung, sedangkan yang menjual untuk kebutuhan PLN hanya sedikit,” tuturnya kepada Kaltim Post, Kamis (24/5).

Hanya, memang tidak bisa dipersenkan berapa yang lebih banyak menjual di dalam negeri. Tapi, jauh lebih banyak yang melakukan ekspor. Walaupun begitu, kebanyakan perusahaan masih bergantung pada harga. Jika harga di bawah harga yang ditetapkan untuk listrik, maka banyak yang menjual untuk PLN. Sedangkan jika harga tinggi seperti sekarang ini, kebanyakan tidak mau menjual ke PLN kecuali yang sudah dikontrak.

“Banyaknya perusahaan batu bara yang gulung tikar saat ini, memang biang kerok jatuhnya harga. Terlepas dari ketentuan PLN dalam memberikan harga untuk membeli batu bara,” katanya.

Menurutnya, memang sempat ada aturan yang mewajibkan menjual batu bara untuk suplai PLN. Namun, nyatanya belum terealisasi saja sudah banyak kendala. Sehingga, sebetulnya tidak terlalu berpengaruh dengan ketetapan harga dari pemerintah. Pengusaha masih bisa memilih untuk menjual ke siapa hasilnya.

“Lagi pula saat ini di Kaltim yang tersisa adalah perusahaan besar. Karena hanya mereka yang bisa bertahan di tengah harga yang tidak stabil,” tuturnya.

Sedangkan perusahaan besar, tambahnya, kebanyakan melakukan kegiatan ekspor langsung. Jadi, tidak terlalu berpengaruh dengan ketentuan harga PLN dan suplainya.

“Sehingga, bukan banyaknya kebutuhan PLN akan menarik bagi penambang, tapi perbedaan harga jual ke PLN yang sangat kecil membuat para penambang memilih ekspor saja,” tutupnya.

Diketahui, PT PLN (Persero) berencana melakukan akuisisi beberapa tambang batu bara untuk memenuhi kebutuhan batu bara PLN di 2022 mendatang mencapai 140 juta ton. Dari jumlah tersebut, 40 persen di antaranya direncanakan dipasok dari anak perusahaan PLN, yaitu PT PLN Batubara.

Saat ini, pasokan batu bara untuk pembangkit listrik dari anak usaha PLN masih berada di level 10 persen dari total kebutuhan. Dengan ditingkatkannya pasokan batu bara dari anak usaha, diharapkan tarif listrik bisa stabil. (*/ctr/ndu2/k15)


BACA JUGA

Jumat, 15 Februari 2019 11:20

Akhirnya, Garuda Turunkan Harga Tiket

JAKARTA – Keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat mendapat respons…

Rabu, 13 Februari 2019 13:34

Asing Ambil Profit, Rupiah Kembali Melemah

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum reda. Merujuk data Jakarta…

Selasa, 12 Februari 2019 13:34

WOW..!! Tarif Bagasi Lion Air Rp 25 Ribu per Kilogram

Lion Group memutuskan melakukan penyesuaian tarif bagasi atau excess baggage…

Selasa, 12 Februari 2019 10:37

BELUM MEMBAIK..!! Setahun, Rumah Mewah Hanya Terjual Lima Unit

SAMARINDA - Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Kaltim mencatat penjualan…

Senin, 11 Februari 2019 11:42

Obligasi Ritel Bikin Likuiditas Seret

JAKARTA – Gencarnya penerbitan surat berharga negara (SBN) bakal sedikit…

Senin, 11 Februari 2019 11:40

Pacu Ekspor Baja ke Malaysia-Australia

JAKARTA – Tahun ini pelaku usaha baja melihat potensi peningkatan…

Minggu, 10 Februari 2019 09:37

Soal Bagasi Berbayar, Maskapai Penerbangan Diminta Lakukan Ini...

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti minta agar…

Minggu, 10 Februari 2019 09:18

Mulai Hari Ini, Harga Pertamax Turun

PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga BBM atau bahan…

Sabtu, 09 Februari 2019 09:00

Peringati Hari Pers Nasional, Astra Motor Samarinda Hadirkan Mobil Service Kunjung

SAMARINDA - Menyambut Hari Pers Nasional 2019, Main Dealer Astra…

Kamis, 07 Februari 2019 11:09

LUPUT..!! Janji Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, yang Bisa Diraih Hanya 5,17 Persen

JAKARTA- Akhirnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*