MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 25 Mei 2018 06:44
Pengusaha Kaltim Pilih Ekspor

Harga yang Dipatok PLT Dinilai Terlalu Rendah

-

PROKAL.CO, SAMARINDA - PT PLN (Persero) berencana melakukan akuisisi beberapa tambang batu bara. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN. Namun sayangnya, langkah ini belum mendapat respons positif pengusaha Bumi Etam. Harga murah yang dipatok PLN membuat pengusaha lebih memilih ekspor.

Untuk diketahui, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 tentang harga batu bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum, disebutkan bahwa harga jual batu bara untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum USD 70 per metrik ton free on board (FOB) Vessel.

Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Samarinda, menilai hal tersebut tidak begitu berpengaruh, karena di Kota Tepian penjualan lebih banyak langsung ke luar negeri daripada domestik. Ketua APBI Samarinda, Eko Priyanto mengatakan, harga yang ditetapkan PLN untuk spesifikasi rendah. Atau didasarkan atas spesifikasi acuan pada kalori 6.322 kkal per kg GAR, total moisture 8 persen, total sulfur 0,8 persen dan ash 15 persen.

Ketika harga sedang anjlok sempat di kisaran USD 40 per metrik ton semua pengusaha mau menjual komoditasnya ke dalam negeri, untuk penyuplai PLN. Sedangkan saat ini, harga cenderung lebih baik, sehingga banyak yang tidak mau menjual ke dalam negeri.

“Dari dulu, kebanyakan perusahaan di Kaltim itu ekspor langsung, sedangkan yang menjual untuk kebutuhan PLN hanya sedikit,” tuturnya kepada Kaltim Post, Kamis (24/5).

Hanya, memang tidak bisa dipersenkan berapa yang lebih banyak menjual di dalam negeri. Tapi, jauh lebih banyak yang melakukan ekspor. Walaupun begitu, kebanyakan perusahaan masih bergantung pada harga. Jika harga di bawah harga yang ditetapkan untuk listrik, maka banyak yang menjual untuk PLN. Sedangkan jika harga tinggi seperti sekarang ini, kebanyakan tidak mau menjual ke PLN kecuali yang sudah dikontrak.

“Banyaknya perusahaan batu bara yang gulung tikar saat ini, memang biang kerok jatuhnya harga. Terlepas dari ketentuan PLN dalam memberikan harga untuk membeli batu bara,” katanya.

Menurutnya, memang sempat ada aturan yang mewajibkan menjual batu bara untuk suplai PLN. Namun, nyatanya belum terealisasi saja sudah banyak kendala. Sehingga, sebetulnya tidak terlalu berpengaruh dengan ketetapan harga dari pemerintah. Pengusaha masih bisa memilih untuk menjual ke siapa hasilnya.

“Lagi pula saat ini di Kaltim yang tersisa adalah perusahaan besar. Karena hanya mereka yang bisa bertahan di tengah harga yang tidak stabil,” tuturnya.

Sedangkan perusahaan besar, tambahnya, kebanyakan melakukan kegiatan ekspor langsung. Jadi, tidak terlalu berpengaruh dengan ketentuan harga PLN dan suplainya.

“Sehingga, bukan banyaknya kebutuhan PLN akan menarik bagi penambang, tapi perbedaan harga jual ke PLN yang sangat kecil membuat para penambang memilih ekspor saja,” tutupnya.

Diketahui, PT PLN (Persero) berencana melakukan akuisisi beberapa tambang batu bara untuk memenuhi kebutuhan batu bara PLN di 2022 mendatang mencapai 140 juta ton. Dari jumlah tersebut, 40 persen di antaranya direncanakan dipasok dari anak perusahaan PLN, yaitu PT PLN Batubara.

Saat ini, pasokan batu bara untuk pembangkit listrik dari anak usaha PLN masih berada di level 10 persen dari total kebutuhan. Dengan ditingkatkannya pasokan batu bara dari anak usaha, diharapkan tarif listrik bisa stabil. (*/ctr/ndu2/k15)


BACA JUGA

Selasa, 18 September 2018 06:59
Permintaan Bertambah, Harga Acuan Meningkat

Batu Bara Kembali Menjadi Primadona

SAMARINDA - Kaltim bisa membantu pemerintah dalam memacu kinerja ekspor dan memperbaiki neraca perdagangan,…

Selasa, 18 September 2018 06:55

Tiongkok dan AS Jadi Tujuan Utama Ekspor

JAKARTA – Upaya pemerintah menggenjot ekspor masih belum menunjukkan hasil membanggakan. Badan…

Selasa, 18 September 2018 06:49

Wajib Pajak Tak Patuh Bakal Diperiksa

JAKARTA – Masyarakat diminta tak perlu takut menghadapi pemeriksaan pajak seiring keluarnya Surat…

Selasa, 18 September 2018 06:45

Sasar Komunitas Kaum Hawa

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (BBTN) menyasar komunitas kaum hawa sebagai nasabah tabungan dan kredit.…

Selasa, 18 September 2018 06:45

Lanjutkan Program Pengendalian Inflasi

BALIKPAPAN – Guna menekan laju inflasi di Kota Minyak, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI)…

Senin, 17 September 2018 07:11

Selamatkan Devisa lewat B20

SAMARINDA – PT Pertamina (Persero) terus mengintensifkan monitoring implementasi mandatori Biodiesel…

Senin, 17 September 2018 07:09

Asa Pariwisata Kota Minyak

BALIKPAPAN – Pemerintah tampaknya harus bekerja lebih serius dalam meningkatkan pariwisata. Minimnya…

Senin, 17 September 2018 07:05

Cocok dengan Medan Kaltim

SAMARINDA – Hadirnya produk baru, New Triton Athlete berhasil mendongkrak penjualan mobil Mitsubishi.…

Senin, 17 September 2018 07:02

Impor Barang Rp 1,1 Juta Kena Bea Masuk

JAKARTA – Pemerintah mengubah ketentuan batas nilai impor barang kiriman dengan mengenakan bea…

Senin, 17 September 2018 06:56

RI Poros Ekonomi Kreatif 2030

JAKARTA – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai salah satu poros…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .