MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Rabu, 23 Mei 2018 09:14
Terkecoh Masjid yang Diselubungi Kelambu Hitam

PROKAL.CO, LAPORAN DARI TOKYO: FAROQ ZAMZAMI *

BANGUNAN itu terselubung kelambu hitam. Besar. Menjuntai dari lantai lima hingga dasar. Membungkus seluruh gedung yang sekilas seperti rumah toko (ruko). Letaknya di pinggir jalan. Hanya terpisahkan trotoar tak lebih tiga meter dari jalan utama. Di tengah Kota Tokyo.

Yang membedakan dengan bangunan lain adalah kubah di bagian atas. Sekilas, selubung kelambu hitam itu membuat posisi kubah tersamarkan. Kecuali diperhatikan dengan saksama. Dari seberang jalan. Baru terlihat kubah dengan cat putih, di atasnya lambang bulan bintang warna hijau. Islam banget.

Inilah masjid di salah satu kawasan ikonik di Jepang, Asakusa. Salah satu daerah tujuan wisata yang terkenal dengan Kuil Sensoji dan Tokyo Sky Tree. Juga Sungai Sumida yang tepiannya sangat teduh dan bersih.

Selubung hitam yang menutup masjid karena bangunan sedang direnovasi. Salah satunya, ujar seorang mahasiswa Pakistan yang saya temui usai salat Zuhur, Senin (21/5), pukul 13.00 waktu setempat, karena ada kebocoran pipa. Jadi, salurannya diperbaiki total. Selebihnya rehabilitasi beberapa bagian luar bangunan yang didirikan sejak 1998 itu.

Namanya Masjid Dar Al-Arqam. Lebih dikenal sebagai Masjid Asakusa. Masjid Asakusa dikelola oleh Japan Mosque Foundation (JMF). Ini salah satu departemen dalam lembaga Islamic Circle of Japan.

Nama Darul Arqam sendiri, dalam sejarah Islam, sangat familier dan bernilai sangat tinggi. Darul Arqam merupakan rumah pertama tempat Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan Islam kepada sahabat. Secara sembunyi-sembunyi.

Sejumlah referensi menyebut, lokasinya terpencil wilayah bukit Shafa, Makkah. Yang merupakan kediaman salah satu sahabat Rasul, Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi. Yang masuk Islam pada usia 16 tahun.

Dari Stasiun Asakusa, menuju masjid itu bisa ditempuh dengan jalan kaki. Seperti kebiasaan warga Jepang. Jaraknya sekira 1,5 kilometer dari stasiun. Meski berjalan dengan kondisi puasa, sejauh satu kilometer lebih, siang hari, untuk menunaikan salat Zuhur, lelah dan haus tak terasa. Bisa jadi, walau matahari bersinar terang, tapi anginnya sejuk. Sehingga tak membuat dahaga. Menurut orang Jepang, cuaca saat ini sedang nyaman.

Bisa jadi juga karena jalannya beramai-ramai. Ada delapan orang. Lima jurnalis. Satu akademisi. Dua perwakilan Yakult Indonesia. Antonius Nababan, director Marketing Communication and Commercial (MCC), PT Yakult Indonesia Persada, adalah pimpinan rombongan kecil ini.

Setelah tiba di masjid saya mencoba mengukur-ukur bangunan dengan langkah kaki. Lebar masjid sekira tujuh langkah kaki dewasa. Sedangkan panjang ke belakang, sekira 20 langkah kaki.

Di pintu utama ada pelat oranye di bagian kiri, yang bertuliskan “La Ilaha Illallah”. Setelah pintu masuk, jamaah langsung menghadap tangga. Menuju lantai dua. Di sebelahnya ada keterangan tempat salat perempuan dan laki-laki.

Banyak aktivitas digelar di masjid berlantai lima ini. Tak hanya salat wajib lima waktu, salat Jumat, dan Tarawih seperti saat Ramadan sekarang, bangunan ini juga jadi tempat berkumpul umat muslim. Untuk menambah ilmu agama. Biasa mereka beraktivitas di lantai satu. Di lantai ini ada perpustakaan dan Islamic Center. Saat saya menengok ke lantai yang tengah direnovasi, ruangan disekat dengan kain. Lantainya dibalut ambal warna hijau. Di bagian dinding dipenuhi tumpukan dus air mineral. Persiapan untuk berbuka puasa.

Di lantai dua gedung jadi tempat salat khusus perempuan. Kapasitasnya sekira 35 jamaah. Di lantai ini juga tempat wudu. Tempat sujud laki-laki di lantai tiga. Bisa menampung sekira 45 orang. Saat menyambangi lantai itu, dua orang Pakistan sedang menghafal Alquran. Satu terus membaca, yang lain mengecek kebenaran hafalan rekannya.

Meski tengah konsentrasi, mereka menjawab salam dan menerima uluran tangan media ini. Belakangan baru saya tahu dari mahasiswa Pakistan yang ditemui usai salat, kalau mereka adalah imam dan pengurus masjid.

Imam dan pengurus masjid itu tinggal di lantai lima bangunan. Sementara lantai empat, biasa digunakan sebagai ruang makan. Bisa juga jadi tempat menginap warga muslim yang sedang dalam perjalanan.

Masjid ini juga biasa digunakan sebagai tempat pengikat janji suci alias akad nikah. Juga seperti awam masjid di Tanah Air, pengurus masjid ini juga melayani pengurusan hingga penguburan jenazah.

Razak, warga Pakistan lainnya, yang saya temui terlihat senang melihat tamu sesama muslim. Dia menjawab salam lantas senyum. “Saya memperhatikan Anda sejak datang tadi,” ujarnya, dengan bahasa Inggris.

Dia menawarkan, jika berkenan ikut berbuka puasa di masjid. Tiap hari masjid menyediakan iftar. Bahkan, pada hari tertentu, acara berbuka puasa dihadiri warga nonmuslim di sekitar masjid. Mereka mengajak warga lainnya untuk ikut merasakan hangatnya silaturahmi antarsesama saat berbuka puasa.

Tapi karena waktu berbuka masih lama, dan memang hanya mampir ke masjid untuk salat Zuhur, saya pun mengucapkan terima kasih dan pamit dengan Razak. Menurutnya, di Asakusa, umat muslim banyak merupakan warga Pakistan. Selebihnya dari negara lain. Seperti dari negara-negara di Timur Tengah. (rom/k11)

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .