MANAGED BY:
SABTU
23 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 23 Mei 2018 06:50
Penaikan Bunga Acuan Belum Efektif

Nilai Tukar Rupiah Kembali Terpuruk, NPL di Kaltim Masih Tinggi

-Dwi Ariyanto.

PROKAL.CO, SAMARINDA  – Setelah pekan lalu agak tenang setelah penaikan suku bunga oleh Bank Indonesia, pasar finansial kembali bergejolak. Rupiah kembali melemah parah. Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp 14.178 per USD. Di pasar modal, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga amblas 0,86 persen menuju 5.733,85.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memproyeksi rupiah bisa melemah hingga Rp 14.300 per USD sampai akhir Mei. Dia menilai, efek dari kenaikan bunga acuan BI tidak terlalu berdampak positif ke pelaku pasar karena hanya naik 25 bps. ”Respons BI agak terlambat dan hanya naik 25 bps, bukan 50 bps,” ujarnya.

Faktor lainnya, lanjut Bhima, adalah yield spread antara Treasury Bills (obligasi pemerintah AS) bertenor 10 tahun dan SBN (surat berharga negara) makin lebar. Yield Treasury Bills tenor 10 tahun naik cukup signifikan menjadi 3,11 persen. Sementara itu, SBN di tenor yang sama saat ini sebesar 7,3 persen. Dengan demikian, ada spread 419 basis poin. ”Lebarnya perbedaan yield menjadi indikasi investor cenderung melepas kepemilikan SBN,” katanya.

Direktur Penelitian Core Indonesia Mohammad Faisal menuturkan, selain faktor global, ada sejumlah faktor domestik yang ikut memengaruhi pasar. Yakni, adanya kekhawatiran kondisi instabilitas baru-baru ini. Fundamental ekonomi domestik juga masih lemah.

Dia pun menekankan, bahwa ketika sudah tembus batas psikologis Rp 14 ribu, rupiah makin susah dikendalikan. Dia menilai, selain intervensi cadangan devisa, diperlukan insentif tambahan dari kenaikan suku bunga acuan. ”Kenaikan 25 bps (basis poin) pekan lalu diharapkan dapat menstimulasi pasar, tapi ternyata masih kurang efektif,” ujarnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo kembali mengatakan, bahwa pelemahan rupiah merupakan murni pengaruh global. Mantan Menkeu itu membantah pendapat bahwa kebijakan BI menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin belum banyak berpengaruh untuk menenangkan pasar.

Dia menekankan, kenaikan bunga acuan juga disertai dengan bauran kebijakan BI yang lain, yaitu kebijakan makroprudensial dan operasi moneter. ”Kita tetap konsisten untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia di tengah situasi dunia yang sedang penuh ketidakpastian,” bebernya.

Senada dengan Agus, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengungkapkan, bahwa tekanan global memang masih cukup kuat. Hal tersebut disebabkan membaiknya sejumlah data ekonomi AS. Data-data makroekonominya tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Selain itu, terjadi pelemahan mata uang euro yang berdampak pada makin menguatnya USD.

”Gambaran ini menunjukkan bahwa kondisi globalnya menarik pelemahan di mata uang regional, termasuk Indonesia,” ujarnya. Dia mengatakan, BI tidak bisa melawan mekanisme pasar. ”Tapi, BI tetap ada di pasar jaga stabilitas rupiah, meskipun kita tidak lawan arah pasar itu sendiri,” ungkapnya.

Walau begitu, kata Dody, kondisi rupiah saat ini masih cukup fit. Posisi rupiah saat ini, menurut dia, memang menunjukkan bahwa pasar menghendaki di level tersebut. Pihaknya belum bisa memprediksi sampai kapan rupiah akan terus melemah.

Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Dwi Ariyanto mengatakan, kebijakan tersebut sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap penyaluran kredit. Karena tidak serta-merta kenaikan tersebut membuat seluruh perbankan menaikkan suku bunga. “Kebijakan kenaikan suku bunga acuan tersebut memiliki tujuan berbeda. Karena untuk memperkuat rupiah, maka perbankan tidak perlu khawatir akan dampaknya,” ujarnya.

Menurutnya,  efek kenaikan bunga acuan tersebut bergantung pada struktur pendanaan masing-masing bank. Sehingga tidak mesti dengan kenaikan bunga acuan bunga kredit akan naik. Sedangkan jika bank memilih untuk menahan suku bunga kredit, maka margin bunga bersih perbankan akan turun. “Banyak pertimbangan yang dilakukan, tidak hanya margin namun juga risiko lain harus dipertimbangkan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk kenaikan bunga perbankan juga harus mempertimbangkan perbaikan ekonomi Kaltim yang belum seperti yang diharapkan. Di mana, perbankan masih harus dihadapkan dengan non-performing loan (NPL) yang mencapai 6,57 persen. Atau di atas batas maksimum NPL, yaitu 5 persen. Meskipun sebenarnya NPL Kaltim terus mengecil, pada 2016 sempat 7,35 persen.

“Tentunya perbankan perlu kajian mendalam jika ingin meningkatkan suku bunga kredit,” tutupnya.

Terpisah, Landing Kredit Account Officer Bank Bukopin, Reza Setiawan mengatakan, kenaikan suku bunga tersebut tidak akan berpengaruh langsung. Memang kenaikan tersebut pastinya akan menjadi pertimbangan dalam mengatur strategi penyaluran kredit.

“Kita bersaing saja, kita kan punya service level agreement (SLA) dan kecepatan, kita akan tetap menjaga kepercayaan calon nasabah kredit,” ujarnya.

Kebijakan tersebut, menurut Reza, tentunya sudah merupakan keputusan yang baik. Sehingga, pihaknya kini harus lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit. Antisipasi dengan cara melihat masa depan bisnis yang ingin disalurkan kredit, harus benar-benar diperhatikan.

“Potensi NPL sebenarnya tidak terlalu signifikan. Keadaan ekonomi Kaltim juga membuat masyarakat berpikir untuk meminjam uang, karena kemampuan yang kurang untuk mengembalikan. Sehingga, NPL cenderung akan mengecil, namun jumlah penyaluran juga akan mengecil,” tutupnya. (ken/*/fri*/ctr/ndu2/k15)


BACA JUGA

Jumat, 22 Juni 2018 06:45

IHSG Berpeluang Rebound

JAKARTA – Pasar saham masih lesu setelah berakhirnya libur panjang. Aliran dana asing terus keluar.…

Jumat, 22 Juni 2018 06:44

Neraca Dagang Terancam Anjlok

JAKARTA – Performa negatif neraca dagang diprediksi berlanjut. Sepanjang periode Januari–April,…

Jumat, 22 Juni 2018 06:43

Stok dan Harga Daging Sapi Terkendali

SURABAYA – Kebutuhan daging sapi diprediksi tetap tinggi hingga sepekan setelah Hari Raya Idulfitri.…

Jumat, 22 Juni 2018 06:41

Indonesia Tuan Rumah FIABCI Dunia

JAKARTA - Federasi Real Estat dunia atau World Congress FIABCI memilih Indonesia sebagai tuan rumah…

Kamis, 21 Juni 2018 06:42

Triwulan I 2018, DPK Korporasi Meningkat

SAMARINDA – Dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan korporasi di Kaltim mengalami peningkatan pada…

Kamis, 21 Juni 2018 06:37

Tenant Capai Target, Rata-Rata Belanja Rp 1,2 Juta Per Orang

Badai ekonomi yang menimpa Kaltim tiga tahun lalu membuat geliat usaha berjalan lambat. Masyarakat yang…

Kamis, 21 Juni 2018 06:34

Arus Balik, Konsumsi Pertamax Naik 17 Persen

JAKARTA – Memasuki masa arus balik H+4 Lebaran 2018, Satuan Tugas (Satgas) PT Pertamina (Persero)…

Kamis, 21 Juni 2018 06:33

Petani Belum Merdeka

NGAWI – Musim panen padi sudah di depan mata. Namun bukannya senang, sejumlah petani di Ngawi…

Rabu, 20 Juni 2018 06:44

Tertarik, tapi Terbentur Persyaratan

BALIKPAPAN - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-day reverse repo rate sebesar 50…

Rabu, 20 Juni 2018 06:40

Juni, Inflasi Kaltim Diprediksi Terkendali

SAMARINDA - Meski beberapa harga pangan melambung sejak awal bulan, seperti ayam broiler, daging sapi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .