MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 23 Mei 2018 06:39
Menanti Kepastian Alih Kelola

Karyawan Chevron dan VICO Indonesia

GANGGU PSIKOLOGI: Produksi migas di Blok East Kalimantan, Attaka, dan Blok Sangasanga terancam menurun karena karyawan Chevron dan VICO Indonesia belum mendapatkan kejelasan proses alih kelola ke Pertamina Hulu Indonesia.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Meski secara tertulis nasib eksploitasi minyak dan gas (migas) di Blok East Kalimantan, Attaka, dan Blok Sangasanga diserahkan ke Pertamina, namun kejelasan karyawan yang ada di dalamnya belum menemui titik kesepakatan hingga injury time.

Diketahui, Blok Sangasanga yang dikelola VICO Indonesia kontraknya akan habis 8 Agustus ini dan akan dikelola oleh Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang menunjuk Pertamina Hulu Sangasanga (PHSS). Kemudian dilanjutkan Blok East Kalimantan pada 25 Oktober akan kembali ke pelukan bumi pertiwi setelah Chevron tidak melanjutkan lagi. Pertamina Hulu Kaltim (PHK) secara tertulis yang akan melanjutkan.

Dengan waktu yang terbilang sangat mepet itu, belum ada offering atau kepastian bagi karyawannya. Hal itu disampaikan Sekjen Serikat Pekerja VICO Indonesia Agus Irawan. Menurutnya, jika mengacu seperti Total Indonesie dulu, sejak dua tahun sebelumnya, mereka sudah mendapat offering.

“Nah kami, sampai sekarang belum ada menerima atau paling tidak kepastian. Padahal Agustus nanti, sudah proses alih kelola. Hal ini berdampak bagi psikologis pekerja. Tidak menutup kemungkinan produksi berpotensi menurun,” ujarnya dalam kunjungan menemui Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Subiyanto, Selasa (22/5).

Dijelaskannya, hulu migas ini membutuhkan waktu untuk melakukan pengeboran. Tidak langsung eksplorasi migas lalu berhasil. Pertamina Hulu Mahakam, sebelumnya saat masih Total Indonesie, sembilan atau delapan bulan sebelum alih kelola mereka sudah melakukan pengeboran atau aktivitas. Dilakukan oleh Pertamina. Kalau di VICO tidak ada sama sekali.

Sekarang ini, sambungnya, tidak ada kegiatan hulu yang dilakukan. Paling hanya memaksimalkan sumur yang masih beroperasi. Saat ini, kegelisahan itu sudah berdampak terhadap ritme kerja. Bahkan kata dia, bukan tak mungkin mengancam tingkat produksi.

Senada, Wakil Ketua Serikat Pekerja Nasional Chevron Indonesia (SPNCI) Robi Rahyadi mengaku, sampai saat ini kepastian terkait alih kelola belum ada. Sebenarnya, alih kelola diharapkan berjalan mulus seperti PHM. Pemerintah sebelumnya mengatakan, PHM akan menjadi acuan alih kelola. Fakta yang ada nasib karyawan di Blok East Kalimantan masih belum menemukan titik terang.

“Sekarang ini, 950-an pekerja Chevron Indonesia butuh kepastian. Belum lagi yang disoalkan adalah para kontraktor. Ada sekitar 3 ribu kontraktor yang masih menanti nasib,” terangnya.

Disebutkannya, sejatinya komunikasi sudah dilakukan. Tapi sampai saat ini, belum ada titik temu. Risiko timbulnya gejolak bisa saja terjadi. Aktivitas migas yang dilakukan saat ini hanya maintenance sumur yang masih beroperasi. Jika ada alih kelola, seharusnya sudah ada aktivitas dari Pertamina.

Ia juga menjelaskan, persoalan gross split ini cukup memberatkan bagi induk baru nantinya. Berbeda dengan PHM yang masih memakai skema awal. Skema baru ini, sarat akan modal di awal. Modal besar harus dikeluarkan di awal. Di samping itu, pengelolaan sumur di East Kalimantan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Sebelumnya, Ketua Umum Serikat Pekerja Nasional Chevron Indonesia (SPNCI) Farlistiono mengatakan, tahun ini pemerintah pusat memastikan PT Pertamina untuk mengelola Blok East Kalimantan dan Attaka dalam satu wilayah kerja, setelah berakhirnya kontrak Chevron, Oktober nanti.

Disebutkannya meski mendapat keringanan pada skema gross split masalah lain yang ditemukan adalah mekanisme abandonment and site restoration (ASR) atau penutupan sumur jadi kendala utama. Di situ mungkin jadi alasan kenapa Pertamina masih membutuhkan waktu. Khusus ASR yang menjadi kewajiban operator, dia menyebut butuh biaya sangat besar.

“Kalau pakai skema PSC Cost Recovery yang berlaku sebelumnya, itu ditanggung pemerintah. Tapi, dengan skema gross split, ASR jadi kewajiban operator,” bebernya.

Farlis mengatakan, biaya ASR untuk sumur offshore bisa mencapai USD 1 juta. Jauh lebih mahal ketimbang sumur onshore, yang hanya sekitar USD 35 ribu. Sedangkan lebih dari 300 sumur di Blok East Kalimantan dan Attaka, hampir semuanya adalah sumur offshore.

“Kami melihat, berlarutnya ketidakjelasan operator baru ini bisa memunculkan masalah baru. Waktu yang didapat masa peralihan beda dengan PHM. Sebagai contoh, alih kelola Blok Mahakam saja prosesnya sudah jalan sejak 2015. Perlu bertahun-tahun, bukan beberapa bulan saja. Finalnya pada 1 Januari lalu,” tuturnya.

Selain soal produksi, Farlis menjelaskan, posisi Blok East Kalimantan dan Attaka sangat penting terhadap wilayah kerja migas di Kalimantan. Saat ini, hanya sumur kelolaan Chevron itu yang memiliki terminal gas. Dari dua blok migas itu, gas disuplai ke PT Pupuk Kaltim, Pertamina RU V, dan Proyek Balikpapan City Gas.

“Data tahun 2016 menyebutkan, produksi di dua blok migas itu antara 25-30 ribu barel minyak per hari (BOPD). Sedangkan gas sekitar 67,75 MMBTU. Umur dua blok ini 50 tahun,” bebernya.

Ketua Serikat Pekerja PHM Budi Satria menuturkan, proses peralihan sampai berjalannya di bawah induk baru tidak ada masalah. Ritme kerja sama. Bahkan, pihaknya bisa menularkan ilmu kepada Pertamina.

“Kami sebelumnya, bekerja sesuai ritme dan aturan dari perusahaan migas internasional. Dengan pengalaman world class di dunia migas justru ketikan masuk ke perseroan, kami bisa menularkan apa yang kami terapkan. Ia harap, alih kelola blok lainnya bisa berjalan lancar. Ini adalah aset negara sewajarnya dimanfaatkan dengan baik,” tutupnya. (aji/ndu/k15)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 10:49

Banjir Samarinda Tidak Menyebabkan Inflasi

SAMARINDA- Banjir yang menggenangi Samarinda sejak Jumat (7/6) lalu ternyata…

Rabu, 19 Juni 2019 10:48

BERKAH..!! Ramadan Kerek Pendapatan PT Pos

BALIKPAPAN- PT Pos Indonesia (Persero) area Balikpapan berhasil membukukan pertumbuhan…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:06

Transaksi Nontunai Kaltim Menurun 8,71 Persen

SAMARINDA-Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Bank Indonesia-Real Time…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:01

Realisasi Investasi Capai Rp 9,24 Triliun

SAMARINDA-Pada 2019, Kaltim menargetkan realisasi investasi mencapai Rp 36,35 triliun.…

Sabtu, 15 Juni 2019 11:47

Optimistis Pariwisata Samarinda Makin Mantap, Ini Indikatornya

SAMARINDA-Sejak beroperasinya Bandara Udara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, pariwisata…

Jumat, 14 Juni 2019 15:58

Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi

JAKARTA – Jumlah cadangan devisa (cadev) RI turun terus sejak…

Jumat, 14 Juni 2019 14:08

Lion Air Bantah Utang Rp 614 T

Order 800 pesawat dikabarkan menyisakan utang besar bagi Lion Air.…

Kamis, 13 Juni 2019 14:54
Dampak Banjir di Samarinda

SEMENTARA SEPI..!! Pengunjung Lembuswana Turun 90 Persen

SAMARINDA- Tak hanya merendam 12 kelurahan, banjir di Samarinda juga…

Kamis, 13 Juni 2019 11:36

Tahu Usaha Menjanjikan

Udin (38), pembuat tahu dan tempe di Jalan Marsma Iswahyudi, Teluk…

Kamis, 13 Juni 2019 00:09

Pertanian Serap Tenaga Kerja Terbanyak

BALIKPAPAN – Berkembangnya perkebunan kelapa sawit di Bumi Etam berkontribusi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*