MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 21 Mei 2018 09:06
Balas Dendam Jumat Kedua

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

ALAMAT itu benar. Tetap benar. Masih benar. Masjidnya di rumah itu. Di pojokan itu. Di dalam pagar kayu yang rapat itu. Itulah satu-satunya rumah yang ada pagarnya di kota Hays, pedalaman negara bagian Kansas. Yang tidak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Begitulah hasil penelusuran saya. Terima kasih, pembaca ikut menelusuri keberadaannya.

Hari Jumat berikutnya saya ke pojokan itu lagi. Melewati pusat kota. Yang penuh dengan gereja. Satu deret jalan saja bisa ada tiga gereja. Beda aliran. Hampir berimpitan. Saya sengaja datang ke pojok itu agak telat: pukul 12.30 waktu setempat. Sepi. Masih sama: tidak ada napas yang terdengar. Saya coba tunggu di pinggir jalan. Sambil menulis naskah untuk Disway.

Saya satu-satunya orang yang menunggu entah apa di sebuah mobil satu-satunya yang parkir di kawasan itu. Uh, panjang banget kalimat ini ha-ha-ha. Setengah jam kemudian ada kejutan: sebuah pikap berhenti di depan yang seperti pintu itu (Lihat Disway edisi Jumat (18/5). Di bak mobilnya ada tangga. Ada kaleng cat.

Pengemudinya turun. Bawa tangga. Masuk ke yang seperti pintu itu. Tanpa prosedur. Seperti pemilik rumah. Setidaknya seperti sudah biasa masuk pekarangan itu. Orang bule. Badannya gemuk. Pakai jeans. Sepatu proyek. Cambang dan kumisnya lebat. Memutih.

Saya turun dari mobil. Melongok ke dalam yang seperti pintu itu. Saya ucapkan salam ke si gendut itu: hai... good afternoon. Ia menyambut dengan ramah. Saya perkenalkan diri. Dia juga. Ternyata dia kontraktor. Yang akan memperbaiki pagar bangunan itu.

Pada jam-jam yang saya kira mau Jumatan. Ia mengatakan lagi survei. Untuk memasang tanda. Sesuai dengan kontrak dengan owner-nya. Agar orang tahu rumah apa ini. Ialah yang memberi tahu saya: ini tempat orang Islam kumpul. “Mana orangnya?” tanya saya.

Si Gendut geleng-geleng kepala. Ia tidak tahu. Tidak tahu apa-apa. Tapi ia baik sekali. “Saya kenal pemiliknya ini,” katanya. “Namanya Sayed. Saya berteman dengan Sayed. Memberi beberapa kali pekerjaan kecil,” katanya.

Ia pun merogoh saku. Ambil handphone. Ia bicara dengan yang disebut Sayed. Tentang pekerjaan yang akan ia lakukan di situ. Lalu menceritakan ada orang Indonesia. Ingin sembahyang. Setelah mendengar penjelasan yang disebut Sayed ia menepuk bahu saya: “Sembahyangnya nanti pukul 14.30. Anda kembali lagi saja nanti pada jam itu. Jangan tanya-tanya saya. Saya tidak tahu apa-apa.”

Lalu ia pulang. Meninggalkan saya sendirian di halaman sempit itu. Saya teringat persis kata-kata si gendut baik hati. Salat Jumat pukul 14.30? Hah? Salat Jumat aliran apa ini? Di Indonesia pukul 12.30 sudah selesai. Paling telat, kalau kotbahnya egois, pukul 13.00. Bergantung pula jam pergeseran mataharinya.

Jam berapa pun, ini menarik. Setidaknya sudah ada pertanda-pertanda. (Bagi yang suka membaca novel-novel Paulo Coelho tentu tahu, istilah “pertanda-pertanda” itu sangat dalam artinya). Saya tidak mau balik lagi. Saya akan tunggu di situ saja. Dua jam lagi. Saya harus memanfaatkan pertanda-pertanda itu.

Kalau benar ini yang disebut masjid, tentu boleh masuk. Kenapa tidak. Sudah ada pertanda-pertanda. Saya naiki tangga teras kecil. Tangga kayu. Teras kayu. Saya dorong pintunya. Tidak terkunci. Upss... terlihat dapur. Agak berantakan. Saya lebih melongok lagi: ada pintu toilet.

Tiba-tiba saya ingin kencing. Dorongan ingin kencing membuat saya masuk rumah itu. Habis kencing saya dorong pintu yang lain: hamparan sajadah. Ini dia. Masjid yang sebenarnya. Bukan lagi pertanda-pertanda. Di hamparan karpet tebal itulah saya menanti. Menunggu datangnya pukul 14.30. Sendirian. Sepi. Sunyi. (dis/rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Sabtu, 13 Oktober 2018 01:36

Prewedding di Sudut-Sudut Sumba

SAYA ke Sumba lagi. Tidur di padang sabana lagi. Lagi-lagi ke Sumba. Minggu lalu adalah “minggu…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .