MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 21 Mei 2018 09:06
Balas Dendam Jumat Kedua

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

ALAMAT itu benar. Tetap benar. Masih benar. Masjidnya di rumah itu. Di pojokan itu. Di dalam pagar kayu yang rapat itu. Itulah satu-satunya rumah yang ada pagarnya di kota Hays, pedalaman negara bagian Kansas. Yang tidak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Begitulah hasil penelusuran saya. Terima kasih, pembaca ikut menelusuri keberadaannya.

Hari Jumat berikutnya saya ke pojokan itu lagi. Melewati pusat kota. Yang penuh dengan gereja. Satu deret jalan saja bisa ada tiga gereja. Beda aliran. Hampir berimpitan. Saya sengaja datang ke pojok itu agak telat: pukul 12.30 waktu setempat. Sepi. Masih sama: tidak ada napas yang terdengar. Saya coba tunggu di pinggir jalan. Sambil menulis naskah untuk Disway.

Saya satu-satunya orang yang menunggu entah apa di sebuah mobil satu-satunya yang parkir di kawasan itu. Uh, panjang banget kalimat ini ha-ha-ha. Setengah jam kemudian ada kejutan: sebuah pikap berhenti di depan yang seperti pintu itu (Lihat Disway edisi Jumat (18/5). Di bak mobilnya ada tangga. Ada kaleng cat.

Pengemudinya turun. Bawa tangga. Masuk ke yang seperti pintu itu. Tanpa prosedur. Seperti pemilik rumah. Setidaknya seperti sudah biasa masuk pekarangan itu. Orang bule. Badannya gemuk. Pakai jeans. Sepatu proyek. Cambang dan kumisnya lebat. Memutih.

Saya turun dari mobil. Melongok ke dalam yang seperti pintu itu. Saya ucapkan salam ke si gendut itu: hai... good afternoon. Ia menyambut dengan ramah. Saya perkenalkan diri. Dia juga. Ternyata dia kontraktor. Yang akan memperbaiki pagar bangunan itu.

Pada jam-jam yang saya kira mau Jumatan. Ia mengatakan lagi survei. Untuk memasang tanda. Sesuai dengan kontrak dengan owner-nya. Agar orang tahu rumah apa ini. Ialah yang memberi tahu saya: ini tempat orang Islam kumpul. “Mana orangnya?” tanya saya.

Si Gendut geleng-geleng kepala. Ia tidak tahu. Tidak tahu apa-apa. Tapi ia baik sekali. “Saya kenal pemiliknya ini,” katanya. “Namanya Sayed. Saya berteman dengan Sayed. Memberi beberapa kali pekerjaan kecil,” katanya.

Ia pun merogoh saku. Ambil handphone. Ia bicara dengan yang disebut Sayed. Tentang pekerjaan yang akan ia lakukan di situ. Lalu menceritakan ada orang Indonesia. Ingin sembahyang. Setelah mendengar penjelasan yang disebut Sayed ia menepuk bahu saya: “Sembahyangnya nanti pukul 14.30. Anda kembali lagi saja nanti pada jam itu. Jangan tanya-tanya saya. Saya tidak tahu apa-apa.”

Lalu ia pulang. Meninggalkan saya sendirian di halaman sempit itu. Saya teringat persis kata-kata si gendut baik hati. Salat Jumat pukul 14.30? Hah? Salat Jumat aliran apa ini? Di Indonesia pukul 12.30 sudah selesai. Paling telat, kalau kotbahnya egois, pukul 13.00. Bergantung pula jam pergeseran mataharinya.

Jam berapa pun, ini menarik. Setidaknya sudah ada pertanda-pertanda. (Bagi yang suka membaca novel-novel Paulo Coelho tentu tahu, istilah “pertanda-pertanda” itu sangat dalam artinya). Saya tidak mau balik lagi. Saya akan tunggu di situ saja. Dua jam lagi. Saya harus memanfaatkan pertanda-pertanda itu.

Kalau benar ini yang disebut masjid, tentu boleh masuk. Kenapa tidak. Sudah ada pertanda-pertanda. Saya naiki tangga teras kecil. Tangga kayu. Teras kayu. Saya dorong pintunya. Tidak terkunci. Upss... terlihat dapur. Agak berantakan. Saya lebih melongok lagi: ada pintu toilet.

Tiba-tiba saya ingin kencing. Dorongan ingin kencing membuat saya masuk rumah itu. Habis kencing saya dorong pintu yang lain: hamparan sajadah. Ini dia. Masjid yang sebenarnya. Bukan lagi pertanda-pertanda. Di hamparan karpet tebal itulah saya menanti. Menunggu datangnya pukul 14.30. Sendirian. Sepi. Sunyi. (dis/rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 19 Juni 2018 08:38

Karena Orang Gemuk Lemaknya Putih

OLEH: DAHLAN ISKAN SEJUMLAH lalat dimasukkan dalam kotak percobaan. Suhu dalam kotak itu 40 derajat…

Senin, 18 Juni 2018 07:47

e-Money Tiga Izin

OLEH: DAHLAN ISKAN SESEORANG kirim video ke saya: makan di kaki lima dengan bayar pakai handphone. “Sudah…

Selasa, 12 Juni 2018 08:56

Masjid di Depok-nya Dallas

OLEH: DAHLAN ISKAN SAYA sengaja tidak bermalam di Dallas. Sudah sering. Cari tempat parkirnya sulit.…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:52

Menjadi Aneh di Hussainiah

KAMI masih nyamil saat sang imam maju ke tempatnya. Ada 20-an orang di dalam masjid Syiah di San Antonio,…

Rabu, 06 Juni 2018 12:56

Ke Mana Anwar Ibrahim?

OLEH: DAHLAN ISKAN EJEK-mengejek mulai terjadi di Malaysia. Saat reformasi baru akan berumur satu bulan.…

Senin, 04 Juni 2018 08:43

Silaturahmi Lintas Negara di Masjid Laredo

OLEH: DAHLAN ISKAN SAYA datang terlalu awal. Pukul delapan malam. Matahari masih bersinar perkasa. Pintu…

Minggu, 03 Juni 2018 07:37

Akal Sehat Kereta Cepat

OLEH: DAHLAN ISKAN AKHIRNYA akal sehat yang menang: Mahathir Muhamad membatalkan proyek kereta cepat…

Sabtu, 02 Juni 2018 01:50

Hotel Sapi

COWBOY  hilang karena sapi. Sapi hilang karena kereta api. Cowboy dan sapi ketemu lagi: di dekat…

Jumat, 01 Juni 2018 08:16

Putri Zainah, Mantan Istri yang Selamat

Bagaimana kasus 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang mengguncang Malaysia itu berawal? Yang membuat…

Kamis, 31 Mei 2018 09:13

Rosmah setelah Tinggalkan Penyiar TV (1)

OLEH: DAHLAN ISKAN INI adegan pertama. Bintang utamanya dua; Xavier dan Clare. Dua nama yang minggu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .