MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 21 Mei 2018 09:06
Balas Dendam Jumat Kedua

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

ALAMAT itu benar. Tetap benar. Masih benar. Masjidnya di rumah itu. Di pojokan itu. Di dalam pagar kayu yang rapat itu. Itulah satu-satunya rumah yang ada pagarnya di kota Hays, pedalaman negara bagian Kansas. Yang tidak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Begitulah hasil penelusuran saya. Terima kasih, pembaca ikut menelusuri keberadaannya.

Hari Jumat berikutnya saya ke pojokan itu lagi. Melewati pusat kota. Yang penuh dengan gereja. Satu deret jalan saja bisa ada tiga gereja. Beda aliran. Hampir berimpitan. Saya sengaja datang ke pojok itu agak telat: pukul 12.30 waktu setempat. Sepi. Masih sama: tidak ada napas yang terdengar. Saya coba tunggu di pinggir jalan. Sambil menulis naskah untuk Disway.

Saya satu-satunya orang yang menunggu entah apa di sebuah mobil satu-satunya yang parkir di kawasan itu. Uh, panjang banget kalimat ini ha-ha-ha. Setengah jam kemudian ada kejutan: sebuah pikap berhenti di depan yang seperti pintu itu (Lihat Disway edisi Jumat (18/5). Di bak mobilnya ada tangga. Ada kaleng cat.

Pengemudinya turun. Bawa tangga. Masuk ke yang seperti pintu itu. Tanpa prosedur. Seperti pemilik rumah. Setidaknya seperti sudah biasa masuk pekarangan itu. Orang bule. Badannya gemuk. Pakai jeans. Sepatu proyek. Cambang dan kumisnya lebat. Memutih.

Saya turun dari mobil. Melongok ke dalam yang seperti pintu itu. Saya ucapkan salam ke si gendut itu: hai... good afternoon. Ia menyambut dengan ramah. Saya perkenalkan diri. Dia juga. Ternyata dia kontraktor. Yang akan memperbaiki pagar bangunan itu.

Pada jam-jam yang saya kira mau Jumatan. Ia mengatakan lagi survei. Untuk memasang tanda. Sesuai dengan kontrak dengan owner-nya. Agar orang tahu rumah apa ini. Ialah yang memberi tahu saya: ini tempat orang Islam kumpul. “Mana orangnya?” tanya saya.

Si Gendut geleng-geleng kepala. Ia tidak tahu. Tidak tahu apa-apa. Tapi ia baik sekali. “Saya kenal pemiliknya ini,” katanya. “Namanya Sayed. Saya berteman dengan Sayed. Memberi beberapa kali pekerjaan kecil,” katanya.

Ia pun merogoh saku. Ambil handphone. Ia bicara dengan yang disebut Sayed. Tentang pekerjaan yang akan ia lakukan di situ. Lalu menceritakan ada orang Indonesia. Ingin sembahyang. Setelah mendengar penjelasan yang disebut Sayed ia menepuk bahu saya: “Sembahyangnya nanti pukul 14.30. Anda kembali lagi saja nanti pada jam itu. Jangan tanya-tanya saya. Saya tidak tahu apa-apa.”

Lalu ia pulang. Meninggalkan saya sendirian di halaman sempit itu. Saya teringat persis kata-kata si gendut baik hati. Salat Jumat pukul 14.30? Hah? Salat Jumat aliran apa ini? Di Indonesia pukul 12.30 sudah selesai. Paling telat, kalau kotbahnya egois, pukul 13.00. Bergantung pula jam pergeseran mataharinya.

Jam berapa pun, ini menarik. Setidaknya sudah ada pertanda-pertanda. (Bagi yang suka membaca novel-novel Paulo Coelho tentu tahu, istilah “pertanda-pertanda” itu sangat dalam artinya). Saya tidak mau balik lagi. Saya akan tunggu di situ saja. Dua jam lagi. Saya harus memanfaatkan pertanda-pertanda itu.

Kalau benar ini yang disebut masjid, tentu boleh masuk. Kenapa tidak. Sudah ada pertanda-pertanda. Saya naiki tangga teras kecil. Tangga kayu. Teras kayu. Saya dorong pintunya. Tidak terkunci. Upss... terlihat dapur. Agak berantakan. Saya lebih melongok lagi: ada pintu toilet.

Tiba-tiba saya ingin kencing. Dorongan ingin kencing membuat saya masuk rumah itu. Habis kencing saya dorong pintu yang lain: hamparan sajadah. Ini dia. Masjid yang sebenarnya. Bukan lagi pertanda-pertanda. Di hamparan karpet tebal itulah saya menanti. Menunggu datangnya pukul 14.30. Sendirian. Sepi. Sunyi. (dis/rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 08:19

Antara Bali dan Jakarta

OLEH: DAHLAN ISKAN SIAPA saja boleh minta dibonceng Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan sepeda gunungnya.…

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:07

Superman Itu Tetangganya Sendiri

Merdeka! Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam. Merdeka! Dan Turki berhasil…

Kamis, 16 Agustus 2018 08:56

Tit-for-Tat setelah Telat 30 Menit

OLEH: DAHLAN ISKAN HANYA karena telat 30 menit. Harus bayar Rp 100 miliar. Betapa mahal perang…

Rabu, 15 Agustus 2018 08:52

Ujian Lira untuk Menantu-Mertua

  Oleh: Dahlan Iskan MASIH belum ada langkah nyata di Turki. Baru sebatas tekad: akan mengatasinya.…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:14

Sabun Batu untuk Segala Tipe

OLEH: DAHLAN ISKAN WAKTU mandi saya kini lebih lama. Sedikit. Terutama setelah baca buku ini: Real World…

Senin, 13 Agustus 2018 11:32

Tidak Ada Tit for Tat di Lira

OLEH: DAHLAN ISKAN SAYA waswas. Seminggu ke depan ini. Penuh tanda tanya: apakah Turki kuat. Atau kian…

Minggu, 12 Agustus 2018 08:02

Angkatan Darat-Laut-Udara Pun Tidak Cukup

OLEH: DAHLAN ISKAN KOK seperti tidak aman lagi. Kok seperti tidak tenang lagi. Kok seperti tidak damai…

Sabtu, 11 Agustus 2018 02:03

Tafsir Wapres untuk Nasib Sendiri

MULTITAFSIR. Mengapa Joko Widodo (Jokowi) pilih Ma’ruf Amin. Dan mengapa Prabowo Subianto pilih…

Jumat, 10 Agustus 2018 09:01

Ciputra di Tengah Siapa Pun Cawapresnya

OLEH: DAHLAN ISKAN SIAPA pun calon wakil presiden (cawapresnya) saya pilih Ciputra. Ketulusan Ciputra…

Kamis, 09 Agustus 2018 09:04

Perang Dagang Sampai ke Caviar

Oleh: Dahlan Iskan MAKANLAH caviar. Sesekali. Atau sekali seumur hidup. Sekadar untuk tahu mengapa Amerika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .