MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 20 Mei 2018 07:52
Diduga Ada Permainan Distributor, Pemprov Awasi Pemasok
Stok Aman tapi Harga Meroket
ilustrasi

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pada saat stok aman, justru harga keperluan pokok di Kaltim malah meroket. Celakanya, masalah yang muncul hampir saban tahu setiap Ramadan itu kerap tanpa solusi. Pemerintah seolah tak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan harga. Mau tak mau, warga harus menerima kenyataan tersebut.

Memasuki hari kedua Ramadan, harga daging ayam terus mengalami kenaikan di Samarinda. Kenaikan berkisar Rp 5–15 ribu dari harga sebelumnya. Berdasarkan pantauan Kaltim Post kemarin (19/5) di Pasar Inpres, Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang, harga daging ayam sudah mencapai Rp 40–50 ribu per kilogram.

Pedagang daging ayam, Baron, menuturkan bahwa sepekan sebelumnya, harga ayam potong sudah meroket. Namun, itu karena stok ayam memang sedang kosong. “Sekarang stok ayam sudah ada, bahkan banyak. Tapi, harga justru tetap saja mahal,” ujar dia. Sebelumnya, dia mencatat, harga ayam hanya berkisar Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram.

Senada, Mandariah, pedagang daging ayam di Pasar Segiri, Samarinda. Dia mengungkapkan, harga daging ayam hingga saat ini masih tinggi meski kenaikan harga itu memang sudah terjadi sejak awal tahun. “Sebelumnya, daging ayam potong hanya kisaran Rp 30 ribu. Sekarang sudah mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Itu untuk berat ayam sekitar satu setengah kilogram,” ucap dia.

Para pedagang yang dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui pasti terkait penyebab harga ayam potong yang terus mengalami kenaikan. Namun, mereka menduga harga daging ayam potong tidak kunjung turun karena kuatnya monopoli para pemasok.

Adapun harga keperluan pokok lain di pasar masih fluktuatif. Cabai rawit misalnya, berdasarkan pantauan di Pasar Inpres, Samarinda, dijual Rp 37 ribu per kilogram. Sementara di Pasar Kedondong dijual Rp 34 ribu per kilogram. 

Untuk cabai keriting dan merah, perbedaan harga antara Pasar Inpres dan Kedondong berkisar Rp 7 ribu. Di Pasar Inpres, harga cabai keriting dan merah masing-masing Rp 38 ribu dan Rp 42 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Kedondong, harga cabai keriting dan merah masing-masing Rp 40 ribu dan Rp 50 ribu per kilogram. “Dari Sulawesi lebih murah dibanding barang asal Surabaya,” ucap Lili, pedagang di Pasar Kedondong.

Meroketnya harga keperluan pokok tersebut tak hanya terjadi di Samarinda. Di Balikpapan juga mengalami hal yang sama. Di Pasar Klandasan, ayam ukuran besar dengan kondisi bersih tanpa bulu dan jeroan, dengan berat 1,3 kilogram, harganya mencapai Rp 65 ribu. Padahal, biasanya Rp 50 ribu per ekor. Sementara untuk ayam ukuran kecil yang biasanya Rp 30–35 ribu, sekarang sudah Rp 45 ribu per ekor.

“Saya ambilnya sudah mahal. Rp 25.500 per kilogram,” kata Baruli, pedagang ayam di Pasar Klandasan. Dia berharap, pemerintah bisa menekan harga ayam dari tingkat peternak dan pemodal. “Buktinya di luar, harga ayam beku itu masih bisa miring,” tambahnya. Untuk pasokan ayam, menurut dia, ada saja. Namun, diakui, berkurang jumlahnya. Dari yang biasanya 200–250 ekor per hari, beberapa hari terakhir dia hanya dapat jatah 50–70 ekor per hari.

Sementara itu, harga sayuran terpantau normal. Termasuk harga bawang yang justru mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 45 ribu per kilogram menjadi Rp 35 ribu per kilogram. Begitu juga dengan harga minyak dan beras yang stabil. Namun, harga telur juga mulai naik meski pasokan dari Surabaya, Sulawesi, dan lokal terpantau lancar.

“Biasa kan, karena permintaan sangat kencang, di sana di Surabaya mainkan harga, akhirnya naik,” kata Muhammad Hasan Basri, pedagang telur di Pasar Klandasan. Untuk telur dari Surabaya, dia mengambil dari pengepul di Pasar Pandansari. Sedangkan telur dari Sulawesi, dia mengambil langsung dari pengepul di Sulawesi. Sedangkan telur lokal, kata dia, distributornya adalah Manuntung Raya.

Harga telur yang dia jual saat ini naik dari sebelumnya Rp 1.300 per butir menjadi Rp 1.600 per butir untuk ukuran kecil atau Rp 48 ribu per piring. Sementara untuk ukuran besar sampai Rp 60 ribu per piring atau Rp 2.000 per butir. Padahal, biasanya maksimal Rp 51 ribu per piring.

Adapun sejumlah pedagang mulai menaikkan harga daging sapi kisaran Rp 5.000 per kilogram. Namun, pada umumnya, kenaikan masih tahap normal. “Masih biasa saja. Harganya Rp 120–125 ribu per kilogram untuk daging kualitas I. Kami ambil sapi dari Gorontalo,” kata Agus Suryansyah, pedagang daging sekaligus ketua Pedagang Pasar Klandasan.

Diwawancarai terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Kaltim Fuad Asadin menuturkan, berdasarkan prognosis ketersediaan, produksi pangan khususnya keperluan pokok di Kaltim memasuki Ramadan aman.

Bahkan, stok pangan rata-rata mampu bertahan tiga sampai empat bulan. Stok pangan di Kaltim nyaris tidak ada kendala berarti. Begitu pula dengan harga. Semua produk bisa dikontrol. Pun jika ada kenaikan tidak terlalu besar.

“Tapi, memang, ada masalah dengan daging ayam. Akibat pelarangan antibiotik, pemasok mengaku produksi ayam turun. Pantauan di pasar, stok ayam cukup saja, tapi tetap mengalami kenaikan,” ucap Fuad Asadin ketika dikonfirmasi kemarin.

Terkait kenaikan harga ayam potong ini, dia memastikan segera mencari solusinya bersama Dinas Peternakan Kaltim. Meski harga daging ayam melambung tinggi, dia mengaku tidak kehabisan akal.

Pihaknya sudah menghubungi pemasok dan pedagang daging kerbau. Mereka bersedia memasok daging lebih banyak sebagai alternatif pilihan masyarakat dengan tingginya harga daging ayam potong. Pasokan itu bakal mulai didistribusikan dalam satu sampai dua hari ke depan.

Data prognosis Disperindagkop Kaltim mencatat, untuk keperluan pokok utama di Kaltim mampu bertahan tiga sampai enam bulan sejak April. Minyak goreng misalnya, saat ini stoknya mencapai 42.275 liter. Estimasi kebutuhan selama Ramadan berkisar 10.697 liter. Dengan stok minyak sebanyak itu, bisa bertahan hingga empat bulan ke depan. Artinya hingga Idulfitri dipastikan stok aman untuk keperluan warga.

Begitu pula dengan stok daging ayam yang hingga saat ini tercatat mencapai 26.090 ton. Estimasi keperluan hanya 7.080 ton. Stok itu mampu bertahan hingga 3,7 bulan ke depan. (lihat infografis)

Soal ketahanan keperluan pokok, Asisten Administrasi Umum Sekprov Kaltim Bere Ali pun angkat bicara. Dia memastikan stok keperluan pokok sangat aman. Itu dia yakini setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak di beberapa pasar di Kota Tepian, Kamis (17/5). “Stok aman, mestinya tidak ada lonjakan harga yang drastis. Kalau ada tidak tinggi dan masih terjangkau oleh warga,” tegas dia.

Adapun terkait harga daging ayam yang mengalami kenaikan drastis, dia memastikan instansi terkait, yakni Dinas Peternakan, bakal turun tangan mengatasi hal tersebut.

Fuad Asadin menyampaikan, selain stok yang aman, pihaknya sudah memastikan distribusi keperluan pokok ke 10 kabupaten/kota tidak mengalami kendala. Meski, Ramadan ini terjadi hujan dengan intensitas sedang.

“Bongkar-muat keperluan pokok di pelabuhan kami pastikan juga aman. Khusus Kukar dan Mahulu mendapat perhatian khusus. Karena masih ada masalah akses jalan yang rusak di sejumlah titik. Daerah lain tidak ada kendala, bahkan Berau sudah bisa mengendalikan harga kebutuhan pokoknya sendiri,” paparnya.

Dikatakan, melonjaknya harga keperluan pokok diduga adanya permainan distributor. Salah satunya penimbunan barang. Kondisi itu bisa berdampak pada harga barang. Hal tersebut yang dia khawatirkan.

Nah, demi mengantisipasi hal tersebut, distributor diwajibkan mendaftarkan dan melaporkan aktivitas usahanya secara berkala ke Kementerian Perdagangan. Pendaftaran dan laporan berkala itu bersifat wajib. Jika pengusaha tidak mengurusnya, izin usaha diancam bakal dicabut.

“Tujuannya selain mengantisipasi permainan distributor untuk mengatrol harga, juga untuk memastikan stok pangan. Apabila ada penyimpangan seperti penimbunan, tentu ada sanksinya. Apalagi selama Ramadan, hari raya Idulfitri dan Iduladha, Natal, dan tahun baru,” pungkasnya. (*/and*/him/rom/k8)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 13:00

Ini Dia Motif Motif Pembunuhan Pasangan Suami Istri di Balikpapan Itu...

BALIKPAPAN - Perkara utang diduga menjadi penyebab tersangka menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri)…

Rabu, 19 September 2018 12:00

Ngga Jelas, Ternyata Kilang Bontang Masih Tunggu Investor

BONTANG – Pembangunan kilang minyak di Bontang belum ada kejelasan. Pemerintah belum memutuskan…

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .