MANAGED BY:
RABU
14 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 19 Mei 2018 01:35
Keluhkan Tata Letak Tenant Bandara
PICU GEJOLAK: Tenant Peyek Kepiting Kampoeng Timoer yang sendirian di salah satu sudut di Terminal Keberangkatan Bandara Sepinggan. Sementara tenant lainnya belum dipindah dari posisi semula.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN –   Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, sepertinya tak lepas dari sorotan. Setelah polemik angkutan umum, kini masalah tata letak tenant usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendatangkan keluhan.

Kemarin (18/5), warga Balikpapan ramai memperbincangkan masalah Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara yang dituding melakukan diskriminasi terhadap pelaku UMKM. Bahkan, persoalan tersebut viral di dunia maya.

Semua itu bermula dari Filsa Budi Ambia yang berkeluh kesah lewat akun miliknya, Facebook. Filsa adalah pengusaha muda di Kota Minyak pemilik usaha Peyek Kepiting Kampoeng Timoer. Salah satu stan miliknya berada di terminal keberangkatan Bandara Sepinggan.

Usaha yang dijalankan Filsa cukup diapresiasi. Karena mengangkat ciri khas lokal, Filsa juga kerap mendapat penghargaan, salah satunya dari wali kota Balikpapan. Dalam cuitannya di media sosial, Filsa bercerita ketidakadilan yang dialami pelaku UMKM yang ingin melebarkan usaha di bandara.

“Memang saya hanya UKM kecil yang mungkin enggak ada apa-apanya di mata kalian. Tapi jika kalian berlaku tidak adil, ya sudah sewajarnya saya mempertanyakannya,” tulis Filsa dalam unggahan yang dia beri judul “Diskriminasi UKM di Bandara Sepinggan?” tersebut.

Tidak adil yang dia maksud, dia diminta untuk merelokasi stan miliknya yang ada di terminal keberangkatan. Dengan alasan, lokasi yang ditempati sekarang adalah areal publik dan keberadaan stan menutup taman. Padahal, kontraknya dengan Angkasa Pura I untuk menempati lokasi tersebut berlangsung Januari–Juni 2018. 

Posisi stan milik Filsa awalnya berada di sebelah kiri jalan menuju ruang tunggu. Lokasinya di depan pintu check-in Garuda dan Citilink. Di lokasi itu ada beberapa brand lain seperti Polo, Mantau Blue Sky, Chatime. Di sebelah kanan pintu masuk ke ruang tunggu, di depan pintu check-in Lion Air, juga ada tenant brand nasional, salah satunya Keris.

Filsa bercerita bahwa semua tenant yang ada di kanan-kiri jalan masuk ruang tunggu, khusus di depan pintu check-in Garuda dan Lion Air akan direlokasi. Faktanya, saat ini hanya stan miliknya yang dipindah. Sementara tenant lainnya tidak. Lokasi tenant-nya pun sangat tidak strategis, yakni di pojok terminal keberangkatan, di sebelah luar jalur check-in Garuda Indonesia.

“Jangankan orang. Hantu saja enggak ada yang lewat,” tulis Filsa menggambarkan lokasi stan miliknya. Sementara itu, dia harus menanggung biaya sewa yang tetap. Termasuk aturan adanya konsesi 10 persen dari omzet yang disepakati dalam kontrak awal. Meski omzet tak mencapai target tetap dikenai konsesi tersebut tanpa keringanan.

“Dan yang membuat saya terdorong menulis ini adalah, tujuh tenant yang lain itu kapan pindahnya? Sudah dua bulan ini mereka enggak direlokasi juga. Ada apa? Apa karena saya cuma UKM dan mereka brand besar?” kecamnya.

“Perlu diingat, saya punya outlet di bandara bukan karena surat sakti atau Anda kasih gratisan. Saya bayar! Silakan dicek, saya bayar sewanya pun mengikuti syarat yang ada. Bahkan, harganya sama dengan yang disewa brand-brand besar itu, tetap saya terima,” tambahnya.

Cuitan Filsa itu diunggah dini hari sekitar pukul 04.00 Wita kemarin. Pada pukul 09.00 Wita, sudah lebih dari 500 kali dibagikan oleh warganet. Sampai pukul 21.00 Wita, unggahan tersebut sudah 1.600 kali dibagikan dan lebih dari 1.700 komentar. 

Sebelumnya, kejadian di Bandara Sepinggan juga menyedot perhatian warganet. Ini setelah beredar video penertiban taksi gelap dan taksi online. Dalam video tersebut, terlihat sopir dihukum berlari oleh beberapa personel TNI AU karena mengambil penumpang di bandara. Angkasa Pura I memang melarang taksi penumpang mengambil penumpang di bandara. 

Sementara itu, ketika dihubungi media ini, Filsa masih berada di Jogjakarta. Adapun Kepala Operasional Peyek Kepiting Kampoeng Timoer Worro ketika ditemui di pabrik di Kampung Timur menceritakan kronologinya.

Dia bercerita, pada September 2017, ingin membuka outlet di bandara. Setelah mendapat penjelasan aturan main, termasuk adanya konsesi sebesar 10 persen, Kampoeng Timoer diluncurkan pada 1 Oktober 2017.

“Pada waktu meninjau lokasi, saya mau outlet saya di depan check-in bandara. Pas, ada. Tapi luasnya cuma 12 meter persegi. Enggak masalah, saya ambil. Sewanya per meter Rp 375 ribu. Itu kami benar-benar diwanti-wanti, stan harus bagus. Jangan sampai mengganggu estetika. Makanya kami benar-benar memperhatikan bentuk stan kami,” kata dia.

Konsesi adalah setoran wajib kepada Angkasa Pura I sebesar 10 persen dari target omzet yang disepakati pada waktu kontrak awal. Untuk tiga bulan masa percobaan, Kampoeng Timoer ditarget meraup omzet Rp 90 juta per bulan. Artinya, nilai konsesi yang harus dibayar setiap bulan sebesar Rp 9 juta, belum termasuk PPN 10 persen.

“Bulan pertama kami cuma dapat omzet Rp 60 juta. Tapi tetap konsesi yang harus dibayarkan Rp 9 juta ditambah pajak Rp 900 ribu. Bulan kedua kami dapat Rp 80 juta. Bulan ketiga pas, tidak untung, tapi juga tidak rugi,” kata Worro.

Dilihat ada grafik kenaikan penjualan, Kampoeng Timoer ditawari perpanjangan selama enam bulan. Tapi, nilai konsesi naik menjadi 10 persen dari Rp 100 juta, belum termasuk PPN. “Kami terima. Bulan pertama penjualan bagus. Kami bisa dapat Rp 6–8 juta sehari. Sampai awal Maret, muncul pemberitahuan relokasi dengan alasan baru saja ada peninjauan dari pusat. Dan lokasi yang ditempati itu seharusnya adalah ruang publik,” jelasnya.

Dia mengakui sempat mengulur-ulur waktu karena memang penjualan sedang bagus-bagusnya. Namun, muncul ultimatum jika dalam seminggu tak melakukan relokasi sendiri, akan dilakukan putus kontrak. Berdasarkan informasi yang dia terima, relokasi juga akan dilakukan terhadap stan-stan lain yang menempati lokasi yang sama.

Akhirnya, ada dua pilihan tempat yang diberikan. Yaitu, di dalam ruang tunggu keberangkatan, atau di pojok terminal keberangkatan di sebelah luar check-in Garuda Indonesia.

“Pada waktu itu kondisinya beberapa tenant di dalam ruang tunggu justru keluar. Seperti Balikpapan Premio dan Dialog Coffee. Makanya dengan terpaksa kami memilih di luar, di tempat kami sekarang,” jelasnya. Pertimbangan lainnya, jika memilih di dalam ruang tunggu keberangkatan, maka perlu membuat pas masuk yang biayanya juga tak murah.

Relokasi itu berimbas besar pada penjualan. Yang sebelumnya bisa Rp 6 juta per hari, sekarang hanya Rp 200–300 ribu karena sepinya lokasi. Dia juga mempertanyakan tenant lain yang belum juga direlokasi sampai sekarang. “Memang ada yang direlokasi seperti kami, itu Really Cake. Tapi lokasinya di depan. Bukan di tempat kami. Tenant-tenant yang lokasinya sama dengan kami sampai sekarang tidak direlokasi,” sesalnya.

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut, GM Angkasa Pura Sepinggan Airport Handy Heryudhitiawan menjelaskan, pihaknya sebelum melakukan pemindahan sudah melakukan konfirmasi kepada semua mitra. Pada saat konfirmasi tersebut, pihak Kampoeng Timoer tidak menyampaikan keberatan. Mereka paham dan mengerti apa yang dimaksud Angkasa Pura. “Tempat yang mereka tempati sekarang yang memilih juga mereka sendiri. Saya juga yang akhirnya memberikan rekomendasi,” ujarnya.

Menurut dia, relokasi tersebut dilakukan berkaitan dengan perbaikan layout di terminal keberangkatan. Ditambah lagi ada tempat-tempat baru yang dibuka dan ditawarkan kepada mitra. Makanya, dilakukan penataan ulang. “Secara bisnis, sebetulnya relokasi ini juga merugikan kami. Karena ada ketersewaan tempat yang akhirnya menjadi kosong,” imbuhnya.

Pihaknya sudah berusaha menghubungi pihak Kampoeng Timoer. Namun dibatalkan secara sepihak. Padahal, Angkasa Pura I ingin memberikan klarifikasi sekaligus mencari solusi bersama agar tak timbul persepsi baru yang bukan hanya merugikan Angkasa Pura tapi juga merugikan Balikpapan. Sebab, cuitan yang diunggah Filsa bukan hanya dilihat warga Balikpapan, melainkan juga masyarakat dari luar Balikpapan.

“Sangat disayangkan ini justru dimuat di Facebook. Pak Filsa sebenarnya tahu salurannya kalau direksi itu ke mana yang harus ditemui dan dihubungi. Kantor Angkasa Pura kan ada di situ (kawasan bandara). Semestinya Pak Filsa secara elegan menanyakan langsung kepada saya sebagai manajer. Langsung ketemu kami untuk cari jalan keluarnya. Itu kan etika berbisnis,” imbuhnya.

Pihaknya, mengaku selama ini bermitra dengan Pemkot Balikpapan cukup baik. Angkasa Pura juga menyisihkan anggaran untuk program-program yang berguna dalam pengembangan UMKM di Balikpapan. Sehingga tidak benar jika ada diskriminasi.

Terkait relokasi beberapa tenant lain yang belum dilakukan sampai sekarang, menurut dia, memang sedang dalam pembahasan. Berkaitan dengan perubahan layout bandara, berimplikasi pada lokasi tenant-tenant yang ada di sana. “Inilah yang ingin kami jelaskan. Makanya sangat disayangkan justru di-publish keluar padahal Pak Filsa tahu salurannya. Toh bukan Pak Filsa sendiri yang direlokasi. Ada juga beberapa tenant lainnya,” pungkas dia. (rsh/rom/k8)

 


BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi.…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya,…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event…

Minggu, 11 November 2018 11:10

Kasihan Banget..!! Banyak Guru Honor yang Pensiun dengan Gaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .