MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Sabtu, 19 Mei 2018 01:27
Pahlawan Sichuan

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

PROKAL.CO, KACA depan pilot itu copot. Minggu lalu. Di udara Tiongkok. Pada ketinggian 32.000 kaki. Sama dengan yang terjadi di South West Airline di Amerika, bulan lalu. Badan pilot kesedot tiba-tiba. Ke arah jendela yang terbuka. Akibat perbedaan tekanan udara. Tapi badan pilot hanya doyong. Rambutnya yang pendek tidak sampai melambai-lambai ke arah jendela.

Sang pilot pakai sabuk pengaman. Tentu saja. Tidak bisa tercerabut dari kursinya. Ini menguatkan asumsi yang di Amerika. Bahwa perempuan yang kesedot jendela itu kemungkinan besar tidak pakai seat belt. Sampai separuh badannya di luar pesawat. Ketahan pinggulnya dan tarikan penumpang lain.

Yang di Tiongkok ini pesawatnya milik Sichuan Airlines. Jenisnya Airbus A319. Bikinan Prancis. Sejenis Boeing 373 yang di South West Airlines. Yang bikinan Amerika. Jurusannya Chongqing-Lhasa. Kota Chongqing dulu masuk Provinsi Sichuan. Di Tiongkok tengah. Lhasa adalah ibu kota Tibet. Tiongkok barat. Tiga jam penerbangan.

Saat jendela di kokpit itu lepas, pesawat baru terbang 20 menit. Sama dengan yang di South West. Berarti baru di atas Kota Chengdu. Ibu kota Provinsi Sichuan. Pilot memutuskan mendarat darurat: di Bandara Chengdu. Tidak ada korban. Luka sekali pun. Pilot dapat pujian luar biasa.

Waktu terjadi di South West Airlines, kaca jendela penumpang yang copot. Di Sichuan Airlines ini, kaca depan yang lepas. Kokpitnya berantakan. Alat-alatnya berubah posisi. Sistem kendali otomatisnya rusak. Angin menerpa keras. Mata tidak bisa dipakai untuk melihat. Suara angin berisik sekali. Pendengaran pilot terganggu. Angka-angka di kokpit kabur. Udara dingin masuk: minus 40 derajat. Bisa membuat tangan beku. Hanya pilot yang luar biasa tabah yang bisa berpikir dalam kondisi seperti itu.

Sang pilot mengaku ada beberapa pilihan. Menurunkan ketinggian tiba-tiba. Atau turun lebih pelan. Kalau turun cepat suhu udara segera tidak terlalu dingin. Tekanan udara juga berkurang. Oksigen segera didapat. Tapi akan banyak penumpang yang menderita. Setidaknya menerima kejutan yang mengagetkan.

Bagi yang tidak mengenakan sabuk pengaman bisa bahaya: kepalanya bisa membentur atap. Keras. Bisa mematikan. Seperti dalam kasus All Nippon Airways puluhan tahun lalu. Sang pilot memilih menderita sendiri di kokpit. Bersama co-pilot. Sambil harus tetap tenang. Mengendalikan pesawat secara manual. Minta turun di Bandara Chengdu. Penumpang, 119 orang, ganti pesawat. Tiga jam kemudian.

Sang pilot turun di Chengdu. Bersama pesawatnya untuk pemeriksaan. Dengan sangat rendah hati sang pilot hanya bicara satu-dua kalimat. “Saya sudah lebih 100 kali menerbangi jalur ini,” katanya. “Sudah tahu harus turun di mana,” tambahnya.

Tapi sebenarnya sang pilot memang orang pilihan. Dia lulusan terbaik sekolah penerbangan–catat baik-baik–Angkatan Udara Tiongkok. Sangat mirip dengan pilot perempuan yang menyelamatkan South West: bekas angkatan udara. Sudah terbiasa bermanuver dengan pesawat tempur.

Ditambah lagi Liu Chuanjian, sang pilot, adalah instruktur pilot. Kini umurnya masih 46 tahun. Dari lapisan pilot terbaik hanya 30 persennya yang boleh jadi instruktur. Berarti Liu memang hebat. Hebat yang sebenarnya. Liu dianggap pahlawan. Bisa menyelamatkan begitu banyak penumpang. Dia diminta ke sana-kemari untuk wawancara. Dia benar-benar pahlawan. “Bagi orang lain, dia memang pahlawan. Tapi bagi saya, dia itu suami saya. Yang penting cepat pulang,” kata Zou Han, istrinya. (dis/rom/k8)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .