MANAGED BY:
MINGGU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 19 Mei 2018 00:13
Waspada Bibit Kelapa Sawit Ilegal

Tumbuh Lambat dan Merusak Mesin

KONSULTASI DISBUN: Petani kelapa sawit di Bumi Etam harus berhati-hati dalam membeli bibit. Jika salah, pertumbuhan tanaman terancam tidak maksimal dan merugikan.

PROKAL.CO, SAMARINDA  -  Para petani kembali diminta mewaspadai peredaran benih kelapa sawit ilegal. Sepanjang 2017 saja, ditemukan sepuluh kasus terkait kecambah kelapa sawit yang diduga tidak memiliki sertifikat lengkap atau ilegal. Bahkan, saat ini penjualan bibit ilegal sudah melalui media daring.

"Dari sepuluh kasus tersebut, ditemukan lima kasus di Kutai Kartanegara, dua kasus di Penajam Paser Utara, dua kasus di Kutai Timur dan satu kasus di Balikpapan," ungkap Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ujang Rachmad, saat ditemui Kaltim Post di Samarinda, Jumat (18/5).

Ujang mengatakan, pihaknya melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengawasan Benih Perkebunan (UPTD PBP) telah melakukan pengecekan dan upaya penyitaan terhadap temuan benih sawit ilegal tersebut. Peredaran benih sawit ilegal saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, karena dijual door to door ke rumah petani sawit dengan memalsukan merek sumber benih dan dalam bentuk butiran atau curah. Bahkan, benih sawit tersebut juga dijual bebas di situs jual beli online dan jejaring sosial seperti Facebook.

"Dalam upaya penegakan hukum, pihak kami yang terdiri dari Pengawas Benih Tanaman (PBT) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bekerja sama dengan pihak Polda Kaltim akan meningkatkan pengawasan dan penindakan tegas terhadap peredaran benih sawit ilegal. Agar petani tidak dirugikan," ujarnya.

Menurutnya, bagi petani yang ingin membeli benih atau kecambah kelapa sawit diharapkan dapat berkonsultasi dengan Dinas Perkebunan atau UPTD Pengawasan Benih Perkebunan. Supaya mendapatkan informasi detail tentang regulasi pembelian kecambah kelapa sawit.

Guna memberikan efek jera kepada para pengedar benih sawit ilegal ini, akan dikenakan sanksi sesuai Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 250 juta.

Banyak kerugian yang diterima dari bercocok tanam dengan benih ilegal, yang ditengarai sebagai benih palsu. Tidak hanya kerugian finansial karena gagal panen, namun juga dapat merusak mesin saat tanaman diolah menjadi minyak mentah (CPO).

“Tanaman dari benih yang tak bersertifikasi itu biasanya jelek. Cangkangnya tebal, bisa merusak mesin. Maraknya peredaran benih ilegal ini juga karena permintaan yang tinggi, namun ketersediaan benih unggul bersertifikat masih terbatas,” paparnya.

Ujang menjelaskan, sertifikasi bibit dan kecambah sawit bertujuan, memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa bibit sawit tersebut asli. Saat ini, Disbun Kaltim berhasil menyertifikasi sebanyak 439 ribu bibit dan 451 ribu kecambah kelapa sawit. “Itu untuk memastikan mutu fisik, fisiologis, dan genetis benih sawit,” ungkapnya.

Kecambah kelapa sawit asli adalah kecambah yang dibuat melalui proses hibridasi menggunakan sumber benih yang sesuai standardisasi mutu. Sedangkan kecambah kelapa sawit palsu umumnya kecambah diproduksi sembarangan tanpa memerhatikan standar itu.

Walaupun harganya cenderung lebih murah, pemakaian kecambah palsu yang mempunyai mutu tidak jelas akan merugikan petani. Selain masa pertumbuhan tanaman lebih lambat, tingkat produktivitasnya juga rendah, sehingga proses pengolahannya tidak efisien.

Bibit palsu bisa dikenali dengan melihat tingkat ketebalan tempurungnya yang biasanya lebih tipis. Tekstur permukaan biji juga terasa lebih kasar dan tampak kotor. Lebih lanjut, persentase tingkat kematian kecambah juga lebih tinggi.

“Selain itu, kelapa sawit dari bibit palsu akan tumbuh tidak normal,  dan tidak seragam. Produktivitas panen pun cenderung jauh lebih rendah. Di sektor pengolahan, tanaman dari kecambah palsu mempunyai tingkat rendemen minyak yang relatif rendah,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15)


BACA JUGA

Kamis, 21 Februari 2019 10:18

Peminat dari Luar Negeri Banyak, Buah Naga Butuh Hilirisasi

SAMARINDA- Bumi Etam memiliki banyak potensi dari bisnis pertanian. Salah…

Rabu, 20 Februari 2019 12:51

Okupansi Hotel Kaltim Belum Terpengaruh Tiket Mahal

SAMARINDA- Tingginya harga tiket angkutan udara dan pemberlakuan bagasi berbayar…

Minggu, 17 Februari 2019 11:34

Harga Avtur Turun, Angin Segar bagi Maskapai

JAKARTA – Desakan pemerintah agar Pertamina menurunkan harga avtur akhirnya…

Jumat, 15 Februari 2019 11:20

Akhirnya, Garuda Turunkan Harga Tiket

JAKARTA – Keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat mendapat respons…

Rabu, 13 Februari 2019 13:34

Asing Ambil Profit, Rupiah Kembali Melemah

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum reda. Merujuk data Jakarta…

Selasa, 12 Februari 2019 13:34

WOW..!! Tarif Bagasi Lion Air Rp 25 Ribu per Kilogram

Lion Group memutuskan melakukan penyesuaian tarif bagasi atau excess baggage…

Selasa, 12 Februari 2019 10:37

BELUM MEMBAIK..!! Setahun, Rumah Mewah Hanya Terjual Lima Unit

SAMARINDA - Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Kaltim mencatat penjualan…

Senin, 11 Februari 2019 11:42

Obligasi Ritel Bikin Likuiditas Seret

JAKARTA – Gencarnya penerbitan surat berharga negara (SBN) bakal sedikit…

Senin, 11 Februari 2019 11:40

Pacu Ekspor Baja ke Malaysia-Australia

JAKARTA – Tahun ini pelaku usaha baja melihat potensi peningkatan…

Minggu, 10 Februari 2019 09:37

Soal Bagasi Berbayar, Maskapai Penerbangan Diminta Lakukan Ini...

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti minta agar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*