MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 18 Mei 2018 08:51
Sel-Sel Otonom Tinggal Menunggu Perintah, Siap Lakukan Segala Cara

Analisis soal Pelibatan Anak dan Istri dalam Aksi Terorisme JAD

BAWA KELUARGA: Polisi menggendong anak terduga teroris yang selamat dari ledakan di depan Mapolrestabes Surabaya, Jatim, Senin (14/5) sekira pukul 08.50 WIB.

PROKAL.CO, Salah satu yang membuat aksi bom bunuh diri di Surabaya terlihat sadis adalah pelibatan satu keluarga penuh. Bukan hanya perempuan, melainkan juga anak kecil. Banyak yang masih bertanya-tanya, ideologi semacam apa yang membuat seseorang melakukan hal tersebut? Selain itu, banyak yang menyebut pelakunya sakit jiwa.

MANTAN Ketua Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Ali Fauzi memberi analisisnya. Pertama, dia membantah bahwa para pelaku sakit jiwa. “Mereka secara mental sangat sehat. Jadi, ketika melakukan pengeboman, mereka sadar. Sangat sadar,” tegasnya. Menurut dia, ideologi ISIS lah yang membuat mereka seperti itu.

Sejak 2016, terdapat 13 perempuan yang ditahan karena terlibat aksi terorisme. Dua yang terakhir ditangkap di dekat Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, dua pekan lalu karena berniat menusuk siapa pun polisi yang kali pertama ditemui. Semua dilakukan oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS. Sebenarnya, ketika menjadi anggota kelompok teroris yang berafiliasi ke ISIS, output-nya akan selalu ke aksi terorisme atau yang mereka sebut amaliah. Sebab, JAD menganggap pemerintah yang tak menjalankan syariat agama adalah thaghut. Berikut segenap aparaturnya.

Karena itu, kesempurnaan iman bagi para pengikut ISIS adalah kufur bit thaghut atau membangkang kepada pemerintah. “Konsekuensinya, mereka akan memerangi pemerintah,” jelas Ali Fauzi. Pemikiran tersebut hampir identik dengan pemikiran Jamaah Islamiyah (JI) yang dulu. Karena itu, mereka menyebut organisasi-organisasi tersebut sebagai tandzim jihadi. Sebab, anggotanya harus berjihad. Konteksnya tentu saja melakukan teror.

Selain itu, persamaannya, mereka melakukan apa yang dinamakan jihad tanzim. Artinya, segala sesuatu dan kegiatan yang berkenaan dengan jihad harus sepengetahuan amir. Tidak boleh ada jihad tanpa sepengetahuan organisasi. Hanya, ada perbedaan aksi antara JI dan JAD sekarang. Dulu JI tak pernah menggunakan bomber perempuan. Selain itu, mereka berhitung antara modal dan hasil yang dicapai. “Dulu kami sangat berhati-hati dalam melakukan serangan,” ungkapnya. Berhati-hati itu dalam konteks menghitung betul dampak aksi dengan sumber daya yang dikeluarkan.

Rencana aksi dirapatkan lebih dahulu secara organisasi. Kemudian, diputuskan pembentukan tim kecil eksekutor dan segera melakukan perencanaan. Total rentang waktu antara perencanaan hingga aksi bisa mencapai tiga bulan. Itulah yang membuat aksi-aksi JI selalu besar. Rakitan bomnya matang. Waktu peledakan juga sangat matang sehingga daya rusaknya begitu besar.

Selain itu, JI selalu memaknai jihadnya sebagai jihad ofensif. Karena itu, JI tidak pernah menggunakan perempuan dan anak-anak dalam aksinya.

Menurut dia, tidak sedikit akhwat JI yang dulu menyatakan siap menjadi pengantin bom bunuh diri. Namun, para petinggi JI saat itu tidak pernah menanggapinya dan tak pernah melakukan skema jihad ofensif dengan menggunakan perempuan serta anak-anak. Hal tersebut berbeda dengan JAD maupun organisasi teroris yang berafiliasi ke ISIS. Selain JAD, ada Khatibatul Iman, pimpinan Abu Husna alias Abdur Rohim, serta kelompok Hendro Fernando dan Brekele yang berafiliasi ke ISIS.

Perbedaan JI dengan ISIS sudah terjadi pada pemaknaan jihad tanzim. Jika JI bergerak sebagai sebuah satu kesatuan terorganisasi, JAD bergerak dalam sel-sel kecil yang lebih otonom. Cukup mendapat perintah “lakukan amaliah”, mereka pun melakukannya dalam sel kecil sesuai kemampuan sel kecil tersebut.

Karena itu, efek kerusakannya terbilang kecil. Kerap, dari sejumlah teror, yang mati adalah anggota ISIS itu sendiri. Bukan sasarannya. Misalnya, serangan bom di Mapolrestabes Surabaya dan GKI Jalan Diponegoro, Surabaya.

Namun, ideologi yang membuat mereka bisa mengorbankan perempuan dan anak mereka adalah pandangan mereka soal jihad. Ketika melancarkan teror, mereka merasa jihad mereka adalah jihad daf'i atau jihad defensif. Dalam jihad defensif ini, memang diperbolehkan menggunakan perempuan dan anak sebagai senjata.

“Inilah yang kemudian membuat mereka tega memakaikan bom ke anak-anak mereka sendiri,” ungkap Ali.

Karena itu, mantan instruktur di Kamp Hudaibiyah dan Pawas, Filipina Selatan, tersebut menyatakan, para pengikut ISIS itu merupakan potensi yang mengerikan. “Sebab, boleh dibilang, mereka menggunakan segala cara. Antisipasinya menjadi repot karena perempuan dan anak-anak menjadi senjata,” tandasnya.

DIASUH NEGARA

Ulah para pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo serta terduga teroris yang tewas membuat anak-anak mereka kini menjadi yatim piatu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan assessment menyeluruh terhadap anak-anak tersebut beserta kerabatnya. Tidak tertutup kemungkinan, negara mengambil alih pengasuhan anak-anak tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua KPAI Susanto setelah menemui Gubernur Jatim Soekarwo di Kantor Gubernur Jatim kemarin (17/5). Dia menegaskan, anak-anak yang berkaitan dengan para pelaku teror diposisikan sebagai korban. Meski, mereka dilibatkan secara langsung dalam penyerangan seperti yang terjadi di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5).

Saat ini, ada tujuh anak yang traumanya sedang dipulihkan psikolog Polda Jatim. Mereka adalah Ais (8), putri pelaku teror bom Mapolrestabes Surabaya Tri Murtiono. Kemudian, AR (15), FP (11), dan GHA (10), anak-anak Anton Ferdiantono, terduga teroris di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Selanjutnya, DNS (14), AISP (10), dan HA (6), anak-anak Dedy Sulistianto, terduga teroris yang tewas dalam operasi di Manukan, Surabaya.

Menurut Susanto, anak-anak tersebut perlu mendapat atensi khusus. Mereka dinaungi UU Perlindungan Anak. Selain kondisi psikologis mereka, yang harus menjadi perhatian adalah orang-orang di sekitar mereka. Yakni, keluarga yang akan mengasuh anak-anak tersebut setelah orangtua mereka tewas. “Jangan sampai teralihkan ke orang yang terinfiltrasi radikalisme,” ujarnya setelah pertemuan.

Karena itu, pihaknya merekomendasikan penilaian menyeluruh terhadap anak-anak itu. Seberapa jauh pengenalan mereka terhadap ideologi orangtuanya, kondisi psikologisnya, kesehatannya, hingga kerabat orangtuanya. Sebab, infiltrasi radikalisme melalui parenting merupakan sebuah pola baru.

Bila masih ada trauma, harus ada rehabilitasi sampai tuntas meski membutuhkan waktu lama. Begitu pula dengan pengasuhan. Sangat bergantung hasil assessment terhadap anak-anak itu dan keluarga di sekitarnya. “Kalau ternyata (keluarga) enggak tepat untuk melakukan pengasuhan, ya bisa saja diasuh di lembaga pengasuhan yang tepat bagi perkembangan yang bersangkutan,” lanjut Susanto.

Hanya, dia mengingatkan, pengasuhan oleh negara melalui lembaga yang ditunjuk merupakan pilihan terakhir. Semua dilakukan demi masa depan anak-anak tersebut. (byu/sal/c5/ano/jpnn/far/k11)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 13:00

Ini Dia Motif Motif Pembunuhan Pasangan Suami Istri di Balikpapan Itu...

BALIKPAPAN - Perkara utang diduga menjadi penyebab tersangka menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri)…

Rabu, 19 September 2018 12:00

Ngga Jelas, Ternyata Kilang Bontang Masih Tunggu Investor

BONTANG – Pembangunan kilang minyak di Bontang belum ada kejelasan. Pemerintah belum memutuskan…

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .