MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 17 Mei 2018 06:50
Optimisme Pasar, Triwulan II Akan Membaik

Indeks Tendensi Konsumen Kembali Turun

EFEK RAMADAN: Inflasi yang terjadi di Kaltim pada 2018 membuat masyarakat masih menahan diri untuk berbelanja. Namun pada triwulan kedua, diyakini meningkat seiring tumbuhnya kepercayaan.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Kondisi ekonomi konsumen di Kaltim pada triwulan I masih belum menggembirakan. Berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, nilai indeks tendensi konsumen pada periode ini menyentuh angka 97,43 atau turun dibanding triwulan IV 2017 di angka 97,91.

Penurunan tersebut disebabkan oleh pengaruh inflasi yang cukup kuat terhadap pola konsumsi masyarakat. Serta peningkatan pendapatan yang tidak signifikan jika dibandingkan triwulan sebelumnya.

Walau terdapat peningkatan pendapatan masyarakat, namun terdapat inflasi positif, sebesar 0,60 persen, menyebabkan konsumen cenderung menahan pengeluaran. Akibatnya, secara agregat nilai indeks tendensi konsumen mengalami penurunan menjadi sebesar 97,43.

Jika dibandingkan triwulan IV tahun lalu, inflasi sebesar 0,68 persen atau hampir sama dengan inflasi pada triwulan berjalan, maka kondisi daya beli masyarakat relatif sama pada dua triwulan terakhir. Sebenarnya, terdapat peningkatan pada komponen pendapatan rumah tangga (100,74), namun tidak diimbangi dengan peningkatan konsumsi rumah tangga (nilai indeks sebesar 100,17).

Ini menunjukkan bahwa konsumen cenderung menahan pengeluaran untuk konsumsi. Kondisi tersebut juga terlihat dari besaran indeks pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi yang berada di bawah 100, yaitu sebesar 89,04. Menunjukkan bahwa inflasi memberikan pengaruh terhadap tingkat konsumsi.

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengatakan, dalam hukum pasar, lonjakan harga dipengaruhi permintaan. Di Kaltim, kata dia, tertahannya kenaikan harga yang lebih besar bisa jadi disebabkan permintaan yang lesu.

Dijelaskannya, secara nasional dan di Kaltim, inflasi memang cenderung terkendali sejak 2015 lalu. Kaltim, pertumbuhan ekonominya sempat minus, artinya terjadi penurunan pendapatan per kapita juga. “Jadi, sangat mungkin menjadi indikasi bahwa turunnya inflasi juga karena faktor turunnya pendapatan, yang diikuti pelemahan daya beli. Artinya, harga barang tidak naik. Justru sepi peminat,” tuturnya.

Tapi faktanya, dari data BPS ITK menunjukkan pelemahan. Pola konsumsi masyarakat Kaltim memang mengalami penurunan.

“Ada beberapa faktor kenapa daya beli masyarakat Kaltim ini masih lemah padahal harga komoditas dan kondisi ekonomi bisa dikatakan membaik. Pertama, masyarakat Kaltim belum yakin dengan kondisi ekonomi saat ini. Meskipun membaik, namun pengalaman sebelumnya menjadi kewaspadaan masyarakat. Kondisi ini belum dirasa permanen. Bahkan, dari kalangan pengusaha batu bara juga masih wait and see,” ucapnya.

Kemudian, lanjut wanita berjilbab ini, harga komoditas naik belum semua pengusaha banyak melakukan produksi. Masih di kalangan pengusaha besar. Tenaga yang direkrut belum kembali seluruhnya.

Seperti yang diketahui, saat harga batu bara dan migas anjlok, banyak sekali pemutusan kerja. Walhasil, banyak orang yang akhirnya angkat kaki dari Kaltim. Saat membaik, tidak serta-merta langsung jalan. Membutuhkan waktu. Saat ini pun penyerapan tenaga kerja masih berangsur.

“Dari sisi ekspor juga ada kenaikan, tapi multiplier effect-nya belum terasa. Jadinya, wajar saja akselerasi bisa dibilang tidak begitu baik. Ya, faktornya karena konsumsi masyarakat belum terkena efek dari komoditas yang membaik,” terangnya.

Perempuan yang juga dosen Ekonomi Universitas Indonesia menyebutkan, paling tidak enam bulan ke depan, jika harga komoditas tetap stabil dan ekspor membaik kepercayaan masyarakat akan muncul. Di situ pola konsumsi masyarakat mulai membaik. 

Di samping itu, pendapatan masyarakat yang relatif kecil dan jumlah tenaga kerja informal masih tinggi. Berdasar data tahun lalu, jumlah di Indonesia saja sekitar 57 persen dan total jumlah tenaga kerja sebanyak 121 juta orang.

“Di tengah belum munculnya kepercayaan, wajar saja tenaga kerja informal yang tidak memiliki upah tetap masih waspada. Sehingga, mereka masih menahan belanjanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, melihat hal ini pemerintah sejak dini harus mewaspadai. Tidak bisa terus-terusan bergantung kepada sumber daya alam (SDA). Sebaiknya mulai dipikirkan lima tahun ke depan bakal bagaimana. Pasalnya, harga komoditas andalan Kaltim bergantung kepada global.

Menurutnya, pemerintah bisa mulai membangun industri. Jemput bola, tarik investor untuk membangun industri turunan. Misalkan, CPO bisa dibuat pabrik sabun, minyak goreng, dan lainnya. Perkaya industri paling tidak jangan menikmati itu-itu saja.

Kemudian, kegiatan belanja pemda harus aktif. Hal ini juga bisa memacu pertumbuhan ekonomi. Indikator ekonomi paling utama dari pemerintah. Siklus ekonomi ini jangan membuat pemda hanya diam saja.

Hingga akhir 2018, BPS memproyeksikan nilai ITK  Kaltim pada triwulan selanjutnya sebesar 119,97. Besaran indeks menunjukkan bahwa perkiraan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II 2018 lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi triwulan saat ini.

Perkiraan pendapatan rumah tangga meningkat cukup signifikan, di mana nilai indeks konsumen sebesar 130,38. Terdapat juga peningkatan pada komponen rencana pembelian barang tahan lama, yang ditunjukkan oleh nilai indeks komponen sebesar 101,73. Perkiraan meningkatnya aktivitas pembelian harga barang tahan lama, serta rekreasi dan lain-lain dapat disebabkan oleh adanya momen Ramadan dan Idulfitri pada triwulan II.

Store General Manager Hypermart Balikpapan Trade Mall  Muamar Khadafi mengatakan, tahun lalu di semester satu penjualan tercatat bukan membaik, namun merosot. Daya beli masyarakat belum kembali kendati ada harapan pertumbuhan positif ekonomi.

“Perbaikan baru terlihat di triwulan I ini. Memang jalannya melambat tapi itu sudah bagus. Ada pergerakan naik. Kami harapkan, triwulan berikutnya terus menunjukkan angka positif. Terlebih, memasuki peak season Ramadan dan Idulfitri,” tuturnya. (aji/ndu/k15)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 06:56

Harus Sejalan Hadirkan Hilirisasi

SAMARINDA - Terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018 terkait penundaan dan evaluasi…

Selasa, 25 September 2018 06:55

Kejar Target Penerimaan

BALIKPAPAN - Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BPPDRD) Balikpapan tampaknya masih harus…

Selasa, 25 September 2018 06:49

Jaga Inflasi lewat Klaster Sapi

SAMARINDA - Pemerintah dan Bank Indonesia terus berinovasi dalam menjaga inflasi di Kaltim. Salah satunya…

Selasa, 25 September 2018 06:44

Waspada Perekonomian Global

JAKARTA - Para emiten harus mengantisipasi perekonomian global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai,…

Selasa, 25 September 2018 06:43

Ritel Turunkan Target Pertumbuhan 5–7 Persen

JAKARTA – Kinerja sektor ritel belum sepenuhnya pulih. Berdasar data yang dirilis Bank Indonesia…

Selasa, 25 September 2018 06:43

PLN Kembangkan Infrastruktur di Jember

JEMBER – PT PLN sedang mengembangkan sistem ketenagalistrikan tegangan tinggi di tiga lokasi di…

Selasa, 25 September 2018 06:42

Dorong Penjualan dengan Inovasi

SURABAYA – Kondisi pasar elektronik secara umum sedang menurun. Karena itu, produsen elektronik…

Selasa, 25 September 2018 06:42

Hadirkan Pembayaran Nontunai di SPBU

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) terus melakukan inovasi terkait sistem pembayaran nontunai di SPBU.…

Senin, 24 September 2018 07:08

Moratorium Jangan Dianggap Negatif

SAMARINDA – Pemerintah memenuhi komitmennya dalam melakukan perbaikan tata kelola perkebunan sawit.…

Senin, 24 September 2018 07:06

Pertamina Keluhkan Suplai Minyak Nabati

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mendukung kebijakan mandatori Biodiesel 20 persen (B20) yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .