MANAGED BY:
SENIN
20 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Rabu, 16 Mei 2018 10:37
Tak Nyaman di Sekolah, Anak Bisa Melawan
EMOSI TERPENDAM: Banyak faktor yang menyebabkan anak bisa melakukan kekerasan terhadap guru. Salah satunya tak senang dengan cara mengajar wali kelasnya. Membuat suasana kelas yang nyaman dan lebih pengertian pada murid Anda bisa mencegah anak bersikap agresif.

PROKAL.CO, Selamat belajar nak penuh semangat

Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman  

 

PENGGALAN lirik dari lagu Pergi Belajar yang diciptakan Ibu Sud tersebut menyiarkan nasihat agar anak-anak selalu rajin belajar, menghormati guru, dan menyayangi teman. Namun, seiring perkembangan zaman, tak hanya lagu itu yang jarang terdengar, nasihat untuk menghormati guru dan menyayangi teman pun seakan terabaikan.

Hal itu terbukti dengan maraknya kasus seorang siswa yang melakukan kekerasan kepada guru atau malah sebaliknya. Menurut psikolog pendidikan dan perkembangan anak, Hairani Lubis, banyak faktor yang membuat seorang anak didik melakukan kekerasan di lingkungan sekolahnya.

"Anak tidak nyaman saat belajar bisa jadi pemicu. Sebab itu, dianjurkan para guru punya cara mengajar yang menyenangkan, sehingga siswanya juga senang dan mau memerhatikan pelajaran. Hal itu sangat bisa menekan terjadinya kekerasan," ujarnya saat diwawancarai Selasa (8/5).

Hairani mengatakan, seorang anak dapat berlaku agresif karena adanya kemarahan dan frustrasi yang diekspresikan dengan cara menyakiti orang lain. Ada anak pendiam, tapi kalau marah dia mengekspresikannya dengan memukul orang lain. Ada pula yang cerewet dan saat marah juga akan memukul. Keagresifan tersebut berkaitan dengan cara siswa mengendalikan perilakunya.

Ciri-ciri anak yang agresif yakni mudah marah, reaktif terhadap situasi penuh tekanan, artinya ketika berada dalam situasi tertekan, dia akan gampang frustrasi. "Kemudian muncul perilaku agresif, berupa memukul, menendang orang-orang di sekitarnya,” beber dosen psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul) tersebut.

Perempuan berjilbab itu mengatakan, semua anak dengan usia berapa pun bisa berlaku agresif. Namun, dampak yang ditimbulkan oleh setiap anak tak sama. “Semakin tua usia anak, tentu saja dampaknya semakin besar. Regulasi emosi sangat berpengaruh, perilaku agresif sering dialami anak-anak hingga remaja. Karena pada masa itu pengendalian emosi mereka belum matang,” jelas Hairani.

Beberapa penyebab lain anak menjadi agresif, kurangnya pembentukan karakter moral anak sejak dini, banyak menonton tayangan kekerasan sehingga anak akan menirunya, tidak ada role model di lingkungannya yang bisa memberikan contoh bersikap sopan.

"Orangtua yang sering berantem di hadapan anak juga membuat pribadi anak sering terpapar kekerasan dan akan mencontohnya,” beber dia.

Untuk menghadapi keagresifan anak, tentu guru perlu mencari tahu latar belakang atau penyebab anak berperilaku kasar. Selain itu, didiklah anak dengan penuh cinta kasih, buat anak didik Anda nyaman di kelas.