MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 16 Mei 2018 10:15
Perburuan Teroris Meluas
Sebanyak 81 Rektor Dikumpulkan, Adang Radikalisme di Kampus
PERKETAT PENGAMANAN: Seorang karyawan salah satu supermarket di Lampung diamankan anggota Polda Lampung dan Polresta Bandar Lampung, Selasa (15/5). Ini terjadi lantaran pegawai menerobos barikade polisi saat pengamanan ancaman bom di pusat perbelanjaan di Jalan Sultan Agung itu. (ALAM ISLAM/RADAR LAMPUNG)

PROKAL.CO, JAKARTA – Aksi memburu teroris berlanjut. Menyebar ke beberapa daerah. Tak hanya di Surabaya dan Sidoarjo, dua kota yang menjadi sasaran bom awal pekan ini, rentetan dari penyanderaan oleh napi kasus terorisme di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat (Jabar) akhir pekan lalu. Senin (14/5) malam, Densus 88 Antiteror bersama aparat kepolisian Polda Sumatra Selatan (Sumsel) menangkap dua terduga teroris di Palembang.

Menurut Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, kedua terduga teroris yang ditangkap di Palembang adalah H alias Abdurrahman dan Hengki alias Abu Ansor. ”Mereka merencanakan menyerang Mako Brimob Polda Sulsel,” terang Setyo. Sebelumnya, mereka juga sudah menyusun rencana untuk menyerang Mako Brimob di Depok. Namun, rencana itu urung terlaksana.

Rencana menyerang Mako Brimob Polda Sulsel, sambung Setyo, direncanakan oleh kedua terduga teroris itu ketika kondisi dan situasi Mako Brimob di Depok masih panas. Rencana itu bahkan disusun lebih dari dua terduga teroris. ”Ingin saya katakan bahwa sebetulnya tidak hanya dua (terduga teroris),” imbuhnya.

Berdasarkan data yang sudah dikantongi Setyo, jumlah total terduga teroris yang turut menyusun rencana bersama Abdurrahman dan Abu Ansor ada delapan orang. ”Tapi, yang tertangkap baru dua,” kata dia. ”Yang enam masih melarikan diri,” tambah dia. Untuk itu, petugas yang bekerja di lapangan masih memburu enam terduga teroris lainnya.

Seluruhnya, sambung Setyo, merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). ”JAD juga, JAD Sumsel,” ujarnya. Untuk penangkapan terduga teroris di wilayah lain, sampai kemarin sore, Setyo belum mendapat informasi. Termasuk ada kabar penangkapan di Bali. Dia hanya menyebutkan bahwa penangkapan terduga teroris yang sudah dilakukan selain di wilayah Jatim ada di wilayah Jabar dan Sumsel.

DITEMBAK

Di Sumatra Utara (Sumut), kemarin (15/5), Tim Densus 88 juga menangkap empat terduga teroris jaringan Budi CS, sekira pukul 06.30 WIB. Dua orang terduga teroris ditembak mati oleh Densus 88, belum diketahui identitas keduanya. Diketahui, Budi adalah warga Perumahan Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Dia ditembak mati oleh Densus 88, Senin (14/5) di Sidoarjo.

Informasi diperoleh media ini, di Sumut kemarin pagi, orang pertama yang ditangkap, yakni Dodi. Dodi diamankan di Sungai Apung, Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Tepatnya di depan rumah H Aidir. Berdasarkan keterangan H Aidir, pada waktu itu, Dodi sedang mempersiapkan gerobak dagangan yang biasa digunakan untuk berjualan saat bulan puasa. Tiba- tiba H Aidir melihat sekelompok orang diduga Densus 88, membungkus kepala Dodi dengan kain hitam dan memasukkan Dodi ke dalam mobil.

Sekira pukul 12.00 WIB, tim densus menangkap Agus Setiawan Sirait di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kapias, Pulau Buaya, Kecamatan Teluk Nibung. Sedangkan Hendra dan rekannya ditangkap sekira pukul 13.30 WIB di depan rumah makan depan RSUD Tanjungbalai, Jalan Dr Tengku Mansyur, Kelurahan Perwira, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.

Saat itu, kedua terduga teroris berada di RSUD Dr Tengku Mansyur membawa saudaranya berobat.

Saat kedua terduga tersebut menunggu saudaranya yang sedang berobat, tim yang diperkirakan dari Polda dan Densus 88 langsung melakukan penangkapan. Membawa terduga dengan menggunakan Mobil Avanza warna hitam.

Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Asahan AKP Arif Batubara kepada wartawan mengakui ada penangkapan teroris di Tanjungbalai. Namun, Arif mengaku tidak tahu pasti kronologisnya. "Ada penangkapan tapi di Tanjungbalai. Kalau yang di Asahan, saya belum dapat informasi," ucap Arif.

Sementara itu, di Jatim, sejak Senin (14/5), Densus 88 menggelar operasi penangkapan terduga teroris. Senin siang, densus menggiring dua orang yang diduga berkaitan dengan serangan teror di Surabaya, yakni Boy Arviansyah (29) dan Deniar Faurizal (28). Keduanya kakak-adik.

Mereka ditangkap di rumahnya di Jalan Lebak Rejo Kelurahan Dukuh Setro, Kecamatan Tambaksari. Tanpa perlawanan, keduanya digiring untuk dilakukan pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan mereka dengan serangan teror.    Namun, kemarin (15/5), Deniar dipulangkan ke rumah. Sebab, dia dinyatakan tidak terlibat dengan jaringan teroris. Sehari-hari, Deniar hanya membantu orangtuanya menjaga toko roti milik keluarga.

Menurut salah satu tetangganya, sebut saja Fakhrudin, Deniar diantar pulang oleh lima orang berseragam preman. “Iya, tadi pagi (kemarin, Red) diantar sama lima orang, tapi saya tidak tahu siapa mereka. Sepertinya polisi,” ujarnya. Sementara itu, Boy masih ditahan kepolisian. Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos, alamat asli Boy ada di Peterongan Jombang. Namun, dia berdomisili di Surabaya, tepatnya bersama orangtuanya.

Dia baru saja pulang pada 13 Mei lalu setelah bekerja di luar Surabaya. Diketahui, Boy pernah mengunjungi Lapas Mojokerto tahun lalu. Dia membesuk salah satu napi teroris (napiter) yang ditahan di lapas tersebut.

Terkait penangkapan terduga teroris di Malang, Pihak Polda Jatim menyebutkan bahwa ada tiga orang yang ditangkap di lokasi terpisah. Pertama adalah SA (37), dan WMW (40). Pasangan suami istri itu ditangkap di Perumahan Banjararum Asri Blok BB nomor 9, Singosari, Malang, kemarin dini hari (15/5). Sementara, satu orang lagi, K, 41, diringkus di kawasan Kepuharjo, Karang Ploso, Malang, kemarin pagi.

Untuk saat ini, ketiganya masih dalam proses pemeriksaan. Frans menolak memberikan keterangan bagaimana keterkaitan ketiga orang tersebut dengan kejadian di Surabaya. “Dari Densus belum ada penjelasan,” ucapnya singkat.

Dari Jakarta, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan, teroris yang melibatkan keluarganya dalam aksi bom bunuh diri paling sulit dideteksi. Sebab, semua yang dilakukan para teroris itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Misalnya dalam pelibatan anak-anak para pelaku dalam aksi kejam itu. Apalagi dengan membonceng anak menggunakan sepeda motor sehingga petugas pun tak menduga bakal jadi korban.

”Saya sampai sangat bersedih. Saya bayangkan, apa yang dia bilang kepada anaknya sebelum pergi, musti dia bilang, ‘Nak, ya, kita ketemu di surga lah’. Bayangkan itu!” ujar JK dengan lirih di Kantor Wakil Presiden kemarin (15/5).

Dia menuturkan, paham radikalisme itu berasal dari negara-negara gagal. Misalnya, Al Qaeda yang berasal dari Afghanistan yang dilanda perang. Begitu pula dengan ISIS yang datang dari Syiria dan Irak. Para simpatisan dari Indonesia itu pun pulang dan membawa paham itu. ”Pulang membawa virus, membawa ilmunya, membawa kemauannya yang ditentukan seperti itu,” imbuh dia.

JK pun cenderung sepakat untuk melibatkan TNI dalam penanganan terorisme. Militer seperti TNI AD punya personel hingga di level kelurahan. Mereka bisa bekerja sama dengan polisi. ”Polisi punya Kapolsek. TNI punya Koramil. Jadi, itu kalau dilibatkan semua kan bagus,” tambah dia.

Nah, pengeboman di Surabaya dan kerusuhan di Depok itu akan menjadi pendorong percepatan revisi undang-undang tentang terorisme. Diharapkan, pada Mei atau Juni sudah bisa selesai. Meskipun, menurut JK, tidak perlu terlalu terpaku dengan rumusan-rumusan definisi terorisme.

”Siapa yang bunuh orang tapi salah, itu teroris lah. Siapa yang mau macam-macam, tidak usah terlalu berpegang kepada formulanya mana? Ya, pokoknya namanya lawan aja. Menjelaskan teroris itu siapa yang katakan mengancam, membunuh tanpa alasan yang jelas,” kata dia.

KUMPULKAN REKTOR

Semualini tersentak dengan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, dua hari terakhir. Perhatian pun tersita. Mayoritas sektor memperkuat diri. Seperti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) yang sedang menyusun langkah antisipasi.

Menristekdikti Mohammad Nasir pun akan mengumpulkan rektor perguruan tinggi negeri (PTN) seluruh Indonesia. "Ya, saya Rabu pagi (hari ini, Red) akan memanggil 81 rektor PTN untuk menangani masalah radikalisme ini. Nanti semua akan di-briefing," ungkap Menristekdikti saat ditemui Kaltim Post di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (14/5).

Nasir mengatakan, pertemuan tersebut lebih bersifat peringatan dan memperketat pengawasan seluruh kegiatan di lingkungan kampus. "(Pertemuan) semacam koordinasi. Nanti saya juga mengingatkan kepada rektor, tolong dimonitor semua kegiatan di kampus, baik yang dilakukan dosen maupun mahasiswa yang ditengarai ada unsur intoleransi dan radikalisme," kata Nasir.

"Kalau sampai masih ada (radikalisme), ini sanksinya saya berikan pada rektor. Langsung saya copot. Saya sudah memecat satu dekan dan tiga dosen di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya) yang terkait HTI. Sudah saya instruksikan ke rektor," lanjutnya.

Mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, ini menerangkan radikalisme dan intoleransi di negeri ini, sudah ada sejak lama. Khusus di lingkungan kampus merupakan dampak dari Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) tahun 1983. "Dari kondisi itu (NKK/BKK), muncul organisasi dengan pemahaman-pemahaman baru yang akhirnya berlanjut hingga mahasiswa lulus dari perguruan tinggi. Jadi, masalah radikalisme sudah dididik sejak dulu. Selama ini, tidak dapat perhatian serius," ujar Nasir.

Oleh sebab itu, lanjut Nasir, sejak 2015, Kemenristekdikti sudah mengantisipasi hingga adanya deklarasi bela negara dan kebangsaan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia pada Agustus 2017. "Pada 2018 akan ditindaklanjuti lagi. Oleh karena itu, jangan sampai pengajaran intoleransi dan radikalisme makin berkembang di Indonesia," imbuhnya. 

Nasir juga sangat mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri di Surabaya.  "Saya atas nama pribadi dan kementerian mengutuk berat kejadian itu. Masalah radikalisme, intoleransi, ini harus jadi musuh bersama. Perguruan tinggi harus menangkal intolereransi dan radikalisme yang muncul," jelasnya.

BANTAH PECAT

Rektor TS Surabaya, Joni Hermana, menerangkan, sebenarnya pihak ITS saat ini masih melakukan proses penyelidikan untuk membuktikan keterlibatan para dosen yang disebut Menristekdikti tersebut. Namun, pihaknya membantah bila telah memecat ketiga dosen tersebut sebagai aparatur sipil negara (ASN).

“Benar ada dugaan atas kasus tersebut dan kami sedang melakukan penyelidikan terhadap mereka, namun dua dosen dan satu dekan tersebut statusnya tidak dipecat dari status ASN. Hanya kami berhentikan sementara dari jabatan strukturalnya, yang berkaitan juga masih mengajar di ITS,” jelas Joni dalam keterangan persnya, Selasa (15/5) malam.

“Saya sudah komunikasikan dengan Pak Menteri (Menristekdikti, Red) karena memecat seseorang dari status ASN-nya itu tidak mudah. Kita harus memeriksa pelanggaran tersebut, mengacu pada pelanggaran apa, itu harus detail,” papar guru besar teknik lingkungan ini.

Menurut Joni, ITS saat ini juga sudah membentuk tim Bina Khusus untuk mengkaji lebih dalam terhadap dosen dan dekan ITS yang terlibat dengan HTI. Tim Bina Khusus ini terdiri dari wakil rektor, dari biro hukum, para wakil dekan, dan beberapa ahli lainnya. “Mereka akan menyelidiki kasus ini dan akan memberikan arahan kepada saya untuk selanjutnya saya usulkan kepada Pak Menteri,” sambungnya.

Lebih jauh Joni menambahkan, pihak ITS juga menjamin bahwa kampus tersebut aman. Sejak Surabaya mendapat teror bom, ITS telah mendapat pertanyaan terkait keamanan mahasiswanya.

“Kami telah menerima ratusan telepon dari orangtua mahasiswa dan juga surat dari mitra-mitra ITS di luar negeri, ada Jerman, Belanda, Tiongkok, Jepang, dan lain-lain. Mereka minta jaminan anak-anak mereka selamat. Kami menggalang solidaritas agar bersama-sama menjaga keamanan kita,” beber Joni.  

ITS, tambah dia, menyatakan sikap tegas dalam menentang aksi terorisme. “ITS menentang aksi terorisme di mana pun keberadaannya, khususnya yang telah terjadi di kota tercinta kita, Surabaya,” tandasnya. (jun/syn/gal/byu/jpnn/sar/far/k11)


BACA JUGA

Senin, 20 Agustus 2018 09:13

Fokus dan Bonus

JAKARTA - Skuat Timnas Indonesia U-23 dijanjikan mendapat bonus jika mampu mengalahkan Hong Kong di…

Senin, 20 Agustus 2018 09:06

Empat Titik Keretakan di Mahakam

BALIKPAPAN - Meski dinyatakan aman, konstruksi Jembatan Mahakam, Samarinda masih sangat rawan. Sebab,…

Senin, 20 Agustus 2018 09:05

Getaran Gempa Susulan Terasa hingga Makassar

JAKARTA - Gempa susulan masih dirasakan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Minggu (19/8), dua gempa…

Senin, 20 Agustus 2018 08:55

Cegah Korban Jiwa, Batu Diledakkan

KECELAKAAN kapal di Sungai Bahau, Long Aran, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau kerap terjadi. Untuk…

Senin, 20 Agustus 2018 08:50

Cita-Cita Menjadi Guru Berubah Gelap

Pada usia yang sangat muda, WA menanggung beban segunung. Dia diperkosa dan dihukum penjara. Keluarganya…

Minggu, 19 Agustus 2018 11:00
Duit Pemprov Pas-pasan, Berat Bayar Utang Proyek MYC

SUDAHLAH...!! Jangan Dipaksa, Sebaiknya Ditunda

SAMARINDA – Langkah Pemprov Kaltim dan DPRD Kaltim tampaknya makin berat. Upaya rasionalisasi…

Minggu, 19 Agustus 2018 08:36

Pesta Olahraga dengan Suguhan Rp 600 M

JAKARTA – Indonesia memulai Asian Games 2018 dengan sempurna. Opening ceremony yang berlangsung…

Minggu, 19 Agustus 2018 08:31

BPJN Tagih Perusahaan Bangun Fender

BALIKPAPAN - Tiang Jembatan Mahakam, Samarinda ditabrak tongkang, bukan lagi hal baru. Terakhir, Tongkang…

Minggu, 19 Agustus 2018 08:25

Rujukan Online BPJS Masih Lunak

BALIKPAPAN - Ribut-ribut sistem rujukan online di Samarinda tak sampai ke Balikpapan. Di Kota Minyak…

Minggu, 19 Agustus 2018 08:24

Pengumpulan Pajak Jangan Beratkan WP

JAKARTA – Target penerimaan dari sisi perpajakan diharapkan tidak membebani perekonomian. Dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .