MANAGED BY:
RABU
27 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 16 Mei 2018 09:10
Pengakuan Al, Si Pembunuh Ibu dan Anak, Saya Ingin Jadi Pemain Bola
Al

PROKAL.CO, PIKIRANNYA mengawang. Kantuk belum menyerang. Padahal sudah lewat tengah malam. Pagi nanti (1/5) terjadwal perpisahan kelas XII. Ijazah ditahan jika tunggakan uang SPP belum terbayarkan. Tunggakan Rp 1,5 juta muncul lantaran uang yang seharusnya untuk SPP itu terpakai keperluan lain.

Opsi terakhir yang dipilih adalah mencuri. Sasarannya, rumah tetangga samping kiri. Yang hanya dihuni ibu dan bocah laki-laki enam tahun. Tragisnya, ketahuan. Al malah merenggut dua nyawa itu.

Senin (7/5), Kaltim Post menemui Al. dia berbagi cerita. Berikut kutipannya.

Kamu sebenarnya bercita-cita menjadi apa?

Sebenarnya ingin menjadi pemain bola. Saya suka Irfan Bachdim dan Cristiano Ronaldo. Saya suka menonton film perang.

Sejak ditangkap Selasa (1/5) malam, sudah ada yang menjenguk?

Belum ada. Sebelum berangkat ke sini (Polres Bontang), mama bilang mau jenguk. Tapi belum ada datang sampai sekarang.

Kenapa uang SPP bisa menunggak? Kata guru di sekolah, kamu selalu tepat bayarnya saat kelas X dan XI? Memangnya berapa biaya SPP?

Saya biasanya pakai uang itu untuk makan di sekolah. Jarang dikasih uang sama orangtua. Setiap bulan bayar Rp 100 ribu, jadi uang itu dipecah untuk makan. Kadang setiap bulan dikasih (uang SPP), kadang nunggak. Termasuk ekonomi sulit, kakak juga kuliah, saya lima bersaudara.

Kapan terpikirkan untuk mencuri?

Malam itu (30/4) setelah potong rambut sampai di rumah. Lalu chatting dengan Sintia, bukan nama sebenarnya pacar Al, sampai agak malam. Enggak bisa tidur, mikirin uang itu (tunggakan SPP). Besok sudah perpisahan, harus cari uang ke mana?

Apa yang kamu lakukan?

Saya langsung ke kamar mandi. Agak lama di sana, berpikir, jadi-enggak mau mencuri. Saya langsung masuk saja ke situ (lewat plafon kamar mandi yang terbuka). Kalau lewat pintu belakang takut ketahuan. Niatan saya cuma ingin mencuri. Kalau membunuh benar-benar tidak ada.

Setelah masuk ke rumah tetanggamu, apa yang terjadi?

Korban (ibu) terbangun, dia ngomong “Mau ngapain kamu, Mas?” terus juga nanya lewat mana masuknya. Anaknya ikut terbangun. Dia nangis, ibunya menenangkan. Saya ke luar kamar dan melihat pisau, saya ambil dan niatnya mengancam. Jadinya rebutan pisau. Telapak tangan kanan saya terkena (pisau), 20 jahitan.

Bagaimana kamu membunuh korban?

Tidak melihat jelas juga, karena kamar gelap. Saya sempat cekik korban (ibu) dengan kabel setrika. Saat menusuk itu di lehernya, walau gelap tapi teraba dan tahu kalau itu leher. Lupa berapa tusukan. Saya menusuk itu, hati ini kayak enggak tega. Anaknya kadang nangis, kadang diam. Anaknya melihat saya menusuk ibunya. Dia bilang “Sudah sudah.” Terus anaknya saya bawa ke kamar mandi, dia diam saja, tidak menangis. Saya angkat dan tenggelamkan di bak air. Sekitar 3–4 menit baru saya angkat ketika dia lemas.

Kata Sintia dan guru-guru di sekolah, kamu itu suka bermain dengan anak kecil. Kenapa tega membunuh anak?

Iya. Saya paling suka anak kecil. Karena takut dikeroyok kalau ketahuan mencuri dari anak korban, jadi akhirnya membunuh.

Telapak tangan kananmu terluka, badanmu juga lebih kecil dari korban (ibu). Bagaimana kamu membawanya keluar rumah?

Saya seret dengan jalan mundur (pelaku mencontohkan dengan cara mengaitkan kedua lengannya di antara pangkal lengan). Terus anaknya saya bawa dan taruh di atas ibunya. Saya tutupi baskom dan tripleks. Ketika saya kembali ke rumah korban, anaknya menangis. Saya datang dan pukul (tinju) dengan tangan kiri di kepalanya, kurang tahu berapa kali. Yang jelas ketika anaknya sudah diam, baru berhenti.

Apa yang kamu dapat di rumah korban?

Uang Rp 70 ribu, handphone Samsung dan Xiaomi. Tapi pas kembali ke rumah, memanjat lewat plafon, handphone Samsung jatuh dan masuk ke bak air. Handphone Xiaomi saya buang pagi-pagi sebelum berangkat ke perpisahan. Saya takut.

Akan kamu gunakan untuk apa uang curian dan handphone itu? Apa membeli narkoba?

Untuk bayar tunggakan SPP. Tidak beli narkoba. Tapi pernah pakai double L waktu kelas XI, sekali itu saja.

Apa ada target jumlah uang yang ingin kamu curi?

Tidak ada target atau bayangan mau dapat berapa. Tidak menyangka kalau dapatnya Rp 70 ribu.

Di mana uang itu? Sudah kamu pakai?

Belum. Masih ada.

Jam berapa saat itu? Kamu bisa tidur?

Sekitar jam berapa saya lupa, jam 3 mungkin. Setelah itu saya lepas baju yang bekas darah, bilas dan taruh di ember. Saya tidak bisa tidur.

Apa kamu tidak berniat kabur?

Tidak ada niat mau membunuh. Dalam pemikiran saya, kalau lari atau kabur bakal lebih parah lagi karena nanti ketahuan. Jadi diam-diam saja, berharap tidak ketahuan.

Telapak tangan kananmu terluka, orangtua tidak curiga?

Saya tutupi. Cari pembalut (kain kasa) atau plester tidak ada. Jadi saya tekuk jari kelingking dan manis ke dalam, saya tahan dengan benang biar tidak terbuka. Darahnya juga sudah berhenti. Jadi pagi-pagi sebelum ke perpisahan saya pamit dan salim (cium tangan) cepat-cepat biar enggak ketahuan.

Langsung ke sekolah untuk perpisahan?

Saya berangkat sekitar jam 6 ke rumah Sintia naik motor. Sebenarnya dalam hati gelisah, seperti tidak menyangka (habis membunuh). Karena di depan Sintia, saya berusaha tenangkan diri biar tidak dicurigai. Luka di tangan saya beralasan habis dibegal. Dilihat sama orangtuanya Sintia dan dilarang ke sekolah. Dijahit dulu katanya. Jadi ke klinik, kata orangtua Sintia, suruh telepon orangtua saya. Jadi saya kasih nomor orangtua saya ke orangtua Sintia. Saya tidak ada laporan ke polisi, tapi tetangga bapak saya punya kenalan polisi, jadi laporannya lewat tetangga itu.

Setelah perpisahan, kamu ke mana?

Saya ke lapangan menonton orang main bola.

Ketika korban ditemukan dan polisi berdatangan, apa yang kamu lakukan?

Ada polisi datang ke saya, tapi tidak curiga. Pemikiran saya, polisi mau tanya-tanya soal begal.

Saat diamankan, kamu berada di mana?

Saya di rumah.

Apa yang kamu rasakan saat ini?

Saya sangat menyesal. (timkp)


BACA JUGA

Selasa, 26 Maret 2019 22:00

Gubernur Isran Bangga Indonesia Menang Mutlak atas Churchill Mining Plc

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor turut merasa bangga dengannya…

Selasa, 26 Maret 2019 21:40

Gubernur Isran Perjuangkan Rp 3 Triliun APBN untuk Keruk Sungai Karang Mumus

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor mengaku pihaknya sedang memperjuangkan…

Selasa, 26 Maret 2019 10:11
Muhammadiyah Umumkan 1 Ramadhan

Tidak Ada Potensi Hari Raya Ganda

JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah merilis tanggal 1 Ramadhan…

Selasa, 26 Maret 2019 09:25

DENGAR NIH..!! Kata Gubernur, Pabrik Semen Tak Ganggu Karst Sangkulirang Mangkalihat

SAMARINDA- Mahasiswa boleh menolak pembangunan pabrik semen di Kutai Timur.…

Senin, 25 Maret 2019 22:10

WALHI : Pemprov Kaltim Beri Jalan Mulus Kehancuran Karst Kutim dan Berau

SAMARINDA - Kawasan Karst di Sangkulirang di Kabupaten Kutai Timur…

Senin, 25 Maret 2019 12:39
MONTENEGRO vs INGGRIS

Butuh Lebih dari Caps ke-50

PODGORICA – Jordan Henderson pemain paling senior di timnas Inggris…

Senin, 25 Maret 2019 11:53

Cepat Bangkit, Kejar Target Lain!

HANOI – Nasib tim nasional U-23 Indonesia dalam dua bulan…

Senin, 25 Maret 2019 11:12

Yuni Dibunuh di Rumah, Wajah Lebam, Harta-Benda Raib

SAMARINDA–Sebuah rumah di Jalan Masjid, RT 30, Nomor 21, Rawa…

Senin, 25 Maret 2019 08:59

Dokter Menumpuk di Samarinda, Mahakam Ulu Tak Ada Dokter Spesialis

Dokter spesialis lebih suka bertugas di daerah perkotaan. Pasalnya, mereka…

Minggu, 24 Maret 2019 12:52

TEGAS..!! Kaltim Tolak Pembatasan Produksi Batu Bara

SAMARINDA- Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi mengatakan, untuk menjaga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*