MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 16 Mei 2018 09:10
Pengakuan Al, Si Pembunuh Ibu dan Anak, Saya Ingin Jadi Pemain Bola
Al

PROKAL.CO, PIKIRANNYA mengawang. Kantuk belum menyerang. Padahal sudah lewat tengah malam. Pagi nanti (1/5) terjadwal perpisahan kelas XII. Ijazah ditahan jika tunggakan uang SPP belum terbayarkan. Tunggakan Rp 1,5 juta muncul lantaran uang yang seharusnya untuk SPP itu terpakai keperluan lain.

Opsi terakhir yang dipilih adalah mencuri. Sasarannya, rumah tetangga samping kiri. Yang hanya dihuni ibu dan bocah laki-laki enam tahun. Tragisnya, ketahuan. Al malah merenggut dua nyawa itu.

Senin (7/5), Kaltim Post menemui Al. dia berbagi cerita. Berikut kutipannya.

Kamu sebenarnya bercita-cita menjadi apa?

Sebenarnya ingin menjadi pemain bola. Saya suka Irfan Bachdim dan Cristiano Ronaldo. Saya suka menonton film perang.

Sejak ditangkap Selasa (1/5) malam, sudah ada yang menjenguk?

Belum ada. Sebelum berangkat ke sini (Polres Bontang), mama bilang mau jenguk. Tapi belum ada datang sampai sekarang.

Kenapa uang SPP bisa menunggak? Kata guru di sekolah, kamu selalu tepat bayarnya saat kelas X dan XI? Memangnya berapa biaya SPP?

Saya biasanya pakai uang itu untuk makan di sekolah. Jarang dikasih uang sama orangtua. Setiap bulan bayar Rp 100 ribu, jadi uang itu dipecah untuk makan. Kadang setiap bulan dikasih (uang SPP), kadang nunggak. Termasuk ekonomi sulit, kakak juga kuliah, saya lima bersaudara.

Kapan terpikirkan untuk mencuri?

Malam itu (30/4) setelah potong rambut sampai di rumah. Lalu chatting dengan Sintia, bukan nama sebenarnya pacar Al, sampai agak malam. Enggak bisa tidur, mikirin uang itu (tunggakan SPP). Besok sudah perpisahan, harus cari uang ke mana?

Apa yang kamu lakukan?

Saya langsung ke kamar mandi. Agak lama di sana, berpikir, jadi-enggak mau mencuri. Saya langsung masuk saja ke situ (lewat plafon kamar mandi yang terbuka). Kalau lewat pintu belakang takut ketahuan. Niatan saya cuma ingin mencuri. Kalau membunuh benar-benar tidak ada.

Setelah masuk ke rumah tetanggamu, apa yang terjadi?

Korban (ibu) terbangun, dia ngomong “Mau ngapain kamu, Mas?” terus juga nanya lewat mana masuknya. Anaknya ikut terbangun. Dia nangis, ibunya menenangkan. Saya ke luar kamar dan melihat pisau, saya ambil dan niatnya mengancam. Jadinya rebutan pisau. Telapak tangan kanan saya terkena (pisau), 20 jahitan.

Bagaimana kamu membunuh korban?

Tidak melihat jelas juga, karena kamar gelap. Saya sempat cekik korban (ibu) dengan kabel setrika. Saat menusuk itu di lehernya, walau gelap tapi teraba dan tahu kalau itu leher. Lupa berapa tusukan. Saya menusuk itu, hati ini kayak enggak tega. Anaknya kadang nangis, kadang diam. Anaknya melihat saya menusuk ibunya. Dia bilang “Sudah sudah.” Terus anaknya saya bawa ke kamar mandi, dia diam saja, tidak menangis. Saya angkat dan tenggelamkan di bak air. Sekitar 3–4 menit baru saya angkat ketika dia lemas.

Kata Sintia dan guru-guru di sekolah, kamu itu suka bermain dengan anak kecil. Kenapa tega membunuh anak?

Iya. Saya paling suka anak kecil. Karena takut dikeroyok kalau ketahuan mencuri dari anak korban, jadi akhirnya membunuh.

Telapak tangan kananmu terluka, badanmu juga lebih kecil dari korban (ibu). Bagaimana kamu membawanya keluar rumah?

Saya seret dengan jalan mundur (pelaku mencontohkan dengan cara mengaitkan kedua lengannya di antara pangkal lengan). Terus anaknya saya bawa dan taruh di atas ibunya. Saya tutupi baskom dan tripleks. Ketika saya kembali ke rumah korban, anaknya menangis. Saya datang dan pukul (tinju) dengan tangan kiri di kepalanya, kurang tahu berapa kali. Yang jelas ketika anaknya sudah diam, baru berhenti.

Apa yang kamu dapat di rumah korban?

Uang Rp 70 ribu, handphone Samsung dan Xiaomi. Tapi pas kembali ke rumah, memanjat lewat plafon, handphone Samsung jatuh dan masuk ke bak air. Handphone Xiaomi saya buang pagi-pagi sebelum berangkat ke perpisahan. Saya takut.

Akan kamu gunakan untuk apa uang curian dan handphone itu? Apa membeli narkoba?

Untuk bayar tunggakan SPP. Tidak beli narkoba. Tapi pernah pakai double L waktu kelas XI, sekali itu saja.

Apa ada target jumlah uang yang ingin kamu curi?

Tidak ada target atau bayangan mau dapat berapa. Tidak menyangka kalau dapatnya Rp 70 ribu.

Di mana uang itu? Sudah kamu pakai?

Belum. Masih ada.

Jam berapa saat itu? Kamu bisa tidur?

Sekitar jam berapa saya lupa, jam 3 mungkin. Setelah itu saya lepas baju yang bekas darah, bilas dan taruh di ember. Saya tidak bisa tidur.

Apa kamu tidak berniat kabur?

Tidak ada niat mau membunuh. Dalam pemikiran saya, kalau lari atau kabur bakal lebih parah lagi karena nanti ketahuan. Jadi diam-diam saja, berharap tidak ketahuan.

Telapak tangan kananmu terluka, orangtua tidak curiga?

Saya tutupi. Cari pembalut (kain kasa) atau plester tidak ada. Jadi saya tekuk jari kelingking dan manis ke dalam, saya tahan dengan benang biar tidak terbuka. Darahnya juga sudah berhenti. Jadi pagi-pagi sebelum ke perpisahan saya pamit dan salim (cium tangan) cepat-cepat biar enggak ketahuan.

Langsung ke sekolah untuk perpisahan?

Saya berangkat sekitar jam 6 ke rumah Sintia naik motor. Sebenarnya dalam hati gelisah, seperti tidak menyangka (habis membunuh). Karena di depan Sintia, saya berusaha tenangkan diri biar tidak dicurigai. Luka di tangan saya beralasan habis dibegal. Dilihat sama orangtuanya Sintia dan dilarang ke sekolah. Dijahit dulu katanya. Jadi ke klinik, kata orangtua Sintia, suruh telepon orangtua saya. Jadi saya kasih nomor orangtua saya ke orangtua Sintia. Saya tidak ada laporan ke polisi, tapi tetangga bapak saya punya kenalan polisi, jadi laporannya lewat tetangga itu.

Setelah perpisahan, kamu ke mana?

Saya ke lapangan menonton orang main bola.

Ketika korban ditemukan dan polisi berdatangan, apa yang kamu lakukan?

Ada polisi datang ke saya, tapi tidak curiga. Pemikiran saya, polisi mau tanya-tanya soal begal.

Saat diamankan, kamu berada di mana?

Saya di rumah.

Apa yang kamu rasakan saat ini?

Saya sangat menyesal. (timkp)


BACA JUGA

Senin, 21 Januari 2019 10:55

Pansel KPU Buka Lagi Pendaftaran

SAMARINDA–Kerja Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner KPU Kaltim 2018–2023 sempat terhenti.…

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:09

Biaya Tol Teluk Kian Membengkak

BALIKPAPAN  –   Semakin lama tertunda, anggaran pembangunan Jembatan Tol…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:07

Abu Bakar Ba’asyir Bebas Tanpa Syarat

JAKARTA  -  Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir bisa mengakhiri…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:04

Polres Belum Terima Komplain Konsumen

BALIKPAPAN –  Kasus obat kosmetik ilegal diungkap jajaran Polres Balikpapan,…

Jumat, 18 Januari 2019 09:40

SERASA ANAK TIRI..!! Bandara APT Pranoto “Dicueki” Pusat

SAMARINDA–Moda transportasi udara jadi idola untuk memangkas waktu perjalanan. Sayangnya,…

Jumat, 18 Januari 2019 08:11

Kosmetik Ilegal Dijual Mahal

BALIKPAPAN – Nurliah (26) hanya bisa menunduk. Perempuan berkulit putih…

Jumat, 18 Januari 2019 08:01

Mengubur Kebencian

OLEH: BAMBANG ISWANTO (Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda)…

Jumat, 18 Januari 2019 07:57

Koran Adalah Alat Perjuangan, Bertahan dengan Kualitas Sajian

Media daring menjamur. Tapi tak akan membunuh koran. Tak membuatnya…

Jumat, 18 Januari 2019 06:48

Mengoptimalkan Ekspor Batu Bara Kaltim ke India

Oleh: Wahyu Baskara Santoso dan Debby Amalia Soraya (Asisten Analis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*