MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 16 Mei 2018 09:08
Membunuh Akibat Uang Jajan Kurang

Catatan Redaksi

PROKAL.CO, OLEH: RADEN RORO MIRA BUDIASIH

PRIA di hadapan penulis sesekali melirik ke depan, kemudian mengarahkan matanya ke bawah. Memandangi kedua tangan yang dipangku, saling tertaut. Ekspresi wajahnya susah dibaca, hanya sorot mata kosong. Al, itu nama yang mari kita sepakati bersama dalam tulisan ini.

Al kelahiran 1999, setahun lebih tua dari adik perempuan penulis. Tahun ini, baik Al maupun adik penulis, sama-sama bersiap memilih cerita hidup baru. Berakhir sudah masa putih abu-abu. Pilihannya antara kuliah atau kerja. Tapi cerita hidup Al beda.

“Punya tontonan favorit?” tanya penulis. “Saya suka menonton film perang,” jawabnya singkat.

Dari mulutnya, Black Hawk Down dan Battleship jadi contoh film yang disuka. Ada kesimpulan pribadi mencuat. “Apa ada adegan yang menginspirasi dari film itu?” lanjut penulis, Al menggeleng.

Al, tersangka atas pembunuhan ibu dan anak di Muara Badak, Kutai Kartanegara. Dia menusuk, menjerat leher, menenggelamkan, dan memukul. Hal itu dia lakukan karena ketahuan mencuri. Diakui Al, yang dia lakukan spontan. Tidak ada pedoman. Baik film, buku, maupun apapun.

Jika pria 19 tahun itu amanah membayarkan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Andai penggemar Cristian Ronaldo tersebut berkomunikasi baik dengan orangtua. Mungkin, tak bakal Al berniat mencuri dan berakhir di bui.

Bisa jadi, pola komunikasi di rumah jadi salah satu faktor. Anak yang tidak terbuka pada orangtua, berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Anak merasa bisa. Tidak berani mengaku jujur. Ekspektasinya sudah pasti dimarahi orangtua. Walhasil, memilih diam saja.

“Memang termasuk ekonomi sulit. Kakak juga kuliah soalnya,” kata Al. Mencuri jadi pilihan. Pembunuhan dilakukan. Hilang sudah masa depan.

Selama proses pengumpulan informasi dari kekasih, lingkungan sekolah, hingga pertemanan, Al dikenal baik dan tak memiliki catatan merah dari guru bimbingan konseling (BK). Dia supel.

Mirisnya, uang SPP hanya dipakai untuk urusan perut. Guru melabeli Al sebagai siswa cerdas. Kecerdasan itulah yang membuatnya tetap tenang selang empat jam melakukan pembunuhan dan bertemu kekasihnya.

Tidak ada yang mencurigakan. “Tidak ada beda, dia seperti biasa sewaktu jemput saya pagi-pagi,” ujar kekasih Al.

“Hanya malam saat kami chatting-an (tiga jam sebelum pembunuhan), dia jawabnya singkat-singkat, tidak seperti biasa,” lanjutnya. Itulah saat Al kalut. Mencuri atau tidak.

Penulis bertatapan langsung dengan Al. Dia luwes menceritakan kronologi kejadian. Gestur tubuh mendukung penuturan. Tenang. Suaranya stabil. “Iya saya menyesal,” pada pernyataan itulah suara Al tertahan. Kepalanya tunduk. (timkp)


BACA JUGA

Jumat, 11 Mei 2018 09:41
Nasib Beruang Madu di Kaltim

Lirik Jerman, Siap Go International

SEJAK UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah berlaku, Dinas Kehutanan Kaltim memegang kendali atas Kesatuan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:10

Eksklusif namun Dilupakan

DOSEN Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda Rustam menyebut, sejak awal pendiriannya pada 2005,…

Jumat, 11 Mei 2018 09:06

Tunggu Serah-Terima Aset

KONDISI Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan terombang-ambing. Terutama pengelolaan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:03

Perlu Kolaborasi Dinas Kehutanan dan Pro Natura

OLEH: AGUSDIN(Perintis dan Pemerhati KWPLH) SEBELUM merintis KWPLH, saya bergabung dalam penyelamatan…

Jumat, 27 April 2018 13:43

Belum Ada Pasien Kanker Akibat Kopi

KOPI jadi simalakama. Mulanya tanaman tersebut mengandung antioksidan, zat yang melindungi tubuh dari…

Jumat, 27 April 2018 13:40

Bisnis Kopi, Antara Rasa dan Citra

EMPAT bulan menjelang akhir 2015, Semenjana hadir memenuhi dahaga penikmat kopi. Adalah Rifki Ramadhan…

Jumat, 27 April 2018 13:30

Kopi Itu Seksi

TIDAK hanya sekolah barista atau pembuat kopi, tempat belajar bagi mereka yang menyukai proses sangrai…

Jumat, 27 April 2018 09:25

MENGGUGAT KENIKMATAN SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi bukan sekadar bubuk hitam dan air gula. Ini soal sensasi kegembiraan, magnet penyatu,…

Jumat, 27 April 2018 09:21

Kopi Instan, Pilihan Aman?

SECANGKIR kopi tubruk, bagi sebagian orang satu hal wajib dan pantang untuk dilewatkan setiap hari.…

Jumat, 27 April 2018 08:58

Pro-Kontra Kopi, Sudah Biasa

Oleh: Kris Nugraha(Penikmat kopi dan pemilik kedai Republik Coffee) BILA bicara soal pro-kontra, kopi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .