MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 15 Mei 2018 12:02
Cerita Soal Dita Oeprianto, Keluarga Bomber Surabaya
Tiga Kali Ortu Puji Belikan Mobil, tapi Dijual Semua, Sebelum Kejadian Sang Anak Menangis
Dita Oepriarto dan keluarganya.

PROKAL.CO, Salah seorang putra Dita Oepriarto sempat menangis setelah salat berjamaah beberapa hari sebelum aksi pengeboman terjadi. Bertahun-tahun ikut salat berjamaah selalu datang terlambat dan pulang cepat.

 

Wakil Ketua Takmir Musala Al Ikhlas di kompleks Perumahan Wisma Indah Khorihah masih ingat betul wajah Dita saat terakhir bertemu. Tepatnya saat salat Subuh berjamaah Minggu lalu (13/5). Di musala itu Dita dan dua anak laki-lakinya selalu melaksanakan salat berjamaah. ”Magrib, Isya, dan Subuh, Dita pasti salat di sini. Anaknya malah Duhur dan Asar juga (salat) di musala,” ujar pria 65 tahun tersebut.

Mereka selalu datang belakangan, seusai iqamah atau saat surah Al Fatihah dibacakan. Begitu juga halnya setelah salat, mereka langsung pulang. Tidak pernah duduk dulu ikut berdoa ataupun mengobrol dengan jamaah lain. Hal itu berlangsung bertahun-tahun. Jamaah lain sudah hafal.

Mereka melihat tidak ada yang aneh dengan Dita dan kedua anaknya menjelang aksi pengeboman. Hal janggal justru didapati sehari dan dua hari sebelum aksi pengeboman yang dilakukan Dita Oepriarto, 47, bersama istrinya, Puji Kuswati, 43, dan keempat anaknya, Yusuf Fadhil, 18; Firman Halim, 16; Fadhila Sari, 12; dan Famela Rizqita, 9; tersebut.

Pada Kamis (10/5) Firman menangis setelah salat Subuh. Khorihah sempat mendengar sedikit bisikan Dita kepada anaknya. ”Sabar ya, Nak. Ikhlaskan,” ujar Khorihah menirukan ucapan Dita kepada Firman.

Tak hanya sampai di situ, Sabtu (12/5) sesudah melaksanakan salat Magrib, warga melihat lagi Firman menangis. Dita pun memeluk anaknya dan mencoba menenangkan. Warga sebenarnya penasaran, tapi tidak berani menanyakan. Puji pun dikenal santun dan grapyak dengan ibu-ibu di kompleks. Tiap arisan rutin saban bulan dia selalu datang. ”Bahkan, waktu tiba giliran arisan di rumahnya, dia selalu terbuka,” ujar ketua RT tersebut.

Puji sendiri ternyata kelahiran Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Dia merupakan putri ketiga di antara empat bersaudara pasangan H Koesni dan Hj Minarti. Koesni yang kini berumur 82 tahun adalah pensiunan TNI-AL dan kini bersama putranya mengelola usaha jamu tradisional.

H Rusiyono, juru bicara keluarga H Koesni, mengatakan bahwa Puji sejak kecil tidak tinggal bersama orang tuanya. Saat masih berumur 20 bulan, Puji diadopsi almarhumah Ny Sukar, kakak kandung Koesni yang tinggal di Kecamatan Gorang Gareng, Kabupaten Magetan. ”Sejak kecil diasuh budenya. Karena saat itu budenya tidak memiliki anak,” ujarnya.

Sebelum menikah dengan Dita, Puji datang ke Banyuwangi untuk minta restu. Saat itu Koesni bersama keluarga tidak merestui. ”Puji tetap nekat menikah. Katanya sudah saling cinta,” ungkapnya.

Karena nekat menikah, hubungan Puji dan keluarganya di Banyuwangi tidak baik. Nyaris tidak pernah ada komunikasi. Puji bersama suami dan anaknya terakhir pulang pada 28 Januari 2018 saat keluarga menggelar hajatan. ”Kalau di rumah tidak pernah lama,” katanya.

Meski jarang berkomunikasi, Koesni tetap memperhatikan putrinya. Selain membelikan rumah, dia sempat membelikan mobil. ”Membelikan rumah dan mobil itu karena melihat cucu-cucunya,” sebut Sujiyo, kerabat Koesni.

Sujiyo menambahkan, Koesni sempat kesal dengan ulah menantunya itu. Tiga kali dibelikan mobil, tapi dijual semua. Pada 2013 pasutri tersebut kembali dibelikan mobil Toyota Avanza, tapi BPKB-nya tidak diberikan agar tidak dijual lagi. ”Mobil itu sepertinya yang dibuat bom bunuh diri,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unair M. Nasih mengatakan, Dita memang benar pernah menjadi mahasiswa Unair. Dia mengambil D-3 program studi manajemen pemasaran, tapi tidak sampai lulus. Dita drop out pada semester III karena tidak pernah masuk dan hanya menempuh 47 SKS dengan IPK 1,47. ”Jadi bukan alumni,” tegasnya.

Selama kuliah, jelas Nasih, Dita juga tidak pernah aktif di organisasi mahasiswa. Baik senat mahasiswa maupun unit kegiatan mahasiswa (UKM). Termasuk tidak pernah ikut kelompok kajian masjid kampus. (gal/hen/ayu/rio/abi/c9/oki)

 


BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 12:58

Jokowi Naik Motor Lalu Terbang, Dikatai Ketahuan Banget Bohongnya dan Lebay

Video aksi Presiden Jokowi terbang naik motor dalam pembukaan Asian Games 2018 tadi malam, ditanggapi…

Minggu, 19 Agustus 2018 12:53

Joni Happy di Jakarta, Nonton Asian Games

Hari yang tak akan pernah dilupakan Yohanes Ande Kala kemarin diakhiri dengan pengalaman istimewa. Nonton…

Sabtu, 18 Agustus 2018 19:55

Ini Dia 9 Fakta Tentang Joni, Si Bocah Panjat Tiang Bendera

Banyak pihak mengaku terharu hingga menitikan air mata melihat aksi Yohanes Ande Kala Marchal memanjat…

Sabtu, 18 Agustus 2018 19:53

Joni Tak Takut Jatuh, Cuma Takut Merah Putih Tak Berkibar

Keberanian bocah pemanjat tiang bendera, Yohanes Gama Marchal Lau, layak menjadi contoh bagi generasi…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:16

Tak Puas dengan Istri yang Kayak Patung Saat di Ranjang, Pria Ini Terpesona Desahan Janda

Bertemu janda kembang membuat hidup Donwori lebih bergairah. Keinginannya untuk memuaskan hasrat di…

Sabtu, 18 Agustus 2018 11:25

Sandiaga Berpotensi Disukai Pemilih Milenial Dan Emak-Emak

Dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, kategori pemilih milenial cukup tinggi. Oleh karena…

Jumat, 17 Agustus 2018 22:49

SINTING..!! Usai Tebas Leher Nenek sampai Putus, Udin Teriak Merdeka dan Nyanyi Lagu Indonesia Raya

BANJARMASIN- Lahmudin alias Udin terancam menghuni penjara dalam waktu sangat lama karena memenggal…

Jumat, 17 Agustus 2018 20:02

Panjat Tiang Bendera 23 Meter, Joni Kala Dapat Hadiah dari Kemendagri

Bocah Atambua Nusa Tenggara Timur (NTT) yang panjat tiang bendera saat upacara HUT RI diketahui bernama…

Jumat, 17 Agustus 2018 20:00

Kronologis Heroik Bocah SMP Panjat Tiang Bendera Saat Upacara di NTT, Ternyata Ini Nama Aslinya

Yohanes Gama Marchal seorang pelajar SMP Negeri Silawan, Kelas VII, tiba-tiba saja berlari ke luar barisan…

Jumat, 17 Agustus 2018 19:58

Bendera Merah Putih Nyaris Tak Berkibar, Bocah SMP Langsung Panjat Tiang Bendera, Lihat Apa yang Terjadi

Bocah Atambua Nusa Tenggara Timur, menjadi pahlawan dalam upacara peringatan HUT ke-73 RI di Motaain,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .