MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 15 Mei 2018 11:24
Aksi Teror Gerus Elektabilitas Jokowi
Teror bom di Surabaya.

PROKAL.CO, JAKARTA- Rentetan peristiwa terorisme di Tanah Air, memberi dampak bagi calon presiden (capres) petahana. Elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) di Pemilu 2019 diprediksi bakal tergerus akibat peristiwa terorisme.Sebagai kepala negara, Jokowi dianggap tak mampu menjaga keamanan dalam negeri.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia LSI Denny J.A, Adjie Alfaraby mengatakan, aksi teror dalam dua hari ini bisa saja membawa dampak negatif bagi kepercayaan terhadap pemerintah. Selaku kepala negara, publik bakal mempersepsikan Jokowi lemah dalam hal menangani masalah keamanan dalam negeri. ”Ada kekhawatiran yang meluas di publik terhadap isu keamanan,” ungkapnya kepada wartawan di kantor LSI, Jalan Pemuda Raya, Jakarta, Senin (14/5).

Dilansir INDOPOS, kendati demikian, sambung Adjie, hingga kini, tantangan terberat Jokowi, menurut LSI, ialah menangkal isu-isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat seperti masalah ekonomi, isu serbuan tenaga kerja asing dan sentimen agama. Hanya saja, Adjie menilai, rentetan aksi teror itu juga diprediksi menjadi 'peluru' lawan politik yang akan menjadi penantang Jokowi di pemilu 2019. ”Artinya ada figur-figur lain yang akan menjadi harapan kalau kemudian isu keamanan ini semakin menguat menjelang pilpres 2019,” ujarnya.

Menurut Adjie, 11 bulan menuju pemilihan, bakal ada isu-isu yang tak diperkirakan menjadi batu sandungan bagi calon petahana. Hal tersebut berkaca dari pemilihan kepala daerah atau pilpres sebelumnya bahwa banyak kandidat yang tergerus elektoralnya dengan adanya kejadian tak terduga. ”Jangan melihat faktor popularitas dan elektabilitas. Ada faktor lain yang memengaruhi,” imbuh Adjie.

Saat ini, lanjutnya, LSI menyebut elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden masih mandeg atau stagnan di bawah 50 persen. Selaku incumbent, posisi itu dinilai masih belum kuat karena beberapa penantang Jokowi belum masif turun ke masyarakat. Hasil survei menunjukkan elektabiltas Jokowi 46 persen, sementara kandidat penantang jika disimulasikan gabungan 12 tokoh, berada di angka 44,7 persen. LSI mengasumsikan survei ini, jika Jokowi dan lawannya saling bertarung dengan komposisi 'head to head'.

”Karena sebagai petahana, harusnya memang elektabilitas minimal di atas 50 persen. Artinya hanya berbeda 2 persen saja, antara elektabilitas Jokowi versus elektabilitas semua capres lainnnya,” tutur Adjie.

Adjie menjelaskan, alasan lembaganya mensimulasi pemilihan presiden diikuti dua pasangan calon. Hampir semua 12 tokoh itu sama-sama menginginkan adanya pergantian kepemimpinan nasional. Namun ia memandang, kans agar Jokowi dapat dikalahkan bisa terjadi apabila beberapa poros kekuatan bersatu. ”Probability (peluang, Red) 50 vs 50. Jokowi bisa dikalahkan jika kekuatan oposisinya bersatu. SBY, Prabowo, Amien Rais dan Gatot perlu bersatu jika ingin kalahkan Jokowi,” kata dia.

Adjie pun menjabarkan, lima faktor Jokowi masih unggul, namun dalam berbagai survei elektabilitasnya tergerus oleh sejumlah isu. Isu - isu itu dinilai LSI mulai efektif digerakan oleh kelompok oposisi diantaranya; tagar #2019GantiPresiden, tenaga kerja asing, ekonomi, pemilih dari kalangan Islam dan apakah Jokowi masih bisa dikalahkan.

Adji mengakui, kelima isu utama ini belum masif lantaran masih gamangnya penantang dapat maju di Pilpres. ”Lawannya (Jokowi, Red) masih tiarap menunggu momen dan memastikan tiket untuk bertarung,” kata dia.

Dalam survei, LSI memilih 1.200 responden dengan metode multi stage random sampling yang dilakukan pada 28 April-5 Mei 2018. Adapun penelitian digelar di 34 Provinsi dan margin of error sekitar 2,9 persen. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto membantahnya. Dia menyebut tetap tingginya elektabilitas Jokowi karena sosok yang disebut merakyat. ”Kalau itu rakyat yang menilai, Pak Jokowi itu kan lembut, merangkul, tersenyum, beliau sering tertawa, kreatif. Terus kalau yang satu kok agak kaku, kok pakai marah-marah, misalnya seperti itu, kalau ini kan beda, buat kami itu style pemimpin, tapi yang penting adalah seorang pemimpin itu membawa harapan,” tukasnya kepada wartawan saat dihubungi, kemarin.

Menurutnya, pemimpin yang dibutuhkan rakyat adalah pemimpin yang membawa kegembiraan untuk rakyat, bukan yang menimbulkan kekhawatiran. ”Seorang pemimpin itu ada di hati rakyat, bukan memecah rakyat. Seorang pemimpin itu membawa kegembiraan karena dia percaya bahwa di tangan pemimpin ini saya akan bisa lebih baik, bukan khawatir. Itu yang harusnya diangkat oleh pemimpin, mengangkat harkat dan martabat rakyat yang paling miskin sekalipun, sehingga mereka punya harapan bahwa di bawah kepemimpinan Pak Jokowi, saya bisa lebih baik,” jelas dia. (aen/rk)

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2018 11:14

Lama Diburu, Turis Bule Ini Ditemukan Kais Tong Sampah

Turis asal Republik Latvia, Gatis Baumanis, sudah lama diburu personil Polsek Ubud. Belakangan, turis…

Senin, 22 Oktober 2018 10:46

GREGET..!! Penghuni Telat Bayar Uang Kos, Motornya Diceburin ke Sungai oleh Warga

 Dipicu masalah tunggakan uang sewa kos yang belum dibayar, ratusan warga Tambaksawah Waru Sidoarjo,…

Minggu, 21 Oktober 2018 11:23
Dugaan Pelanggaran Kampanye

Kasus Luhut – Sri Mulyani Sampai di Gakumdu

JAKARTA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memastikan untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran kampanye…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:06

Tiga Jurkam Jokowi-Ma'ruf Amin Dicokok KPK, Ini Pesan Timses Capres 02

Andre Rosiade selaku Juru Bicara Prabowo-Sandiaga mengaku prihatin atas kasus penangkapan yang menimpa…

Kamis, 18 Oktober 2018 12:40
Tim Prabowo-Sandi Datangi KPU

Pertanyakan 31 Juta Data Pemilih Misterius

JAKARTA – Tim kampanye pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kembali mempersoalkan data daftar…

Senin, 15 Oktober 2018 09:17

Seluruh Indonesia, Baru 9.526 Wartawan yang Kompeten

MEDAN-  Sampai saat ini di seluruh Indonesia baru 9.526 wartawan yang dinyatakan kompeten. Oleh…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:13
Berdampak pada Daya Beli Masyarakat

Presiden Pastikan Premium Tidak Naik

BOGOR – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya angkat bicara soal isu kenaikan harga bahan bakar…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:12

Pemulihan Trauma oleh Polwan

Sementara itu, posko pengungsian di Gunung Bale, Kecamatan Banawa, Donggala, Sulawesi Tengah, kemarin…

Minggu, 14 Oktober 2018 11:38
Kasus Mantan Bupati Katingan

Setelah Ditahan, Aset Disita

KATINGAN–Penyidik Polda Kalteng sudah menyita sejumlah aset milik mantan Bupati Katingan Ahmad…

Minggu, 14 Oktober 2018 11:37

Setiap Manusia Punya Ujian

Ruang perpustakaan Lapas Klas II-A Kediri jadi saksi bisu ijab kabul Ismail dan Ulfa digelar. Suasana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .